Bila aku kembali terjungkal lalu terperosok kembali kedalam sana, kumohon tarik aku dengan segala upaya. Agar ragaku tak membusuk didalam sana selamanya
todays bird
Mike Driver
Lint Roller? I Barely Know Her
occasionally subtle

Kaledo Art
hello vonnie

tannertan36
macklin celebrini has autism

Andulka

@theartofmadeline

JBB: An Artblog!
I'd rather be in outer space 🛸

#extradirty
trying on a metaphor
art blog(derogatory)
Not today Justin
Cosmic Funnies

shark vs the universe
TVSTRANGERTHINGS

Kiana Khansmith
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Vietnam
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Venezuela
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
@titiplisan
Bila aku kembali terjungkal lalu terperosok kembali kedalam sana, kumohon tarik aku dengan segala upaya. Agar ragaku tak membusuk didalam sana selamanya
Autopilotkan dirimu.
Kalau terlalu terasa berat, istirahat dan cobalah lepaskan sesuatu yang mengikatmu dengan kekhawatiran.
Kembalikan semuanya kepada yang memberimu hidup. Kamu terbatas, sedangkan Dia, tidak.
Kriya Purba di Ujung Pendulum
Menyulam telaga pada kobar jerami,
Ternyata sebentuk kriya yang mematahkan jemari.
Ia menuntut pahatan pada arus yang masif,
Memaksa riuh menelan duri hingga pasif.
Terlebih tatkala jarum nasib tersedak,
Memaku pijak di antara dua kutub yang retak:
Di mana cermin-cermin menggugat wujud tuannya sendiri,
Dan gema telantar ditolak tebing-tebing yang menghakimi.
"Kenapa kau tidak pergi ?"
Hanya disini aku dapat berekspresi sesuka hati, tanpa harus dituding, ditunjuk oleh jemari liar, dimaki bak manusia terkotor.
Disini aku dapat meluapkan segalanya, tanpa harus takut ditanya mengapa dan kenapa, tanpa harus takut dianggap berbeda, tanpa harus takut hukum antah berantah.
Mungkin di dunia nyata aku hening seribu kata namun disini jemariku tak berhenti bicara, aku lepas, aku liar, aku bebas, memilih;menjadi apa yang ku inginkan sejadi-jadinya.
Terimakasih untuk raga yang masih tetap utuh , terimakasih juga untuk jiwa yang masih terus berusaha untuk tetap waras, aku berjanji aku akan ikut berjuang dan bertahan sampai aku benar benar memilih untuk dimatikan atau mematikan sendiri
Tanpa ia sadari ia membunuhku secara perlahan dan bodohnya aku menikmatinya
Aku hanya tak ingin berpusing ria , cukup jangan bertambah lagi isi kepala, demi kewarasan dan kesehatan mental aku selalu tak punya pilihan selain iya
Entah sebenarnya memang itu adalah jalan untuk keluar dari tempat jahanam ini atau aku diberikan kesempatan untuk berguna kepada orang lain
Resolusi? Baiklah sepertinya aku akan menjadi sosok yang lebih hening dari sebelumnya, tidak bersuara akan perih dan derita yang menimpa. Mengapa? Karena sudah sangat sangat sia sia
Bagaimana menjelaskannya
Aku sudah muak harus diam selalu ketika ingin berteriak
Aku lelah penat bisakah aku memilih diriku sendiri
Sekedar memeluk diri sendiri apakah se diharamkan itu
Aku butuh orang orang sekitar sekedar tertawa bukan berarti kau tak sepenting itu, aku penat harus menjadi yang diekspektasikan terus menerus aku lelah mengejar itu semua aku lelah bagaimana harus menjelaskan nya tanpa jeda ditunjuk diperintahkan ditindas habis oleh kata katamu yang setiap hari menusuk hingga bungkam isi kepalaku berantakan tolong hentikan tolong aku ingin seperti orang normal yang dimana aku bisa menentukan pilihan tanpa harus menunggu persetujuan aku pun tau mana yang baik mana yang buruk se haram itu kah pilihanku
Pada akhirnya aku berhenti bicara banyak hal, perihal patah hati lara luka dan sebagainya. Akan sia-sia bila hanya didengar namun tak mengerti maksudnya, akan sia-sia bila tak ada perubahan, akan sia-sia jika akhirnya dihakimi diinjak bahkan dilenyapkan. Aku memilih diam dengan seribu bahasa yang ada, dalam gundahku nestapaku semuanya, aku tak butuh didengarkan saja, jika itu duniaku mohon bantu support saja jangan dihakimi atau dibuat seolah pria malang yang harus menyembah, bila itu tentangmu maka berubah lah, aku tak pinta untuk berubah seutuhnya, cukup tidak membenarkan yang salah dan menstandarisasi aku memang begini dengan akhiran bila tak mau cari yang lain. Jauh dilubuk terdalam aku lelah membungkam bolehkah aku menegaskan bolehkah aku ikut bersuara, tak semua mau mu yang harus terwujud, bolehkah aku mengatakan tidak, aku pun ingin memeluk diriku sendiri. Namun pada akhirnya lagi lagi aku memilih untuk bungkam entah sampai kapan yang pasti aku hanya memiliki diriku sendiri jiwaku tercabik cabik dari dalam, andai mati bisa menjadi solusi penenang izinkan aku melakukan nya
Yang ku ingin hidup bersamamu bukan egomu, selalu ku usahakan tak patriarki namun tolong jangan mewajarkan yang salah
Berapa banyak nyepi yang harus ditemui
Bolehkah kah aku berkata "tidak" bolehkah aku memilih pilihanku sendiri, bolehkah aku...
Tiba dimana akupun bingung harus menjelaskan darimana bagaimana meskipun dengan tulisan sekali pun, jadi tolong jangan tanya mengapa dan kenapa, karena aku lelah menjelaskan dan berusaha tenang setenangnya mengalah menghadapi segala ego yang datang
Kepala ku memar namun tak terbentur benda keras, akankah terus menahan emosi hingga mati tak berbentuk, bolehkah aku ikut melampiaskan emosi, bolehkah aku ikut menyuarakan rasa isi kepala dan semuanya, bolehkah aku...
Hufft sudahlah istirahat panjang seperti nya menjadi akhir bahagia bila itu terjadi karena sekarang pun raga ini bergerak dengan sendirinya tanpa ada rasa yang menyentuh
Tetap semangat ya kawan masih ada garis yang harus dituju jangan mati dulu
Entah bagaimana, kuncinya ketemu juga. Ternyata sesederhana ini:
matikan saja mesin waktu di kepala.
Aku berhenti menjadi penjelajah waktu yang panik, yang bolak-balik dari "seandainya dulu" ke "bagaimana nanti". Aku memilih untuk menjadi penduduk tetap di "saat ini". Hasilnya? Sunyi. Overthinking, stres, dan semua kebisingan itu kehilangan bahan bakarnya. Ya, impian dan kenangan ikut jadi korban, mereka harus duduk manis di ruang tunggu. Biarlah. Yang penting, di sini, sekarang, aku bisa bernapas lega.
Aku bahagia dulu, sisanya urusan nanti.
Roni. | 19 September 2025
Tak sedikit kah kau berfikir akan kondisi dan waktu, tak masalah jika tak bisa alurnya sudah tertebak pula