Aku berdasi dan berpangkat besar. Aku menghasilkan uang banyak. Aku dihormati semua orang yang aku temui. Mereka menunduk dan menyapaku. Aku bisa saja membalasnya, tapi aku tak punya waktu untuk itu. Aku orang sibuk. Setiap waktuku bernilai uang. Aku tak bisa membuang sedetik pun untuk itu. Jadwalku juga sudah tertata rapi, tertata hingga 0,1 detik. Bangun pagi, mandi lalu makan, berangkat bekerja, istirahat makan, kerja lagi, pulang sore hari, mengerjakan tugas yang perlu dikerjakan di rumah, lalu tidur. Jika aku membuang satu detikku untuk berhenti dan menyapa orang, semuanya akan berantakan. Kerjaku akan berantakan, dan uangku pun akan berkurang. Aku tak lagi dihormati. Untuk itu aku tetap menjaganya. Aku akan terus berpegang teguh pada prinsipku. Karena aku ini orang penting. Namun, semakin lama aku bekerja, semakin banyak uang yang aku kumpulkan, aku kehilangan sesuatu. Entah apa itu aku tak tahu. Aku merasa kosong. Aku punya banyak benda tapi aku kosong. Aku mulai bertanya, memangnya apa itu tujuan kita hidup? Bukankah menjadi kaya itu tujuan orang orang? Lihatlah mereka yang miskin. Mereka sama sekali tak berdaya. Mereka tak punya apa apa. Aku kaya. Aku bisa melakukan apa saja. Aku punya apa saja. Tapi kenapa saja merasa kosong? Aku telah menyelesaikan segala tugasku. Aku telah mencapai semua keinginanku, berpangkat tinggi dengan belajar di Jepang dan menghasilkan banyak uang. Tapi kenapa saja merasa kosong? Tidak mungkin juga aku berkelana untuk menemukan apa yang hilang. Karena aku sibuk. Karena aku orang penting. Aku tak punya waktu untuk itu. Lalu harus apa aku ini? Dalam tidurku, aku bermimpi. Lengkap dengan dasi dan tasku, aku berdiri di sebuah persimpangan jalan. Tempat itu terlihat seperti gurun pasir, panas dan tak ada seorangpun tampak. Pasir berserakan tertiup angin. Tapi, tetap itu sebuah jalan, jalan beraspal. Aku tak tau kenapa ada jalanan beraspal di tengah gurun. Pun aku tak tau kenapa aku ada di sana. Aku hanya berdiri sambil terus memandang lurus maju, tak bergerak, tak bergeming. Pagi hari aku terbangun, aku masih tak tau apa maksud semua itu. Aku tetap melakukan berbagai hal sesuai dengan jadwal. Tak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Karena waktuku adalah uang. Waktuku sangat berharga. Hingga beberapa hari aku masih menjadi orang yang sibuk. Aku orang yang penting. Aku orang yang tak punya waktu membalas sapa. Aku orang berpangkat besar. Aku orang beruang banyak. Aku orang yang telah menyelesaikan tujuan semua orang. Tapi, kenapa saja masih merasa kosong?