Pernak-Pernik Hujan
@kekatazain11
Hujan adalah bahasa langit untuk makhluk di bumi. Hujan turun ke bumi dengan membawa berkah dari langit dan menciptakan ekspresi tak bisa terkatakan. Sesekali manusia mengumpat hujan, karena tak segera reda. Orang-orang mengekspresikan dengan wajah ditekuk dan muka suram. Seolah-olah ketika ia menyapa bumi, hanya membawa petaka. Kabar mengenai Jakarta tenggelam, misal. Tak lain, juga karena hujan yang tak kunjung reda, selain karena ulah manusia. Hujan menghadirkan wajah-wajah manusia yang kelu. Kita tengok sejenak karya dari sastrawan Sapardi Djoko Damono. Karyanya telah mengalami ekarnisasi-perubahan wujud. Puisi Hujan bulan Juni yang sederhana berubah menjadi novel, film, dan komik. Ada pula yang membuat musikalisasi puisi dan film pendek, mari kita simak puisinya.
"tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu"
Puisi tersebut menggunakan bahasa yang sederhana dan meneduhkan. Bercerita mengenai seseorang yang tak bisa mencintai seseorang dan hanya menyembunyikan perasaannya. Bahkan, hanya melalui rintik-rintik hujan. Juni merupakan musim kemarau dan hujan pada puisi tersebut jatuh pada bulan Juni. Hal tersebut dapat diartikan kemustahilan, sebab hujan tidak turun di bulan Juni. Seolah Sapardi menceritakan pada kita, hujan menjanjikan hal-hal yang menyedihkan. Tentang hati yang merangsang dan menganga. Ada ragu dalam puisi tersebut dan membuat kelu. Terlebih lagi, kata-kata ‘dari hujan bulan Juni’ mengalami repetisi. Hal ini bertanda bahwa, penekanan penyair terletak di bagian tersebut.
Bukan hanya Sapardi Djoko Damono yang tergiur dengan hujan. Di novel Orang-Orang Biasa garapan Adera Hirata (2019:71), juga menampakkan hujan di dalamnya. Hujan mengalami dua persimpangan antara penduduk Belantik dan seorang tokoh bernama Ibu Atikah. Diceritakan bahwa penduduk Belantik menyukai hujan, karena setelah hujan segalanya tampak bersih. Berbeda dengan Ibu Atikah saat hujan itulah, ia melihat suaminya cekikan bersama dengan perempuan lain. Perselingkuhan yang dilihat di pelepuk matanya, telah membuat luka di ulu hati. Peristiwa di novel itu digambarkan seperti sinetron, payung dalam genggaman Ibu Atikah dibuang dan ia memanggil suaminya. Hanya saja suaminya tetap tak mendengar, sebab terhalang oleh suara hujan. Saat itulah hujan tak hanya turun di bumi, namun juga di pipi Ibu Atikah. Perkara manusia, cinta, dan hujan sepelik itu. Hujan bahasa bagi penyair dan pencipta lagu sendu.
Lain lagi dengan band indie Efek Rumah Kaca (2007) yang menggaungkan hujan melalui lagunya “Desember”: Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam/Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini/Menanti, seperti pelangi setia menunggu hujan reda/Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember/Hujan di bulan Desember/Sampai nanti ketika hujan tak lagi/meneteskan duka meretas luka/Sampai hujan memulihkan luka. Desember bulan dari segala harapan dan penantian. Desember merupakan jadwal hujan turun ke bumi. Bersamaan hujan turun ada hal-hal yang tak menyengankan datang. Kata elegi di dalam lagu itu artinya syair yang mengandung ratapan. Hujan diekspresikan dengan sesuatu yang menyedihkan dan menyayat hati. Seseorang yang menunggu untuk ada yang menyembuhkan luka-lukanya. Hujan sebenarnya tak melulu demikian tentang sendu.
Hujan mengingatkanku sesuatu, mengenai harapan-harapan kecil bersama dengan temanku ketik masih remaja. Kami tahu ketika hujan saatnya doa-doa terhijab, maka kami akan saling menutup mata dan mengadahkan tangan. Seolah minta untuk segera dikabulkan, maklum ketika itu kami duduk di bangku kelas 12 SMA. Berbagai ujian harus kami lalui, mulai dari ujian pratik, ujian sekolah, dan ujian nasional. Hari-hari begitu cepat berlalu dan jarang ada jeda. Interprestasi kami ketika itu hujan sebagai bahasa langit, siapa saja yang meminta kepada Rabb kemungkinan besar akan dikabulkan. Tentu saja ketika itu, kami meminta untuk lulus di segala ujian.
Maka, hujan bukan hanya perkara kesedihan yang tak berujung. Umpatan yang keluar dari mulut ketika hujan itu juga merupakan doa. Hujan datang bukan untuk diolok-olok. Ia datang untuk mengilhami manusia, tentang ketenangan dan syukur. Sekalipun kadang hujan datang menyebakan banjir di kota besar, yang artinya hujan sendang bercakap pada manusia. Hujan datang untuk menguji hati yang benar-benar lapang.
“Dua do’a yang tidak akan ditolak: do’a ketika adzan dan do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078.)
Jumat, 7 Februari 2020
*)Terlewat satu hari tak memposting tulisan hehe.















