. [Warung Makan Arum 1] Warung makan favorit kalau lewat jalur tengah. Cocok buat sarapan, lokasinya berada di sekitar alun - alun Temanggung. Harganya juga terjangkau, yang penting fresh food.
Show & Tell
YOU ARE THE REASON
cherry valley forever
Game of Thrones Daily

oozey mess
No title available

Product Placement
No title available

titsay
untitled

Jar Jar Binks Fan Club
todays bird
★

bliss lane
Misplaced Lens Cap

❣ Chile in a Photography ❣

roma★
Cookie Run:Kingdom Official!
Noah Kahan
tumblr dot com
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Thailand

seen from United States
seen from Kenya
seen from Paraguay
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from T1
seen from United States
seen from Pakistan

seen from United States
seen from France
seen from Italy
seen from United States
seen from Indonesia
@tripku-blog1
. [Warung Makan Arum 1] Warung makan favorit kalau lewat jalur tengah. Cocok buat sarapan, lokasinya berada di sekitar alun - alun Temanggung. Harganya juga terjangkau, yang penting fresh food.
Perjalanan Ke Timur : Bojonegoro
Setelah ribet dengan perjalanan kebarat yang sampai berseri - seri, kita lanjut perjalanan ke timur yang cukup satu seri saja. Malam tahun baru adalah hari dipilih, bukan untuk apa - apa tapi karena ditanggal - tanggal itulah hari yang dianggap “maklum” untuk liburan. Jadi gak mungkin kan di tanggal -tanggal ditelfon klien buat tanya progres gambar.
Kita berangkat tanggal 30 menggunakan kereta Maharani dari Semarang Poncol menuju stasiun Bojonegoro, tiketnya cukup murah yaitu sekitar Rp. 49.000. Berngakat dari Semarang sekitar pukul 11.40 dan sampai di Bojonegoro sesuai jadwal yaitu di jam 14.30 kira - kira 3 jam perjalanan. Semua sudah dipersiapkan, rencana kita akan bermalam disana 2 malam. Kita akan menginap di daerah stadion sepak bola Bojonegoro. Sebenarnya setingannya silaturahim ke rumah kawan, tapi entah kenapa bisa aku tulis disini.
Sebelumnya saya perkenalkan dulu kawan saya yang ada di Bojonegoro, namanya Ilham lulusan Fakultas Hukum Undip dan lulus kurang dari 4 tahun. Doi lulus dengan predikat cumlaude. Pertama kali kenal dia saat doi masih maba dan sama - sama baru berkecimpung di pers. Habis itu lama tak berjumpa akhirnya kembali ketemu karena kita belajar dari guru yang sama. Karena hal inilah akhirnya kita bisa banyak berinteraksi dan bertukar pikiran dan menjadi kawan yang cukup dekat.
Ini adalah perjalanan ke empat kalinya saya ke Bojonegoro. Sesampainya di stasiun aku langsung di jemput kawan diluar stasiun. Karena aku sudah lapar, langsung saja aku ajak makan soto Bojonegoro. Karena gak tau mana yang enak tentunya soal tempat aku serahkan ke tuan rumah yang lebih paham. Saya pernah makan soto khas Bojonegoro di soto rajawali, tapi katanya jam segini sudah tutup jadi kita ke tempat soto lain yang gak kalah enak katanya. Saya lupa tempatnya dan sudah saya searching - searching di google belum ketemu juga, mungkin soto ayam mbak cicik kalau ga salah.
Soto ini rasanya lebih enak dari saat aku pertama mencoba pertama kali, mungkin karena laper kali ya. Dan perubahan selera makan dari yang dulu suka masakan modern tapi kini lebih suka masakan tradisional. Yang unik dari SOTO BOJONEGORO adalah biasanya ada potongan telur, ini yang agak berbeda dari soto - soto lainnya yang pernah saya temui, kuah sotonya menggunakan kuah kuning.
Selepas makan aku langsung bergegas kerumah Ilham dan si Madin kerumah Eng. Oya saya ke Bojonegoro bareng Madin, awalnya Madin diajak ke rumah Eng (mereka berdua adik kelas saya) lantas aku diajak sama Madin. Yaudah “ayok” aku bilang “tapi aku kerumah Ilham ya” lanjutku. Dan deal, nyiapin sangu dan sampailah kisah yang seperti ini. Selepas tiba dirumah Ilham, yaudah lebih banyak ngabisin waktu berdua quality time, karena lama gak ketemu, ngobrol panjang kali lebar tentang berbagai hal sampai akhirnya aku ngantuk dan tertidur pulas. Rencana mau diajak keluar, tapi karena hujan dan aku lelah jadi lebih banyak ngobrol di dalam rumah.
Esok harinya aku diajak ngopi di KOPI MAK BAH kopi legendaris yang ada Bojonegoro. Kawan saya ini hobinya diskusi jadi kopi dan rokok sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kalau aku? yang jelas semenjak ada film filosofi kopi aku jadi lebih suka kopi ketimbang sebelumnya walaupun belum bsa dikategorikan sebagai pecinta kopi. Sesampainya di sana, Ilham pesan kopi original, ya pecinta kopi pasti nyari yang original. Sedangkan aku pesan jahe kethek, aku penasaran dengan namanya jadi aku mau nyoba. Dan setelah dipesan ternyata itu kopi yang dicampur jahe. Menu yang sudah tidak asing karena itu sering dibuat di pondok.
Selepas itu aku diajak ke KAYANGAN API, ajakan itu langsung aku iyain soalnya bukan soal kayangan apinya tapi MASJID AL BIRRU PERTIWI di Dander yang pasti dilewati sebelum Kayangan Api. Itulah motivasi utamanya, kalau Kayangan Api pasti full, karena hari itu hari libur. Selepas selesai kopi diminum dan sudah kehabisan obrolan kita bergerak ke arah Kayangan Api. Tepat diwaktu dzuhur akhirnya kita sampai di Masjid AL Birru Pertiwi, Dander.
Masjid dengan gaya arsitektur modern dengan penataan kawasan yang ciamik. Selain itu tata ruang dan instalasinya juga menghasilkan banyak kejutan. Kalau kalian ke Bojonegoro coba sempatkanlah kesini.
Selepas shalat dzuhur dan selesai foto - foto, buat keperluan arsip. Kita bergegas ke Kayangan APi dan jeng - jeng, jalanan macet karena banyaknya pengunjung yang menuju kesana serta bahu jalan dipakai parkir untuk acara pernikahan. Pas, sudah tidak ada yang mengurai kemacetan dan semua pengen di dahulukan akhirnya jalan macet total gak ada yang bisa bergerak kendaraan.
Temanku berinisiatif mengurai kemacetan yang ada di sana, dia turun dari motor dan aku ganti memegang motornya. Setelah sekian jam akhirnya macet bisa terurai dan kita bisa maju lancar dan sampai di Kayangan Api dengan macet yang gak kalah parah 1km sebelum lokasi objek wisata.
Kita parkir pada lokasi hutan jati, karena parkir utama penuh. Di dalam? jangan ditanya, penuh orang. Kayangan Api memang sudah seperti Icon wisata Bojonegoro jadi wajar kalau pas libur gini objek wisata ini penuh orang.
Memang liburan paling enak adalah saat hari kerja
Awalnya yang niatnya menikmati objek akhirnya kita nyari gazebo yang kosong, duduk - duduk disana dan ngobrol macem - macem. Sebagai tuan rumah dan saya aku dia sangat lihai menjamu tamu - tamunya. Kita gak pernah bosen di sampingnya. Dia selalu mengajak kita bercerita. Oya soal penampakan Kayangan Api, bisa dilihat di bawah ini.
Untuk keterngana detailnya bisa lihat postingan saya sebelumnya ya DISINI, di seri musafir. Intinya yang ada disini adalah sebuah objek wisata yang kontennya fenomena alam berupa api yang menyembur dari dalam tanah, selain itu ada juga semacam air belerang yang menyembur pula. Walaupun tidak ada gunung disana.
Setelah lelah dan laper akhirnya kita kembali ke kota dan mampi lagi di Masjid AL Birru buat shalat ashar. Setelah itu pulang kerumah dan kita kulineran lagi. Tempat tujuannya adalah Waroeng Ireng, tempat makan pertama yang saya kunjungi saat pertama kali ke Bojonegoro. Yang di pesen tentunya makanan andalan yaitu Rujak CIngur dan Wedang Tape. Sambil menunggu datang kita nyemil beberapa gorengan terlebih dahulu. Warung ini hanya bukak malam hari dan perlu diingat. Warung ini sebelum bukak sudah banyak yang ngantri. Begitu legendaris kan warung ini.
Kondisi waroeng Ireng, penasaran juga sama rasa lontong campurnya karena yang pesen saat itu banyak juga.
Ini pesanan kita, wedang tape dan gorengan. rasanya joss.
Ini menu utamanya, rujak cingur. Buat yang gak suka pedas, saran saya pesan dengan mode sedang. Biar rasa aslinya rujak cingur benar - benar kerasa gak kalah dengan rasa pedasnya. Karena sudah benar - benar cape, kitapun pulang dan sampai akhirnya tiba untuk pulang. Tiket kereta kita sekitar 8 pagi. Aku dan Madin janjian di stasiun Bojonegoro. Dan akhirnya sampai juga di penghujung perjalanan. Terima Kasih untuk tuan rumah Ilham yang sudah berbaik hati pada saya. Sangat berkesan dan menyenangkan. Boleh kali kapan - kapan kita kesana lagi. Oke gaes sampai jumpa lagi di perjalanan selanjutnya.
. KAYANGAN API, Bojonegoro Adalah sebuah wisata iconic yang ada di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sajian utama wisata ini adalah fenomena alam berupa munculnya api dari tanah dan air ber belerang. Walaupun disini juga bukan daerah gunung berapi, tapi air belerang yang muncul disini suhunya dingin. Wisata kayangan api merupakan salah satu wisata andalan di Kabupaten Bojonegoro jadi kalau kamu datang pas musim liburan lokasi ini akan padat pengunjung. Anda bisa juga bakar jagung dan ayam di atas api abadi yang menyeruap. Disini juga ada 2 buah pohom berbeda yang menyatu pada bagian atasnya seperti membentuk sebuah gerbang. Konon dulu tempat inj adalah lokasi milik mpu pembuat keris terkenal. Jadi diapi abadi si mpu menempa besinya kemudian dilokasi munculnya air belerang beliau mendinginkan hasil olah besinya. Fenomena seperi ini bukan satu - satunya di Indonesia. Dilokasi sekitar seperti di Kabupaten Blora dan Purwodadi juga ada api abadi macam ini. Konon hal ini menandakan kalau daerah sekitar sini merupakan daerah yg kaya minyak dan gas alam. Bisa jadi iya karena di daerah Bojonegoro sendiri memang banyak terdapat pengeboran minyak. Untuk fasilitas di tempat wisata ini lumayan oke karena sudah disediakan sitting group, gazebo dan playground buat anak - anak. Sekian laporan dari Bojonegoro. Selamat ngetrip gaes. #tripku #bae #bojonegoro #kayanganapi #wisata #alam #trip (at Kayangan Api)
WEDANG TAPE Minuman ini aku temukan di salah satu warung makan di BOJONEGORO. Pertama nyicipi sekitar tahun 2014 akhir. Dan kemarin saat kesana lagi aku sempatkan mampir lagi diwarung yang sama. Waroeng Ireng namanya, waroeng ini sudah terkenal di Bojonegoro, soalnya saat saya pertama kali kesini, begitu saya pengen makan makanan yang khas sini, saya langsung dianterkan ke warung sini. Dan juga kemarin aku datang setelah shalat maghrib, warungnya belum buka tapi sudah banyak yang ngantri. Warung ini buka hanya malam hari, untuk lokasinya anda bisa search di aplikasi maps saat di Bojonegoro InsyaaAllah ketemu. Menu andalan saya kalau disini adalah 1 porsi Rujak Cingur dan minumnya Wedang Tape ditambah cemilan beberapa gorengan. Soal harga terjangkaulah buat kita - kita. Dan ada menu lainnya juga seperti lontong sayur yang sepertinya penggemarnya ga kalah banyak. Pokoknya enak - enak kalau datang kesini. #tripku #makanan #khas #bojonegoro #waroeng #ireng #rujak #cingur #wedang #tape (at Bojonegoro)
. “Patung Icon” Semarang Contemporary art Gallery.
Adalah sebuah bangunan gallery seni di Jalan Taman Srigunting No. 5-6 Jalan Letjen Suprapto, Tj. Mas, Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Isi karya seni di sini selalu berubah - ubah. Kadang juga ada tema khusus dengan karya yang ditampilkan cukup lama. Biasanya 1 bulan bisa lebih.
Tapi ada karya yang mencadi icon ditempat ini, yaitu patung di luar bangunan yang berdiri miring seperti yang ditampilkan diatas. Untuk masuk tempat ini cukup dengan Rp 10.000, terjangkau kan?
#tripku #semarang #art #gallery #place #visit #wisata (at Contemporary Art Gallery, Kota Lama Semarang)
JAJAN TRADISIONAL “Gebral” Terbuat dari rebusan singkong yang dicincang dan dicampur dengan gula jawa. Diatasnya diberi parutan kelapa dan dibungkus daun pisang. Go green bangeeeet lah pokoknya. Dan yang bikin OKE dan menjadi keunggulan makanan tradisional adalah fresh food. Diolah dengan bahan - bahan yang masih fresh dan ga mungkin dihangatin. Jadi kita akan selalu dihidangkan dengan makanan yang segar. Ajibbbbb…. #makanan (at Pekalongan)
Perjalanan Kebarat : Enam, Akhirnya Jakarta
Kalau ngomongin soal Jakarta, ini adalah kota yang teramat spesial buat aku. Walaupun aku sendiri gak hidup di Jakarta, tapi beberapa sudut di Jakarta seperti sudah sangat familiar buat aku. Ini adalah kota yang banyak menjadi saksi tentang peristiwa - peristiwa penting dalam hidupku. Di kota ini adalah tempat persembunyianku saat aku menghilang dari kehidupan orang - orang yang biasa hadir di sisiku. Ceritanya dulu pernahsengaja ngilang 1 bulan lebih di Jakarta dan handphone dalam keadaan off. Di kota ini aku pernah menangis, gembira, bersedih, senang, tersesat, kesepian, merana, kecewa, bahagia dan rasa lainnya yang pernah kurasakan saat di ada di kota ini. Tentu ada satu hal yang sangat terekam jelas diingatanku, adalah peristiwa bulan oktober 2015. Setelah beberapa jam dari siang hingga malam menyendiri di ISTIQLAL dan sempat di telfon orang tua juga karena entah alasan apa tiba - tiba ke Jakarta akhirnya bisa menghatamkan Al - Qur’an juga untuk yang pertama kali disana. Ini adalah kota yang aku tak pernah kesulitan untuk mencari tempat untuk tidur. Gara - gara kota ini juga akhirnya aku bisa naik pesawat,, yeahhhh.....
Mungkin Jakarta memang kota yang sangat padat, terkadang memang hal itu membuat waktu kita jadi banyak habis dijalan. Tapi entah kenapa setiap aku berada di sana. Banyak ide - ide baru bermuculan ditengah perjalanan. Mungkin saat perjalanan itulah aku bisa tenang memikirkan suatu hal dengan baik. Karena ga ada orang yang aku kenal di sekitar. Kota dengan sejuta cerita yang hampir setiap tahun aku datangi, entah untuk keperluhan bertemu teman, atau sekedar refresh aja menyusuri jejak - jejak masa lalu hingga kondangan. Dengan alasan - alasan itulah, kita sudah ke Bandung? kenapa gak sekalian ke Jakarta sekalian ? Go...go...go
Tiket dari Bandung ke Jakarta naik kereta ada beberapa type. Tapi kali itu aku beli tiket Serayu Pagi jurusan Pasar Senen dari Kiara Condong. Harganya Rp. 67.000,00. Perjalanan sekitar 4 jam kalau ga salah. Yang jelas aku dari Bandung habis dzuhur dan sampai Jakarta sore. Sesampainya di pasar senen, kita menunaikan kewajiban dan terus bergegas ke Bogor naik KRL. Tepatnya di daerah Bojong Gede. Sudah dinanti sama keluarga di sana. Ini adalah keluarga baru, ponakanku yang umurnya jauh dibawahku tapi sudah nikah. Baguslah lebih terjaga jadinya. Dan keluarga yang sedang membangun inilah yang dulu nampung aku tidur selama di Bandung buat nyelesaiin Tugas Akhir. Dulu Agung belum di Bandung. Dan ceritanya si balas budi. Tapi datang cuma bawa cireng 1 bungkus dan numpang tidur, numpang makan, makai kendaraan lebih dari sekali. Ini mah ngerepotin lagi, ga jadi balas budi. Mungkin mereka mengaggap kita sudah belajar kalau malaikat datang bersama orang yang bertamu jadi apapun yang terjadi mereka coba memuliakan. Dan benar saja, kita dimuliakan di sana.
Keesokan harinya aku dan Madin pergi ke IPB untuk menghadiri wisudaan kawannya. Dan siapa tau bisa ketemu juga anak Arsitektur Lanscape yang sudah bantuin proyek aku hingga selesai. Katanya si kemarin lagi Tugas Akhir, kan bisa saja barengan. Dari Bojong Gede kita naik KRL ke Stasiun Bogor. Dari Stasiun kita naik angkot 2x ke arah IPB. Yang jelas sesuai dengan petunjuknya Lina lah. Sesampainya di sana ternyata sudah ramai banget wisudaannya. Ya ramainya hampir sama dengan wisudaan di Teknik Undip lah. Banyak drum band, anak - anak sorak - sorak dan tentunya stand - stand foto untuk para wisudawan. Selebihnya lebih banyak acara ramah tamh. Dan aku cuma bisa melongo karena Madin ketemusama anak daerahnya jadi aku ga punya bahan cerita dan bahasa mereka.
Selepas itu kita pulang agak malam dan kemudian bergegas ketempat teman yang ada di Lenteng Agung. Disitulah kita banyak menghabiskan waktu kita. ketemu kawan lama. Kawan yang sudah kaya guru buat aku. dan sebenarnya perjalanan ke Jakarta waktu itu lebih banyak untuk keperluan pribadi bukan vocation. Jadi tidak ada cerita spesial atau info untuk perjalanan selain harga tiket kereta Serayu Pagi yang harganya Rp 67.000,00. Keesokan harinya aku dan Madin harus berpisah. AKu pulang lebih dulu menuju Cilacap dan Madin masih stay di Jakarta 1 hari. Tiket keretaku jam 7 malam. Alhamdullilah misi untuk ke ISTIQLAL bisa tercapai. Tapi misi untuk khatam AL - Qur'an untuk yang kedua kalinya gagal. Mungkin tahun ini (2017) bisa direalisasikan kembali. Dan akhirnya selesai juga seri rentetan PERJALANAN KEBARAT.
Cuma Foto ini yang menjadi kenangan. Suasana di KRL
Perjalanan Kebarat : Lima, Bandung Terus
Tak usah panjang lebar langsung aja kita bertolak ke Bandung pada masa itu. Setelah hari pertama sedikit bisa jalan - jalan. Hari kedua SKALA TIME, di hari ketiga kita ngerjain deadline proyek. Ini bukan bercanda tapi serius. Jadi saat berangkat ke Bandung kita ninggal 1 kerjaan dan belum kelar dan hari seninnya mau di presentasikan ke pemkot Solo. Okelah seharian bahkan sampai senin pagi kita bertiga ( aku, Agung, Ahmadin atau triple A ) mengejar kekurangan gambar yang mau di presentasikan esoknya. Ini semacam cuma mindah kantor saja dari Semarang ke Bandung. Dan jadilah hari minggu saat itu jadi hari deadline SKALA, Horeeee, sedih.
Bahkan aku harus begadang hingga pagi sekitar jam 4 pagi, untuk menyelesaikan draft rancangannya. Dan akhirnya tibalah kita pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui apakah kau masih berbicara selembut dahulu? memintaku minum susu dan tidur yang lelap? sambil membenarkan letak leher kemejaku... Loh kok malah jadi Gie. Akhirnya kita sudah terbebas dari deadline. Dan kita bisa melanjutkan kegiatan normal. Saat itu hari senin praktis kita hanya tiduran di kosan. Karena barusaja begadang. Paginya aku minta diantar ke CIbaduyut untuk menemui kawanku SANJA yang waktu itu menolongku saat aku pergi pertama kali ke Bandung. Baca kisahnya di Perjalanan ke barat Dua. Pagi - pagi sekali aku dan agung pergi kesana. Sekarang doi bisnis konveksi di Bandung. Bahkan barangnya sampai di eksport ke Jepang. Dan seperti biasa seperti orang sudah tak bertemu lama, ya begitulah. Dasar doi memang orang baik. Pulang - pulang aku dan Agung dibawain kaos yang mau di eksportnya ke Jepang. Doi memang baik banget.
Selanjutnya kita sarapan pagi bareng kemudian baru aku pamit untuk pulang. Ditengah jalan aku membeli oleh - oleh untuk orang yang di Jakarta dan dirumah. Saat itu uang kosong tapi coba lah cek ATM siapa tahu ada klien yang transfer uang dan taraaaaaa,,,, alhamdullilah ADA. Oke kita belanja. Gausah disebutin kita belanja apa yang jelas nyari yang paling murah dan paling awet hahahahaha.
Oke setelah itu pulang, Agung berangkat ke kampus, aku dan Madin dikosan saja. Aku lupa hari itu kita kemana saja, tapi kayaknya banyak dirumah. Karena agung Juga sibuk kuliah. Baru keesokan harinya aku dan Madin pergi Ke ITB. Ini ITB beneran bukan ITEBE boongan. Sebelumnya kita sudah janjian dengan LINA. Doi baru meluncurin sebuah buku. Dalih kita si mau bayar bukunya. Padahal biar ada temen mainnya di ITB. Saat Agung kekampus, aku dan Madin langsung cus ke ITB. Begitu masuk ITB kesan pertama adalah kampusnya sangat enjoy, cozy, asik buat belajar. Dan tempat pejalan kakinya ada pergola tinggi didepan membuat kita jadi tidak kepanasan. Di dalam juga sangat rindang. Dan iklimnya memang sepertinya belajar banget. Saat kita masuk saja berhamburan mahasiswa diluar pada baca - baca buku. Tak berselang lama ketemulah kita dengan Lina. Kita ngobrol bentar di kantin minum - minum dan cerita beberapa hal tentang ITB dan kehidupannya dia di kampus. Dan well entah dia tau maksud kita atau memang dia sudah niat sejak awal, yang jelas gayung bersambut. Kita diajak keliling ITB dan dijalan dia jelasin segala detail tentang ITB yang iya tahu hingga masuk kedalam - dalam ITB.
Mulai dari gedung kembar 4, lapangan olahraganya, kegiatan mahasiswanya. Serius doi kaya guide kita beneran. Dan dia sepertinya sangat semangat mengenalkan ITB pada kita. ITB sudah seperti pacarnya dia, dan dia seperti baru pacaran 2 bulan terus mengenalkan ke temen - temennya dengan sangat antusias. Kita juga sempet masuk ke perpus ITB yang bukunya super duper banyak. Jadi kampus ITB yang sebenarnya lokasi pendidikan saat itu saperti berubah jadi lokasi wisata. Kita diputer - puter terus sampai menjelang siang. Pokoknya jalan sampe cape dan aku sampai keringetan. Dan 1 hal yang belum ketemu, yaitu entah dimana kampus arsitekturnya yang banyak menelurkan arsitek nasional. Gedung - gedung disana oke punya, terutama buat gedung - gedung klasiknya aku sangat mengaguminya apalagi yang memakai konstruksi kayu. Seninya itu kelihatan banget.
Dan perjaanan kita berakhir saat kumandang adzan dzuhur tiba. kita berdua diajak Lina shalat di Masjid Salman. Masjidnya juga gak kalah keceh. Dan siapa tahu bisa ketemu dengan Muzammil kata Madin. Oya teman kelas Lina juga ada yang arstis, cantik loh sempat ditawarin untuk diajak foto sama doi. Tapi karena kita cowo gengsian jadi kita dengan gagah berani menolaknya. “UDAH LIN GAUSAH!!” KATA KITA DENGAN TEGAS. Padahal dalam hati, kenapa tadi ditolak padahal kan bisa ditunjukin ke temen - temen di Semarang. hue hue......
Selepas selesai shalat kitapun pamit dengan Lina karena jadwal kereta kita ke Jakarta bentar lagi berangkat. Dengan sangat terpaksa kita pamit dari ITB yang indah ini, ga kalah lah sama lokasi wisata. Dan seperti biasa foto. Katanya buat kenang - kenangan. Lina minta foto sama kita berdua dan jadilah foto seperti foto dibawah ini.
Dan tara tak selang berapa lama, doi upload di IG. Katanya dasar anak arsitek diajak jalan - jalan yang dilihat cuma lantai, dinding dan plafond bangunan. Oke terimakasih untuk sahabat Nur Novilina Arifianingsih yang sudah mengantar kita jalan - jalan keliling kampus dengan semangatnya. Semoga lancar kuliahnya. Bukunya meledak dan semoga tetap bisa menjadi Cahaya yang menerangi banyak orang. Dan kita berdua pamit dulu menuju Jakarta. Tunggu kisah kita di Jakarta gengs.
Perjalanan Kebarat : Empat, Tetap di Bandung
Hooaaammmmm.........sudah sekian lama akhirnya bisa menulis lagi. Ternyata perjalanan kebarat memang memakan waktu cukup lama. Pantesan Sun Go Kong dan kawan - kawannya untuk ke barat harus melewati 72 rintangan dan sekian godaan ( aku ga hapal jumlahnya ). Oke stop aku memang ga jago dalam membuat preambule untuk sebuah tulisan. Langsung aja kita bertolak ke Bandung pada masa itu. Setelah hari pertama sedikit bisa jalan - jalan. Di hari di Bandung, team Skala sudah datang semua di lokasi kongres. Sesuai kesepakatan sebelumnya kita akan melaksanakan kongres di Selasar Sunaryo sambil nonton pameran arsitektur dan jalan - jalan dan mungkin sorenya kita bisa main.
Pagi - pagi sekali kita sudah siap - siap dan bergegas menuju Selasar Sunaryo. Perjalanan dari Cikutra sekitar 45 menit hingga sampai di selasar sunaryo. Kalau belum tau tentang selasar sunaryo...............
Selasar sunaryo itu semacam galeri seni yang terletak di bagian utara Bandung, Jawa Barat. Selasar Sunaryo dibangun oleh Sunaryo, seniman kontemporer sekaligus mantan dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung dan diresmikan pada hari Sabtu, 5 September 1998. Galeri seni ini bersifat nirlaba. Awalnya hanya menampilkan karya Sunaryo, namun kemudian karya - karya lain. Dan pada kesempatan sekarang ini sedang menampilkan karya - karya beberapa arsitek - arsitek ternama.
Sesampainya disana kita atau lebih tepatnya aku langsung dibuat takjub dengan tatanan desain galerinya yang ciamik. Maklum selasar sunaryo di desain oleh arsitek kenamaan yaitu Baskoro Tedjo. Bahkan untuk karya selasar sunaryo ini sempat mendapatkan IAI Award pada tahun 2002 tingkat nasional. Oke langsung kita menuju lokasi selasarnya.
Sebenarnya lokasinya tidak terlalu luas, tapi karena berdiri di lahan berkontur tinggi dan didesain dengan bagus membuat tempat ini memiliki nilai tersendiri.
Ini adalah spot pertama yang langsung mencuri mataku. Bentuknya sederhana tapi idenya luar biasa. Air yang dipola dan dilubangi sedemikian rupa ternyata bisa menghasilkan karya yang luar biasa juga. Bagian depan ada parkiran yang cukup tapi tidak terlalu luas. Dan disamping hiasan air itu ada jalan masuk menuju selasar. Saat itu tidak dipungut biaya sama sekali, gatau kalau hari lain atau sebenarnya ada tarif masuknya atau engga. Yang jelas waktu itu gratis tis tis.....
Begitu masuk kita langsung disambut sebuah cafe yang bernama kopi selasar, dan ada beberapa ruang pajang yang berisi beberapa karya. Kalau makan disini sedia uang yang cukup ya gaes apalagi buat yang terbiasa makan ala - ala mahasiswa. Tempat ini sanggup merenggup hampir semua gajiku diskala selama 1 tahun sebagai Public Relation. Tapi lumayan enak dan nyaman, cocok lah sama harganya si jadi ga menyesal juga si. Nasi goreng ikan asinnya josss.....
Ini area yang paling aku suka ditempat ini. Yap open Teater, kalau dikampusku dulu OT ini adalah tempat yang paling khas dan menyenangkan. Disini OTnya juga bagus dan nyaman.
Oya temen angkatanku yang cewe (indah - sebelah kiri depan) juga sempat mengunjungiku begitu tahu aku ada di Bandung. Doi datang bukan karena aku tapi ya karena foto wisudanya masih di aku dan doi kesini cuma ingin ngambil foto wisudanya bukan menemui aku. Jadi cuma perlu foto wisudanya bukan aku. Oke fine. Tapi tak apa, sudah biasa, fans memang suka sok jaim gitu biasanya wkwkwkw.
Ini bangunan gallery utamanya, bagus dan inspiratif banget.
Bebebrapa sudut selasar. Oya di sini ada toko souvernirnya juga loh. Kamar mandinya juga bersih. Dan yang menakjubkan adalah musholanya. Kalau sempet cobalah jalan - jalan kesana. Oya saat itu sedang berlangsung pameran Arsitektur tapi gambarnya sengaja gak aku upload demi menjaga karya yang dipajang waktu itu.
Dasar mahasiswa arsitek kemana - mana pasti melakukan hal kaya gini. Foto sana, foto sini. Seperti mereka itulah.
Narsis zone, sengaja dipajang yang masih jomblo - jomblo saja ya, semoga tahun depan udah engga lagi.
Dan pertemuan waktu itu ditutup dengan foto bareng. Kitapun turun setelah ashar. Dan aku sama madin tersesat dijalan. Butuh waktu cukup lama untuk sampai ke kos Agung. Sekian dulu ya ceritanya. Sampai jumpa lagi di kisah perjalanan selanjutnya.
Perjalanan Kebarat : Tiga, Masih di Bandung
Perkenalkan inilah temen - temenku yang mesti aku temui jauh - jauh di Bandung. Setelah ku tengok - tengok kombinasi kita ala - ala 5cm gitu ya?Oya, yang paling belakang itu yang namanya Sandy yang kemarin aku ceritain di part 1, doi adalah cowo yang selalu tampil rapi. Kalau keluar pakainya celana bahan, kalau pakai kaos berkerah, pokoknya rapiable lah dan jomblo loh kuy, segera serbu kuyy. Oke cukup, mereka kita singkirkan dulu, kita lanjut kisah perjalanan kita.
Beberapa menit setelah kita tiba di Bandung, aku dan Madin, langsung menghubungi temen kita Agung yang sedang tinggal di Bandung. Cowo yang sudah terkenal kegantengannya yang konon kini jadi anak gahul Bandung datang beberapa menit setelah kita hubungi. Doi membawa temennya untuk menjemput kita. Dasar kita memang masih mental numpang, padahal udah ada gojek, uber masih aja maunya gratisan dan bikin orang lain repot. Setelah mereka datang kita langsung cus ke kosan Agung. Disana istirahat, bersih - bersih dulu, habis itu baru makan siang. 4 Orang sudah ada di Bandung, tinggal nunggu 1 orang saja yaitu si UCI, cewe satu - satunya di Founder SKALA. Eh kok aku jadi malah cerita tentang kita sih, bukan tentang perjalannya.
Oke ijinkan aku serius kembali, karena waktu sudah tiggal setengah hari, kita putuskan jalan - jalan ke Alun - Alun Kota Bandung saja, sambil shalat dzuhur disana dan ketemu Sandy yang sudah datang duluan. Kos Agung berada di daerah Cikutra, untuk menuju alun - alun kota Bandung kira - kira Butuh setengah jam saja. Setibanya disana kita langsung bergegas shalat dan setelah shalat tau kan kita ngapain tentunya. Yes, bener banget apalagi kalau bukan selfie - selfie dan foto - foto ria buat bahan medsos kita. Tapi beruntung aku sudah tobat dari itu semua jadi hanya beberapa foto saja tetang diriku. Selebihnya aku foto spot - spot bagus yang bisa menjadi bahan isi tumblr ini, khusus untuk kalian para pembaca setia. Emang ada yang baca ya? ah entahlah. Well, langsung aja kita tengok hasil jepretan orang yang punya temen fotografer.
Ini yang mereka berdua lakukan. Kelihatan lah ya umurnya berapa mereka.
Ini interior Masjid Agung kota Bandung, cukup luas, enak, dingin cuma ada beberapa kebocoran yang terjadi di sana. Tapi suka lah sama bentuk eksterior dan interiornya.
Ini tampilan Masjid Raya Kota Bandung dari alun - alun yang ada di depannya. Perpaduan yang bagus, tapi memang menarik dan yang terpenting tertata. Cuma memang kondisi rumput sintetisnya sudah tak sebagus saat aku pertama kali kesini. Dan kurang bagusnya rumput sintetis ini kalau pas habis hujan, jadi agak mengeluarkan aroma kurang sedap.
Ini bangunan yang bikin aku penasaran dari sejak pertama datang ke alun - alun ini. Dan sampai sekarang juga ternyata belum berfungsi. Konon mau digunakan sebagai perpustakaan, tapi yang jelas aku suka dengan desainnya.
Ini spot yang ada di kanan dan kiri alun - alun. memang Bandung kini konon memang mengalami kemajuan pesat semenjak si kang arsitek yang menjadi walikota. Meskipun PR beliau juga banyak banget, masalah trasportasi juga cukup gak nyaman di Bandung karena kepadatan kendaraannya cukup tinggi jadi macet ya bukan hal asing lah disini.
Ini salah spot di sekitar alun - alun Bandung juga
Ini halte bus yang legendaris itu, tapi ayun - ayunnya sudah gak ada sayangnya.
Inilah aku, eaaa, kalian tau kan aku yang mana.
Karya seni yang bagus dari bambu. Abaikan orangnya ya.
Akhirnya ketemu Sandy juga. Doi sudah jadi anak proyek lapangan jadi sepatunya sudah beda ma kita bertiga.
Ini penampakan jalan asia afrika, jalan yang sangat ramah untuk pejalan kaki. Karena pedestriannya sangat lebar dan bagus. Dan juga untuk para penyandang difabel juga sangat nyaman. Karena beda tinggi dengan jalan hanya berkisar 10cm. Menurut teori perencanaan si seperti itu.
Oya di sepanjang jalan banyak juga kursi - kursi macam seperti ini. Jadi kalau cape tinggal duduk aja, tapi bukan kaya orang itu ya. Doi mah duduk buat update medsos saja. Tapi memang jalan ini menurutku menjadi jalan yang sangat enak selain jalan Pahlawan di Semarang.
Udah dulu ya ceritanya, setelah dari sin kita pulang ke Cikutra. Awalnya mau mampir ke taman lalu lintas, proyek yang pernah kita ikut ngerencanain. Tapi sayang tutup jadi kita langsung pulang saja dan hujan pula. Sekilas kalau tentang kota Bandung, jos lah untuk perubahannya meskipun tetap harus ditingkatkandi beberapa sektor. Oke segitu dulu saja, have a nice day tumblres.
Perjalanan Kebarat : Dua, Kemudian di Bandung
Menyoal soal Bandung, selain Jakarta, Bandung adalah salah satu kota yang selalu bikin aku semangat untuk mendatanginya. Ada kata - kata yang sangat mistis untukku dan selalu berkesan ketika tersebut nama Bandung.
"Aku kembali ke Bandung..dan kepada tjintaku (cinta) yang sesungguhnya." Kata - kata dari Sukarno ini membawa dimensi berbeda ketika aku mengunjungi Bandung. Dan kata - kata inilah yang selalu membikinku semangat ketika hendak ke Bandung.
Ini adalah ketiga kalinya aku menginjakan kaki di kota ini. Yang pertama adalah saat aku SMK dulu sempet mampir di Cibaduyut, kedua adalah tahun lalu saat survey untuk tugas akhir dan sekarang ini. Soal perjalanan tahun lalu ada kisah yang menarik.
Tahun lalu satu minggu sebelum puasa aku pergi ke Bandung buat study banding tentang pengolahan susu. Dosen pembimbingku menganjurkan aku agar pergi ke daerah pangalengan. Well karena aku sudah terbiasa pergi sendiri dan jauh jadi aku menganggapnya biasa saja. Dan beruntung ada saudara juga yang tinggal di sana. Lumayan lah buat menghemat penginapan.
Sama dengan saat ini tahun lalu aku berangkat dari Solo. Singkat cerita aku ketemu orang yang super baik dikereta saat menuju Bandung. Tujuanku yang pertama adalah pagarsih, jadi dari stasiun transit dulu ke pagarsih sebelum melanjutkan perjalanan ke pangalengan. Seperti biasa dengan gaya sok kenal dan sok deket aku bertanya pada penumpang lainya dikereta untuk menunjukan jalan ke pagarsih. Ke arah mana yang mesti aku tuju, naik apa, berapa kali, bayar berapa, apakah aku perlu transit? Data - data itu harus aku punya agar bisa sampai ke pagarsih.
Beberapa orang bingung karena mereka pendatang juga sama dengan saya, sampai akhirnya ada salah satu orang yang nyaut yang kemudian aku kenal bernama Sanjaya. Aku panggil Sanja biar sama dengan temenku yang ada di Makasar. Dia adalah orang yang berbaik hati menunjukan jalan ke daerah yang aku tuju. Entah apapun motifnya aku menyambutnya dengan sangat baik dan terima kasih. Bahkan saat turun dari kereta doi menawarkan diri untuk semacam jadu guideku selama di Bandung.
“apa mau aku antarkan” katanya. Dengan agak malu - malu akupun mengiyakan sambil basa - basi.
“boleh kalau ga merepotkan” kurang lebih jawabanku saat itu begitu. Mulailah kita mengobrol santai. Dan aku maisih terheran - heran kita baru kenal dan doi dengan suka rela mengantarkanku begitu saja amejing banget. Dan mulailah aku bertanya soal tempat - tempat yang ada di Bandung seperti alun - alun Bandung, Masjid Al Irsyad, kawah putih dll. Apalagi alun - alun Bandung sebelum aku ke Bandung sempet aku browsing jaraknya amat dekat.
“mau ke alun - alun ayo aku anter dulu, nanti bisa kok sampai pagarsih” katanya dia yang semakin bikin aku kaget. Gila doi baik banget, emang dia gak rugi ya. Semoga Allah membalas kebaikannya. Jadilah kita pergi ke Alun - Alun Bandung, di jalan doi menceritakan semua hal tentang Bandung, tempat belanja, tempat kulineran, tempat wisata dan tentunya tentang Ridwan Kamil sang walikota Bandung. Aku diantar lewat jalan yang istimewa, melewati masjid yang berbentuk seperti klenteng, jalan deket asia afrika yang pagi - pagi penuh dengan jualan koran dan ada tamannya, jalan asia afrika tentunya dan kemudian sampai di alun - alun Bandung.
Sempet menikmati juga di alun - alun, sempet foto dengan doi juga. Sesudah cukup menikmatinya kita jalan lagi menuju pagarsih, katanya deket jadi jalan aja. Padahal lumayan jauh, tapi sebagai tamu yang percaya ma si guide kita mah ngikut aja. Ditengah jalan perut kayaknya keroncongan, akupun ngajak makan. Dan aku pikir doi tahu banget bagaimana memuliakan tamu. Aku diajak makan makanan tradisional, enak banget tapi aku lupa namanya apa. Dan ini yang aku makin berfikir doi super baik. Setelah makan yang bayar makanannya doi. Udah aku paksa aku aja yang bayar tapi doi tetep ngotot yaudah. Dan well setelah mencari - cari alamat dan kaki sampai mau copot sampai juga dirumah saudara. Sebelum sampai rumah saudara, iseng - iseng aku tanya tanggal lahirnya, entah kenapa aku penasaran dan muncul firasat ada yang istimewa.
Aku : ‘kamu lahir tahun berapa?”
Doi : “aku 1994 mas”
Aku : “wah lebih muda daripada aku ya, bulannya apa?”
Doi : “Januari”
Aku :”wah tunggu dulu jangan - jangan, eh tanggalnya” jangan sampai tanggal lahirnya sama denganku tanggal 8.
Doi : “ aku lahir tanggal 8″
Aku : “wah kok sama, aku juga tanggal 8 januari cuma aku 1993″ aku menjelaskan dan agak sedikit gak percaya kenapa bisa kaya gitu kebetulannya. Dan diakhir cerita doi menawarkan diri juga besok kalau mau ke pangalengan, butuh dianter aku siap nganter katanya. Tentunya aku menolaknya dan tidak mau merepotkannyakalau soal ini. Bisa - bisa kerjaan dia terbengkalai, oya doi bisnis di konfeksi, punya distro di Purwakarta di daerah Teluk Jambe. Aslinya tegal, lama menetap di Bandung. Sudah 6 tahun katanya, dia jauh lebih dulu mandir ketimbang aku. Doilah yang cukup menginspirasiku buat berdikari.
Well, perlu di catet. Sanja masuk list sebagai orang yang wajib dikunjungi di Bandung. Sudah aku siapkan juga wingko babat oleh - oleh buatnya khas dari Semarang. Dan untung nomornya masik aktiv.
Tak lama setelah aku dan Madin menunggu di stasiun Bandung, Agung datang dengan temannya menjemput kita berdua. Dan jadilah kita bertemu salah satu orang yang hendak kita tuju di Bandung ini. Kita menuju kosannya dia yang berada di daerah cikutra. Rencana disitulah kita akan bermalam selama di Bandung.
Perjalanan Kebarat : Satu, Mulai dari Solo
Hey setelah sekian lama akhirnya sempat juga menuliskan perjalanan yang sudah bulan lalu banget. Perjalanan yang sudah direncanakan sejak lama, perjalanan kebarat untuk ketemu teman - teman dengan niat utama rapat di selingi temu kangen dan sekalian melipir kemana - mana. Oke enough niatnya sudah terlalu banyak, kita cukupkan saja.
Oya dan sekalian saya perkenalkan link baru akun tumblrku. Setelah sekian lama baru tadi siang nemu nama yang cocok dan belum dipakai oleh siapapun. Akhirnya ketemu nama tripku , InsyaAllah ini nama yang terakhir setelah berbagai nama yang beredar dalam akun tumblr ini.
Awalnya mau makai food and place, karena akun ini akan kuisi tempat - tempat recomended yang pernah aku datangi dan tempat makanan enak - enak yang bisa kamu nikmati. Tapi tetrnyata sudah ada yang makai, dan akhirnya ketemulah nama tripku. Maksudnya si biar jadi dokumentasi perjalanan aku. Jadi paslah kiranya pembagian akun medsos yang aku punya. Blog yang sengaja ku isi dengan gagasan pemikiran, kisah - kisah yang aku alami, quote dan lain - lain. Akun - akun sosialita seperti facebook, twitter, instagram, path yang sudah sengaja gak ku update karena hanya untuk stalking mantan punya - punya saja agar tidak ketinggalan info. Jadi semoga isi tumblr ini bisa buat orang yang suka stalking akun saya sedikit terobati bermanfaat untuk pembaca yang budiman.
Oke, cerita bermula ketika saya dan gengs (founder of skala arsitektural) merencanakan sebuah pertemuan. Berawal dari kegalauan saya, dasar tukang galau, eh tapi jangan salah semua kemajuan berasal dari kegalauan, Karena setiap kegalauan akan memunculkan revolusi - revolusi kecil dalam diri kita, jadi jangan underestimate ya, karena ada hal yang perlu di bahas bersama soal kelangsungan skala dan pembahasan rencana - rencana bisnis kedepan maka akhirnya di sepakati kita untuk bertemu. Tempat ketemunya di sepakati di Bandung, dan tanggal yang dipilih adalah tanggal 17 September, 1 pekan setelah Idul Adha.
Bandung dipilh karena itu tempat yang paling tengah diantara kita berlima, dan juga di sana ada salah satu proyek kita yang kita kerjakan setahun yang lalu. Tanggal 17 sengaja dipilih karena saat itu sedang berlangsung pameran arsitektur di Selasar Sunaryo. Waktu sudah disepakati dan akhirnya aku dan Madin salah satu founder skala juga yang saat ini tinggal di Semarang bersama saya akhirnya beli tiket kereta. Aku dan madin akhirnya membeli total 6 tiket dengan rute untuk saya Solo-Bandung-Jakarta-Cilacap. Sedangkan untuk madin Solo-Bandung-Jakarta-Semarang.
Kita berangkat sengaja dari solo karena tiketnya bisa lebih murah separuhnya yaitu 84 ribu dengan kereta kahuripan. Waktu yang dihabiskan kira - kira 10 harian. Dengan rencana 4 hari di Bandung, 3 hari di Jakarta, 2 hari di Cilacap dan 1 hari di Banjarnegara. Sengaja aku rapel karena memang untuk izin dari pesantren saat ini cukup susah. Beruntung saat diberikan penjelasan ustad memberi izin.
Setelah izin diurus , hari jumat selepas shalat jumat kita berangkat dari Semarang ke solo menggunakan bus. Sebelumnya sengaja kita sempatkan beli oleh - oleh untuk agung (faounder skala yang stay di Bandung) sebagai suap agar bisa nebeng tidur dan diajak jalan - jalan tanda cinta kita untuknya dan juga untuk founder skala yang lain.
Tak butuh waktu lama, saat shalat ashar tiba kita sudah sampai di UMS, dan kita shalat ashar sebentar di masjid kampus UMS. Sembari nunggu kawan yang mau mengantarkan ke stasiun Purwosari. Oya sebelumnya belum aku kasih tahu kita berangkat dari stasiun Purwosari. Jadi kalau dari Semarang mau ke Bandung via jalur selatan yang terkenal indah dan biar murah, bisa lewat stasiun Purwosari Solo ada 2 kereta yang memiliki tujuan Bandung dengan biaya miring yaitu kereta Kahuripan dan kereta Pasundan. Kereta kahuripan yang dipilih karena jamnya lebih manusiawi. Dari solo kereta berangkat jam 6 dan sampai sekitar pukul setengah 4 pagi di stasiun kiara condong Bandung. Kalau kereta pasundan kalau tidak salah dari solo berangkat jam 1 siang, sampai Bandung jam 11 malam. Soal harga si beda 10 ribu saja dan lebih murah kereta kahuripan. Jadi kalau kau dari Semarang biaya yang engkau habiskan adalah sekitar 109 ribu untuk mencapai Bandung. Dari Semarang naik bus 25 ribu ke solo, dari Solo naik kereta 84 ribu ke Bandung.
Bandingkan kalau langsung dari Semarang paling murah harganya 150 ribu yang biasanya sudah habis sejak seminggu sebelum keberangkatan, lumayan kan ngirit. Cuma memang memakan waktu tempuh yang lebih lama, cocok buat yang suka perjalanan tapi gak cocok buat yang keburu waktu. Tapi barusan aku browsing di situs kereta api ada kereta jurusan Semarang Bandung yang murah yang harganya cuma 120 ribu yaitu ciremai ekspress.
Selepas shalat ashar, kita makan sebentar di warung soto depan masjid. Kemudian berangkat ke stasiun, sambil menunggu kereta datang pukul 5.45. Karena kereta berangkat pukul 6, maka mushola tentunya penuh buat shalat. Dan beruntung saat itu waktu maghrib berada di kisaran pukul setengah 6 lebih dikit jadi banyak orang yang bisa menyelesaikan shalat maghrib di sambung sekalian jamak shalat isya.
Selepas shalat ternyata kita dapat pengumuman kalau kereta mengalami keterlambatan 30 menit, dan di perkirakan sampai di Purwosari sekitar pukul setengah 7. Kita menunggu sambil ketawa - tawa dan di sela - sela waktu itu aku menghubungi sandy. Salah satu founder skala yang saat ini menetap di tegal membuka skala cabang tegal dan sedang berpergian di Semarang. Aku kawatir dia gak jadi ikut karena terlambat sampai stasiun gara - gara masih ada meeting di Semarang.
Dan benar adanya dia bilang dia kayaknya gak bisa ikut ke Bandung sepertinya, sudah aku tanyakan apa penyebabnya dia tidak merespon. Tanpa ba bi bu tiba tiba dia bilang, pokoknya aku ga bisa ikut ke Bandung. Sontak aku langsung diam sebentar dan coba berfikir jernih. Harusnya kalau tidak bisa berangkat ada alasan yang melatar belakangi siapa tau bisa kita bantu, aku pikir gitu.
Dan waktu menunjukan masih jam 6 sore padahal kereta dari Tegal juga berangkat pukul 11 malam kan ada waktu buat berusahaa, ya walaupun nantinya gagal toh sudah usaha sampai detik terakhir. Tapi kenapa secepat itu. Jawaban yang aku gak habis pikir dan mengakhiri pembicaraan kita. Bayangan indah tentang pertemuan di Bandung langsung buyar oleh perkataan yang sangat susah diterima hati dan bikin murung muka.
Setelah saling eyel akhirnya sayapun menyerah dan menyerahkan semuanya pada Yang Mengatur seluruh alam jagad ini. Dan keluarlah kata - kata terakhir dari saya untuk mengobati kecewa yang mendera diri saya “ yaudah san kalau memang tidak bisa ke Bandung dari aku gak papa, tapi kau kabari yang lain. Bagiku saat ini kehadiranmu di Bandung hanya bonus buatku, skala harus tetap jalan. Dari aku gapapa” ucapan yang mencoba bersifat legowo dengan tetap berharap kalau pertemuan di Bandung bakalan lengkap saya kirimkan lewat aplikasi BBM.
Di jalan aku hanya masang muka sebel. Madin yang ada di sampingku yang tidak tahu apa - apa agak sedikit terkena getahnya. Beruntung aku sudah persiapan tasbih dan Al - qur’an dan tentunya novel api tauhid jadi bisa mengurangi sedikit muka murungku. Di jalan awal - awal aku banyak bershalawat, soalnya kata ustadku kalau ada masalah yang hendak kau selesaikan atau ada harapan yang engkau inginkan banyak - banyaklah bershalawat. Qur’an sengaja ku bawa, siapa tahu nanti bisa mengkhatamkan bacaan Al - Qur’anku di masjid AL Irsyad Bandung sambil iktikaf atau kalau meleset ya di Istiqlal kaya tahun lalu. Dan novel api tauhid aku bawa karena sudah diminta yang punya dan belum aku baca.
Dengan pelan tangan kanan memegang tasbih dengan mulut bergerak gerak sambil membaca shalawat terus menerus. Kalau Madin sepertinya butuh teman bicara saya berhenti dan ngobrol bentar sama dia kemudian baca novel begitu dan seterusnya.
Saat waktu menunjukan pukul 9 malam lebih ada telfon asing masuk. Saya kira telfon dari klien yang minta kerjaan saya segera di selesaikan. Atau kawan saya yang di Bandung yang hendak saya kunjungi karena tahun lalu telah menolongku dan mengajak aku jalan - jalan ke Bandung.
Dan setelah beberapa kali mendengar dan si penelfon sadar kalau saya agak kebingungan terdengarlah suara
“ini sandy mas...”
“oya san ada apa...” jawab saya agak sedikit kaget kalau dia yang telfon.
“mas sepertinya saya bisa ikut ke Bandung, ini saya sudah sampai di pemalang, paling bentar lagi sampai tegal” katanya.
Dalam hati sontak menggema kata Alhamdullilah, senyum sedikit merekah dari bibirku yang sedari tadi memasang muka cemberut.
“Oya san alhamdullilah, masih sempet ya, yaudah nanti kabar - kabar aja, ya bagiku kehadiranmu bonus, dan alhamdullilah Allah ngasih bonus buatku” kataku datar agar sandy tidak tahu betapa bahagianya aku saat mendengar kabar itu. Maklum diantara kita berlima aku yang paling tua jadi terkadang harus jaga wibawa di depan mereka.
“sesuatu yang sudah ditetapkan pada seseorang tidak mungkin tidak akan terjadi, Allohu akbar.” kata - kata yang selalu menghantuiku saat perjalanan itu. Dan kemudian aku anjutka baca novel api tauhid. Jujur novel ini sempet membuat aku meneteskan beberapa tetes air mata yang buru - buru aku hapus, biar madin gak tahu.
Well, cerita berakhir, gaya bahasa yang kaya novel - novel itu kita akhiri. Alhamdullilah perasaan agak sedikit tenang dan baik di perjalanan selanjutnya. Saat memasuki Tasikmalaya ternyata kereta harus menunggu dahulu karena jalur di depan terputus akibat longsor dan saat ini sedang dilakukan penanganan. Oh apakah saya perlu menulis dengan gaya - gaya novel lagi. Dan akhirnya sembari menunggu kereta berangkat shalawat jadi pilihanku di sela - sela menunggu kereta berjalan. Dan setelah menunggu sekitar 4 jam atau hingga jam 6 pagi akhirnya kereta berangkat juga. Dan alhamdullilah meskipun banyak berhenti akhirnya tiba juga di Bandung. Selamat datang di Staisun Kiara Condong. Welcome to Paris Van Java, kataku dalam hati.
nb : sengaja aku tulis ala - ala novel selesai gitu karena masih ada part selanjutnya
Pantai Pungkruk : Mencoba Mengubah Citra menjadi Icon Wisata Kuliner Jepara
Alhamdullilah nikmat yang tak terkira Allah S.W.T telah berikan pada hamba hingga hari ini masih diberi kesempatan untuk kembali menuliskan setapak kisah perjalanan singkat di salah satu tempat indah di dunia ini. Karena hal tersebut saya coba berbagi informasi kepada anda - anda semua lewat tulisan - tulisan ini siapa tahu ini bisa bermanfaat untuk anda.
Well, saya kira saya tidak perlu konfirmasi kenapa saya beberapa saat yang lalu menghilang cukup lama dari peredaran pertumblran ini. Oke langsung saja kita menuju ke TKP tumblres.
Pantai Pungkruk, mungkin sebagian dari kalian asing dengan nama pantai ini. Mungkin sebagian yang lain juga amat sangat paham dengan pantai ini karena tiap minggu terbiasa berkunjung ke sana. Kalau buat orang biasa yang biasa berkunjung ke Jepara pasti identiknya dengan pantai Badengan, Pantai Kartini atau deretan pantai di gugusan kepulauan Karimun Jawa. Tapi buat orang “yang tidak biasa” pantai ini sebenarnya amatlah populer.
Pantai Pungkruk terletak di Desa Mororejo Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Saat saya berkunjung kesana pantai ini termasuk cukup indah karena memiliki pasir putih sama dengan rata - rata pantai di Kabupaten Jepara. Atau biar gampang mencarinya datang saja ke wahana wisata baru di Jepara yaitu JOP (Jepara Ourland Park) kemudian pergi ke arah utara beberapa kilo meter maka anda akan menemukan kawasan pantai pungkruk. Yang membuat berbeda dengan pantai - pantai lainnya di Jepara. Pantai ini tidak memiliki pantai atau lebih jelasnya pantai ini tidak memiliki pasir yang seluas kaya pantai Bandengan. Hal ini memang disebabkan karena secara desain tepian pantai disini diberi bronjong atau semacam tumpukan batu yang disusun berundak - undak dan diikat dengan kawat.
Meskipun demikian hal tersebut tidak membuat pantai ini tidak berkurang keindahannya. Beberapa tahun belakangan pantai ini dikenal karena (maaf) citranya yang negatif. Sebelumnya memang disini menjadi pusat karaoke room yang menurut beberapa sumber memberikan layanan plus - plus. Dan ini sudah sangat menjamur keberadaannya sehingga pantai yang indah ini banyak tertutup oleh bangunan - bangunan liar. Sadar menjadi tempat yang kurang baik maka Bupati Jepara memberikan insruksi untuk menertibkan bangunan liar yang ada dipantai Pungkruk yang menjadi tempat hiburan ilegal itu.
Upaya yang dilakukan pihak pemerintah memang berjalan cukup alot namun akhirnya apa yang diidam - idamkan oleh pihak pemerintah akhirnya terwujud juga. Bangunan - bangunan liar yang ada di sana behasil di tertibkan dengan di ratakan. Sebagai konsekuensinya untuk menampung pihak - pihak yang kehilangan mata pencahariaanya makan kawasan ini akan dikembalikan pada fungsi awalnya yaitu sebagai pusat wisata kuliner di daerah Jepara.
Dengan potensi yang ada sebenarnya ini bisa menjadi wahana wisata baru di Jepara yang menarik untuk dikunjungi. Untuk kondisi saat ini sudah terdapat beberapa pedagang yang sudah menjuala makanan khas di sana. Karena ini wiayah pantai tentunya yang dijual adalah aneka hasil olahan laut, Saya sudah beberapa kali berkunjung ke sana dan rasa PINDANG SERANINYA mantap. Yang bagus juga di sana ikan yang disediakan masih fresh bahkan anda bisa memilih ikannya sendiri untuk ikan yang mau dimasak.
Beberapa olahan yang sudah di jual di sana adalah Ikan Bakar, Ikan Goren, Udang, Cumi dan lain - lain. Dan tentu yang paling banyak di cari dan istimewa adalah PINDANG SERANINYA. Untuk harga standar pariwisata lah cukup terjangkau. Kalau anda penasaran anda bisa ke sana sekarang. Untuk warung makanan yang sudah saya coba adalah warung Bu Sri yang letaknya paling pojok depan.
Pada pantai pungkruk ini juga kedepan akan diadakan beberapa fasilitas tambahan untuk menunjang potensi yang ada. Sesuai dengan konsep masterplan yang saya susun bersama tim akan diadakan beberapa fasilitas pendukung seperti kios cidera mata, wahanan wisata air, penambhana mushola, gedung serba guna, camping ground, jogging track, mangrove track, dermaga, open teatre dan lain sebagainya.
Untuk tahun ini rencana akan ditambahkan fasilitas food court agar nantinya makanan yang disediakan bisa lebih bervariasi sehingga pengunjung bisa diuntungkan dengan banyaknya pilihan makanan yang disediakan. Seperti biasa akan saya lampirkan kondisi pantai pungkruk ini.
Ini gambaran resto yang ada di sana konsepnya resto terbuka. Jadi jika anda makan di sini anda bisa langsung memandang ke arah pantai yang ada di depannya. Ada juga gazebo - gazebo di depan dan playground jadi anda bisa makan di tempat terbuka dengan nyaman. Namun tempatnya memang agak kurang lebar. Jadi kalau anda rombongan ada sebaiknya booking dulu dari jauh - jauh hari. Dan karena ikan yang di sediakan masih fresh, untuk menunggu masakan matang cukup lama. Tapi menurutku itu tidak apa - apa karena toh kita ke sini juga pengen santai - santai kan.
Ini kondisi tempat makan outdoor yang ada di sana. Cukup enak makan di sini ditemani sempribit angin laut di siang hari.
Ini gambaran setelah pintu gerbang, kanan kiri adalah dulunya banguan karaoke room yang sudah diratakan dengan tanah. Kedepan nampaknya Pemkap akan serius membenahi kawasan ini dan jika bisa terlaksana kawasan ini akan menjadi tempat yang indah. Ada selfie cornernya juga loh tumblrer untuk kalian yang suka selfie.
Tapi maaf ya tumblrer karena foto pantainya hilang entah kemana, jadi tidak bisa menampilkan birunya laut pantai pungkruk. Untuk gambaran saja seperti disebutkan diatas garis pantai disini tidak ada pasir yang banyak karena memang tepi tepi daratannya di beri bronjong untuk mencegah abrasi. Sebagai gantinya saya lampirkan masterplan yang sudah di susun.
Ini masterplan yang di susun pada 2006.
Sedangkan ini adalah masterplan yang disusun pada 2015 yang lalu
Sedangkan ini adalah masterplan yang saya beserta tim susun maaf belum saya edit warnanya. Secara pribadi saya lebih suka masterplan yang paling awal sekali karena memang lebih indah nampaknya. Tapi untuk realisasi pekerjaan saya lebih setuju dengan masterplan yang saya susun bersama tim. Karena konsep masterplan yang kita susun adalah meminimalkan pembongkaran dan meningkatkan fasilitas - fasilitas yang ada sehingga bisa menekan anggaran yang keluar. Karena memang yang dilapangan sudah berdiri beberapa bangunan da pola jalan. Sehingga kita menata agar bisa integrate dengan yang sudah ada. Kalau memakai masterplan yang pertama atau yang kedua tentunya akan susah membumikannya. Kiranya demikian liputan dari wahana wisata kuliner ini yang sedang mencoba diangkan menjadi icon wisata kuliner kabupaten jepara. Patut dinantikan gaes untuk keberadaannya. Salam
Taman Keluarga Ainun Habibie #MlipirNingWonosobo
Hae tumblres,,,
Tau gak film yang lagi ramai dikalangan anak muda sekarang? ya sekarang lagi ramai - ramainya pada nonton film Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2). Sampai temen - temenku ngirimin quotes - quotes gitu. Untuk quotesnya bukan tentang cinta - cintaan yang dia kirim. Ini nih quotes yang dia kirim.
“ Harta yang paling berharga adalah keluarga dan sahabat - Habibie ( Kakek Rudy habibie)”
Selain ada yang ngirim quotes ada juga hal yang lebih kerent dari itu yaitu membuat review dari film ini seperti yang dilakukan oleh bang Mail di SINI. Aku sendiri si belum nonton filmnya apalagi baca review dari bang Mail yang sebenarnya tidak terlalu panjang. Tapi kenapa aku menuliskannya disini karena sebenarnya saya bingung mau nulis preambule seperti apa untuk perjalanan kali ini. Hahahaha ga banget ya tumblres.
Oke any way, daripada semakin ngaco langsung aja to the point. Ini adalah kisah perjalanan saya di Wonosobo. Kebetulan saat itu saya ada kesempatan berkunjung ke Wonosobo. Sebenarnya sudah berkali - kali saya lewat di kota ini, setiap saya berangkat ke Semarang atau pulang ke Banjarnegara pasti melewati kota ini. Tapi jarang sekali saya singgah di Kota ini, bahkan rumput alun - alunnya saja kayaknya belum pernah aku menginjaknya. Dan waktu itu kebetulan ada misi, ceilah misi. Intinya saya ada planning dengan teman saya soal sesuatu hal. Soal suatu halnya apa cari aja di blog sebelah kalau ada.
Hal yang membuat saya agak “asing” ketika memasuki kota ini adalah kota ini sudah dipenuhi taman. Mungkin ini adalah dampak dari peraturan baru pemerintah yang mengharuskan setiap kota untuk memiliki RTH atau Ruang Terbuka Hijau sebanyak 30%. Hal ini membuat setiap kota kini banyak membangun taman - taman untuk ruang publik. Jadi kalau soal taman tidak cuma di Bandung dan Surabaya saja yang bangun taman, tapi di kota lain juga ada dan gak kalah cantik.
Yang agak unik tentang taman di Wonosobo dan membuat kota ini makin cantik adalah nama tamannya yang entah terinpirasi dari mana tapi memiliki hubungan yang agak jauh dengan Wonosobo. Biasanya sebuah kota memberi nama taman itu sesuai dengan nama tokoh daerah itu tapi tidak dengan Wonosobo. Tengok saja nama - nama taman yang berhasil aku jumpai, Taman Anggrek Tien Suharto, Taman Keluarga Ainun Habibie, Taman Fatmawati dan lainnya. Saat itu yang berhasil aku sambangi adalah Taman Keluarga Ainun Habibie. Pertanyaan pertama kenapa namanya bukan Habibie Ainun tapi Ainun Habibie?entahlah.
But taman ini cukup menarik menurut saya. Konon dari penuturan kawan saya dulu awalnya lokasi ini hendak di bangun islamic centre tapi entah kenapa gagal terlaksana dan menyisakan pilar - pilar yang sudah terbangun. Akhirnya tempat ini dijadikan taman dengan tanpa menghilangkan pilar - pilar yang ada. Kalau mau lebih jelas bisa lihat gambar di bawah ini.
Ini penampakan pilar - pilar yang ada di sana dan sudah di desain sedemikian rupa agar bagus dan nyaman buat ditempati.
Kalau tidak salah kotak - kotak putih itu pada malam hari akan bercahaya karena didalamnya ada lampunya.
Ini sisi lain dari taman tersebut. Tangganya sangat cocok untuk duduk - duduk sambil ngobrol. Abaikan orang yang sedang berdiri di depan sana.
Ini penampakan orang tadi yang sebenarnya adalah kawan saya sendiri yang jenggotnya sudah melebihi yang saya punya.
Biar ga dikira hoax penting lah meninggalkan jejak. Senyumnya lepas banget to hehehe.....
By the way, taman ini menurut saya cukup mungil namun asik dan nyaman untuk didatangi. Desainnya unik dan berbeda dengan taman - taman yang lain. Apalagi kebersihan dari taman ini benar - benar dijaga jadi makin cocok dengan hawa sejuk Wonosobo.
Sebagai orang yang pernah belajar di dunia desain macam ginian, secara pribadi saya lebih suka mendesain taman - taman seperti ini. Karena keberadaannya bisa dinikmati oleh semua kalangan. Beda dengan hotel dan mall yang lebih banyak dinikmati oleh orang berpunya.
Sebenarnya saat itu saya sempat mengunjungi juga taman Fatmawati tapi karena belum dibuka jadi ya cuma sebentar aja dan ga ada fotonya. Dan lebaran kemarin nampaknya tamannya sudah dibukak. Kalau secara desain saya lebih suka taman Fatmawati. Lebih banyak banyak bunga - bunga dan lebih luasan juga. Cocok lah untuk wisata akhir pekan bareng keluarga yang murah.
Oya selain taman saat itu kebetulan saya juga diajak kawan saya mengunjungi Objek pemandian air panas di daerah kali anget. Dulu saat kecil saya pernah diajak kedua orang tuaku ke sini. Saat mereka masih umur 30an dan umur saya masih satuan. Kalau sempat berkunjung ke Wonosobo saya sarankan ke sana.
Kalau ga ada uang banyak tenang aja, selain Objek Pemandian Resmi yang jam 4 sore sudah tutup, di sana juga ada pemandian air panas yang dikelola warga. Anda cukup bayar parkir Rp2000, tiket masuk Rp 2000,00 dan biaya locker Rp 1000. Sama siapin untuk jajanlah. Soalnya biaanya habis mandi air panas biasanya lapar. Dan ada juga tempat VIPnya. Kalau kamu cewe saya sarankan ambil yang VIP karena tempat mandi yang gratisan adanya di tempat terbuka, kalau yang VIP sudah diberi penutup. Dan harganyapun sangat terjangkau cukup Bayar Rp 10.000 untuk yang VIP bisa muat satu keluarga kecil. And then, kisah jalan - jalannya cukup dulu lah ya, itu sedikit kisah dari Wonosobo, karena ada misi yang harus diselesaikan. Salam and see you next place.
Kudus Kota Kenangan
Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan buat berkunjung ke kota Kudus. Entah sudah keberapa kali saya ke Kudus, dulu saat kuliah di D3 Desain Arsitektur Undip sering bolak balik Kudus - Semarang. Apalagi pas liburan, kebetulan banyak teman berasal dari kudus, jadi ya sedikit hapal lah kalau kudus mah.
Pertama kali ke Kudus kalau tidak salah adalah semasa saya SMP, saat itu aku diajak mbah (bukan mbah asli, melainkan kaka dari kakekku)mengajaku untuk mengikuti trip ziarah keliling pulau Jawa dan Bali selama beberapa minggu. Mungkin karena tidak tega aku pergi sendirian, atau takut merepoti mbah akhirnya bapak saya ngalahi untuk mengikuti ziarah.
Dan saat ke Kudus itulah saat paling berkesan dahulu, saat itu tujuannya adalah makam Sunan Muria, butuh waktu cukup lama untuk mencapainya dari tempat parkiran. Karena letak makamnya berada di gunung muria dan butuh menaiki banyak anak tangga untuk mencapainya. Sebenarnya bisa naik ojek, biar tidak terlalu capek. Tapi entah kenapa waktu itu saya dan Bapak lebih suka naik anak tangga. Konon katanya kalau di hitung anak tangganya akan berbeda jumlahnya saat naik dan turun atau saat kau dan temanmu naik dan sama - sama menghitung saat sudah tiba diatas jumlahnya beda. Dan begitu sampai diatas capeknya langsung hilang, disana ada air yang segarnya minta ampun.
Sedikit info saja ada beberapa tempat yang bisa kamu kunjungi di Kudus, diantaranya Masjid Menara (kunjungan wajib), colo, air terjun 3 rasa, Makam Sunan Muria (untuk yang suka ziarah wali) dan musium kretek. Ini untuk tempat - tempat yang pernah saya kunjungi, untuk yang lainnya bisa search aja di google. Kalau makanan ya tentunya Soto Kudus masih juara, walaupun aku cukup terkesan dengan makanan yang bernama Lentok Tanjung konon makanan ini hanya ada di Kudus. Kalau Soto Kudus kan di sebagian besar kota lain sudah ada. Dan kalau mau oleh - oleh ya jenang Kudus masih menjadi primadona. Oya satu lagi yang menurut saya tidak boleh kalian lewatkan adalah Ayam Goreng HJ Kasmini, tempatnya dekat pasar Kliwon. Ini resep sudah turun temurun 3 generasi, dan rasa ayamnya meresap hingga e tulang - tulang. Kebetulan salah satu pemiliknya adalah ibu dari teman saya sendiri. Dulu pernah dibawain dan rasanya bikin ngangenin, apalagi kalau gratisan. Dan harganya sebenarnya lumayan mahal, tapi sesuai lah sama rasanya.
Ceritanya kemarin ada pertemuan dengan seseorang untuk surve dan ngomongin sesuatu. Saat itu aku pergi bareng Madin, rekan surve saya. Awalnya si planningnya makaryo saja, tapi berhubung waktunya sisa banyak diakhir kita surve aku minta dianterin ke Masjid Menara. Dan jadilah trip dadakan. Itung - itung menghibur partner yang sepertinya belum pernah ke kota ini. Beberapa tempat yang sempat kita kunjungi adalah :
Masjid Menara
Aku lupa minta foto yang cuma berisi gambarnya saja. Tapi gapapa lah kalau gambar masjidnya doang kamu kan bisa temukan di google banyak, tapi kalau yang ada foto kitanya kan cuma di sini, hehe.Masjid ini dibangun oleh Sunan Kudus. Di sekitar masjid ini juga terdapat makam sunan Kudus, tokoh penyebar agama Islam dan salah satu anggota wali songo. Yang menjadi unik untuk masjid ini adalah adanya menara yang serupa candi di samping masjid. di dalam masjid juga ternyata ada gerbang mirip gerbang candi yang jumlahnya ada 3 buah. Unik? pasti? cocok untuk foto - foto ? pasti. Dan di depan masjid juga terdapat banyak pedagang menjual oleh - oleh atau peralatan ibadah. Jadi bisalah kalau mau sekalian belanja.
Gerbang Masuk Kota Kudus
Gerbang yang sempat membikin gempar dunia pintu masuk sebuah kota ini cukup unik. Bentuknya seperti daun tembakau dan mungkin untuk menegaskan kalau kudus adalah kota kretek bukan kota kenangan. Biaya pembuatan gerbang ini sangat fantastis konon mencapai 16 miliar rupiah. Kalau bikin rumah type 36 bisa dapat 80an unit lah. Sangat fantastis dan konon menjadi gerbang yang termegah di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Untuk biaya pembangunan gerbang ini difasilitasi oleh perusahaan rokok terbesar di Indonesia yang juga kebetula berdomisili di Kudus yaitu PT. Djarum. Menurut penuturan teman saat malam hari, gerbang akan lebih indah karena ada permainan lampu disana. Karena niat awal bukan untuk jalan - jalan jadi kita kemarin hanya bisa mengunjungi 2 tempat saja. Dan demi mengejar waktu berbuka di Semarang kami segera pulang setelah main - main di gerbang ini. Dan di gerbang ini kita cukup lama loh, cuma untuk foto - foto wkwkw. Karena kita pikir di Kota orang, udah ga bakal ada yang kenal jadi ga usah malu - malu. Dan hasil merasa tidak malu - malu yang akhirnya malu - maluin. Itu kumis sengaja di panjangin biar agak kelihatan sangar sebenarnya, tapi tetep kalah ama madin yang jambangnya dimana mana.
Dan tau gak, setiap ada mobil dan motor lewat mereka selalu memandang arah kita, dikira kita kurang kerjaan kali ya. Yang paling parah ternyata ada adik angkatan lewat, habis itu dia coment di Instagram. Kalau dia sempat nglihat kita di sini, ampunlah pokoknya gak akan di ulang lagi.
Kadang perjalanan memang membawa berkah tersendiri, ternyata perjalanan ini membuatku ketemu temen lamaku yang ternyata asli orang Kudus.
Ini nih teman lama, tiba - tiba massage lewat IG kalau dia pas baru nyampai Kudus juga. Dulu dia yang bantuin mengusahakan biaya kuliah untuk adik angkatanku. Doi sekarang ngelanjutin kuliah di ITS jurusan perkapalan. Semoga cepet lulus ya nak. Hahaha.
Untuk menuju Kudus biayanya sangat murah. Saya tinggal di tembalang, dari tembalang kamu bisa minta di antar teman menuju sukun biar gratis. Kemudian kamu naik bus menuju terminal Terboyo, dikenakan biaya Rp 3000,00. Dari Terboyo kamu bisa naik bus Nusantara atau bus lainnya dan cukup mengeluarkan biaya Rp 10.000,00 kamu sudah bisa sampai di Kudus. Jadi kalau kamu dari tembalang butuh minimal Rp. 26.000,00 saja untuk PP Kudus - Tembalang.
But, kalau berbicara soal Kudus Kota Kenangan. Hal yang paling terkenang dari kota ini adalah “sin, kayaknya hidup kamu cuma punya satu warna cobalah ketemu lebih banyak orang agar hidupmu lebih berwarna” aku agak lupa kata - kata lengkapnya, tapi kurang lebih kayak ginilah inti kata - katanya. Kata - kata dari seseorang yang masih aku ingat beserta cerita di baliknya hahahaha. oke skip bahaya kalau terlalu diulas soal ini. Yaudah oke tumblres sampai jumpa di tempat selanjutnya daripada aku baper lagi dan cerita yang enggak - enggak. Trip yang lumayan menarik, apalagi gratisan.
Thaks a lot for :
- Monica Adiyati teman angkatan yang udah nunjukin jalan ke Kudus.
- Maya yang sudah rela nemuin kita padahal baru nyampe banget di rumah
- Calon rekan kerja kita yang sudah nganterin kita mlipir, semoga planning kita goal dan membawa manfaat dan berkah untuk kita
See you next moment tumblres
Sisi Lain dan Pesona Dieng #Pakuwaja
Tak terasa perjalanan mendaki Gunung Pakuwaja bisa tertuang dalam 3 tulisan yang berbeda. Kalau pada tulisan yang pertama berkisah tentang awal perjalanan menuju ke Dieng dan yang kedua perjalanan dari Dieng menuju ke puncak gunung pakuwaja yang sangat amejing. Pada tulisan ketiga kita menuliskan kondisi di puncak gunung dan saat kita turun.
And then, setelah kita terbangung dan keluar dari tenda kita langsung takjub dengan pemandangan yang ada diatas gunung. Oya gaes diatas gunung masih ada sinyal loh, jadi kita sempet update di line gitu saat di puncak. Karena tak dapat melihat sunrise, sorot mataku langsung tertuju pada sebuah ceruk yang diatas gunung yang dipenuhi dengan rumput hijau. Ternyata jurang yang semalam kita duga sebagai tempat yang sangat menyeramkan, di siang hari justru tempat inilah yang paling indah. Perasaan kecewa dan lelah anak - anak semalam karena tersesat atau kesasar seketika hilang saat melihat indahnya alam dari puncak gunung pakuwaja. Biar lebih jelas kita lihat momen - momen yang sempat kita abadikan dari atas gunung tumblres.
“akan ada saatnya kamu akan merasa sangat takjub karena semua usahamu terbayar tuntas dan menjadikan lelah yang sudah kita lakukan menjadi tidak berasa lagi, apalagi lewat cara yang tidak kita duga sama sekali”
Ini nih pemandangan di depan kita saat kita terbangun. Satu kata buat apa yang kita lihat adalah ISTIMEWA.
Dan ini tempat camp kita tumblres, noh ada orangnya. Tempatnya agak tidak recomended buat 2 tenda karena ada tanah yang miring. Tapi It’s oke lah kalau buat semalam saja. Recomended buat camp adalah di ceruk gunungnya. Oya sengaja kita pasang berhadapan biar kita bisa masak ditengah - tengah. Dan satir di depan tenda bisa dijadikan atap untuk menutupi kompor agar kalau hujan tidak kehujanan.
Ini Icon gunung pakuwaja, sebuah batu besar tinggi yang menancap seperti pasak. Oya saat kita cek ke sana, ada semacam kaya sesajen di tengah - tengah gua yang ada di batu ini.
Kelakuan anak sekarang, sukanya selfie mulu (fokus pada 3 orang yang dibelakang) bukan emas - emas yang ada didepan ya.
Instagenic to tempatnya cocok lah buat foto - foto terus tag ke TREVELLER BAPER dan cantumkan caption Baper, eh malah promosi.
Ini namanya bang bas, yang ngambil gambarnya aku. Berdiri tepat diatas batu kaya foto sebelumnya cuma diambil dr jarak dekat. Pas aku lihat fotonya bagus terus maulah aku di foto kaya gitu. Lihat langitnya seolah - olah gimana gitu. Dan saat aku berdiri di sana ternyata hasilnya zonk. Kaya foto dibawah ini.
Memang bagus tidaknya foto orang itu tergantung modelnya. Sesuai teoriku dulu saat jadi fotografer wisudaan temen. *tiba - tiba inget anak kapal yang entah siapa namanya. Besok - besok tanya ah siapa namanya. *skip
Sudah dicoba berkali - kali tetap hasilnya zonk juga. Hahaha.... *maapken ya. Entah modelnya kurang jago atau potografernya yang kurang lihai. ah sudahlah....
Tatap mata saya. Dan genggang erat jemari saya. Oke oke skip skip.
Diantara sekian fotoku disana, ini foto yang paling aku suka. Entah kenapa kehadiranku dalam foto ini aku merasa tidak merusak pemandangan yang ada disana. Kekekeke *ya iyalah karena tampak dari belakang, aku tau kamu semua mau ngomong kaye begitu..huh.
Gimana lembahnya istimewa kan? entahlah apa yang mereka lakukan. Mungkin pura - pura candid.
Dan pada saat itu juga terbentuklah boyband yang bernama menye - menye band. Isi lagunya cuma cinta - cintaan doank.
Aku tau siapa yang dia pikirkan, tapi yang jelas foto taken by me hehe.
Dan inilah kita full team, sehabis beres - beres tenda.
Saat Perjalanan turun, saat siang hari ternyata jalannya jelas banget. Dan tidak mebutuhkan waktu lama untuk turun, karena cukup hanya memakan waktu satu jam.an.
Itu yang tanah lapang di depan sana adalah tanah datar start kita sebelum tracking. Dekat banget kan.
Pulangnya kita sempat jalan - jalan ke telaga warna dan telaga pengilon. Karena dari jalur pendakian menuju desa rumah teman saya bisa melewati jalur ini. Cuma karena hujan jadi gak bisa lama - lama. Dan gagal naik batu pandang. Tempat hits anak - anak instagram.
Dieng yang kudatangi sekarang sudah sangat berbeda dengan 7 tahun yang lalu, saat aku masih SMK. Sekarang tempat wisatanya makin bervariasi dan makin ramai. Salut buat perkembangan wisata dieng yang signifikan.
Oke sekian dulu tumblres, cerita dari dataran di yang atau dieng. Dan aku baru ingat kalau sekarang sudah memasuki bulan Juni, bentar lagi pasti banyak yang post puisi Sapardi Djoko Damono, *jadi inget orang pertama yang ngenalin puisi itu. Dan sekarang ia sukanya ngajak pengajian. Istimewa, yaudah gitu dulu sampai jumpa dalam kesempatan dan tempat serta perjalanan yang berbeda. Kantor mau tutup hehe, Salam.
Pendakian Paling Freak #Pakuwaja
Semalam Final Liga Championnya sangat seru tumblres, Akhirnya Real Madrid menang 5-3 lewat adu pinalty setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit. Kalau kawan - kawan semua tanya aku nonton atau tidak jawabannya tidak. Karena akhirnya aku ketiduran sebelum pertandingan selesai. *skip
Kita lanjut perjalanan menyusuri malam di gunung Pakuwaja. Setelah sampai di tanah datar yang luasnya kaya lapangan itu, ada beberapa jalan yang kami lihat. Ada yang lurus, kanan, kiri. Kita ingat perkataan teman saya kalau jalannya belok kanan terus kanan lagi baru kiri, intinya di situ. Jadi langsung lah kita ambil kanan. Oya aku minta salah satu adik angkatan yang bernama aji untuk di depan. Saya suruh aji pimpin di depan karena dia memang sudah sering muncak, dan dalihku aku tetap dibelakang saja biar bisa memantau mereka semua dan mencegah tidak ada yang ketinggalan, namun sebenarnya karena aku ga pede saja kalau aku di depan dan aku takut milih jalan yang salah dan menyesatkan mereka semua, *ini kayaknya maknanya sudah lain.
Dan setelah berjalan baru sekitar 100 meter saya sedikit aneh dengan jalan yang kita telusuri, jalannya banyak tertutup semak - semak meskipun tetap bisa diinjak dan masih jelas. Biasanya jalan untuk pendakian memang sempit tapi tidak sesempit ini. Jadi yang kita telusuri hanya bisa untuk lewat satu kaki, saya rasa ini bukan jalur pendakian tapi ini merupakan jalur ladang milik warga. Takut kesasar akhirnya, aku sampaikan kepada teman - teman sepertinya ini bukan jalannya.
Teman - teman sempat ragu dengan perkataan saya, namun setelah ada yang sepandangan dengan aku akhirnya kita mbalik ke tempat semula (tanah lapang). Karena kita ragu akhirnya kita telfon temanku yang sudah pulang tadi. Kita telfon berkali - kali ga nyambung - nyambung, telfon saudaranya dirumah gak nyambung juga. Akhirnya kita putuskan untuk memilih jalan yang lurus. Begitu milih jalan yang lurus ternyata jalan diujung malah turun. Kita semua makin bingung lagi, harusnya jalan mendaki itu naik, kok kita malah turun. Ya Allah tunjukanlah jalan yang benar, mungkin doa seperti itulah yang ada pada diri kita masing - masing. Baru awal mendaki saja sudah tidak tahu jalan seperti ini, sudah kebingungan. Sempat terpikir untuk kita buat camp disini saja, lagian tempatnya cukup lapang. Namun setelah kita cek tempatnya banyak sekali pupuk kandang jadi tidak recomended lah untuk camp.
Kembali telfon kawanku lagi, kali ini nyambung tapi yang ngangkat temannya dia, katanya temanku ini belum sampai dirumah, waduh padahal udah lama kok belum sampai dirumah ya. Terus kita tanya sama teman itu, katanya si tinggal ngikuti jalan saja. Hmmmm jawaban yang membuat kita tambah bingung. Setelah kita berdiskusi lagi, ada yang yakin kalau itu jalannya memang turun dulu. Aku sendiri tidak ingat, tapi salah satu teman dengan yakinnya bilang kalau jalannya memang turun dulu dan ambil jalan yang ada diujung tanah lapang. Memang si benar ini jalan yang turun ada di ujung itu.
Terus kita ambil lah jalan itu, suasana seolah berbeda banget. Aura mistis dieng, suara - suara hewan aneh dan lainnya. Oya sebelum kita melanjutkan perjalanan ke puncak kita perkenalkan peronil kita dulu. Dari yang pertama sendiri adalah
Bunga (bukan nama sebenarnya). Saya rasa dia adalah kompor atau baha kerennya inisiator acara ini. Dulu dia masuk dijurusan FKM Undip, makanya sekarang kerja dibagian HSE sebuah perusahaan tambang di Jakarta. Diantara semua personil saya paling kawatir sama dia. Dengan size yang paling gede diantara yang lain, aku kawatir dia tidak sampai puncak. Ya walaupun Gunungnya pendek aja. Dan next yang selanjutnya ada
Putri (bukan nama sebenarnya). Putri ini satu jurusan sama Bunga, tapi satu daerah sama saya, asli wong Banjar. Orangnya agak unyu - unyu ngegemesin gimana, sampai salah satu adik angkatan saya nampaknya ada yang kepincut. dan yang ketiga adalah.
Ratna (juga bukan nama sebenarnya) dia satu daerah sama saya, dulu masuk jurusan planologie. Terkenal dikampus termasuk paling solehah karena dulu masuk salah satu ormas islam dikampus. Tapi orangnya supel kok tidak seperti teman - teman lainnya dulu. Selanjutnya ada 2 adik angkatan saya.
Aji (nama sebenarnya), dia anak Sragen. Pertama kali muncak saya ajak. Dan habis itu dia ketagihan malah track muncaknya melebihi track muncak saya. Dia sudah ke gunung - gunung yang gede - gede, saya mah baru apah atuh, andong, ungaran, prau dan ini pakuwaja. Kalau muncak sama dia saranku jangan ditaruh di depan, karena dia sering nyelonong sendiri ninggalin orang - orang di belakang. Adik angkatan yang kedua ada.
Madin (nama sebenarnya) dia asli Sumatra. Adik angkatan paling baik dan paling sering disampingku. Partner banget lah pokonya (sengaja aku puji - puji karena dia follow juga tumblr ku takut dibaca ma dia) hahahhaa.
Bang Bas (nama panggilan) dia adalah teman angkatanku, sebenarnya aku jarang main bareng sama dia. Tapi terakhir dia curhat katanya stres dan buuh liburan. Akhirnya kuajaklah dalam trip ini. Dia anak pondok, jadi misal nanti ada yang kesurupan aku rasa aman karena ada dia hehe. Yang terakhir adalah
Saya (Lasin) no description, teman - teman sudah tahu semua kalau saya suka telat datang. Makanya dulu salah satu dosen sempat nyaranin untuk ganti panggilan. Katanya harusnya jangan last in. Nanti telat terus datangnya karena the last. Ganti aja mukhlas atau apa. Dan sehabis di ucapin gitu, aku terus ngomong ke temen - temen dekat kalau mulai besok panggil aku Mukhlas saja jangan lasin. Terus tiba - tiba setiap janjian ternyata aku tetap telat. Hahaha
Oke inilah tim penyisiran gunung pakuwaja. Kita memasuki jalan menurun dan ternyata jalannya ga cuma lurus tapi agak belok kanan dan kiri. Meskipun demikian memang jalannya terlihat jelas. Kita melewati semacam bak penampung air milik warga untuk menyiram tanaman. Jalan dan terus jalan mengikuti jalan setapak dan setelah jalan beberapa lama akhirnya jalannya mentok atau buntu. Yang kita hadapi adalah hutan pohon carika yang tidak kelihatan jalannya. Sebenarnya ada semacam jalan air cukup untuk satu langkah kaki, tapi kayaknya itu sudah lama tidak diinjak karena ada rumput - rumput kecil yang menutupi jalan itu. Karena kita kebingungan akhirnya kita telfon temanku lagi. TIdak nyambung, karena kita kebingungan akhirnya kita balik ketempat awal lagi. Kita putuskan untuk shalat mahrib sambil mencoba telfon temanku.
Dan setelah shalat mahrib selesai, sambil sedikit makan - makan bekal yang sudah kita bawa.
“Asiknya mendaki sama cewek itu, kamu tidak akan kehabisan bahan makanan. Dan biasanya mereka males ngabisin makannnya. Jadi mereka hanya suka bawanya saja. Tapi yang ngabisin kita para cowok cowok. Katanya takut gemuk (padahal sudah gemuk)”
Tiiittt.....tiiiiit....tiiiit....”halo sin, wes gutul puncak deke?”, akhirnya nyambung juga kataku, kalau di translate artinya Halo sin, kamu sudah sampai puncak?. Dan terjaldilah percakapan seperti ini.
Aku : “matamu puncak, iki jeh neng lapangan win?” Kalau tidak ada teman - teman dan adik angkatan mungkin aku akan bilang gitu, tapi karena ada mereka jaim lah ya dan ku rubah pemlihan diksi - diksiku.
Aku : “durung win, iki aku mbalik neh maring lapangan karo cah - cah. Aku bingung dalane (belum win, ini aku sama teman - teman balik ke lapangan tadi, saya bingung jalannya).” Oya temanku namanya wiwin.
Wiwin : “loh kok iso, wong dalan ngono genah kok(kok bisa, orang jalannya jelas gitu)” Jawabnya
Aku : “iyo win, aku wes bolak - balik ping 3 dalane gak ketok, koe rene ae tunjuke dalane (iya saya sudah bolak - balik 3 kali karena gak tau jalan, kamu kesini saja nemenin kita nunjukin jalan)”
Wiwin : “uwes dewean ae, genah - genah dalane kur siji ngono og ( uwes sendirian saja, jalan jelas gitu kok cuma satu”.
Aku : “ yawes ngene ae, aku uwes neng lapangan terus maring ngendi mau ada dalan mendun bener rak? ( yaudah gini aja, dari lapangan kita kemana, ada jalan turun bener tidak?”
Wiwin : “iya bener, engko koe nglewati bak isi banyu, bar iku lurus terus ae (iya benar habis itu kamu lewati bak air terus lurus saja)”
Aku : “Oya bener tapi bar iku ono kebon karika, emang si koyo ono dalan cilik dati ketutupan suket - suket ngono (iya benar tapi habis itu ada kebun karika, memang si ada jalan kecil tapi ketutupan semak)
Wiwin : “ iya bener melu iku ae (iya benar ikut itu saja)”
Setelah kita yakin, kita berkemas dan melanjutkan perjalanan. Kita kembali menyusuri jalan yang kita sudah lewati tadi. Sesampainya di kebun karika akhirnya kita milih jalan yang seperti jalan air tadi dan agak tertutup semak. Setelah kita menginjaknya benar itu jalan orang, meskipun agak sempit dan bentuknya kaya saluran air karena masuk ke dalam tanah, tapi bisa dilewati kok. Dan setelah melewati kebun yang sangat serem ini akhirnya kita menemukan jalan yang sangat jelas untuk mendaki. Kita nemu pertigaan pertama, terus kita ambil kanan. Ada pertigaan lagi kita ambil kanan, terus jalan terus melewati ladang warga.
Saya cukup tenang setelah kita mendapatkan jalan yang jelas, dan langit pada saat itupun cerah dengan taburan bintang yang membuat jalan semakin jelas. Akhirnya kita sampai di sebuah pertigaan yang bentuknya kaya garpu tala. Karena sudah ambil kanan - kanan kemudian kita ambil kiri. Pokoknya kalau ketemu pertigaan ketiga ambil jalan kiri. Dan memang puncak sudah kelihatan dari tempat kita berdiri.
Wah ada bekas citato, brarti ada yang baru muncak. Nampaknya ini baru dibukak bungkusnya. Kita sedikit lega namun agak cemas buat aku sebagai pemimpin rombongan. Terus jalan dan terus jalan namun saat kita sampai diujung ternyata jalan semakin menyempit dan ada hutan. Dan aku minta temen temen untuk berhenti kemudian aku mengecek kedalam hutan itu. Dan ternyata bukan mengarah ke puncak tapi kita mengarah ke punggungan gunung yang di depannya ada jurang yang tidak bisa kita lewati.
Segala spekulasi akhirnya datang, jangan - jangan kita salah ambil jalan. Harusnya tadi belok kiri di pertigaan yang ini, harusnya tadi belok kanan dulu atau apalah. Yang jelas memang jalan kita berkelok - kelok ada pertigaan yang jelas dan ada pertigaan kecil yang kurang jelas tapi pertigaan juga.
“Beban yang sangat berat nampaknya tiba - tiba muncul di pundak, kegagalan pendakian pertama, bikin tersesat anak orang di hutan dan lain -lain, pokoknya segala macam pikiran jelek muncul. Apalagi kelihatannya kondisi fisik dan mental personil sudah menurun karena diawal kita sudah bolak - balik dan tersesat.”
Karena melihat kondisi yang demikian akhirnya Bang Basuki menyarankan untuk istirahat bentar, sambil mengisi makanan dan menghilangkan haus. Mendengar demikian aku langsung setuju, sambil memikirkan jalan keluar. Yang jelas kita sudah tidak mungkin balik lagi ke pertigaan sebelumnya, apalagi balik ke tanah lapang tadi, karena kita jalan sudah sangat jauh.
“terlihat wajah lelah dan bingung diantara mereka semua, sungguh itu pemandangan yang langsung menohok seluruh isi hati, aku gagal memimpin pendakian. Mungkin ini pendakian terakhir aku. Yang aku pikirkan hanya bisa mengembalikan mereka semua dengan selamat. Niat menggembirakan mereka malah membuat kecewa mereka semua”
Setelah diskusi dan diskusi konon mereka masih kuat. Dan Bunga adalah yang paling ku kawatirkan meskipun dia bilang kuat tapi wajahnya tidak bisa menipu. Wajah kekecewaan dan kelelahan nampak darinya. Meskipun ucapannya mencoba menutupinya. Dalam hatiku hanya bisa doa dan terus berdoa agar mereka semua tidak ada yang kena apa - apa. Sudah tidak terpikirkan uncuk kepuncak lagi.
“yaudah sekarang aku di depan, pokonya kita naik terus, kalau ada jurang kita belok kanan, naik terus jurang belok kanan, Kenapa belok kanan? karena terakhir kita ambil jalan ke kiri dan tersesat, berarti semestinya kita belum belok kiri dan semestinya belok ke kanan terlebih dahulu. ” cuma itu yang bisa aku katakan, sambil mencoba memberi semangat ke mereka semua, agar bisa sampai puncak. Padahal pikiranku menemukan jalan dan tidak tersesat di dalam hutan saja sudah cukup. Karena jalur pendakian yang paling membahayakan adalah hutannya.
Kitapun naik, ada jurang belok kana, naik lagi ada jurang belok kanan. Kita nginjak ladang - ladang warga yang sedang masa tanam. Sambil berhati - hati dan menjaga agar tanaman warga jarang yang rusak kita terus melangkah. Yang tersisa dari kita hanyalah semangat dari diri kita masing - masing. Setelah beberapa saat kita akhirnya menemukan sedikit jalan. Setelah berjalan beberapa saat kita bertemu sedikit hutan yang membentuk jalan di dalamnya. Jadi jalannya kaya gia gitu karena tanamnnya membentuk terowongan. Karena takut tersesat aku dan Madin jalan duluan takut yang di depan kita adalah jurang. Namun setelah beberapa saat berjalan akhirnya kita menemukan jalan ke atas dan beberapa saat kita melewati kawasan semak ini. Banyak tumbuhan paku khas dataran tinggi. Tanda kita sudah berada di ketinggian tertentu. Akupun turun dan memanggil teman - teman, kalau kita mendapatkan jalan. Kita terus beralan, alhamdulilah jalan cukup jelas dan langitpun cerah.
Kita mendapat jalan yang sepertinya melingkari gunung. Agak lega, namun lama kelamaan jalanini sepertinya agak landai dan menurun. Dan sepertinya kita mengarah menuruni gunung dan terlihat samar - samar menjauh dari puncak gunung. Kita sedikit aneh dengan jalan yang kita pijak. Begitu ada jalan menaik kita langsung naik. Dan kebetulan ada semacam bukit dikanan kita yang nampaknya ada jalan setapak. Jalannya sangat miring dan licin butuh bersusah payah memasukinya. Dan ada hutan dan pohon besar yang ada di dalamnya.
Setelah naik beberapa ratus meter, saya bilang ke teman - teman, “sudah berhenti dulu aku kawatir tersesat lagi, aku maju dulu. Kalian diam disini saja.” Teman - teman mengikutinya dan setelah aku masuk kedalam, ternyata saya tidak melihat jalan yang cukup jelas mirip punggungan gunung yang ada jurang dikanan kirinya. Jalannya sepertinya tertutup semak - semak tebal. Karena tidak yakin akhirnya aku tidak menyarankan untuk melewati jalan ini.
“anak - anak kecewa, mereka nampak sudah sangat lelah. Kita sudah berjalan 3 jam tapi tak kunjung menemukan puncak. semestinya kita sudah tiba dipuncak 1,5 jam yang lalu”
Kita akhirnya mmeneruskan melewati jalan yang sepertinya menurun tadi, beberapa saat berjalan kita menemukan tanah yang cukup lapang untuk mendirikan 2 tenda. Dan tempat kita berdiri, disebrang sana ada orang - orang memakai senter yang sepertinya pendaki yang sudah sampai di puncak. Kita seperti terpisahkan oleh jurang di depan kita. Ada jalan didepan kita yang menurun yang sepertinya mengarah ke mereka. Dan ada batu besa di depan yang mirip tebing yang setelah kita telusuri itu jalan buntu. Dan kita sorotkan senter tidak ada jalan sama sekali. Kita juga sudah mencoba turun tapi tak kunjung menemukan jalan menuju ke seberang sana.
Kitapun mencoba komunikasi dengan pendaki yang ada diseberang sana.
“Mas gimana cara mencapai kesitu, lewat mana? ada jalannya enggak”
Mereka menjawab dengan teriak juga, tapi komunikasi kita berdua berujung ketawa dari mereka karena sepertinya kita berada dijalur yang salah.
karena sedikit takut dengan keselamatan yaudah kita mendirikan tenda disini saja, mungkin besok pemandangan disini bagus juga saat langit sudah cerah
Kita sampai di tempat yang yang salah. Kita berhenti di tempat yang di seberang puncak dengan jurang memisahkan kita. Karena sudah lelah akhirnya kita putuskan untuk mendirikan tenda disini. Selepas tenda didirikan, kita shalat isya dan memasak beberapa bekal untuk makan malam. kita sampai di tempat kita mendirikan tenda sekitar pukul 12 malam.
Teman - teman semua tertidur, namun aku mungkin yang paling susah tidur. Aku merasa gagal mengantarkan mereka kepuncak. Gagal segagal - gagalnya, down dan pikiran tidak karuh - karuhan. Meskipun beberapa teman sempat mencoba menenangkan.
Kitapun akhirnya bermalam dipuncak yang salah pikir kita. Dan keesokan harinya setelah mentari mulai menampakan ronanya. Sedikit kabaut dan kita bangun agak kesiangan karena selepas shubuh kita tidur lagi. Kita memang gagal menyaksikan sunrise karena kabut itu. Dan terbitnya matahari terhalang puncak yag ada di depan kita.
“Namun sungguh Allah Maha Romantis” , Setelah hari cerah kita keluar tenda, membuka pintu tenda, sresettttt kita menyaksikan pemandangan seperti ini
“kita ada dipuncak”
Ternyata pendakian kita tidak failed - failed banget. Kita sudah berada di atas gunung pakuwaja, hanya berada di sisi yang berbeda saja dan bukan berada di puncak tertinggi. Pemandangan di depan kita persis seperti hasil browsing kita di google. Ada semacam bau besar yang menancap seperti paku. Konon karena batu itulah gunung ini dinamakan PAKUWAJA.