Tanggal 2 Oktober 2017 saya mens, lalu janjian untuk ketemu dokter untuk memulai IVF. Keesokan harinya saya bertemu dr Hartanto tapi kondisi suami lagi sakit flu jadi dokter menawarkan untuk menunda atau melanjutkan IVF. Karena keadaan sakit flu juga bisa mengurangi kualitas sperma. Tapi bismillah kami sepakat untuk memulai di hari ketiga haid. Mengenai persiapan yang saya lakukan bisa dibaca di postingan sebelum ini ya. Untuk flash back lagi latar belakang saya pernah operasi laparotomi Kista Endometriosis 8 cm taun 2015. Saya juga PCO. Kedua tuba falopi saya paten tapi ternyata hasil foto rontgen menunjukkan tidak lancar. Sperma suami normal. Lama menikah 2 taun.
Kurang lebih proses IVF tergantung respon sel indung telur terhadap suntikan perangsang. Saya pakai Gonal F yang isinya rFSH. Biasanya 11x suntik untuk mencapai ukuran folikel yang bisa dipanen nantinya. Oia, folikel itu cangkang sel indung telur. Jadi folikel besar juga belum tentu isinya bagus dan berkualitas ya.
4 Oktober 2017 (hari ketiga haid) saya mulai suntik Gonal F dengan dosis standar 150iu, dengan pertimbangan AMH saya masih bagus di angka 3 dan berat badan 47 kg. Suntik Gonal ini dilakukan pada pagi hari. Obat yang diminum Lameson yang isinya Methylprednisolone 4 mg diminum 1x1 sampai 5 hari ke depan.
5 Oktober 2017 (hari keempat haid) saya lanjut suntik Gonal F 150iu.
6 Oktober 2017 (hari kelima haid) saya masih lanjut suntik Gonal F 150iu.
7 Oktober 2017 (hari keenam haid) saya tes darah untuk hormon Estradiol. Tujuannya untuk menyamakan folikel yang matang dengan hormon apakah sesuai atau tidak. Lanjut USG cek ukuran folikel. Ketebalan rahim sudah 10,3 mm Sudah terlihat ada 8 folikel di ovarium kanan dan 2 folikel di kiri dengan ukuran 1 cm. Lanjut suntik Gonal F 150iu ditambah suntik Cetrotide 0,25mg yang gunanya untuk menahan folikel untuk tidak pecah dulu sebelum Ovum Pick Up (OPU). Saya suntik Cetrotide lebih awal karena sudah ada folikel dengan diameter 10 mm. Kematangan folikel siap panen minimal dengan diameter 18 mm.
8 Oktober 2017 (hari ketujuh haid) lanjut suntik Gonal F 150iu dan Cetrotide 0,25mg
9 Oktober 2017 (hari kedelapan haid) suntik Gonal F 150iu dan Cetrotide 0,25mg. Cek Hormon Estradiol. Hasil USG ketebalan rahim 13,2 mm. Di ovarium kanan sudah ada 13 folikel dengan diameter 17 mm dan di ovarium kiri ada 3 folikel dengan diameter 16 mm. Ovarium kiri saya memng tidak terlalu respon karena dulu bekas operasi Kista Endometriosis.
10 Oktober 2017 (hari kesembilan haid) suntik rFSH turun dosis karena ukuran sudah memenuhi tapi masih lanjut suntik karena berharap yang masih kecil2 ikut berkembang. Dosis rFSH menjadi 112,5iu dan Cetrotide 0,25mg.
11 Oktober 2017 (hari kesepuluh haid) suntik rFSH 112,5iu dan Cetrotide 0,25mg. Cek hormon Estradiol dan Progesteron. Progesteron untuk melihat ovulasi. Hasil USG ketebalan endometrium 15,1 mm. Ovarium kanan rata2 diameter 16 folikel 18 mm, ovarium kiri 2 dengan diameter 18 mm. Jam 20.00 WIB suntik Pregnyl (pemecah folikel). Ada 2 opsi suntik ini, Ovidrell dan Pregnyl. Ovidrell bersinggungan dengan b*bi artinya menggunakan unsur b*bi yang berfungsi sebagai katalis. Mulai diresepkan Caberlin 0,25mg dosis 1x1 untuk mencegah OHSS (over stimulasi ovarium).
12 Oktober 2017 (hari kesebelas haid) istirahat di rumah. Puasa mulai jam 23.00 WIB tidak makan dan minum untuk persiapan OPU esok harinya jam 7 pagi.
13 Oktober 2017 (hari keduabelas haid) dilakukan prosedur OPU. Didapatkan ada 12 folikel yang siap dikawinkan dengan sperma. 2 jam kemudian sperma diambil untuk proses pembuahan (ICSI). OPU ini dibius total ya, tapi dua jam kemudian udah sadar dan bisa jalan2. Mungkin agak sakit sedikit saat BAK pertama pasca OPU, atau ada flek sedikit itu normal. Diresepkan Crinone (progesteron untuk memperkuat embrio menempel) 8% 1x1, Caberlin 1x0,25mg (untuik mencegah OHSS), dan Progynova 2x2mg (karena pasca OPU estrogen menurun). Diminum sampai Embrio Transfer (ET)
18 Oktober 2017 (hari ketujuhbelas haid) dilakukan Embrio Transfer. Dari 12 folikel kemarin ada 10 yang layak untuk pembuahan. Dari 10 yang berhasil dibuahi ada 7. Dari 7 yag berkembang ada 2 dengan kualitas excellent dan good. Tidak ada freezing embrio jadinya. Diresepkan sama seperti sebelumnya. Pasca ET bedrest di Rumah Sakit tidak boleh bangun dari tempat tidur selama 6 jam. Keesokan harinya sudah boleh pulang.
29 Oktober 2017 tes darah bHCG titer untuk memperkirakan kehamilan.
2. Ikhtiar Non Medis Yang Dilakukan
a. Pola makan sehat. Karena saya endo saya kurangi konsumsi susu sapi dan terigu (walau kadang cheating juga hehe). Tahu tempe saya masih makan, susu kedelai saya ganti susu almond atau kambing. Perbanyak sayur dan buah. Protein masih tetap butuh. Nasi kadang saya ganti nasi merah atau oatmeal.
b. Olahraga rutin tiap hari. Selama setahun saya Yoga, Pilates dan Cardio 3x seminggu bergantian. 3 bulan sebelum IVF saya malah Cuma yoga aja tiap hari 30 menit sd 1 jam.
c. Akupuntur. Sebulan pertama saya dan suami terapi akup 2x seminggu. Dua bulan berikutnya 1x seminggu.
d. Berjemur matahari pagi minimal 15 menit untuk sumber vitamin D.
3. Ikhtiar Spiritual Yang Dilakukan
Saya tidak berniat untuk riya, hanya barangkali ada teman-teman yang sama ceritanya dengan saya bisa mengevaluasi diri seperti saya. Bukan berarti saya orang baik dan lebih baik dari teman-teman, mari kita sama-sama memperbaiki diri.
a. Bayar utang puasa Ramadhan dan nazar sampai lunas. Puasa Senin Kamis.
b. Puasa Kifarat karena dulu sebelum menikah saya pernah berucap belum mau punya anak (astaghfirullah) karena kami menikah tanpa pacaran.
c. Shalat tahajud, taubat dan hajat. Bisa dibilang dua bulan terakhir hampir tiap malam saya bangun untuk sholat dan minta ampun.
d. Baca surat Yaasin, Al Kahfi, Maryam rutin. Setiap habis Shubuh baca AlQuran dengan terjemahnya.
e. Sholat berjamaah dengan suami tiap Maghrib dan Shubuh.
f. Banyak minta maaf sama orangtua, teman, kerabat.
g. Sedekah kapanpun mampu dan ada kesempatan.
h. Ikhlas dan bersyukur membawa kebahagiaan.
Kurang lebih untuk biaya paket dengan dosis suntik rFSH 150iu + OPU + ICSI + ET sekitar 37,5juta. Belum termasuk biaya:
1. Tes persiapan IVF (hormon, HIV, hepatitis), HSG dan analisis sperma jika belum pernah.
2. Biaya Konsul dokter dan USG
3. Biaya obat yang diperlukan
4. Biaya tes hormon rutin selama IVF
5. Biaya Rawat Inap pasca ET
Mungkin jika ditotal kurang lebih 60 sd 70juta tergantung: respon tubuh terhadap obat. Jika AMH rendah dan usia sudah lanjut tentu dosis rFSH lebih tinggi. Obat-obatan yang diperlukan sebagai penunjang pun tergantung diagnosa pasien, harganya pun tentu berbeda. Bagi yang sebelumnya perlu tindakan Laparoscopy siapkan dana ekstra 30juta. Bagi yang belum pernah tes hormon kesuburan, HSG, analisa sperma siapkan dana tambahan sekitar 10juta. Jika ada masalah di sperma, siapkan dana konsultasi androlog lebih banyak. Jadi biaya yang dikeluarkan tergantung berapa banyak pemeriksaan dan kasus suami istri.
Berikut biaya yang saya keluarkan selama menjalani program IVF.
Tes HIV dan HbsAg suami-istri
Tes hormon estradiol @467.000
Saya hanya 3x, biasanya 4x.
Tes hormon progesteron 1x
Obat2an penunjang (caberlin, Progynova, Crinone)
Biaya rawat inap 1 malam kelas VIP I
Semoga informasi yang saya berikan bisa berguna untuk teman-teman yang ada rencana untuk IVF. Saya IVF di Bandung Fertility Center dengan dr Hartanto Bayuadji SpOG KFER. Siapkan badan yang sehat, tabungan yang cukup wkwkw. Banyak mohon ampun dan bersyukur atas karunia kecil yg telah Allah berikan, Insya Allah dicukupkan rezekinya jika kita percaya akan kuasa Allah. Tidak berharap besar akan kesuksesan, diniatkan untuk ikhtiar sepenuhnya semaksimalnya, serahkan keputusan akhir pada Allah SWT.