Sudah, berhentilah menjadi pendusta ulung
Suatu hari, ketika langit jingga sudah mulai menyapa.
Seseorang bertanya kepadaku "Apakah kamu pernah berada di titik yang sangat rendah, tak tau arah, perasaan sedih yang tak karuan, merasa hidup sendiri dan hal lain yang membuat hidupmu sangat down, stuck dan tidak produktif?"
Seketika, dahi ku menciut, berfikir keras, bertanya pada diri. Apakah aku pernah seperti itu? Seketika aku menjawab "Keknya kalo smpe gtu gk pernah deh, kamu gmnaa?" Ia pun menjawab dengan ceritanya yang panjang dengan menunjukkan wajah yang bingung, seolah-olah pundaknya dihujam amanah yang amat berat.
Sembari mendengar ceritanya, pikiranku terus bergemuruh bertanya-tanya 'Hey, benarkah seperti itu?'
Temankupun menyaut 'Kamu itu, kuat ya. Gk pernah merasa down dan selalu baik-baik aja' sambil tersenyum
Tiba tiba, hatiku menggeretak pertanyaan itu seolah duri yang menusuk perasaan ini. Aku pun tersenyum seringai.
Perbincangan santai pun, kami akhiri dengan closing statement menyebut harapan kami sepuluh tahun kedepan, serta saling mengamini semoga terwujudkan. Aamiin paling serius.
Ketika sampai dirumah, akupun merebahkan badanku. Perntayaan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. 'Benarkah seperti ituu?'
Tiba-tiba, mataku perih, tak bisa menahan kesedihan yang membuncah dalam hati.
Aku pun diingatkan kembali, dengan kejadian beberapa lalu.
Aku yang pernah berada di titik rendah, lelah, tak tau arah, sedih merasa hanya hidup sendiri.
Aku pun ingaaat bahwa titik terendah dalam hidupku, ketika persahabatanku yang telah usai. Ketika aku merasa tdk punya siapa-siapa, tidak punya org yang menjadi tempatku untuk berkeluh kesah, berbagi canda dan tawa.
Masih ingaaat, pada saaat itu pada awal tahun 2020 dimana orang-orang bahagia merayakan tahun baru ini, mengadukan semua harapan nya semoga bisa terwujudkan pada tahun ini. Tapi akuuu?
Dulu itu, aku sangaaat rapuh, sedih dan hancur. Sepanjang hari itu aku terus menangis dan berfikir 'Apakah memang seperti ini perjalanan hidupku? Apa org seprti aku ini memang ditakdirkan tidak mempunyai seorang sahabat?'
Pertanyaan itu terus hadir dalam lamunanku.
Tiba-tiba ponselku pun berdering, teman-temanku mengirimi chat dengan menghiburku, orangtuaku dari kampung kembali menelponku. 'Ya Allahh, bodoh sekali aku ini. Lalu mereka siapaaa? Bukankah mereka yg selalu ada untukmu' pertanyaan itu menamparku lagi.
Setelah chit-chat dengan teman-temanku dan berbincang-bincang dengan ibu.
Aku pun menjauhkan telpon dari jangkauanku. Aku merenung
Ternyataa aku tak sendiri, masih banyak sekali org yang menyayangiku. Terutama orang tuaku. Teman-temanku yang sudah ku anggap sahabat, meskipun tidak semua mengganggapku sahabat. Meskipun terkadang aku iri melihat mereka yang mempunyai 'Sahabat dekat'. Meskipun terkadang ketika bersama mereka aku merasa asing dan sendiri. Tak apaa, yang terpenting kamu harus belajar bahagia, memberi energi positif pada orang di sekitarmu.
Ternyata yang membuatku merasa sendiri adalah pikiranku sendiri. Perasaanku sendiri.
Bukankah masih ada orangtua dan keluargamu yang selalu ada untukmu? Meskipun tidak menunjukkan rasa kasih sayangnya seperti kebanyakan orang. Tapi ingaaaat merekalah org yang sangat dekat dan menyayangimu yang mau berkorban untukmu.
Bukankah masih ada satu dua orang atau lebih sahabat dekatmu yang jauh disana? Yang selalu mendoakan yg terbaik untukmu ini, meskipun saat ini terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Dan masih ada orang yang selalu mengharapkan senyum binarmu
Mereka semua sahabatmu tsan, partner hidupmu.
Terimakasih kamu, yang sudah menyadarkanku.
Sudahlaaah tsaan, berhenti menjadi pendusta ulung.
Berdusta seakan semua baik-baik saja
Bertahan ketika dirimu jatuh
Tersenyum ketika hatimu rapuh
Berdiri padahal sudah tak sanggup menapaki
Garut, ketika suasana di sekeliling sepi, namun dalam diri mulai riuh dan ramai dengan banyak hal, 11 Novermber 2020