Permisi sedikit menyita jarak antara "thoght/caption" yang satu dan yang lain. Malu (al-hayâat) Teringat tentang novel eka kurniawan "seperti dendam rindu harus dibayar tuntas". Dalam novel tersebut seorang Ajo Kawir punya ke-malu-an yang tak bisa ngeceng. Kata si Iwan Angsa bapak si Tokek temannya "Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,”. Tanpa kemaluan AjoKawir menjadi orang yang paling berani dan bernyali. Sedikit kemiripan Tapi yang akan saya bahas disini bukan "kemaluan" dalam arti "anu" tapi secara harfiah kenapa seseorang yang tanpa "ke-malu-an"(tanpa rasa malu) berani berbuat apapun. Banyak orang dengan banyak jenis "mau"(pingin) yang berbeda beda. Misal si A lagi pingin banget "nganu" tapi belum nikah akhirnya tanpa malu ia tidak takut dan berani pacaran supaya bisa "nganu", maaf bukan mendiskreditkan pacaran tapi sebagian besar sih begini dari berbagai sumber baik pelaku maupun pengamat (dak semuaji tawwa bede') . Atau si P pingin banget gadget canggih tapi gaji pas pas an akhirnya tanpa malu ia tidak takut dan berani nyuri. Atau mungkin si Q pingin cepat kaya akhirnya tanpa malu ia tidak takut dan berani jdi produsen vaksin palsu. Atau si T pingin dihormati punya gelar tapi malas akhirnya tanpa malu ia tidak takut dan berani beli ijazah palsu. Dan masih banyak "mau-mau" yang lainnya tanpa rasa malu-malu bikin orang tidak takut melakukan hal hal yang "berani". Padahal Malu sendiri itu adalah Akhlak (perangai) sebagai seorang muslim ----Lebih baik takut karena malu, daripada "berani" hanya karena "mau"---- Malu Senantiasa Seiring Dengan Iman, Bila Salah Satunya Tercabut Hilanglah Yang Lainnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ. “Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.” --Shahîh: HR.al-Hâkim (I/22), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3827), Abû Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3200).-- Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ. “Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi] Dalam riwayat Muslim disebutkan, اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ. “Malu itu kebaikan seluruhnya.” Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit. --Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Shahabat ‘Imran bin Husain-- Mari Istigfar, kalaupun ini bermanfaat Alhamdulillah tapi jika saya Salah memang karena saya laki-laki karena yang selalu benar itu... at IGD_RSKD Pemprov – Read on Path.