Mengapa Nasib Dia Baik dan Aku Tidak (?)
Ini mungkin pernah terlintas di hati banyak orang, dan kamu juga aku barangkali salah satunya.
Di saat kita sedang jatuh, atau masalah sedang menumpuk, atau takdir seakan tak berpihak padamu, atau ketika impianmu gugur ditelan kenyataan, kita pernah secara brutal menyalahkan ketentuan Allah dan menganggap Dia tak adil.
Kamu terpukul, kamu down, dan kamu mempertanyakan mengapa ada orang yang dengan mudahnya bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dan menjadi apa yang ia impikan.
Cobalah berbaring dan tarik napasmu. Tingkahmu yang meledak-ledak menghakimi nasib diri dan orang lain biasanya hanyalah buah emosi, dan apa-apa yang hadir dari emosi hanya akan berakhir dengan sesal. Ini kaidah penting.
Tenangkan dirimu, dan ingatlah jauh-jauh hari Allah sudah jawab dengan perhatian-Nya yang Mahalembut, “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”
Tak berhenti di situ, malah Dia sempurnakan dengan jawaban yang melegakan dadamu, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Perihal tentang nasib orang lain yang kamu anggap lebih baik, janganlah cepat-cepat menganggap hanya dirimu yang pernah mengecap kejatuhan.
Mereka bisa jadi bukan bernasib selalu baik. Barangkali sudah ada ratusan jatuh yang membuat memar mereka berlapis-lapis. Jatah gagal mereka akhirnya habis dan tinggallah mereka kecap hasil jayanya.
“Tapi dia anak orang kaya, mana usahanya?” Mungkin begitu tanyamu selanjutnya. Nah, justru malah ada pertanyaan buat kamu, “memangnya definisi nasib baik hanyalah ditentukan dengan kaya tidaknya manusia?” Kita perlu sering-sering membersihkan kaca mata hati kita yang kadang silau dengan logika yang salah.
Bahagia itu nisbi. Relatif. Sampai sekarang tidak ada satupun filsuf yang benar-benar bisa membuat definisi paling tepat untuk menjelaskan kebahagiaan. Namun satu hal yang perlu kamu ingat, kemuliaan dan kebahagiaan tidak bisa diukur dengan materi duniawi. Ini juga kaidah penting.
‘Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” (Al Fajr 15-16)
Sebenarnya malahan, tidak ada istilah nasib baik dan nasib buruk dalam Islam. Yang diajarkan adalah syukur ketika diberi nikmat dan sabar ketika diuji musibah.
Dan Umar mengingatkan kita dengan kalimat gagahnya, “Jikalau sabar dan syukur ibarat dua kendaraan (yang mengantarkan aku ke surga), maka aku tak peduli dengan kendaraan yang mana aku menujunya.”