Kenapa orang-orang begitu menggebu-gebu ketika bicara surga. Semua kegiatan pasti disangkutpautkan dengan surga dan neraka, seolah itu tujuan hidup mereka. Pahala dihitung, dosa dikalkulasi, dipikir masuk surga itu perkara operasi matematika pahala dan dosa. Padahal kan enggak, surga itu kan kurang cocok kalau dianggap sebagai imbalan. Seolah Tuhan adalah zat paling perhitungan. Surga itu lebih cocok dianggap sebagai kampung halaman. Karena memang Adam kan aslinya seorang imigran, imigran dari surga. Turun ke bumi cuma mau outbond aja disini. Kita anak cucunya itu sebetulnya keturunan dari seorang imigran surga. Kampung halaman kita itu ya surga, suatu saat pasti mudik juga. Lalu kenapa sibuk mencari surga?
Manusia itu kampung halamannya surga. Neraka itu bukan tempat buat manusia. Begitu juga bumi, yang cuma singgasana sementara. Cuma sayangnya banyak manusia yang lupa identitasnya, yang kampung halamannya itu di surga. Banyak yang terlalu mendalami jadi penghuni "bumi", banyak yang gagal faham dan fokus untuk menjadi manusia. Seolah tugas tersulit manusia itu ya jadi manusia.
Banyak yang seperti itu, sering lupa jadi manusia. Bisa siapa saja, termasuk saya.













