aku ingin berdiskusi dengan semesta dan waktu, tentang kamu.
kamu, yang tidak aku mengerti,
setengah aku ingin sekali kamu datang, membenciku hingga kamu puas, menertawakan segala kesalahan dan kebodohan, menyesalkan suatu hal yang pernah ada antara kita. sampai pada akhirnya kita berdua pergi sejauh mungkin dan tak menoleh lagi. hidupku, hidupmu, pasti akan lebih bahagia.
tapi, setengah aku ingin kamu datang, menjemputku, mengamini kita, dan untuk kesekian kalinya jatuh hati lagi, segila-gilanya. sampai pada akhirnya, kita berada di sebuah alam yang tak kita kenal untuk mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati.
kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi sebuah fosil tanpa terganggu, tanpa ragu, aku akan memilih satu detik untuk bersamamu dan mengabadikannya. tapi hidup ini cair, semesta ini bergerak, dan realitas berubah.
aku takut karena ingin sekali mengatakan yang sejujurnya. tapi, ini menyudutkan aku. bahwa kamu, adalah bagian dari aku. tetapi, “masa lalu” selalu menggantung di pikiran. semua ini mengharuskanku untuk menyimpannya baik-baik, merekamnya, lalu memainkannya secara berulang di kepalaku, sebagai sang tujuan. sementara, seiring waktu, kita sedang berjalan masing-masing, tanpa ada usaha untuk mencocokan kembali. aku sudah membayar mahal untuk semua ini, dan semuanya sudah ku pertaruhkan demi apa yang aku rasa benar. dan mencintaimu menjadi kebenaran tertinggiku.
sadar setelah lama, kalau pengalaman itu bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah hubungan. lama bagiku untuk menoleh kebelakang, menghitung, berapa banyak pengalaman yang telah kita lalui bersama. aku yakin kalau kamu paham, atau setidaknya memahami sedikit, betapa sulitnya perpisahan.
masih ada sebagian dariku yang tetap tak mau pergi dari perbatasan usai dan tak usai, walaupun nyatanya semua sudah usai. aku yang keras kepala, memilih untuk tetap diam di tempat dan tidak ikut pergi dengan yang lainnya, menetap untuk menemani masa lalu. walaupun waktu semakin larut, aku akan tetap bertahan sebisaku.
mungkin suatu saat nanti, ketika aku bosan, sendirian, dan kesepian, kamu akan datang berteriak ingin pulang. tenang, aku pasti menjemput kepulanganmu, dan masa lalu akan membentengimu dengan tembok tebal yang tak bisa ditembus. atau, mungkin sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, berubahlah kamu menjadi kompas, yang menunjukkan jalan pulang bagi hatiku untuk, akhirnya, menemuiku.
Listening To: Brian McKnight - One Last Cry