Barangkali tulisan ini bukan jawaban.
Ia hanya pelan-pelan mengetuk pintu yang lama kau kunci dari dalam.
Di zaman yang riuh ini, orang-orang berbicara tanpa henti.
Tentang pencapaian.
Tentang pembuktian.
Tentang siapa yang lebih terlihat.
Namun jarang ada yang bertanya:
“Bagaimana kabar hatimu hari ini?”
Akhir zaman bukan hanya tentang tanda-tanda besar yang menggetarkan langit. Ia juga tentang dada-dada yang terasa sempit tanpa sebab yang jelas. Tentang jiwa yang letih padahal tubuh tak banyak bergerak. Tentang senyum yang dipasang rapi, sementara di dalamnya ada serpihan-serpihan sunyi yang tak pernah disapu.
Engkau yang sedang terluka, mungkin bukan karena kehilangan sesuatu.
Mungkin justru karena terlalu banyak menerima informasi, opini, perbandingan, ekspektasi.
Dunia kini seperti pasar yang tak pernah tutup.
Semua orang menjajakan dirinya.
Semua orang ingin didengar.
Semua orang takut sepi.
Padahal hati tidak pernah tumbuh di tengah keramaian yang memaksa.
Ia tumbuh di ruang-ruang kecil:
di antara sujud yang lama,
di antara air mata yang tak diumbar,
di antara doa yang tak disaksikan siapa pun kecuali Dia.
Hati yang terluka seringkali bukan lemah.
Ia hanya terlalu lama memendam.
Terlalu sering menguatkan orang lain, tapi lupa menguatkan dirinya sendiri.
Dan mungkin, tulisan ini adalah pelukan yang tak terlihat.
Bukan untuk membuatmu berhenti menangis tetapi untuk mengingatkan bahwa tangisanmu tidak sia-sia.
Di tengah akhir zaman yang bising, iman terasa seperti lilin kecil di tengah angin. Tapi lilin itu tetap menyala bukan karena angin berhenti, melainkan karena ia dilindungi oleh tangan yang sabar.
Allah tidak pernah salah menempatkanmu di zaman ini.
Jika riuh ini terasa berat, mungkin karena hatimu sedang dipanggil untuk lebih dalam, bukan lebih tinggi.
Untuk lebih hening, bukan lebih terkenal.
Luka bukan selalu hukuman.
Kadang ia adalah cara Allah mengosongkan ruang dalam dadamu agar diisi dengan sesuatu yang lebih kekal.
Jangan terburu-buru sembuh hanya agar terlihat kuat.
Sembuhlah agar kembali dekat.
Karena di zaman ketika segalanya ingin cepat, Allah tetap bekerja dengan tenang.
Dan mungkin, yang kau tunggu bukan tulisan seseorang.
Bukan pesan panjang yang menenangkan.
Bukan validasi dari manusia.
Yang kau tunggu adalah rasa bahwa engkau tidak sendirian.
Maka dengarlah baik-baik di sela riuh dunia, di sela kabar yang menyesakkan, di sela perbandingan yang melelahkan ada Rabb yang tak pernah bosan mendengar ceritamu.
Hati yang terluka bukan tanda kalah.
Ia tanda bahwa engkau masih hidup.
Masih peduli.
Masih ingin berarti.
Jika dunia terasa terlalu keras,
jangan ikut mengeras.
Jika dunia terasa terlalu cepat,
jangan ikut tergesa.
Tenanglah.
Karena yang paling berharga di akhir zaman ini bukanlah mereka yang paling bersuara, melainkan mereka yang paling terjaga hatinya.
Dan bila suatu hari engkau merasa tulisan ini memang ditujukan untukmu, maka ketahuilah ia tidak lahir dari kebetulan.
Ia lahir dari doa-doa yang mungkin pernah kau panjatkan, yang dijawab bukan dengan keajaiban besar, tetapi dengan kalimat-kalimat sederhana yang perlahan menambal retakan di dadamu.
@clichemistry















