Dewasa; suatu proses yang menyakitkan
Kehilangan acap kali datang dengan kesadaran, sebuah kesadaran bahwa moment atau seseorang sangatlah berharga dan kita baru sadari belakangan. Kehilangan membuat kita menyesal, menyesal telah melewatkan momen berharga, orang-orang baik, dan kesempatan baik.
Ya aku menyesal… sedikit banyak yang aku sesali di usiaku yang menginjak kepala 3 ini.
Tapi apa gunanya menyesal toh tak akan merubah apa-apa.
Suatu kesadaran tentang betapa naifnya diri ini, betapa lemahnya diri dalam kontrol emosi. Sebagai seorang yang melankolis suatu tantangan adalah berhubungan dengan emosi. Emosi yang tidak dewasa, meledak-ledak, dan impulsif karena kecemasan. Aku takut, lorong ke depan terasa makin tak bisa kulihat. Satu kehilangan ternyata belum cukup mengajarkanku buat dewasa, dan kini disusul kehilangan-kehilangan jua.
Mungkin karena kehilangan itulah akan muncul diri kita yang berbeda dari diri sebelumnya, kepribadian atau suatu proses pendewasaan yang membuat seseorang lebih menghargai moment, lebih menghargai kehidupan. Tidak akan kuijinkan lagi diriku terjebak dalam kehidupan lampau atau masa depan. Kehilangan-kehilangan telah mengajarkan betapa krusialnya buat selalu “life at the present”.
Kunikmati hidupku saat ini, orang tuaku, adikku — tak akan kulewatkan sedetikpun dalam “life at the present” dengan mereka.
Biarlah yang lalu berlalu, untaian doa akan cukup menerangi dan aku tak perlu menyalahkan diriku sendiri melulu. Karena apapun waktu itu, kenapa semua terlewat jawabannya jelas karena aku belum siap, karena aku yang masih amatir, petualang yang naif, dan tentu saja tidak dewasa. Dan itu harus kusadari adalah sebuah proses dalam kehidupanku. Tak perlu kusesali sesuatu yang lewat karena aku yang belum siap, karena aku yang masih belajar, sehingga itu tidak jadi jalanku, sehingga takdir ke sana tidak terjadi. Katanya, kesempatan datang karena kesiapan. Tuhan memberi karena kita sudah dianggap siap menerima. Aku yakini betul hal itu.
Semua peristiwa datang sebagai pelajaran, tinggal ibrahnya bisa ditangkap atau tidak. Proses pendewasaan memang penuh kesakitan. Rasa sakit seringkali dibutuhkan dalam membangkitkan kesadaran. Anak-anak selalu memandang dengan ceria, dunia sungguh indah dan menyenangkan bagi mereka. Sedang orang dewasa seringkali memandang dunia dengan cemas dan khawatir. Dunia dewasa bisa sesunyi itu, tapi jiwa kanak-kanak sering menyelamatkan kita dari keterpurukan. Keceriaan anak-anak perlu lahir setelah diterpa badai pendewasaan, kita harus temukan lagi keceriaan dalam memandang dunia. Keceriaan adalah spirit, modal kita buat terus maju dan tidak terperangkap masa lalu.
Ada hal-hal indah yang menunggu di depan, ada pelangi setelah hujan, ada musim semi setelah musim dingin.
Orangtuaku masih sehat, aku syukuri betul, mereka masih bekerja. Ayahku kocak dan seru, meski di moment tertentu akan sangat keras kepala. Ibuku tregginas dan actively apa-apa dikerjain, absurd, tapi selalu sejuk memandangnya. Dan adikku sehat, kreatif, menyenangkan meskin nyebelin. Aku akan hidup bahagia dan menghargai moment, semua yang diberikan padaku. Ampuni aku Ya Allah atas semua kenaifanku sebelumnya.. dan Terimakasih ya Allah, bless me 🤲🤲










