MENEMUKAN KETENANGAN DI TENGAH KETIDAKPASTIAN
Internal : Meningkatkan Resileinsi Diri
Ustadz Fahruddin Faiz
Masjid Jendral Sudirman | DIY. Rabu, 3 September 2025
Hidup di zaman ini berarti hidup dalam ketidakpastian. Perubahan datang begitu cepat, sering kali membuat kita akhirnya mudah terkejut, cemas, bahkan kehilangan arah. Inilah realitas dunia modern yang disebut sebagai konsep era VUCA, dimana dunia yang penuh dengan perubahan cepat (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kerumitan (complexity), dan kerancuan (ambiguity). Semua ini membuat kita sulit menebak masa depan, karena masalah yang kita hadapi tidak pernah sederhana, melainkan saling terkait dan berlapis.
Tidak hanya itu, kita pun juga memasuki era post-normal, di mana kehidupan semakin kompleks, penuh kekacauan, dan sarat kontradiksi. Stabilitas yang dulu kita andalkan kerap terguncang. Dari sisi sosial, budaya, politik, ekonomi, hingga informasi. Hingga akhirnya kita sering terjebak dalam pola pikir eksklusif, fanatisme, feodalisme, egoisme, konsumtivisme, bahkan manipulasi informasi. Semua ini berpotensi membuat kita kehilangan jati diri jika tidak disikapi dengan bijak.
Di sinilah resiliensi menjadi kunci. Resiliensi adalah kemampuan untuk tetap tangguh, bertahan, bahkan tumbuh di tengah segala tekanan.
"kemuliaan seseorang bukan diukur dari kesuksesan, melainkan dari seberapa sering ia jatuh dan bangkit kembali."
Nelson Mandela
Hidup pada akhirnya memang penuh ujian, tetapi ujian justru peluang untuk berkembang dan memperkuat daya tahan kita.dalam kedepan menghadapi maupun menjawab setiap perubahan maupun tantangan
Disini resiliensi hadir dalam tiga bentuk:
recovery (kembali bangkit setelah jatuh).
coping (mampu bertahan dan beradaptasi bersama kesulitan).
transformation (mengubah tantangan menjadi pijakan untuk tumbuh lebih baik).
3 bentuk resiliensi tadi terdapat langkah-langkah bagaimana untuk mencapainya,baik dari bagaimana kita perlu membangun kesadaran diri ( self awernes ), mengelola pikiran dengan self-talk positif, menjaga kesehatan fisik, serta memperkuat jaringan sosial sebagai modal upaya kita untuk saling melengkapi dan memperbaiki di setiap kekurangan maupun kelebihan.
Namun,terkadang upaya untuk mencapai resiliensi diri ini juga kerap terhalang oleh adanya dari kita akan rasa takut, keraguan, kepasrahan yang keliru, atau penolakan terhadap kenyataan. Karena itu, kita perlu melatih diri untuk tidak lari dari setiap masalah serta ujian baik yang ditemukan maupun dipertemukan, dimana kondisi itu kita harus mampu menghadapinya dengan keberanian, disembari bagimana kita mulai belajar dan memaknai untuk berupaya tetap mencintai setiap takdir Allah SWT tetapkan serta senantiasa kita berusaha mengelolanya dengan bijaksana.
Lebih dalam lagi, resiliensi sejati tidak hanya lahir dari kekuatan mental, tetapi juga dari dimensi spiritual. Dengan ikhtiar, sabar, ikhlas, wara’, dan qana’ah, kita menumbuhkan keteguhan hati. Melalui tawajjuh (fokus kepada Allah), tajarrud (melepaskan diri dari ketergantungan dunia), serta tazkiyah (penyucian jiwa), kita menemukan kekuatan untuk bertahan dalam segala kondisi. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Hadid: 23
"Kami beritahukan hal tersebut agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak dapat kamu capai, dan jangan pula terlalu gembira dan sombong terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan ketahuilah, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri dengan kelebihan atau anugerah yang Dia karuniakan" ( Q.S Al Hadid : 23 )
Dapat disimpulkan bahwasanya resiliensi bukan hanya sekadar konsep bagaimana bertahan hidup, melainkan upaya menemukan makna di balik setiap peristiwa. Orang yang benar-benar resiliens ialah mereka yang akhirnya mampu bertanggung jawab,mampu tetap melangkah ke depan, dan mampu menikmati dan memaknai setiap perjalanan kehidupan meski penuh tantangan. karenanya memahami maupun memaknai pada setiap kesulitan ataupun tantangan adalah jalan menuju kematangan jiwa.














