perpustakaan kota dan obrolan tentang musik
siang itu, aku melihat seorang pria dengan rambut gondrong sepundak mengenakan jaket kain yang tak terlalu tebal berwarna biru dongker dan dipadukan dengan celana jeans robek di bagian lutut. Ia sedang duduk menunggu di bangku bawah pohon.
walaupun sudah lama tak bertemu, aku langsung mengenali kalau sosok pria yang kulihat itu dirimu.
“maaf membuatmu menunggu”, kataku padamu.
aku dan kamu pun masuk ke dalam perpustakaan dan mencari tempat duduk.
perpustakaan kota siang itu sangat padat, tapi akhirnya aku menemukan dua bangku kosong.
setelah duduk, kamu mengeluarkan laptop dan aku membaca buku yang habis kupilih dari rak buku.
kamu langsung fokus dengan laptopmu, tapi aku tak bisa fokus.
aku hanya membolak-balikkan buku di hadapanku dan malah memperhatikanmu yang sedang entah mendesain sesuatu dengan papan gambarmu.
sambil fokus dengan gambaranmu, kamu pun mengajakku mengobrol tentang banyak hal, tapi kebanyakan membahas topik musik dan asam-manis tahun pertama dunia perkuliahan.
soal dunia musik, aku bercerita kalau aku menyukai musiknya the panturas. aku menjelaskan padamu permainan gitar band the panturas asik dan bikin semangat.
"kamu tahu band reality club?" tanyamu.
"tahu, tapi sekedar tahu, belum pernah mendengarkan lagunya" jawabku jujur.
"coba dengerin, lagunya enak trus permainan gitarnya mirip kayak the panturas"
"dengerin yang judulnya SSR sama Never Get Better coba" saranmu waktu itu.
aku pun langsung mendegarkan lagu-lagu reality club. ternyata memang bagus. sontak aku jatuh hati dengan lagu reality club yang berjudul 2112 dan alexandra.
tak hanya kamu saja yang menyarankan beberapa rekomendasi lagu yang bagus untukku, aku pun mencoba mengenalkanmu lagu-lagu folk milik silampukau karena menurutku liriknya tak melulu tentang cinta dan musiknya enak di telinga tentunya.
percakapan yang mengalir lancar itu, aku tak pernah menyangkanya.
kupikir aku akan canggung saat bercakap-cakap denganmu. lagi pula aku sudah lama tak bertemu denganmu.
tiba-tiba hujan turun saat sore menjelang.
kamu pun bercerita kalau siang itu kamu belum makan.
aku pun mengajakmu ngemil di angkringan samping perpustakaan. untung sore itu bangku angkringan sepi, jadi masih bisa duduk.
aku memesan es beng-beng dan kamu memesan goodday hangat. aku mengeluarkan ciki-ciki yang kubawa dan membaginya denganmu. sambil memakan camilan, kamu kembali bercerita. aku mendengarkanmu dan sesekali menimpali ceritamu.
“ah, hujan sudah mulai reda.” katamu.
aku melihat langit. hujan masih turun, tapi tak sederas tadi.
setelah membayar minuman ke ibu penjual angkringan, aku dan kamu saling berpamitan.
“terimakasih untuk hari ini” katamu.
sosokmu dan motor astrea bututmu pun menghilang dari pandangan mataku. aku pun mengendarai motorku dan pulang juga.