Strive to be free in our own country/p>
noise dept.
No title available

❣ Chile in a Photography ❣
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Today's Document

tannertan36
sheepfilms
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Sweet Seals For You, Always
EXPECTATIONS

Love Begins

bliss lane
h

Product Placement
RMH
Not today Justin
Lint Roller? I Barely Know Her
Fieri Frames
art blog(derogatory)
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Norway
seen from Singapore
seen from United States

seen from T1
seen from Japan
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from Japan
seen from Netherlands

seen from Chile

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States
@unitetheelements
Strive to be free in our own country/p>
HUT RI
Makin tinggi usia negeri kita ayo makin jaya
Jangan malah makin Cina merajalela
Garuda ikon negara
Tapi macan Asia tidur julukannya
Tak ada mangsa yang takut
Karena untuk bangun kita takut
Karena untuk bangun kita takut
Atau lebih tepatnya mudah terhasut
Oleh gaya hidup kekinian
Yang katanya harus kebarat-baratan
Tapi nyatanya tidak ada faedah
Malah otak terasah
Untuk pandai memecah-belah
Hingga budaya berubah
Dan banyak generasi sampah
Kalau gitu kapan majunya?!
Indonesia tak kan kaya
Jika korupsi pejabat masih ada
Indonesia tak kan jadi negara adidaya
Jika para pemimpin tak peduli rakyatnya
Dan rakyat tak peduli siapa yang memimpin mereka
Kita suka dengan produk asing
Yang padahal di pasar lokal pun ada yang dengan harga miring
Kalau alasan barang lokal tak bagus kualitasnya
Ya kapan mau bagus kalau semuanya pilih barang sana?!
Tak ada bangga bangsa dengan negaranya
Lebih bangga turis bisa lihat Indonesia
Kok kebalik ya?
1 Juni: Hari Lahirnya Pancasila
Pancasila
Asas Negara kepulauan, maritim, agraris. Negeri yang pelancong bilang kaya budayanya, enak kulinernya, dan indah pemandangan alamnya.
Tapi semua ini bibitnya adalah perjuangan dari para pahlawan. Dari yang kita kenal di buku-buku sejarah sampai yang tak seorang pun kenal sekalipun.
Mereka relakan keringat mengucur, perut jarang diisi, dan berdarah karena tertembak.
Menghiasi hati mereka dengan angan akan kemerdekaan suatu wilayah yang diapit oleh dua benua dan dua samudra.
Meruncingkan batang-batang bambu dari halaman belakang rumah, untuk dijadikan senjata melawan para penjajah.
Sementara kita yang di 2020 ini?
Lebih banyak kenikmatan....berkat Allah yang memenangkan nenek moyang kita dari penjajahan.
Lebih maju....
Tapi lebih banyak yang tidak berjiwa patriotik lagi. Lupa di mana tanah kelahirannya...lupa di mana ia berpijak...
Hingga yang terparah...
Lupa bahwa Allah masih dan akan terus mangawasinya...
Dunia itu melenakan.
Maka jangan lagi mau menjadi hamba dunia.
Karena kita sudah ada yang punya.
Hanya Allah tempat kita, para hamba, dan hanya milik-Nya lah kita.
Sang Maha Baik sudah meminjamkan kita berbagai kenikmatan yang tak terbilang jumlahnya.
Mulai dari tubuh yang baik dan sempurna hingga kesempatan hidup bersama negeri kita yang merdeka hingga kini.
Intinya, buatlah perjuangan nenek moyang beserta seluruh kenikmatan yang Allah beri dalam kemerdekaan negeri kita ini tidak sia- sia.
Bersyukurlah! Agar dapat nikmat berlipat.
"Melanggar Itu Wajar, Asal Jangan Kurang Ajar"
Kalimat pendek itu teruntuk dua hal sekaligus. Untuk siapa yang takut melanggar. Juga untuk siapa yang keseringan melanggar.
Dalam hidup kita ini, tidaklah klop jika belum pernah melanggar. Yang saya maksud adalah agar kita menjalani hidup ini apa adanya. Jangan anggap orang sukses itu tak ada pelanggaran. Malah justru para pemimpin yang masa mudanya penuh pelanggaran hitam. Maka untuk yang takut melanggar, beranilah untuk menjalani. Walaupun tak sengaja melencengi aturan asalkan buat itu menjadi pijakan perbaikan menuju yang lebih baik lagi.
Untuk yang keseringan melanggar, ingatlah, kalau kau salah terus kapan mau bisanya. Kapan mau hebatnya. Pemuda dan seluruh generasi dunia mestilah kreatif dan berani untuk menjadikan pelanggaran sebagai pijakan agar tak terulang.
Terbalik Rasanya
Dunia, dunia....
Sebuah dimensi ruang dan waktu yang terasa hidup
Sehingga banyak hal yang sebenarnya palsu terasa nyata
Bahkan kejahatan dengan mudah menggeser kebaikan-kebaikan yang diperjuangkan oleh yang masih mengingat siapa dirinya
Bahwa dirinya....
Di dunia ini....
Adalah manusia yang bukan apa-apa
Boleh jabatanmu tinggi
Boleh hartamu adalah dunia dan seisinya
Tapi kau tetap bukan apa-apa
Belum perlu ku membandingkan manusia dengan tuhan
Cukup saja ku bandingkan dirimu dengan jasadmu sendiri
Dirimu bukan apa-apa dibandingkan matamu yang membantumu melihat pemandangan selama hidupmu
Kau akan menjerit jika tiba-tiba kau menjadi buta
Dirimu bukan apa-apa dibandingkan kulitmu yang membantumu meraba permukaan benda
Kau tak kan pernah tahu apa itu kasar dan lembut jika kulitmu tak ada
Dan masih banyak lagi....
Maka dari itu, sadarilah....
Jangan sekali-kali menjadi jahat untuk mengeruk dunia
Kendati kau membuat orang lain rugi
Kendati kau menjadi pembohong kelas dunia
Hanya agar semua orang memandangimu tinggi
Hanya agar kau punya semua harta dan kuasa
Dan walau semua itu sudah kau miliki,
Tetap saja dunia akan tetap membuatmu masih ingin lagi
Padahal sesungguhnya banyak orang yang kendati berlumur keringat karena terbakar matahari
Padahal sesungguhnya banyak orang yang kendati berlumur darah karena sulitnya medan yang ia lalui
Dan upah dari itu semua paling-paling hanya cukup untuk sedikit
Bahkan banyak yang tidak cukup
Saking terbaliknya rasanya hidup di dunia ini
Jarang syukur hinggap di setiap hati para hartawan dan penguasa
Justru banyak yang miskin dan kecil yang menengadah
Mereka sadar apa yang mereka bisa dapatkan adalah titipan
Mereka tahu kalau mereka hidup dengan tujuan menciptakan manfaat besar
Bukan seperti hartawan dan penguasa yang seringnya bertujuan memiliki setiap jengkal dunia
Di mata mereka, manusia miskin dan kecil adalah sampah yang sesegera mungkin harus di tanam ke dalam tanah
Katanya, karena mereka adalah bangsa buruk
Katanya, mereka itu tak ada gunanya
Itulah katanya
Lebih dalamnya,
Mereka benci berat dengan wujud manusia yang hampir tiada bedanya dengan kera itu
Hingga terjadilah konspirasi dan rekayasa
Membuat semua mata menyoroti yang salah sebagai yang benar dan yang benar sebagai yang salah
Tak lagi peduli
Tak lagi ada belas kasih
Bahkan untuk membela diri yang salah tertuduh pun,
Bukan lagi berdasarkan kau memang tertuduh atau kau berbohong
Melainkan berdasarkan kau kelompokku, kau golonganku, atau kau punya uang untuk mengimbali semua jasaku
Bahkan satu masalah yang jawabannya hanya dua, yaitu benar atau salah
Durasi untuk menemukan jawabannya lebih lama daripada untuk menemukan jawaban pilihan ganda dari lima puluh butir soal ujian di sekolah
Jika saja tak perlu lagi berandai agar bisa melihat dunia yang penduduknya selalu jujur
Sampai-sampai jaksa, hakim, pengacara, dan semua bagian hukum tak lagi dibutuhkan
Di saat itulah, rasa hidup di dunia tak lagi terasa terbalik
Sebuah Pantun
Ulang Tahun
Bertambah usia, berkurang umur
Tinggal di dunia, jangan jadi kufur
Banyak ibadah, banyak berdzikir
Ulang tahun berkah, dewasa berpikir
Lemak jenuh, banyak di cokelat
Walau jauh, tapi tetap t'rasa dekat
Usia meninggi, tak lagi muda
Walau tak pasti, ibadah tetap dijaga
Bukan meminta, tapi berjaga
Sebab usia, juga ada jatahnya
GESEKAN
Teruntuk semua hal yang pada dasarnya berbeda
Sering gesekan membuat kita semakin ingin membuat antara
Hingga sering kita tak lagi saling memandang
Bahkan kian melupakan
Bahwa kita ini adalah sama sebeda apa pun kita di dunia ini
Banyak yang bilang ingin seperti gemintang
Yang nyaris tak pernah bergesekan
Bahkan dengan planet, satelit, dan juga asteroid
Walau tak terbilang jumlahnya di angkasa
Namun apa daya
Adakah apa yang kau bilang itu terealisasikan?
Banyak yang bilang kita ini sama, tak ada bedanya. Maka jangan membuat perbedaan itu ada
Menurutku, pernyataan itu benar sekaligus salah
Kita manusia di dunia ini adalah berbeda satu dengan yang lainnya
Jika kita semua sama,
Mengapa harus ada yang namanya diskusi?
Musyawarah?
Bahkan konferensi raksasa antar negara?
Jangan bertanya mengapa manusia punya jantung
Jangan pula bertanya mengapa kita berbeda
Nanti kebersamaan kita berhenti berdetak
Nanti semua yang kita bangun langsung hilang
Lenyap bahkan tanpa sisa sekeping puing pun
Banyak yang bersusah payah menghilangkan perbedaan
Katanya, perbedaan kita itu seperti tingkatan
Tingkatanmu rendah dan aku lebih tinggi
Maka mari jadilah sama denganku agar kita bisa hidup damai dalam tingkatan yang sama
Mungkin benar kau lebih tinggi
Tetapi bisakah kau memastikannya?
Karena kenyataannya tingkatan dalam kehidupan nyata
Tidaklah seperti tingkatan akademis seperti saat di sekolah
Nilainya tak hanya dihitung dengan angka
Namun nilainya dihitung berdasarkan seluruh aspek rumit nan kompleks ala kehidupan
"Wah, dia baik, ya. Ngasihin aku kue terus."
"Jahat banget, sih, dia. Suka ngeselin kalo ketemu."
Jangan langsung disimpulkan
Karena buku yang bersampul itu jarang ada yang tipis
Yang banyak buku tebal yang punya sampul bagus
Isinya pun bisa dibaca dengan puas
Lengkap dari awal hingga akhir
Maka kumpulkanlah semua informasi dengan benar
Jangan tergugah hanya dengan omongan angin
Dan nanti, jika lembaran buku tentangnya sudah tebal,
Baru kau sampul dia dengan label baik atau buruk bagimu
Tapi jangan menganggap kalau dia sudah berlabel baik, dia itu pasti baik
Juga sebaliknya
Karena buku itu hanyalah buku tentangnya bagimu, bukan bagi orang lain
Bisa jadi bagi orang lain, dia justru adalah makhluk terkotor
Karena manusia bisa menggenggam bunga dan racun sekaligus
Maka yang menganggap tiap perbedaan adalah tingkatan
Menurutku, itu kurang tepat
Karena buktinya, tiap isi buku tentang A milik tiap manusia adalah berbagai macam
Kalau sudah berbagai macam, maka jika untuk sekedar tingkatan,
Pastilah juga berbagai macam
Aku menganggap tingkatanku yang terbaik
Dan kau menganggap tingkatanmu yang terbaik pula
Apakah kita harus setingkat dulu baru bisa saling berdamai?
Tidak
Apakah betul tingkatanmu lebih baik daripada tingkatanku?
Jawabannya,
Tentu saja hanya bisa dijawab sendiri-sendiri
Untuk menentukan yang benar dan salah adalah relatif
Namun kerelativitasannya hanya berlaku sepanjang hal itu tidak memengaruhi hak orang lain
Tak mungkin kan, ada di antara kita yang menganggap bersih-bersih itu memperburuk lingkungan?
Dan orang lain jadi punya kewajiban untuk menghormati tingkatan orang lainnya
Karena inilah pelumas spesial untuk mengurangi gesekan besar di antara kita
Walau sesekali tetap ada percikan akibat gesekan yang lebih kecil
Setidaknya dengan gesekan itu kita menjadi semakin tahu
Kalau menjadi gemintang yang membersamai planet, satelit, dan asteroid
Adalah hal yang agak rumit walau pangkalnya mudah dijelaskan
Yaitu dengan saling menghargai perbedaan
Dan selalu mencari hal yang paling benar di dunia ini
Bukan yang terbaik bagi tingkatan kalian sendiri
Agar tak ada yang dirugikan
Agar tak ada yang merasa rendah
Tapi menurutku lagi,
Dengan jalan seperti inilah
Kita dapat mengetahui dengan baik tingkatan mana yang terbaik di dunia ini tanpa menimbulkan dengki sedikitpun
Tetapi, ketahuilah
Tingkatan yang terbaik itu tidak akan pernah minta untuk dipamer-pamerkan bahwa tingkatan itulah yang terbaik
Karena tingkatan yang terbaik bukan untuk dipamerkan
Tetapi untuk dijalani dengan sebaik-baiknya
Namun, hingga saat ini
Manusia banyak yang tetap mengedepankan tingkatannya sendiri
Mempromosikan tingkatannya kepada banyak orang
Bagiku itu tak masalah
Yang bagiku masalah adalah bahwa mereka hanya meninggikan tingkatan sendiri dengan keangkuhan tanpa berpikir bahwa ada manusia lainnya yang memiliki tingkatan yang lain dengan mereka
Sebenarnya, justru bagiku,
Adalah tingkatan yang tidak mengharuskan menghormati tingkatan lainnyalah yang buruk
Yang hanya hidup dengan anggapan tingkatan merekalah yang terbaik dan yang buruk harus ditumpas
Salah, salah besar
Tak bisa kita pastikan segala yang kita anggap itu benar adanya
Bahkan tulisanku yang panjang lebar ini pun,
Boleh saja kau anggap salah
Tapi jangan membuat anggapan itu menjadi penghalang untuk saling membersamai
Karena ini hanya sekedar anggapanku terhadap perbedaan
Bahwa sesungguhnya,
Kita berbeda,
Pada tiap anggapan kita
Pada tiap keyakinan kita terhadap suatu hal
Tapi sebenarnya tetap ada yang terbaik di antara semua keyakinan dan semua tingkatan
Namun keyakinan dan tingkatan itu tak minta dipamerkan dengan keangkuhan
Karena,
Keyakinan dan tingkatan yang terbaik itu justru yang akan memberikan tanda-tandanya sendiri kepada manusia
Tanpa perlu pamer-memamerkan
Dan tentunya dengan jalannya masing-masing
Namun, manusia tetaplah manusia
Jarang ada yang memercayai tanda itu walau sudah mendapatkannya jutaan kali
Malahan semakin banyak manusia yang tetap bersusah payah menutupi tingkatan yang terbaik itu walaupun telah mengetahuinya
Hanya sekedar ingin membuat manusia semakin banyak yang mengikuti tingkatannya yang lebih rendah
Mereka bahkan iri dan dengki karena tingkatan mereka tak sebaik tingkatan yang terbaik
Dada mereka disesaki dengan ide-ide hitam untuk menumpas tingkatan yang terbaik
Dan memperjuangkan tingkatan yang tak bernilai
Berusaha menciptakan gesekan raksasa agar tingkatan terbaik itu dianggap sebagai barang aus bagi orang-orang
Merekalah yang menciptakan perbedaan yang tak seharusnya ada
Perbedaan yang menciptakan permusuhan,
Pengkhianatan,
Dan hal buruk lainnya
Mereka memutarbalikkan fakta yang sebenarnya
Menjadikan orang dengan tingkatan terbaik sebagai yang bertanggung jawab atas semua kekacauan
Yang pelaku sesungguhnya justru mereka sendiri
Maka gesekan itu, wahai kawanku, adalah karena masih ada yang belum tahu di antara kita
Atau malah, masih ada yang belum mau jujur dengan apa yang sudah ia ketahui
Ketahuilah, jika kau begitu, artinya kau sedang merugi
Untukmu, Wahai Orang Kepo
Manusia itu di saat mereka bertanya, mereka sebenarnya sedang menaiki tangga keingintahuan mereka.
Tangga keingintahuan adalah tangga yang tak akan pernah mempunyai ujung. Selalu ada anak tangga yang lebih tinggi lagi, lagi, dan lagi. Jika seorang manusia keterusan bertanya hingga kepada hal-hal yang tidak penting sekalipun, artinya dia sudah keterusan menaiki tangga keingintahuannya. Sudah ribuan anak tangga yang dia naiki. Tetapi itu semua percuma. Karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya, jumlah anak tangga keingintahuan itu tak berhingga. Lelah, capek, tujuan pun tak jelas apa.
Maka kita sebagai manusia yang diciptakan dengan hasrat keingintahuan harus memanfaatkannya dengan cara yang sebaik-baiknya. Jika ingin bertanya sesuatu, yang seperlunya saja. Jangan sampai ada satu pun pertanyaan yang dapat menyinggung perasaan orang yang ditanya. Dan tetaplah bersikap normal. Jangan sekali-kali menjadi kepo hanya dengan tujuan merendahkan derajat orang lain.
Penjelasan saya ini intisarinya bukan untuk berhenti bertanya, ya. Tetapi untuk mengingatkan saya dan kalian semua agar bertanya dengan kadar yang secukupnya. Karena jika tidak, yang rugi itu bukan hanya yang ditanya, tapi juga bagi si penanya itu sendiri. Karena dia sudah kelewatan jauh menaiki tangga keingintahuannya. Sudah capek untuk naik, capek pula untuk turun ke dasar.
Maka bertanyalah secukupnya. Yang penting-penting saja. Tak usah ingin tahu terlalu dalam. Kecuali jika memang itu diperlukan. Penyelidikan kasus misalnya. Atau di saat barangmu hilang di tempat umum.
Intinya...jangan sekali-kali mau jadi orang kepo untuk yang bukan-bukan di dunia ini!
Bukan Bagaimana Aku Bahagia. Tetapi Bahagiaku Bagaimana.
Manusia memanglah makhluk yang sempurna. Termasuk untuk hal perasaan. Berbagai jenis perasaan sudah tersetel baik-baik di dalam jiwa manusia.
Dan hal ini pulalah, yang juga membuat manusia mempunyai kekurangan yang agak unik. Bayangkan, bagaimana jadinya kalau suatu makhluk mempunyai berbagai perasaan termasuk yang bertolak belakang sekalipun? Sedih dan senang, marah dan sabar, dan sebagainya menjadi satu paket? Tidakkah akan menyebabkan kekacauan?
Nyatanya hal itulah yang kita, manusia sejagad, miliki sedari lahir hingga akhir hayat nanti.
Lalu, kenapa manusia harus dikatakan sempurna jika tetap punya kekurangan seperti itu?
Hehehe...sebelumnya maaf kalau kata-kata saya agak membingungkan.
Di satu sisi, perasaan kita yang berbagai macamnya itu memang membuat kita tetap punya kekurangan. Tapi justru di sisi lain, kita ditakdirkan menjadi makhluk yang istimewa. Kenapa? Karena dengan berbagai macam perasaan kita yang satu paket itu, kita menjadi makhluk yang mempunyai jalan hidup yang paling sulit untuk dilalui.
Kita tertimpa musibah yang disengaja kan orang lain yang menyebabkan kita menjadi sedih dan marah. Secara logika memang lebih baik kita bersedih dan marah lalu membalas dengan hal setimpal kepada orang itu. Tapi, janganlah abaikan hatimu. Karena ketika itu sebenarnya dia sedang menjerit keras dalam senyap. "Sabarlah, wahai Makhluk Istimewa, sabarlah. Lawanlah perasaan sedih dan marahmu. Tetaplah senang dan sabar menghadapinya. Aku tahu kau dan sesamamu menjalani kehidupan yang paling berat dari seluruh makhluk. Tetapi gelarmu sebagai makhluk teristimewa akan lenyap jika kau membiarkan perasaan-perasaan buruk itu memenuhi jiwamu."
Di sinilah gelar "istimewa" itu terletak di setiap jiwa manusia. Namun, di dunia ini, saat ini, bahkan mungkin seterusnya, hanya segelintir saja yang mau dan berpegang teguh melaksanakannya. Dan otomatis hanya merekalah yang tahu dan menikmati perasaan bahagia dan sabar sejati sepanjang hayat mereka.
Lalu bagaimana caranya agar bisa meraih perasaan bahagia dan sabar sejati dalam kehidupan kita? Jawabannya sudah saya tuliskan di judul konten ini.
"BUKAN BAGAIMANA AKU BAHAGIA? TETAPI, BAHAGIAKU BAGAIMANA?"
Bagi yang belum paham, sini, saya jelaskan.
Kadang kita bertanya-tanya bagaimana kita bisa begini? Bagaimana kita bisa begitu? Aku tak mampu begini dan begitu. Jadi bagaimana?
Nah, itu dia masalahnya. Yang sering bertanya dalam hati seperti yang di atas artinya kalian kehilangan gelar "Makhluk Istimewa".
Sebagai makhluk istimewa, kita harus mampu mengendalikan setiap elemen perasaan dalam jiwa kita. Kitalah yang menentukan peristiwa yang mana yang membuat kita bahagia dan bukan sebaliknya.
Karena sebenarnya setiap elemen perasaan itu sudah bosan menunggu di muka pintu jiwa kita. Bertanya-tanya kapan 'senang' masuk? Kapan 'sabar' masuk? Kenapa yang sering keluar masuk justru 'sedih' dan 'marah'? Maka tinggal kita yang mau mengizinkan elemen-elemen perasaan itu masuk atau tidak.
Maka sebelum perasaan senang dan sabar itu betul-betul bosan dan sempurna meninggalkan kita, ayo, kita buka pintu jiwa kita lebar-lebar untuk elemen-elemen perasaan yang masih setia menunggui kita di muka pintu masing-masing jiwa kita.
Humor Bahasa
Menggaruk Kepala yang Tak Gatal
Kenapa?
Bingung?
Ya udah...
Garuk terus...garuk...
Garuklah kepalamu yang tak gatal...
Berdampingan
Jikalau aku air dan kau api, tak masalah. Jika ternyata saling menyatu membuat kita hancur, itu bukanlah bencana.
Yang terbaik adalah kita harus saling berdampingan. Api yang terlalu besar perlu air untuk memadamkannya. Air pun perlu panas api untuk membuatnya menjadi energi uap.
Bukankah ini mahakarya?