Penuh dengan ketakutan
melihat masalah secara utuh sangat penting, biar tau, mana yang bisa dikontrol, mana yang enggak. mana yang murni kesalahan ribadi, mana kesalahan yang ada faktor eksternalnya.
Dan being-blamed, itu rasanya triggering dan melelahkan banget. I always said, aku udah capek banget disalah-salhin selama 20 tahunan hidupku sama orangtuaku, jadi please buat orang terdekatku, gausah nyalh-nyalahin lagi. Pertama, gue udah tau bahwa gue salah. Kedua, gue yang paling besar menanggung risiko kesalahn gue juga. Jadi, ketika lo pointing out ke arah muka gue dengan kesalahn gue - dan qadarullah ada faktor eksternal juga, rasanya amat sangat sangat menyakitkan. Rasanya aku gak mau lagi hidup sama orang seperti itu. Cukup sudah puluhan tahun sama orangtuaku yang toxic itu.
Dan ketakutan ini benar-benar terinternalisasi. Aku transit 12 jam di bandara Jeddah, dan rasanya hormon stres mengalir deras. berpuluh kali aku lihat board jadwal, memastikan aku tidak salah lagi. Padahal semalam, aku sudah mengecek via website, dan gate yang ditulis di website sama dengan yang di board. Namun, aku tetap mengecek berpuluh kali, karena aku takut akan berganti lagi.
Tapi sebenernya ini membuktikan, bahwa memang pergantian gate itu nggak umum. Namun, bisa juga karena bandara jeddah tidak sebesar Istanbul, atau juga karena Saudia lebih profesional saja mengelola itu semua dibandingkan turkish.
Aku bukan mencari kambing hitam. Tapi, aku juga mau dia melihat masalah ini secara utuh. It’s not just me, ada lebih dari 3 orang lainnya yang ketinggalan pesawat. Aku yang berjalan sudah lebih dari 24 jam, rasanya juga capek bukan main. Tapi yang dia lihat hanya “Fyuh, uang habis sia-sia.” Gak ada empati sama sekali. Empati ini, yang perlahan-lahan hilang dan tak kuliah lagi dari dia.
Apalagi, ia juga semakin mengaitkan banyak hal tentang uang hanya kepada ketololan diriku “Ketinggalan kunci jadi kena scam 3000 dollar”
OH HEI, SEKALIAN SAJA, KARENA KITA PINDAH KE AUSTRALIA KAMU JADI HARUS KERJA SEBAGAI KULI DAN BUKAN DUDUK MANIS DI DEPAN KOMPUTER.
KARENA SEKOLAH DI AUSTRALIA KITA JADI GAK PUNYA TABUNGAN SAMA SEKALI DAN HARUS MERASAKAN HIDUP DENGAN PENUH HUTANG.
KARENA PINDAK KE AUSTRALIA KITA JADI CUMAN BISA AFFORD RUMAH SATU KAMAR YANG TADINYA KITA BISA AFFORD RUMAH 4 KAMAR.
KARENA PINDAH KE AUSTRALIA, KITA JADI GAK BISA NAGIH UTANG LANGSUNG KE ORANGNYA.
KARENA KITA DI AUSTRALIA, KALAU MAU NGUNDANG WISUDA JADI MAHAL BANGET HARUS BELI TIKET PESAWAT JUTAAN RUPIAH, APPLY VISA DAN LAIN-LAIN.
KARENA KITA DI AUSTRALIA, KITA CUMAN JADI IMIGRAN KELAS DUA. GAK BISA SERING-SERING JALAN-JALAN DAN HARUS KERJA TERUS.
Udah cukup buat aku, puluhan tahun disalahkan dan aku gak mau berada dalam hubungan yang terus saling menyalahkan. Mungkin ini saatnya menyerah.







