Tentang Kehilangan dan Menemukan Kembali
Selamat datang didrama kehidupan hahahihi-nya Chami!
Sudah lama tidak ditulis padahal banyak yang terjadi dan ini sangat layak untuk dibaca lagi nanti.
Minggu lalu, aku kehilangan sepeda, untuk kedua kalinya. WKWK. Sepeda merah yang sehari sebelumnya baru saja ku manjakan, ku pompa benar bannya, ku kasih pelumas gearnya, ku lap bersih semua badannya. Dia menghilang saat lagi cantik-cantiknya, pantas saja orang lain pun terpesona, jadi diambil wkwk. Salahku juga meninggalkannya di tempar parkir gratis dekat stasiun. Jadi malam itu aku menghukum diri sendiri dengan pulang jalan kaki. Tapi perasaanku biasa saja, tidak terlalu sedih hanya kepikiran bagaimana cara bawanya kalo lagi belanja beli beras 10 kg wkwk.
Saat kehilangan sepeda yang pertama justru lebih lucu. Sepeda merah itu hilang di tempat parkir apartment. Beberapa hari kemudian, seorang teman menemukannya terparkir di supermarket dekat stasiun yang jaraknya sekitar 2 km. Rupanya ada orang pinjam sepedaku buat buru-buru ke stasiun. Dia mau izin kepemiliknya tapi mungkin tidak tahu siapa. Si merahku kembali.
Kehilangan yang kali ini entah apa alasannya, tapi masih belum kembali lagi. Entah orangnya yang lupa mengembalikan atau mungkin karena aku juga tidak berusaha mencari. Tidak perlu mencari apa yang sudah pergi. Toh, beberapa waktu lagi aku akan pindah dan tidak berencana membawanya. Jadi sepertinya semesta membantu aku untuk membuangnya. Sekarang aku tidak pernah belanja beras 10 kg lagi. cukup yang 2 kg an saja wkwk.
Sejak sepeda hilang, aku lebih sering berjalan kaki ke mana-mana. Tidak masalah bagiku, karena aku suka jalan kaki. Setiap sebelum tidur aku selalu melihat berapa steps yang sudah tercapai dihari itu. Lalu aku mulai mempertimbangkan untuk membeli fitness smartwatch yang sudah sangat ingin dibeli sejak akhir tahun kemarin. Cerita tentang jam tangan ini menjadi pembelajaran yang lain tentang kehilangan dan menemukan kembali.
Aku suka memakai jam tangan. Pun begitu, aku tidak mengoleksi jam tangan. Jam tangan bagiku adalah barang fungsional yang bila dikoleksi dia tidak akan bermakna karena tidak selalu dipakai. Jadi aku hanya punya dua jam tangan, satu untuk dipakai kegiatan sehari-hari dan satu lagi untuk acara formal. Jam putih yang biasa kupakai sehari-hari hilang saat aku sedang di lab. Saat itu aku yakin cepat atau lambat seseorang akan menemukannya, jadi sejak jam itu hilang aku selalu memakai jam formalku. Setelah ditunggu lebih dari setahun ternyata jam itu tidak pernah kembali wkwk.
Kembali lagi dengan keinginan membeli smartwatch tadi. Sepertinya ini sudah menjadi waktu yang tepat untuk membeli jam baru. Saat membeli suatu barang aku selalu membuat daftar alasan kenapa aku harus membeli barang tersebut. Bukannya pelit, tapi algoritma otakku cukup rumit. Kadang hal ini yang menyelamatku dari diskon barang-barang lucu wkwk. Selama ini smartwatch itu belum dibeli karena memang belum punya alasan yang cukup kuat untuk membelinya. Takut fomo doang. Tapi kali ini aku sudah cukup mantap karena beberapa bulan terakhir aku memulai hidup lebih sehat dan berolahraga lebih banyak. Jadi sepertinya dengan mempunyai fitness smartwatch akan banyak membantu.
Tentu aku sudah riset berbulan-bulan hingga aku menjatuhkan pilihan kesalah satu produk. Beruntungnya, aku menemukan produk itu di Mercari (forum jual beli barang tidak terpakai di jepang) dengan kondisi yang masih baru dan belum dibuka. Penjual beralasan dia mendapatkan jam itu sebagai hadiah namun dia tidak ingin memakainya, jadi dia menjualnya kembali. Serunya di Mercari kita bisa menawar harga barang dan bila barang tidak sesuai deskripsi saat diterima dapat dengan mudah mengajukan refund. Aku menghabiskan waktu cukup lama untuk proses tawar menawar sampai akhirnya kami deal disatu harga yang cukup miring. Penjual akhirnya mengganti harga dengan harga yang kami sepakati dan aku mulai check-out.
Lalu tiba-tiba barang itu terjual,
Aku yang nawar, orang lain yang check-out. Kalah gercep. Yaampun ini rasanya ditikung WKWK.
Lalu tepat keesokan harinya, entah karena keajaiban atau mukjizat apa, jam tangan putihku ketemu! Setelah satu tahun lebih jam itu kembali lagi. Bahkan kembalinya di loker eksperimen ku, yang sangat sering ku buka, tapi kemarin-kemarin dia tidak pernah ada di sana. Aku ambil jam itu sambil tertawa sendiri.
Saat itu rasanya Allah sedang pukpuk kepalaku. Allah memang lucu.
"Apapun yang memang untukmu, akan menemukan jalannya untuk datang padamu. Apapun yang bukan untukmu, tidak akan pernah menjadi punyamu."