"Kesempurnaan adalah hal yang fiktif bagi manusia. Apakah mengusahakannya akan menjadi sebuah kesalahan?"
Kali pertama aku posting tulisanku di sini. Mungkin kalau kalian baca ini nanti, tulisannya masih banyak kekurangan tapi aku coba selalu belajar dan terus memperbaiki.
Nah, ngomong-ngomong soal belajar, aku suka banget 'loh belajar. Belajar hal-hal apapun yang aku suka, dengan catatan achievementku dalam hal tersebut bagus. Terlalu result oriented ya, memang. Makanya aku jadi sangat ambisius. Kalau aku mau, maka harus. Hasilnya, aku juga jadi lebih keras kepala.
Menurutku pribadi, aku pembelajar yang baik. Bidang apapun bisa aku pelajari dengan cepat. Terlebih jika arahan, pedoman dan referensinya jelas. Pokoknya aku suka belajar.
Aku suka belajar apapun. Asal jangan suruh aku berbicara hehe. Apalagi di depan umum. Aku sama sekali tidak pandai berkomunikasi. Mungkin karena terlalu sering berinteraksi dengan buku hehe. Aku merasa menghadapi soal-soal yang rumit lebih mudah untuk diajak berinteraksi daripada harus berinteraksi dengan manusia. Keringet dingin, euy!
Dengan sadar, aku memahami kelebihan dan kelemahan yang aku punya. Pun sampai saat ini, hasil tes talent mapping yang aku lalui menyatakan hal yang sama dengan yang aku kira sebelumnya. Semua bakat dan kemampuanku berkumpul pada bagian thinking dan striving.
Suka berpikir dan pekerja keras, katanya.
Tapi, kalau dipikir-pikir, bakat dominanku sepertinya amat membosankan. Bakat dominan nomor 1 adalah Analytical. Orang-orang dengan bakat analitikal adalah orang-orang yang terlalu objektif. Mereka memerlukan analisis data, menemukan pola, dan mengkaitkan ide-ide.
Pokoknya, bagi kami yang punya bakat ini, kalau tidak ada buktinya artinya hal tersebut tidak benar atau tidak perlu dipercayai.
Kalau orang-orang analitikal ini ngobrol dengan temannya, kira-kira beginilah percakapannya:
"Eh, katanya kalo makan mi instan ga boleh bareng sama nasi. Ntar gendut," kata salah satu teman.
"Ah, masa? Risetnya udah ada belum?"
Orang-orang analitikal ini memang sangat membosankan, cuek dan tidak humoris di segi manapun. Kalau mau ghibah sama mereka, jadinya tidak menyenangkan xixi.
Buat mereka, kesempurnaan adalah segalanya. Selagi bisa sempurna, kenapa tidak. Selagi masih ada waktu untuk memberikan yang terbaik, kenapa tidak. Makanya, 9 dari 10 orang analitikal, akan mengumpulkan atau menyampaikan tugas-tugasnya dengan rentang waktu yang sempit terhadap deadline. Jika tugas dikumpulkan terakhir pukul 10.00 WIB, 9 dari 10 orang tersebut akan mengumpulkan di atas pukul 09.30 WIB. Pukul 09.55 WIB mungkin, bahkan 09.59 WIB. Bagi mereka, sempurna adalah yang utama.
Dengan sifat ini, aku juga cenderung ingin selalu menjadi sempurna di setiap hal. Tapi sayangnya, aku manusia. Menjadi sempurna itu menyalahi kodrat manusia dan hanya akan menjadi pungguk yang merindukan bulan.
Sebagai jalan tengah, untuk memenuhi ambisi dan segala keinginan untuk sempurna, aku memilih untuk selalu melakukan yang terbaik dalam setiap hal yang aku lakukan. Tapi hanya hal-hal yang aku mau, terutama yang aku prioritaskan. Jangan paksa aku untuk melakukan hal-hal yang tidak aku minati. Aku tidak akan melakukannya dengan baik.
Rasanya, selalu ingin menjadi sempurna ini melelahkan. Meskipun sering kali saat berusaha menjadi sempurna aku akan menemui hasil yang manis pada akhirnya. Tapi bukankah untuk bahagia kita tidak perlu menjadi sempurna?