Tidak Mengagungkan Kemewahan
Dulu saya pernah baca tulisan Aditya Mulya, saya lupa detailnya, tapi bagus sekali isinya, tentang gimana beliau membesarkan anak anaknya lewat dua keadaan berbeda. Kadang tidur pake AC, kadang tidur di lantai. Kadang naik angkot, kadang dijemput supir. Dan berbagai contoh lainnya.
Lalu diakhir dia bilang kalau dia begitu karena dia ingin anaknya ngga takut dengan keadaan prihatin, tapi juga ngga kaget ketika ketemu dengan kemewahan.
Asli ini value yg bagus menurut saya.
Di jaman sekarang dimana semua orang berlomba lomba untuk menunjukkan status sosial di media sosial untuk mendapatkan pengakuan (apa? Sukses? Mapan? Kaya raya?), saya rasa perlu usaha lebih untuk bisa menerapkan value di atas. Anak anak kita nanti akan mengakses itu semua. Kalau gampang silau, susah juga. Soalnya kadang orang ngga liat prosesnya kan, tau tau lihat hasilnya kaya raya bergelimang harta, dikira tanpa usaha. Kalau mereka pengennya instant gimana?
Ngga usah jauh jauh deh, anak anak tanpa akses sosial media aja kalau liat temen pake barang baru bisa iri, iya ngga?
Tapi itu bisa diminimalisir sih kayanya. Dari siapa? Dari kita, orang tuanya.
Kalau dari awal orang tuanya memuja kemewahan (sesuatu yg baru, yg bagus, yg mahal, melihat sesuatu dari price tag) yaa berat juga usahanya untuk mewujudkan mimpi punya anak yang sederhana dan bersahaja.
Dulu saya tau, ada barang murah, ada barang mahal. Kalau mahal berarti bagus, kalau murah berarti jelek. Itu pandangan saya waktu kecil. Setiap beli barang pasti dibilang "ini mahal lho!". Lama lama jadi ada perasaan bangga punya barang mahal.
Terus selalu ada statement "kasihan" ketika kami melihat ada orang yg keadaannya di bawah kami. Kasihan, ngga punya mobil. Kasihan, rumahnya kecil. Dan sebagainya.
Lalu Qadarullah semua berubah cepat, saya yg tadinya tinggal dekat ibukota tiba tiba harus pindah ke Jogja. Biasa diantar jemput supir, tiba tiba harus naik angkot. Biasa beli barang di mall, tau tau belanja apa apa ke pasar. Komentar keluarga besar saya? Iya, kasihan. Jadi, saya mengasihani diri saya sendiri waktu itu.
Nasehat kaya "ngga usah malu kalau naik motor" itu ngga mempan buat saya yg tau prestige-nya naik mobil. "Ngga papa belanja di pasar", hhh sebagai anak kemaren sore yg mulai ngerti merk bagus dan mahal, pernah lho saya ngguntingin semua label baju saya, biar ga keliatan merknya gitu wkwk.
Padahal ya, ngga ada yg peduli! Serius deh.
Lalu, ketika akhirnya keluarga kami dapat kesempatan memperbaiki "taraf hidup". Tau apa yg kami lakukan? Kami berusaha membuktikan ke sekitar kami kalau "nih lho, sekarang kami bisa." Nunjukin beli ini itu, jalan kesana sini, just like the old days.
Capek tau hidup kaya gitu. Susah. Ngos ngosan. Asli.
Butuh justifikasi dari orang lain kalau kami sudah sukses, mapan, dan mampu dari segala aspek. Punya rumah besar, mobil, baju bagus, itu aja yg dikejar. Padahal di atas langit, masih ada langit bukan? Kaya lomba ngga kelar kelar.
Sampai akhirnya saya menikah dan keluarga suami ternyata sangat bersahaja dengan apa yg mereka punya. Value keluarga besar kami berbeda. Tau apa nasehat yg diterima masing masing dari kami sebelum menikah? "Kamu jangan ngikut keluarga dia, dia yg harus berubah agar seperti kita". Wkwk ribet ya, yaa karena value yg berbeda itu tadi.
Tapi menikah itu ga sesederhana itu. Apalagi waktu itu kami merantau, ngga ada yg memandu dan ngomong ini itu soal mau dimana kemana keluarga ini. Meskipun banyak drama awalnya, tapi asyik juga rasanya meramu value bagi keluarga kecil kami, tentunya butuh waktu yg lama dan trial error tiada henti. Sampai akhirnya saya baca tulisan Aditya Mulya itu. Kayanya itu penggambaran pas tentang tujuan kami sebenernya.
Pr berikutnya, gimana caranya?
Yaa itu, orang tuanya harus pinter pinter ngasih aksi nyata soal value tersebut. Sambil mikir gimana yaa cara pembiasaannya dan perilaku sehari harinya.
Akhirnya saya dan suami sepakat untuk ngga melabeli hal hal dengan ukuran uang, ngga ada istilah mahal murah. Kami menerapkan kalau kita butuh sesuatu, yaa kita beli. Sesuai kebutuhan, dan budget.
Mau beli baju? Sepatu? Silahkan. Tapi ngga pernah bilang ooh ini mahal, ini murah, engga. Kalau lagi butuh dan harganya mahal, yaa dibeli. Tapi kalau ternyata dengan harga murah sudah dapat yg sesuai kebutuhan, yaudah, ngga masalah.
Ngga pernah juga justifikasi enak yaa naik mobil, engga. Apalagi Lila cukup kritis, suka banget tanya "kenapa kita naik mobil?" Jawabannya yaa yg logis, karena takut hujan misalnya, karena mau pergi dengan barang banyak, karena mau jemput uti, yg gitu gitu. Bukan yang "karena enak naik mobil, ga panas, ga sumuk." Ngga gitu, nanti anaknya ngga nyaman dikit terus rewel, protes. Lah salah siapa.
Pergi keluar kota nginep di hotel, yaa kasih tau kenapa kita nginep, karena rumah jauh, ngga mungkin kalau langsung pulang, jadi nginep di hotel. Atau kalau pas jalan-jalan terus dia nanya "kenapa jalan-jalan?" Yaa jawab aja karena mau beli seuatu, karena mau main di playground, apalah apalah, yg jelas. Jangan yang "karena bosan di rumah", nanti kalau anaknya minta jalan jalan terus, marah. Laa gimana? Yg doktrin rumah bikin bosan siapa?
Mau makan di tempat makan, kalau kami sih langsung to the point "makan mie jawa yuk!" Atau "makan ikan yuk!", terus kalau misal ditanya "kok makan disini?" Ya jawab aja yg logis, karena makanannya enak. Bukan karena tempatnya bagus dan harganya mahal. C'mon, kuliner legendaris tu ngga mikirin tempatnya AC apa engga, instagramable apa engga. Please, gudeg pawon? Mangut mbah marto? Wkwk. Nanti kalau anak ngajak makan di tempat bagus terus, sambat, duitnya habis buat jajan di tempat mahal. Lha siapa yg suruh bilang tempat makan bagus itu enak?
Dulu waktu kecil, mama bilang, aku dan adekku ngga bisa makan selain hokben dan kfc. Kalau mudik ke jogja, bahkan papa mama harus masuk ke kota untuk cari mall dan makan di kedua tempat tersebut. Ribet banget ya gue jadi anak, dosaa dosaa Astagfirullah đ tapi dari situ saya jadi tau pointnya, bukan kami yg minta sejujurnya. Tapi karena bentukan orang tua kami seperti itu, dibiasakan seperti itu, jadi ngga tau kalau ada makanan selain itu. Ditambah lagi dengan alasan biar ga ribet, kalau itu pasti dimakan. Makin makin lah aku ngga punya pilihan.
Yaa gitu deh kurang lebih. Apakah cara kami ini berhasil? Belum. Belum tau. So far Lila anak yg easy going, diajak kemana ayuk aja, lebih milih motor daripada mobil (we consider to talk to her about the environmental effect soon), masih ngga ngerti apa itu mahal murah, mulai ngerti kalau temennya punya barang baru tapi ya kalau ngomong ke saya atau suami semacam "mba X tasnya baru loh, fyi aja" ngga yg minta.
Nah yg masih jadi PR tu itu, budaya pamer itu wkwk. Namanya anak kan yaa kalau ada barang baru pasti ada kecenderungan untuk bilang bilang. So far sih saya kalau diskusi sama Lila saya balikin lagi, kira kira kalau temennya pamer pamer itu dia merasakan apa, dia nyaman ga dengan perasaan itu, kalau udah gitu dia biasanya ilang sih keinginan untuk pamer. Tapi kalau ngga diingetin suka lupa. Apalagi kalau temennya suka mancing "Lila, aku punya ini baru looohh!!" Iih ada tu yg kaya gitu, tiap ketemu pamer mulu, mana suka ditambahin bumbu bumbu "Kamu ga punya kan? Yeyee aku punya~" kalau Lila diam, dia makin menjadi. Aduuh ingin ku sate rasanya đ
Ini makin lama makin jauh dari konteks ga sih? Wkwk
Tapi yaa ini, hal hal kecil ini memang yg kami lakukan untuk bisa mencapai value impian kami. Tetap nyaman dengan kesederhanaan, tapi ngga norak pas dapet kemewahan.
Semoga kita semua bisa seperti itu ya, mari saling doakan đ€