Ketika hidup lo penuh tekanan, lo akan mudah seneng dengan hal kecil sekalipun. Dan hal kecil itu yang membuat lo bisa bertahan dari banyak tekanan.
One Nice Bug Per Day
EXPECTATIONS

#extradirty
Fai_Ryy

bliss lane
Monterey Bay Aquarium
The Bowery Presents
Cosmic Funnies
RMH

shark vs the universe
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

blake kathryn
Misplaced Lens Cap

No title available
NASA

Love Begins
Noah Kahan
🪼
cherry valley forever
No title available

seen from United Kingdom

seen from Italy

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Hong Kong SAR China

seen from Finland
seen from United States
seen from Venezuela
seen from Bulgaria

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Poland
seen from United States
@virdyperdana
Ketika hidup lo penuh tekanan, lo akan mudah seneng dengan hal kecil sekalipun. Dan hal kecil itu yang membuat lo bisa bertahan dari banyak tekanan.
Peradaban Gaul
Ngomongin kata gaul nggak jauh-jauh sama yang namanya ‘trend’. Dari tahun ke tahun, masa ke masa, generasi ke generasi, pasti punya trennya masing-masing. Seperti yang kita ketahui semua, bentuk tren sangat bermacam-macam, mulai dari gaya berpakaian, gaya rambut, musik, bahkan sampai makanan. Dulu gue mikir sebuah tren itu cuma beken di waktunya masing-masing, ternyata gue salah. Sekarang kalo lo perhatikan, gaya berpakaian anak sekarang kembali lagi ke tren tahun 90-an. Pake kaos bergaris atau kaos polo atau kemeja flanel yang dimasukin ke dalam celana jeans, bahkan banyak juga yang celananya cutbray, enggak lupa pake gesper yang eye catching, dan yang terakhir belom sah kalo belom make Converse 70s atau Vans old school. Bedanya sama yang tahun 90-an, mungkin yang cewek sekarang kebanyakan berhijab, kalo dulu kan enggak. Coba lo pake outfit kaya gitu di tahun 2010-an, mungkin lo akan dikatain kuno sama temen-temen lo. Tapi sekarang? Sadisss.
Balik lagi ke kata gaul. Kalo lo mau disebut sebagai anak gaul, rumusnya cuma satu, yaitu ikutin trennya! Tapi bukan berarti kalo lo nggak ngikutin trennya lo jadi kuno, ya. Setiap orang berhak menentukan pilihan apakah mau ngikutin tren atau enggak. Nah, kalo lo tipe yang selalu ngikutin tren nggak, nih? Gue jadi inget waktu gue masih duduk di bangku SD tahun 2010-2012, gue sempet ngikutin tren-trennya. Mulai dari musik ngikutin genre reggae dan ska, sampe merasa jadi anak reggae banget. Outfit waktu itu belom sah kalo belom make topi baseball. Punya gue dulu NY, udah gitu beli KW di pasar. Eh, jangan lupain gelang power balance yang lagi-lagi punya gue KW. Persetan dengan originalitas waktu itu, yang penting gaul. Mungkin satu-satunya yang ori cuma sepatu Tomkins sama Alfalink gue. Dan yang terakhir, maen sepeda BMX. Walaupun dulu enggak freestyle pake sepeda kesayangan, yang penting girnya doltrap! Dijamin merasa keren di parkiran sepeda. Poser banget memang, tapi menurut gue gapapa. Semua orang mengalami fase poser, dan itu wajar banget. Â
Sepeda memang nggak ada matinya. Oh ya, sepeda lagi beken banget sekarang, ya. Mungkin karena masa-masa quarantine yang sudah sangat membosankan jadi orang-orang butuh keluar sekedar cari angin. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian gue. Ya, Brompton. Jujur gue nggak banyak ngerti soal sepeda murah atau mahal dan filosofi di merk-merk sepeda. Hal aneh mucul ketika kenapa Brompton ini jadi booming bahkan banyak orang rela nyicil dengan waktu lama demi punya Brompton. Merk ini emang eksklusif, ibarat Rolls Royce atau Maybach. Enggak dipake ngebut, tapi mewah. Biasanya barang mewah dibeli oleh mereka yang mampu dan dengan kepentingan khusus. Nggak masuk akal aja kalo lo mau kelihatan gaul tapi maksa. Dan terlebih Brompton udah lama jadi tren di kalangan orang tajir. Mungkin ketika lo instastory pas sepedaan dan lo nge-highlight sepeda lo itu Brompton, lo akan berpikir orang lain akan menganggap lo ‘wah’? Ya, kalo sebuah pengakuan bahwa diri lo cukup ‘wah’ tapi kelilit cicilan bertahun-tahun membuat lo nyaman, ya silahkan dilanjut. Tapi biasanya orang tajir sih nggak butuh pengakuan. Biasanya lho ini, biasanya.
Virdy Perdana
Sumber foto : kompasiana.com
2020 Tahun Terburuk?
Mungkin tidak sedikit orang di seluruh dunia ini menunggu datangnya tahun 2020. Waktu masih tahun 2019, entah kenapa gue melihat tahun 2020 adalah tahun yang keren dan cantik. Mungkin karena angkanya kembar, ya. Ada yang sepemikiran? Seperti biasa ketika pergantian tahun banyak orang yang membuat resolusi di tahun yang baru. Ada juga yang melihat kembali kesalahan yang terjadi di tahun sebelumnya dan ingin memperbaiki di tahun yang baru. Karena belajar dari sebuah pengalaman merupakan pelajaran terbaik sebelum lo jauh-jauh belajar ke negeri China seperti kata pepatah.
Ngomong-ngomong soal China yang sekarang disebut Tiongkok, negara ini menghebohkan seluruh dunia di awal tahun 2020 ini. Sebuah virus baru yang dikenal Covid-19 mewabah di salah satu kota yaitu Wuhan di Provinsi Hubei. Banyak banget video yang viral di Twitter gimana respon tubuh orang yang terjangkit. Ada yang tiba-tiba tergeletak dan tidak sadarkan diri, ada yang kejang-kejang, pokoknya serem deh. Kabarnya virus ini berasal dari kelelawar yang dikonsumsi warga lokal di Wuhan. Tapi banyak juga yang mengatakan virus ini adalah bio weapon yang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Ah, itu kan konspirasinya, kalo gue sih tipe yang nggak percaya soal konspirasi tapi suka baca teori-teorinya hehe. Kalo lo main game serial Resident Evil atau nonton filmnya pasti terlintas untuk menyamakan keadaan dengan virus Covid-19 ini, kan? Ngaku!
Film Resident Evil dan film-film lainnya yang tayang sebelum tahun 2020 mungkin saat ini merasa sangat beruntung. Gimana nggak, wabah Covid-19 ini sukses menyetop aktivitas bioskop yang artinya film yang akan tayang 2020 gagal tayang. Sebut saja dari James Bond 007Â : No Time to Die hingga sekuel Fast & Furious 9 yang akan nyayur di tahun ini jadi gagal total sampai nggak tahu kapan bisa tayang. Kebayang nggak tuh produser, sutradara, aktor, aktris, sampe kru film yang udah punya resolusi dan ekspetasi besar di tahun ini tapi gagal dengan alasan yang mungkin mereka nggak pernah kepikiran. Bukan cuma mereka yang merasakan dampak dari wabah ini tapi sepertinya seluruh lapisan kehidupan merasakannya. Semua tempat berkumpulnya manusia dan bersosialisasi seperti bioskop, restoran, sekolah, kampus, kantor, club, dan tempat prostitusi dari kelas teri sampai kelas kakap pun tutup.Â
Penutupan akses ini juga diberlakukan oleh beberapa negara yang menerapkan lockdown. Terhitung ada 15 negara di dunia ini yang menerapkan lockdown, salah satunya Denmark yang sudah menerapkan lockdown sebelum adanya kasus kematian akibat wabah ini. Negara lain mungkin dengan pertimbangannya tidak melakukan lockdown, namun memberlakukan pembatasan di setiap aktivitas. Orang kantoran jadi WFH alias Work From Home, anak kuliah dan anak sekolah jadi belajar online, restoran jadi tutup dan hanya mengandalkan penjualan via ojol, dan lain-lainnya. Pasti lo merasa bete banget di masa-masa quarantine ini, kan? Entah lo suntuk buat kuliah atau sekolah online yang jadi bejibun tugasnya, atau kerja di rumah yang malah job desc lo jadi nambah, atau lo seorang pelaku bisnis yang pusing mikirin gimana caranya survive biar gak gulung tikar, atau lo di-PHK sama kantor yang mencoba nge-cut biaya operasional, gue yakin kita semua merasakan hal buruk di tahun ini. Mungkin yang merasa 2020 ini tahun hoki adalah CEO Zoom Meeting.
Eh tapi, pernah nggak sih lo kepikiran sisi positif dari adanya wabah ini? Pasti lo merasakan untuk lebih aware banget sama kebersihan. Dikit-dikit cuci tangan, dikit-dikit pake hand sanitizer, paket dateng disemprot alkohol dulu, dan lebih sering masak sendiri demi higienitas. Banyak juga yang jadi mempelajari dan ngulik hal-hal baru akibat kegabutan selama masa quarantine, seperti ada teman gue yang belajar menanam, ngoprek mesin kendaraannya atau mungkin ada salah satu dari lo yang mencoba memecahkan kode Beale Ciphers. Mungkin setelah wabah ini selesai, banyak pakar-pakar dari segala bidang bermunculan, kan keren! Banyak banget kegiatan yang bisa lo lakukan di masa quarantine asal nggak ngecoba hack web pentagon aja. Bisa-bisa lo jadi buronan interpol. Jangan ya, inget, lo bukan Ethan Hunt.
Lo tau, dengan adanya pembatasan kegiatan selama adanya wabah ini juga berdampak positif buat lingkungan. Mungkin lo pernah lihat foto yang menunjukan polusi di negara Tiongkok jauh berkurang karena pabrik-pabrik berhenti beroperasi. Bahkan lo yang warga Jakarta mungkin merasakan udara jadi lebih bersih dan langit pun terlihat cerah selama masa PSBB. Gue inget ada yang pernah share di Twitter foto langit Jakarta sebelum masa PSBB dan saat masa PSBB, dan gue amazed banget lihat perbedaannya! Ada juga saintis dari NatGeo dan BBC yang meneliti danau di Vancouver Island karena airnya berubah menjadi sebening kristal gara-gara pembatasan saat pandemi ini. Isu pemanasan global di dunia juga membawa kabar baik yaitu ketika peneliti mendapati lubang ozon sebagian besar menutup. Bumi jadi sedikit lebih adem, cuy!
Kita harus selalu inget setiap peristiwa dan kejadian ada plus-minusnya. Memang nggak bisa dipungkiri, kita sebagai manusia saat ini merasakan banyak sekali kesulitan dan kerugian di masa pandemi. Pinter-pinter lo nyikapin dan bikin strategi buat tetep survive melewati masa-masa ini. Dari pada lo sibuk gontok-gontokan debatin mana konspirasi yang paling masuk akal atau sibuk nyalahin pemerintah, mending lakuin hal positif. Buat temen-temen diluar sana yang kena PHK atau unpaid leave dari perusahaan lo, semangat terus, ya. Ada kok diluar sana yang kena unpaid leave dan awalnya iseng bikin dessert box, mentai, dan jadi designer malah punya penghasilan lebih banyak dari biasanya. Seperti harapan semua manusia di bumi ini, gue juga berharap pandemi ini cepet selesai dan anti virusnya cepat ditemukan. Semangat terus buat semua yang sedang berjuang bertahan!
Virdy Perdana