Cita-cita
Dulu, sewaktu kecil. Cita-citaku lebih mudah kugambarkan dalam bentuk pekerjaan. Karena seperti itulah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Seperti menjadi guru, pilot, dokter, polisi, dan aneka profesi yang umum dikenal. Dua puluh dua tahun sudah sejak sekolah dasar, kini aku menjalani profesi yang tidak umum, sulit dimengerti oleh para tetangga di desa.
Tumbuh dirantau membuatku paham kalau cita-cita itu bukanlah profesi. Cita-cita itu lebih besar, lebih dalam, lebih dari sekedar profesi. Profesi hanyalah alat untuk mencapai cita-cita tersebut. Jadi, apapun bentuk profesinya asalkan itu bisa menjadi alat dan mengantarkan ke cita-cita, kenapa tidak?
Kini aku paham kalau aku menjelaskan cita-citaku kepada orang lain. Tidak semua orang akan mengerti dan paham dengan cita-cita yang ku maksud. Mungkin perlu untuk duduk berdiskusi lebih lama dan mendalam.
Tapi, untuk apa menjelaskan kepada orang lain? Untuk apa sibuk menjelaskan kepada semua orang? Lebih baik, sibukkan diri dalam perjalanan menuju cita-cita. Pasti akan ada yang bertanya-tanya, merendahkan, bahkan meragukan. Yang terpenting bukan mereka, melainkan diri kita sendiri. Kita paham tujuan kita, kita yakin dengan tujuan kita, dan kita menghargai cita-cita tersebut dengan baik. Yogyakarta, 1 Agustus 2018 | ©kurniawangunadi











