…
selain kehilangan yang tanpa berpamitan, ternyata benar, sesuatu yang menyakitkan setelahnya adalah rindu yang tanpa pertemuan. pergimu sisakan banyak tanya dan rahasia. selebihnya, kau meninggalkan rindu yang terawat baik sejak penantian itu. apakah bagimu rindu hanyalah permainan waktu?
seringkali aku menerka-nerka, banyak tanya hidup di kepala: tentang kita, tentang rindu, tentang waktu, juga tentang alasan Tuhan (dulu) mengizinkan aku untuk mencintaimu. dan sampai detik ini, aku masih bertanya-tanya, mengapa harus ada kehilangan, sedang di dalam doa, Tuhan tahu kau begitu kubanggakan?
terkadang aku bertanya kepada diriku sendiri, alasan dari aku begitu mencintai(mu) – dan selalu, aku tak pernah menemukan jawaban itu. aku ingat pesan seseorang, semakin banyak penjelasan, (mungkin) cinta itu tak didasari dengan ketulusan. lalu aku? sudah berkali-kali aku gagal menemukan jawaban, tapi tetap saja, ketulusanku dihiraukan.
haruskah aku berteriak, berkata jika ini semua terasa tak adil dan begitu menyakitkan. sebab rasanya, kali ini, hatiku benar-benar patah (lagi).
aku gagal membahagiakanmu, aku gagal menjadi seseorang yang membuatmu ingin berjuang, aku gagal merebutmu dalam genggaman doa kepada Tuhan, iya, aku gagal.
bukan kehilangan yang kusesalkan, bukan. tetapi, mengapa Tuhan harus mengindahkan cinta dengan seindah ini, sedang hati yang kucintai pura-pura buta ketika melihat ini. mengapa harus aku yang jatuh sedalam ini dalam lautan kepalsuan yang ia ciptakan.
setelah sekian aku mencoba melupakan, justru tentangnya semakin tajam dalam ingatan, rindu yang semakin berantakan, dan hati yang semakin menolak untuk menghapus namanya dalam doa kepada Tuhan.
lagi-lagi, aku gagal untuk tidak merindukan.