When you have a newborn baby…
Sejak melahirkan Alya, kehidupan saya dan suami berubah 180 derajat. Lima hari pertama, kami masih menjalani masa ‘orientasi’ sebagai orang tua di rumah sakit. Kami memulai masa-masa merindukan waktu tidur sejak Alya lahir. Sampai hari ini saya menulis, bisa tidur setengah jam adalah sebuah kenikmatan Allah yang luar biasa. Lagi, sesuatu baru terasa nikmatnya setelah ia tak lagi dimiliki; waktu tidur yang panjang adalah salah satunya.
Kami juga akhirnya merindukan masa-masa bisa bersepeda berdua tanpa harus menyiapkan berbagai peralatan tempur (popok, tisu, gendongan, stroller dsb) saat keluar rumah, bahkan shalat jamaah berdua karena kami harus bergantian menggendong Alya (yang jarang sekali bisa ditaruh di tempat tidur, bahkan jika malam hari. Hiks.). Bukan, bukan kami tak bahagia. Tapi sungguh, ternyata menjadi orang tua (bahkan secara teknis pun..) bukanlah hal yang sederhana. (Apalagi soal mendidik anak…). Rasanya, setelah anak hadir, kita berupaya memohon agar Allah memampukan kami menjaganya sebaik-baiknya. Indeed, it takes a village to raise a children. :D
Tentang menyusui, saya baru menyadari betapa memberikan ASI adalah sebuah perjuangan. Dulu, saya pikir menyusui itu mudah. Semudah bayi yang saya ekspektasikan bisa dengan mudah meminum ASI dengan nalurinya. Ternyata bayangan indah itu tidak sepenuhnya terjadi seketika. Ketika diobservasi oleh dokter, Alya memiliki bentuk lidah tongue tie (perlekatan lidah yang menempel di dasar mulut). Efeknya, ia susah menempelkan mulutnya saat menyusu. Ketika dokter anak memberikan tawaran tindakan untuk pengguntingan perlekatan lidahnya, saya segera menyetujuinya.
Sore itu, untuk pertama kalinya ia bisa menyusu. Saya tak bisa mendeskripsikan rasa bahagia dan haru kala menatap wajah tanpa dosa yang kehausan dan Allah takdirkan melepaskan dahaganya lewat saya; ibunya.
Semenjak hati itu, perjalanan penuh tantangan menyusui dimulai. Pada tiga hari pertama di RS, saya terpaksa menyetujui saran dokter untuk memberikan susu formula padanya karena berat badan Alya turun hampir 10% dari berat saat lahir, sedangkan produksi ASI saya belum lancar.
Tapi alhamdulillaah, sejak hari ke-4 saya selalu memberikan ASI padanya setelah berat badannya terpantau naik. Catatan ini sengaja saya tulis, untuk memotivasi para Ibu yang akan berjuang memberikan ASI untuk anaknya yang mungkin merasakan sedih atau khawatir jika seorang bayi telah (terpaksa) mengonsumsi sufor, tidak bisa move on ke ASI lagi. Smangat, Bu. :’)
Tiga minggu pertama, saya lewati dengan menyusuinya tiap 2/3 jam sekali, kemudian memompa ASI setelahnya untuk meningkatkan produksi ASI. Alhamdulillah pada minggu keempat, saya sudah tidak wajib memompa ASI. Tapi, menurut saya pribadi, menyediakan stok ASIP (ASI perah) bisa sangat membantu apabila sewaktu-waktu diperlukan. Misal, ketika Ibu sakit.
Selama dua bulan ini, saya menyadari ada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan menyusui; asupan gizi, kecukupan istirahat dan kondisi psikologis sang ibu. Nyatanya, ketiga faktor tersebut sulit dicapai dengan usaha sang ibu sendiri, apalagi pada minggu-minggu awal pasca melahirkan Ia membutuhkan pihak lain yang mendukungnya. Dalam hal ini, keluarga, terutama sang ayah (bayi) pada kasus saya yang jauh dari keluarga, tentunya berperan besar membantu saya sebagai Ibu baru.
Beruntung, sistem kesehatan di Belanda menyediakan jasa pelayanan dari perawat yang membantu membereskan rumah, mencuci, dan tentunya mengajarkan kami berdua mengurus bayi mulai dari mandi, mengganti popok, memantau tumbuh kembang bayi, stimulasi bayi. Tentang stimulasi bayi, ternyata perawat memberikan stimulasi tummy time (seperti yang Andien dan dibully netijen haha) lakukan bayi mungil yang baru berusia beberapa hari itu dan . Saya hanya bisa nurut ‘apa kata perawat’ saja. Perawat tersebut juga mengajari saya untuk menyusui dengan berbagai posisi; terutama posisi sambil tidur agar saya tidak lelah. It helps mommy a lot!
Lelah, barangkali adalah sebuah keniscayaan yang hadir menyertai proses pengasuhan bayi. Ditambah, kami berdua juga harus mengurus diri kami sendiri agar tetap fit, dan tentu saja mengurus rumah dengan segala perintilannya; terutama urusan dapur.
Kegiatan di dapur alias memasak adalah sesuatu yang harus tetap berjalan walaupun raga sudah remuk karena tidak ada opsi beli di warung. Tentunya karena mahal, dan lidah kami terlalu Indonesia, haha. Jadilah suami saya yang hampir setiap hari memasak (tentunya atas supervisi saya :p). Pola makan kami rasanya hampir tak berubah. Masih makan rendang kalio, siomay, dan pada hari Idul Adha kemarin, ia menyulap daging kambing menjadi tongseng yang sungguh nikmat. :p Alhamdulillaah.
Selama dua bulan ini, Alya termasuk tidak (terlalu) rewel. Dalam artian, kami masih bisa menebak keinginannya; tidur, minum, ganti diaper, atau bermain (duduk di bouncer).
Sebulan pertama, ia sering mengajak kami berdua bangun sepanjang malam karena ia hampir tidak pernah bisa tidur kecuali di pangkuan saya. Menginjak bulan kedua, ia perlahan bisa tidur tanpa dipangku kalau malam hari. Kalau siang, haha, saya hampir selalu menggendongnya jika ia ingin tidur. Jadilah kami bergantian menggendongnya, mulai dari menggunakan gendongan model kangguru, ergo baby, dan baru mau coba model gendongan kaos. Kami sedang mencari dengan model gendongan seperti apa, Alya bisa tidur (paling) nyenyak, haha. Oh ya, sampai hari ini (usia 2 bulan), ia masih terbangun tiap 2 atau 3 jam sekali untuk minum dan diganti popoknya.
Alhamdulillah, ia sudah bisa diajak berinteraksi setelah 1 bulan, sehingga kami bisa memberikan beberapa stimulasi, membacakan buku, dan tentunya mengajak ngobrol (kalau ini sih sepertinya hampir setiap saat. Lucu aja ngeliat responnya yang seolah mengerti apa yang kami maksud. Ia sering mengangguk, bergumam, senyum, tertawa, teriak, dan tentunya merengek-rengek minta digendong jika terlalu lama digodain :p).
1. Menjaga keseimbangan diri
Kami sadar sepenuhnya, menjadi orangtua adalah peran penuh komitmen, resiko dan tanggungjawab. Kami harus menjaga amanah Allah sebaik-baiknya. Maka untuk menjalankan misi tersebut, kami tentu harus menjaga keseimbangan diri kami; akal, raga, dan tentu saja jiwa. Contoh praktisnya, harus diakui ketika memiliki newborn, rutinitas ibadah harus mengalami penyesuaian. Menjalankan amalan sunnah menjadi suatu hal yang sangat diusahakan. Kami harus bergantian shalat dhuha/tahajud karena Alya hampir ngga pernah bisa tidur kalau ditaruh. Kami juga harus menaruh perhatian pada gizi kami sendiri. Karena kalau salah satu saja dari kami sakit, beuh, tak terbayang bagaimana jadinya, haha.
Memiliki newborn berarti siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bayi bisa tidur selama tiga jam dengan anteng di kasur sendiri, atau bahkan sebaliknya; harus digendong. Menyiapkan gendongan yang nyaman, barangkali menjadi salah satu solusi. Sebenarnya ada beberapa trik menidurkan bayi di kasur, tapi kami memilih menggendongnya jika siang hari. Alhamdulillah ia bisa tidur di kasur saat malam hari. Tentu saja satu kasur dengan kami. Kami sadar, tiga bulan ini tidak hanya penyesuaian untuk kami sebagai orang tua, tetapi juga untuknya. Tentu berat baginya lepas dari lingkungan sehangat perut Ibunya. Hiks.
Poin yang krusial dalam menjalani hari-hari baru sebagai orang tua, apalagi ndak ada ‘tim sukses’ alias bertiga saja. Prinsipnya benar-benar fastabiqul khoirot dan tepo seliro Gan!
Contoh praktis, saya dan suami sering bergantian tidur untuk menggendong Alya. Percayalah, tidur setengah jam itu menambah tenaga untuk beraktivitas. Indeed, tidur panjang adalah sesuatu yang baru kami sadari untuk disyukuri. Tidurlah selagi bisa tidur kawan. Nanti kalau sudah memiliki anak, nikmat tidur digantikan oleh nikmat melihat anak kita tertawa, hehe. :p
Contoh lain, ketika berurusan dengan dapur, saya yang mengeksekusi bahan makanan, maka suami yang akan menjaga Alya kemudian membereskan cucian di dapur setelahnya.
Serupa dengan poin pertama. Akan tetapi, saya menekankan pada keharusan kita memiliki aktivitas lain, terutama seorang Ibu (yang kini ditempelin terus sama bayinya) agar hidupnya tak (seolah) melulu soal menyusui anaknya. Jujur, bagi saya (yang mengaku zat radikal bebas di alam sebelum menikah), memiliki anak ternyata berhasil mengubah hidup saya bagai kaki di kepala dan kepala di kaki :p
Perasaan saya campur aduk; senang, sedih, haru, lelah, dalam bungkus badan yang letih tak karuan. Dalam kondisi seperti itu, diperlukan kesadaran untuk menjaga kewarasan sang Ibu dengan memiliki kegiatan selain yang berkaitan dengan anaknya. Sesederhana cuci piring (serius! :D), baca buku atau curhat di tumblr, haha. Biasanya, suami saya berinisiatif menjaga Alya ketika saya sudah terlihat lesu, apalagi kalau Alya sudah menendang luka bekas operasi. Rasanya ingin menangis seketika, haha :p
Ngobrol dengan suami dan juga Ibu-Ibu lain adalah penting dalam menjaga kewarasan saya sebagai seorang Ibu baru.
Ah ya. Hal yang paling sederhana untuk mengembalikan kewarasan adalah dengan memperbanyak istigfar. Hiks. Se-ngaruh itu loh. Apalagi sambil melihat mata bening Alya yang seringkali diiringi senyuman atau gelak tawanya (yang masih tanpa sebab itu). Lalu saya usap kepala Alya seraya memanjatkan doa,“Robbi habli minash shalihiin…”
Seketika sadar. Men, Allah baik banget udah ngasih kesempatan makhluk fakir ilmu ini untuk belajar jadi seorang Ibu. Masih susah untuk bersyukur?
Indeed, tak hanya Ibu yang perlu stabil kondisi jiwanya, hehe. Alhamdulillah, sumbu kesabaran suami saya lebih panjang daripada saya, haha. Jadi, ia yang sering mengingatkan saya untuk selalu sabar dalam belajar menjadi orang tua. “Tarik napas dulu. Ibu minum air putih dulu..”, rasanya jadi template petuahnya, haha :p
Sekian dulu tulisan random tak berstruktur ini. Saya yakin sekali, masa-masa ini kelak akan saya dan suami rindukan kalau Alya sudah besar. Hiks. Dan saya menuliskan ini, sebagai kenang-kenangan. Barangkali kelak Alya baca. We love you that much, Sayang! Terimakasih sudah belajar bersama Ayah dan Ibu :)
Terakhir, semoga Allah selalu lapangkan hati kita untuk mudah bersyukur. Rasanya hidup ayem tentrem sakinah kalo inget nikmat Allah banyak sekali. :)
Ditulis lewat handphone, sambil menggendong Alya (yang malam ini sulit tidur di kasur, haha :p)
(Siapa sih yang ngga ikut senyum kalau ada bayi senyum kaya gini?)