my first saturday night without you
Malam minggu kali ini berbeda, biasanya kalau sudah masuk jam 9 pasti si Sharen udah mulai gelisah. Lapar dan bete katanya. Buru-buru lah ia mengirim pesan “yang, dimana? maem, yuk!” kepada kekasihnya. Namun kali ini tidak. Sepi dan berat yang dirasakan Sharen didada seperti ditendang gajah! Mengapa tidak? Kemana ia akan mengirim pesan seperti itu lagi setelah kekasihnya di jebloskan ke dalam jeruji besi? Sesak sekali rasanya.
Siang itu, langit sudah berat. Seberat rasa yang akan dilalui Sharen nantinya. Setelah menepikan motornya di parkiran, ia dan adiknya Niko, berjalan melewati trotoar dan masuk ke area kantor polisi. “pak, reserse narkoba sebelah mana, ya?”, “tuh, lurus, belok kiri, naik!”.
“galak ya, de. hahaha!” Sharen dan Niko saling mengerenyitkan dahi sambil berlalu.
“misi pak. mau besuk yang baru aja datang.” “siapa namanya?” “Ega Saputra”
“oh, nanti abis zuhur datang lagi, ya!”
dengan raut kecewa dan nafas yang sangat sulit sekali digapai karena harus naik tangga, Sharen berlalu menuju ruang tunggu-yang sebenarnya bukan ruang tunggu-. Sesampainya di ruang tersebut, Sharen berusaha melihat-lihat sekitar yang sangat asing baginya. Yah, maklum, Sharen tergolong anak yang tidak biasa masuk ke area yang ‘aneh’.
Adzan Zuhur berkumandang dan Niko pun kabur ke mushola. Setelah selesai shalat, tiba giliran Sharen untuk dipanggil.
Sharen masuk ke dalam kamar BAP, menunggu Pak Alex membuka pintu. Setelah pintu terbuka, ada sesosok wajah merindu dengan penuh asa. Ya! Siapa lagi kalau muka Ega!!
“ayy maafin aku. entah apapun yang keluar dari mulutmu, aku hanya bisa berkata maaf. maaf aku menyayangimu, maaf aku mencintaimu, dan maaf sudah membuatmu KECEWA!”
Sharen hanya mematung melihat Ega bersimpuh dibawah kakinya dan tak terasa air mengalir deras dari ujung mata kanan dan kiri.
“kamu kenapa bisa kayak gini? aku gak bisa bantu kamu”, suara Sharen mulai parau ditambah memang suara serak setelah radangnya belum selesai.
“kamu gak usah bantuin aku. kamu cukup maafin aku aja, ya.”
keduanya saling tertunduk lesu dicampur mengalir derasnya air mata.
“berapa tahun? aku nunggu? gak mungkin.”
“berapa lamanya pun aku menunggu, aku akan selalu mencintaimu Sharen!”