Ambigu
Akhir-akhir ini hidup rasanya berjalan tidak karuan. Tiada keistimewaan sama sekali. Setiap hari hanya di isi dengan rasa khawatir, bersalah, kesal, marah dan negatif lainnya. Kegiatan-kegiatan positif juga banyak yang dilewatkan. Reels soal info-info berorganisasi, kegiatan relawan, beasiswa, cara mencari uang, cara meng-upgrade diri juga sering disimpan saja tidak ada yang terlaksana. Ditambah skripsi sebagai syarat kelulusan juga terabaikan. Sekarang malah lagi rajin-rajinnya pushrank di game mobile, padahal gak menghasilkan apapun dan juga bukan professional player. Niatnya buat have fun, nyatanya lebih sering keselnya. Rank juga mentok disitu situ aja karena sungkan teman main bareng dan lebih nyaman main solo.
Di lain sisi orang-orang rumah, keluarga besar, teman-teman bahkan pasangan menunggu kelulusanku. Mengharapkan hal yang besar dengan membawa gelar sarjana dan kemudian bisa membantu keuangan keluarga. Berbagai hal-hal masa depan juga menunggu untuk di realisasikan seperti menikah, beli rumah, punya karier, relasi melimpah dan masih banyak lagi.
Tapi aku bingung harus apa dengan kemalasanku yang bertumpuk ini. Sebenarnya gak ada unsur ambigunya. Aku cuma perlu mengerjakan yang harus di lakukan yaitu skripsian. Thats it. Setelah itu baru memikirkan yang lain. Nahasnya, aku justru memikirkan hal yang lain dulu ketimbang mikirin hal yang jelas-jelas sangat dekat dan harus di kerjakan.
Semoga cepat sadar diriku.













