RND
ada rindu yang kau titip di langit yang kau tatap, bukan? jadi, hari ini bagaimana? apakah sudah ada rumah baru untuk kau singgahi?
seen from United States

seen from Italy
seen from Australia

seen from Spain
seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from Australia

seen from Taiwan
seen from China
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Portugal

seen from Russia
seen from China

seen from Malaysia
seen from Russia
RND
ada rindu yang kau titip di langit yang kau tatap, bukan? jadi, hari ini bagaimana? apakah sudah ada rumah baru untuk kau singgahi?
Cerpen : Diamnya Seseorang
Suatu ketika aku melihat dia sedang duduk sendirian, tatapnya jauh melayang ke langit yang tengah mendung, seolah langit baru saja menjawab isi hatinya bahwasannya langit ikut sedih untuk setiap sedih yang ia tak sampaikan. Bahkan dalan sujud terdalamnya.
Ku hampiri pelan, takut mengganggu buyar lamunan yang membuatnya teduh seperti pohon dimusim semi. Ku lihat baik-baik wajahnya, ribuan cemas terpancar, khawatir yang tak masuk akal.
"Kau sedang memikirkan apa?" Ku tanya pelan. Tak ada respon. Seolah tak melihatku duduk di depannya.
Mata kecoklatan itu ku tatap lebih lama, didalam ada seorang perempuan yang tengah sibuk memikirkan sebuah perkataan, "Kau ini manusia yang tak memiliki ambisi apapun. Tak memiliki keinginan apapun." Ah, seandainya bisa ia bercerita, aku akan duduk lama mendengarkan semua cemasnya.
"Apa menginginkan kematian bukan sebuah keinginan? Kenapa orang-orang selalu mengatakan hal yang tak menyenangkan padaku." Gumamnya.
Diamnya adalah sebuah cemas. Diamnya adalah sebuah perdebatan hebat. Diamnya adalah sebuah perang untuk dirinya sendiri. Ingin ku peluk wanita di depanku, sayang kaca setebal baja menghalangiku.
Aku ingin mengatakan padanya, "Kau masih memiliki keinginan. Hanya saja diammu membuatmu lupa bahwasannya kau ingin pergi dengan bahagia ke semua tempat.
Tahu bahwa dunia ini fana?
Apabila kematian itu menghampiri,
Lalu aku dan kamu tidak jadi satu,
Maka,
Kita
Puisi-puisiku
Segala kerealistisanmu yang terkenang dalam kepala
Hanya akan terbuang percuma
-healerhere
Bogor, 28 Februari 2018
22:05 WIB
Alam itu bergerak maju menuju keseimbangan. Termasuk kamu yang merupakan bagian dari alam ini. Kamu punya hak berbicara. Tapi, kamu tidak punya hak untuk membungkam orang lain karena hak bicaramu. Hakmu ada, tapi, hak bicara itu tidak cuma milikmu. Orang lainpun demikian.
Kamu ada hak, tapi, hakmu juga dibatasi hak oranglain. Imbang cah..
Menjelang 12 tahun bersama dalam bahtera rumahtangga, belum pernah sekalipun kita berdiskusi tentang mimpi, parnting anak, bertanya kepadaku apa yang ingin dicapai, semua berjalan mengalir tanpa adanya diskusi, semakin kesini semakin berfikir, semakin ragu! Entah lah, padahal ingin ditanya, ingin diajak, Ingin bisa berbagi cerita mimpi! Wanita yang pandai jika berada ditangan suami yang tak beride maka dia akan fakum dengan sendiri nya, karena TDK ada topangan utk diajak berjuangq
ku kira kau teduh bulan yang menyejukkan ku kira kau tetesan hujan yang menenangkan nyata kau matahari pembakar nyata kau petir menggelegar kenapa kau tak bilang? aku ini daun kering yang jatuh aku ini batang kayu lapuk kenapa kau tak bilang? ketika kau mengunjungi gubuk reyotku yang berada di balik jalan besar aku terharu ku kira kau sudi berada di tempat kumuh bersamaku ku kira kau sudi beradu dengan pakan ayam dari nasi basi tiap pagi aku tidak tahu apakah aku jadi membencimu aku tidak tahu mengapa aku terus2an mengirim recehan kabar yang tak penting aku benar-benar tidak tahu apa benar aku tak layak berharap bersamamu? apa benar aku tak pantas berada di sampingmu?
Dunia tak tau mana yang benar dan mana yang salah, menjadikan segala sudut pandang sebagai acuan, dunia akan terus berputar tanpa memperhatikan sekitar, ia hanya peduli dengan dirinya, takkan pernah damai dengan kehidupan, membiarkan akal berlari lepas hingga penghujung waktu, dirinya adalah segalanya, dunia takkan membiarkan mu berhenti, ia adalah seorang pendendam, apa yang ia lakukan harus kau lakukan, dunia adalah seorang yang iri hati, merenggut apa yang kau punya tapi tak dengannya, dunia adalah seorang pemalas, menyuruh kau bekerja agar ia bisa berleha, dunia itu seorang pemarah, sekali kau salah, seribu hal kau laku, jelas sekali dunia serakah, rela melakukan segala tipu demi seonggok batu, pastilah dunia itu busuk, penuh keburukan nafsu, menggelapkan hati, membiarkan mu terkurung diri sendiri, menjadikanmu budaknya, tanpa sedikitpun upah, ia sangat kejam, merenggut yang kau punya, padahal bukan ia yang memberinya.....
Entah
Perdana ku menatapmu, entah mengapa ada rasa nyaman yang menghangatkan
Perdana ku tau namamu, entah mengapa ada rasa cinta yang bermekaran
Dan perdana ku ditinggalkanmu, entah mengapa tercipta rindu yang mendalam