The Book that Makes Me Sad
I Am Malala karya Malala Yousafzai bersama Christina Lamb
Nah kalau bagian ini aku punya banyak referensi. Hehe Ga tau kenapa buku-buku yang aku baca tuh kebanyakan nuansanya sedih. Hmm mungkin karena saat sedih kita menjadi vulnerable dan open to change kali ya, sehingga kegemaran aku terhadap buku-buku berfaedah yang memberi pandangan baru terakomodir. Iya ga sih? Saat senang kita justru seringnya lupa, sementara saat sedih kita inget dosa dan mencari tahu kenapa kesedihan terjadi. #ea Bukannya review buku malah berfilosofi ya.
I am Malala menceritakan tentang kehidupan seorang gadis kecil yang tinggal di Swat, sebuah desa yang terletak di dataran tinggi Pakistan. Tempat tinggalnya itu termasuk pedalaman, dan Pakistan sendiri adalah negara miskin. Dari situ udah kebayang lah ya gimana susahnya Malala mendapatkan pendidikan. Belum lagi dia itu cewek, yang di negara miskin biasanya ga diprioritaskan untuk dapat pendidikan, yang biasanya disuruh cepet nikah biar ga jadi beban keluarga. Walalupun dengan banyak keterbatasan, dengan bantuan ayahnya yang juga aktivis pendidikan, Malala tak pernah menyerah untuk mendapatkan pendidikan. Sedih ya. Orang mah pengen dapet pendidikan tuh segitunya. Sementara banyak di kita, udah dapat akses yang mudah malah tawuran, kabur, dan ke sekolah cuman buat gaya-gayaan doang.
Hal yang bikin paling sedih adalah kondisi politik di Pakistan dan Afganistan yang merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Kalau berpegang teguh pada konsep Islam rahmatan lilā alamin harusnya dua negara itu aman dan damai. Jangankan mengizinkan wanita bersekolah, harusnya saling bunuh-bunuhan, apalagi sesama Muslim, tidak terjadi. Namun, ajaran tentang rahmatan lilā alamin tidak didapati di sana. Diceritakan di bukunya kalau tindak kekerasan sampe pembunuhan terjadi setiap hari, bahkan di muka umum. Malala dan ayahnya sering mendapat ancaman pembunuhan karena mereka percaya kalau wanita juga punya hak untuk mendapat pendidikan. Ayahnya membangun sekolah dan mengkampanyekan hak semua orang, termasuk wanita, untuk mendapat pendidikan. Sementara Malala menjadi perwakilan para wanita yang ingin mendapat pendidikan. Terlepas dari ancaman pembunuhan, semuanya berjalan lancar, sampai suatu hari, Taliban menembak Malala yang sedang menumpangi bus sekolah di kepala.
Ajaibnya, Malala berhasil selamat dari penembakan itu setelah mendapatkan perawatan intensif di Pakistan dan Inggris. Sekarang, dia menjadi aktivis pendidikan terkemuka dan meraih Nobel Perdamaian.
Dari buku ini, aku belajar banyak. Salah satunya, tidak bisa dipungkiri kalau banyak nilai Islam berhubungan dengan budaya Arab, namun tidak semua yang secara face-value Arab itu Islami. Apa yang dilakukan Taliban di Afganistan dan Pakistan, misalnya.