Tulisan : Negosiasi
Perbedaan zaman antara anak dan orang tua membuat banyak anak harus banyak belajar tentang negosiasi, termasuk cara-caranya. Beruntunglah bagi anak yang memiliki orang tua yang terbuka dan selaras, negosiasi lebih mudah dilakukan. Tapi, banyak yang tidak demikian.
Pemahaman agama anak kadang berbeda dengan orang tua, dalam banyak hal. Dan kita semua memahami bahwa dakwah terberat justru ke keluarga sendiri, bukan ke orang lain. Kedua, kita juga memahami bahwa anak harus berbakti kepada orang tua, mau bagaimanapun orang tuanya sepanjang tidak mengajak kepada kesyirikan atau kekafiran.
Nah, ternyata masalahnya juga tidak hanya pada urusan agama. Tapi juga pandangan hidup yang lain, tentang pekerjaan misalnya, tentang jurusan kuliah, tentang pasangan hidup, dan masih banyak lagi.
Kita dituntut untuk luwes, bagaimana mengkomunikasikan hal-hal yang sebenarnya baik, tapi tidak benar dimata orang tua. Mungkin, disebabkan oleh pengalaman hidup di masa mudanya dahulu, atau tentang ketakutan pada ketidaknyamanan hidup anak-anaknya nanti. Karena, pada dasarnya orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, kan? Sayangnya, versti terbaik menurut orang tua terbatas pada apa yang dia tahu dan pernah alami. Karena zaman telah berganti, anak-anaknya memiliki pergaulan dan kehidupan yang berbeda, tidak bisa dihindarkan bahwa anak dan orang tua sering berbeda pandangan.
Bahkan saya sendiri, untuk keluar dari tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi PNS pun bukan hal yang mudah, Untuk menyandang pekerjaan sebagai “Story-Maker” seperti sekarang pun bukan jalan yang sederhana. Jauh sebelum itu, sebelum saya masuk di FSRD pun, berjuang untuk menolak keinginanan orang tua agar anaknya mendaftar di sekolah kedinasan pun bukan hal yang sederhana. Ada begitu banyak negosiasi yang dilakukan.
Bahkan sampai hari ini, masih banyak negosiasi yang berjalan. Tentang kriteria pasangan hidup misalnya, anak dan orang tua memang sering berbeda pandangan. Tentang sekolah lanjutan, pun masih dinegosiasikan baik soal waktu maupun soal tempat.
Kita mudah untuk menuliskan segala hal ideal yang menjadi keinginan atau harapan kita. Tapi, ketika kembali ke dalam keluarga, bagaimana cara kita menjembatani antara pemahaman kita dan keluarga adalah sebuah pekerjaan besar.
Kita tidak harus mengorbankan salah satu karena saya percaya selalu ada jalan tengahnya, tapi pesan saya hanya satu. Perjuangkan dan raihlah ridho orang tua.
Yogyakarta, 10 November 2015 | ©kurniawangunadi
Perjuangkan dan raihlah ridho orang tua..













