Pak Agus, Seorang Duda Tegar dan Permintaan Maafnya – Sebuah Pengalaman Disangka Seorang Pelacuran
Iya, judul yang saya buat tidaklah salah. Sebuah cerita yang tak pernah saya ungkapkan pada siapapun sebelumnya karena saya tidak tahu harus memberikan respon seperti apa terhadap cerita ini. Namun sekarang ini, saya kembali teringat kejadian yang sudah lumayan lama tersebut dan mulai mengerti inti sari dari kejadian siang sampai sore itu.
Tidak pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya untuk pernah duduk di sana, siang itu.
Kejadian ini telah berlangsung lumayan lama. Saat itu adalah saat paling membosankan dalam hidup saya. Saya akui beberapa semester ke belakang bahkan hampir seluruh semester di kampus, saya habiskan dengan tidak bersungguh-sungguh dan berjalan sesuai kehendak sendiri. Saya tidak pernah bekerja sedemikian keras untuk mencapai hal-hal yang diimpikan oleh mahasiswa kebanyakan. Saya datang saat saya ingin datang, saya mendengarkan hanya saat saya ingin mendengarkan. Saya akui bahwa kehidupan kuliah saya begitu berantakan, namun tuhan nampak menyayangi saya dengan menganugrahkan keberuntungan hidup yang luar biasa besar. Saya pernah tidak mengikuti UTS suatu mata kuliah hanya karena alasan “hari ini saya harus berdiam diri” dan ya, saya benar-benar tidak ke kampus untuk mengikuti ujian dengan tidak menyertakan alasan apapun kepada dosen namun akhirnya tidak mengulang mata kuliah itu.
Pernah suatu hari saya sudah bersiap untuk ke kampus dan di pertengahan jalan saya berbelok dan memutuskan untuk berdiam diri di pojok sebuah café, berpura-pura menulis sesuatu agar mbak-mbak pelayan tidak banyak melakukan kontak mata dengan saya. Hidup saya begitu uring-uringan saat itu, meskipun saya tidak ingat masalah apa yang telah terjadi tepatnya. Seingat saya, saya tidak ingin bertemu dengan siapapun dan melakukan apapun hari itu.
Membolos kelas tidak membuat saya merasa bersalah sedikitpun. Tak lama saya berada di café, saya merasa bosan dan ingin pergi. Sedikitpun tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk pergi ke Lapangan Puputan yang menurut saya merupakan tempat yang “engga banget deh” bagi saya. Tapi akhirnya siang itu saya ada disana, berjalan mengelilingi lapangan sebanyak dua kali sembari mencari seseorang. Mungkin, orang-orang disana berpikir bahwa saya ingin menemui pacar yang tak kunjung datang sampai mengelilingi lapangan yang sangat terik sebanyak dua kali.
Habis sudah tenaga saya karena tak menemukan si dia yang saya cari. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang kosong di sebelah selatan lapangan. Siang itu begitu terik, jadi merupakan hal yang wajar saya membuka jaket dan hanya menggunakan blouse tanpa lengan—yang menurut saya, jauh dari kesan sexy. Memasang earphone dan mengenakan kacamata hitam, duduk seorang diri di bangku taman yang terik sambil menghadap langit. Entah apa yang orang pikirkan tentang saya saat itu.
Tak lama saya duduk sendirian datanglah seorang bapak menenteng berkas menggunakan map merah dengan raut wajah yang menandakan kelelahan dan kekesalan yang bercampur jadi satu. Saya melihat sekilas bapak itu, penampilannya rapi dengan kemeja dimasukkan dan bersepatu bersih. Secepat kilat saya simpulkan bahwa bapak ini adalah seorang yang berpendidikan dan menjadi orang penting.
Bapak itu kemudian duduk di bangku seberang dan menghempaskan map nya di atas meja, spontan saya menoleh.
“Ikut duduk Gek ya”
“Oh, nggih Pak”
Limat menit, sepuluh menit berlalu saya tetap dengan earphone dan kacamata hitam sampai akhirnya bapak itu membuka pembicaraan yang memaksa saya melepaskan kedua benda tersebut.
“Nunggu siapa gek?”
“Nggih?” masih tidak terlalu ngeh karena saya kira bapak itu berbicara dengan orang lain, sembari mencopot sebelah earphone.
“Sudah lama di sini? Nunggu orang?”
“Oh, ten pak. Duduk sudah lumayan lama tapi tiang lagi ga nunggu siapa-siapa.” Karena memikirkan prinsip kesopanan yang memuakkan, dengan ogah-ogahan saya melepas kedua earphone dan kacamata lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Selama duduk tadi gek lihat mobil putih parkir di sini ga? Saya lagi nunggu orang tapi ga dateng-dateng lho”
“Ten uning pak, tiang ga terlalu perhatikan dari tadi duduk membelakangi jalan soalnya.”
“Oh iya, men ngudiang gek driki?” mungkin karena saya selalu menjawab dengan Bahasa halus, bapak itu jadi sungkan dan menggunakan bahasa bali halus juga.
“Sengaja pak cuman pengin duduk. Sebenernya tiang cari nenek-nenek jualan balon, pengen ngajak ngobrol tapi sepertinya ga ada, jadi tiang duduk aja disini”
“sira?”
“ten, tiang liat di Instagram katanya wenten nenek-nenek jualan balon disini makanya tiang kesini pengen ngobrol aja”
“ngudiang men gek?”
“seneng aja pak ngobrol sama orang yang ga kita kenal, jadi bisa bandingin klo masalah yg kita hadapi yang seberat mereka.”
Bapak itu bengong melongo mendengar pengakuan saya.
“gek masih kuliah? Dari mana?”
Setelah saya mengatakan bahwa saya berkuliah dan mengatakan rumah saya dimana dan “tepatnya dimana” , bapak itu semakin melongo. Tidak heran, karena semenjak tadi saya sudah lihat map merah yang dibawanya berisikan logo sebuah partai.
“ampura niki gek, gek nak agung?”
Serasa ingin tertawa ngakak mendengar pertanyaan itu dan tidak habis pikir bisa-bisanya bapak itu bertanya seperti itu. I mean, cmon, is that a necessary question.
“ten pak, tiang orang biasa”
“oh tiang pikir gek niki nak agung, beda gek. Tiang Gus Eka”
“tiang wiwin pak”
Pembicaraanpun dipotong karena beliau menerima panggilan dan saya kembali sibuk dengan pikiran sendiri. Tak banyak yang tau bahwa saya memang senang bepergian kemana saja hanya untuk bertemu orang yang tidak dikenal dan mengobrol bersama mereka. Saat uring-uringan saya bisa pergi kemanapun meskipun sejauh apa, saya tidak perlu menunggu orang lain untuk menemani, saya akan tetap pergi sendiri.
Seperti pengakuan saya pada Pak Agus—begitu beliau ingin dipanggil—mengobrol dengan orang tidak dikenal sangat menyenangkan. Kita dapat berbagi cerita apapun dengan sangat objektif karena kita tidak mengenal satu sama lain dan tidak pernah mendengar cerita kita sebelumnya. Selain itu mengobrol dengan orang tidak dikenal dapat menjadikan perbandingan bahwa masalah yang kita hadapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah orang lain. Memang benar dalam keadaan uring-uringan, hal yang paling dibutuhkan seseorang adalah membandingkan keadaan diri dengan keadaan orang lain, sehingga pergi kesana hari itu adalah keputusan yang tepat.
Tak lama setelah menutup teleponnya, Pak Agus kembali tertarik mengobrol dengan saya. Beliau memulai dengan pembicaraan seputar kuliah. Dari ceritanya, beliau dulu adalah seorang sarjana teknik lulusan universitas brawijaya. Beliau bercerita tentang masa-masa sulit keluarganya saat beliau sedang berkuliah jauh sampai menceritakan bahwa beliau sering menghemat uang salah satunya dengan menempelkan sabun mandi yang sudah kecil dengan sabun sebelumnya agar dapat digunakan kembali. Kamipun tertawa karena saya juga pernah melakukan hal penghematan seperti itu. Beliau bercerita bahwa saat SMA beliau sering membawa mobil ajiknya dari subuh sebelum berangkat sekolah untuk mengangkut pedagang dari Denpasar sampai Petang. Sebegitu keras perjuangan beliau untuk bersekolah dan saya seperti ditampar karena telah membolos kuliah hari itu.
Selain itu pembicaraan kami berkembang menjadi pembicaraan politik yang begitu berat dan setengahnya tidak saya mengerti dan hanya mendengarkan saja. Saya paham betul bahwa beliau ini bukan orang sembarangan karena dari cara membicarakan politik dan menyebut orang-orang penting--yang entah siapa itu, sepertinya Pak Agus sudah sangat lama berkecimpung di dunia politik. Beliau juga membahas tentang masa depan saya yang akan seperti apa jika benar ingin berkecimpung di dunia politik juga. Beliau mengatakan bahwa politik itu sangat kejam, seorang tidak boleh terlalu vocal jika ingin berpolitik karena musuh ada dimana-mana. Untuk sesaat, saya merasa sedang mengikuti kuliah umum. Beliau juga bertanya ini itu dan ingin mendengarkan pendapat saya.
Saya tidak berpikir sebelumnya bahwa pembicaraan kami akan begitu luwes dan nyambung. Kami membicarakan tentang pola hidup kebanyakan gengsi yang dianut orang Bali. Ngaben yang menghabiskan biaya besar, pola asuh orang tua, dan lain sebagainya. Beliau kembali menyinggung tentang kepedulian saya terhadap orang-orang kurang beruntung. Beliau mengatakan bahwa sedikit sekali orang yang mau peduli dengan ketidakberuntungan orang lain sekarang ini dan sayapun meng-iya-kan hal tersebut. Beliau bercerita bahwa kini beliau menjadi bagian dari sebuah yayasan yang lumayan besar, setiap beliau menerima tender proyek, sebagian akan disumbangkan ke panti asuhan ataupun kepada pihak yang memerlukan, saya tau ini sangat bersifat subjektif tapi saya paham di dalamnya pasti terdapat muatan politik. Terlepas dari itu, kami membahas tentang perasaan lega setelah menolong orang dan kami sepakat bahwa membantu orang lain adalah kebahagiaan yang sejati. Saya bercerita pada beliau bahwa saya pernah melakukan kegiatan peduli kemanusiaan, iya, saya bercerita bahwa saya pernah mendaki bukit yang setara tingginya dengan gunung sambil membawa buku dan pakaian layak pakai untuk disumbangkan pada anak-anak kurang mampu yang berada di atas bukit itu, dan beliau semakin senang mendengar itu.
Hari semakin sore dan pembicaraan semakin luwes sampai akhirnya Pak Agus mebuka cerita mengenai permasalahan pribadinya—yang menurut saya, sangat aneh untuk dibicarakan pada orang yang baru saja dikenal.
“Gek umurnya berapa?”
“tiang baru 20an pak”
“Masih kecil, adeng-adeng gek mejalan nyaan”
Saya tidak paham maksud beliau awalnya. Kemudian beliau bercerita bahwa rumah tangga beliau telah kandas. Dari segi penampilan saya taksirkan umur beliau baru menginjak usia pertengahan 30an. Beliau mengaku tidak memiliki anak, dan yang membuat saya tidak enak adalah beliau dengan blak-blakan menceritakan betapa beliau tersakiti oleh sikap istrinya. Menurut versi beliau, istrinya adalah seorang wanita keras kepala yang cemburuan. Beliau bertanya pendapat saya tentang cerita istrinya, dan saya menanggapi dengan sangat objektif bahwa setiap wanita itu memiliki sifat yang berbeda-beda, mungkin mantan istri pak Agus adalah tipe wanita yang ingin selalu diperhatikan dan tidak mengerti kesibukan suami. Tapi beberapa saat kemudian saya merasa menyesal telah sedikit membelanya dengan penilaian objektif karena Pak Agus mengatakan bahwa mantan istrinya telah berselingkuh, selalu dugem dan terlibat narkoba. Kesedihan dan kekecewaan begitu terlihat di wajah beliau.
Beliau bercerita pernah sekali saat sedang bertugas ke luar daerah, beliau meminta mantan istrinya untuk menjemputnya di bandara, tetapi mantan istrinya tidak datang dan seorang teman mengabarkan bahwa istrinya tengah dugem bersama lelaki lain. Dan setelah kejadian itupun Pak Agus masih menyayangi mantan istrinya yang ngambul ke rumah orang tuanya, saya pun tidak mengerti kenapa jadi dia yang ngambul -..- Pak Agus sampai menyingkirkan harga dirinya sendiri untuk bertemu kedua mertuanya. Singkat cerita istrinya mengulangi kesalahan lagi dan beliau mengatakan
“tiang pun hancur sajan gek, ngidem tiang ngumpulang tekad akhirne jek nggih cerai pun. Tiang ten nyesel taen nyayangin ye, mangkin ngidang meangkihan menikmati kesuksesan hanya dengan keluarga sendiri”
Saya tidak tahu harus memberikan respon apapun tentang cerita beliau yang sangat sensitif. Yang terpikirkan hanyalah tentang bagaimana seseorang bisa bersikap sangat tidak tahu berterimakasih atas cinta orang lain dan itu membuat saya mual.
Banyak sekali cerita yang saya dengar dari beliau yang tidak dapat saya ceritakan semuanya, dan banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik. Sebelum mengakhiri pembicaraan saya melihat jam sudah sangat sore dan beliau mengerti arti lirikan jam saya.
“Gek ini orang yang baik sekali dan berwawasan luas. Pintar menemani orang bercerita dan bisa menjadi pendengar yang baik. Baik-baik kuliah gek, saya yakin gek pasti jadi orang besar yang sukses. Hati-hati mejalan memilih jodoh jangan sampai seperti tiang.”
“nggih pak suksma”
Baru saja saya berdiri untuk bergegas pergi Pak Agus kembali memanggil.
“Gek Win”
“nggih?”
“ampura banget gek, busan tiang sempet ngaden Gek “ngadep awak” dini. Ampura banget gek”
Seumur hidup, saya tidak pernah mengalami hal seperti ini. Heran seheran-herannya dan tidak tau harus berkata apa selain pamit karena telah sore.