Mengukur Panjang Usia Kita Sesungguhnya
Barangkali kamu pernah bertanya mengenai usia. Tentang sifat dan hakikatnya. Terutama setelah sampai perkataan Rasulmu, shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesiapa senang bila rezekinya dilapangkan dan usianya dipanjangkan, maka hendaknya ia menjalin silaturrahim." (HR. Bukhari)
Dalam menjelaskan makna dari hadits tersebut, al-Hafizh Ibnul Qayyim al-Jauziah berkata dalam bukunya "Ad-Da'u wad Dawaa":
Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. Sebagian dari mereka berkata,
'Pengurangan pelaku kemaksiatan adalah dengan dihilangkan dan dihapuskannya berkah dari usianya'. Ini adalah pendapat yang benar karena penghapusan berkah adalah sebagian dari pengaruh maksiat.
Sebagian yang lain berkata, 'bahkan maksiat itu mengurangi usia secara hakiki, sebagaimana maksiat itu mengurangi rezeki. Untuk keberkahan rezeki, Allah Yang Maha Suci telah menjadikan sebab-sebab yang bisa memperbanyak dan menambah usia seseorang. Bukanlah suatu hal yang mustahil bila usia seseorang mengalami pertambahan karena adanya sebab-sebab pertambahan, sebagaimana mengalami pengurangan karena adanya sebab-sebab pengurangan. Jadi, rezeki, ajal, bahagia, sengsara, sehat, sakit, kaya, dan miskin, semua itu adalah taqdir Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi ketika mentaqdirkan semua ini, Allah juga mentaqdirkan sebab-sebab yang akan merealisasikan semua itu sebagai konsekuensinya.
Sebagian yang lain berkata, "Pengaruh kemaksiatan dalam menghapuskan umur itu dilihat dari sudut pandang bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Oleh karena itu Allah Yang Maha Suci telah menganggap orang kafir sebagai orang mati dan bukan orang hidup seperti dalam firman-Nya. "Mereka itu mati, tidak hidup." (QS. An-Nahl: 21).
Jadi, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Dan usia seseorang sepanjang hidupnya adalah waktu-waktu kehidupannya bersama Allah. Itulah saat-saat dari usianya yang hakiki. Di mana kebajikan, ketaqwaan, dan ketaatan akan menambah waktu-waktu tersebut, yang tidak lain ialah usianya yang hakiki, dan selebihnya itu sama sekali bukan dari usianya yang hakiki.
Secara global, apabila seorang hamba berpaling dari Allah dan menyibukkan diri dengan kemaksiatan, maka hari-hari dari kehidupannya yang hakiki akan hilang dan ia akan merasakan akibat penyia-nyiaan usianya ini pada hari kiamat ketika ia akan mengatakan, "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr: 24)
Kehidupan seseorang tidak lepas dari orientasi pada kemaslahatan duniawi atau pada kemaslahatan akhirat. Jika tidak memiliki orientasi pada keduanya berarti usianya hilang secara sia-sia dan kehidupannya menjadi tidak berarti sama sekali. Akan tetapi apabila ia memiliki orientasi pada keduanya, maka jalan hidupnya akan panjang karena adanya kendala-kendala. Dan ia akan sulit mencapai sebab-sebab kebaikan karena ia menyibukkan diri dengan keburukan-keburukan yang menjadi lawan kebaikan.
Hal itulah yang dimaksud dengan pengurangan yang hakiki dari usianya. Rahasia dari permasalahan ini adalah, 'Bahwa umur seseorang adalah sepanjang kehidupannya. Tidak ada kehidupan baginya kecuali dengan mendekatkan diri kepada Rabb-nya, merasakan kenikmatan dengan mencintai-Nya, serta lebih mengutamakan keridhaan-Nya.'"
Jika demikian adanya, maka berapa tahunkah usia hakiki yang sudah kamu lewati? :)