Story of KKNM as One of Memorable Moment
"Orang bilang pertemuan pertama kebetulan. Tapi, bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan selanjutnya[?]" - Riza, KKNM Caringin 2015
Quotes yang gue share ini gue dapet dari temen KKNM gue kemarin, Riza. Di suratnya yang dia buat mirip dengan buku dari bungkus rokok, dia menuliskan quotes yang membuat gue ingin menuliskan pengalaman, kesan, apapun yang berkaitan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Mandiri (KKNM) Unpad tahun 2015.
Mundur sejenak ke masa-masa gue sebelum KKNM bareng mereka. Saat memilih desa yang ingin gue pilih, gue memang bertekad untuk memilih Garut. Dari jam sebelas siang (gue lupa kapan tanggal pastinya, tapi seingat gue hari itu adalah hari Jum'at), gue berusaha untuk memilih desa di Garut. Sejak awal, gue memang mengincar Garut karena... kenapa ya? Mungkin pengaruh dari temen-temen gue, juga sepupu-sepupu gue yang selalu memilih Garut sebagai lokasi KKNM. Akhirnya, perjuangan gue mendapatkan tempat di Garut berakhir dua belas jam kemudian. Dengan sedikit keberuntungan, gue berhasil masuk dan berhasil memilih tempat di Garut. Dari dua tempat yang tersisa, gue memilih kuota yang sudah terisi dua orang dari fakultas gue, Ilmu Budaya. Rupanya dua orang yang sudah terdaftar di desa tersebut adalah temen-temen satu jurusan gue juga, Cepri dan Dira.
Nama desa yang gue pilih adalah Desa Caringin, di Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Kalo dilihat di Google Maps, daerahnya terletak di perbukitan. Tidak jauh dari Pantai Rancabuaya, sekitar lima belas kilometer. Letaknya jelas di selatan Garut. Ekspektasi awal gue, gue masih bisa melihat perkebunan atau persawahan indah yang ingin gue lihat. Gue nggak masalah kalo nggak bisa ke pantai, toh gue setiap tahunnya pasti mengunjungi daerah pantai.
Namun ekspektasi awal ini mulai terkikis. Tidak lama setelah daftar nama kelompok KKNM Desa Caringin 2015 muncul, salah satu dari kelompok kami (kebetulan yang berinisiatif mengumpulkan orang untuk pertama kalinya adalah Riza) mulai membuat grup di LINE. Kalau tidak salah ingat, awalnya hanya bisa mengumpulkan sekitar enam belas orang dari 21 orang. Percakapan pertama kami di grup hanya sebatas basa-basi: mengetik nama, asal fakultas/jurusan, lalu domisili. Berulang kali mengajak bertemu sebelum bertemu dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), tidak pernah berhasil. Selalu banyak alasan, dan alasan itu yang membuat kami semua tidak pernah bertatap muka hingga DPL mengirim pesan untuk bertemu.
Awalnya gue bakal mengira masa-masa KKNM gue bakal menjadi neraka. Satu bulan bersama orang-orang yang enggak gue kenal. Berbeda kepribadian, latar belakang, juga cara berpikir, membuat gue sempat ingin bersikap masa bodoh. Apalagi dengan first impression gue terhadap kelompok KKNM gue yang jauh dari apa yang gue pikirkan. Hari pertama bertemu di Gedung B ruangan 203 bersama desa lain, anggota kelompok gue yang datang hanya seperempat dari desa sebelah yang terlihat akrab seperti sudah berteman lama.
Pertemuan sebelum KKNM memang tidak bisa menjadi tolak ukur gue menilai satu-satu bagaimana setiap orang yang sesungguhnya. Orang yang gue kira sombong dan enggan berbaur, rupanya tidak seperti itu bahkan menjadi moodmaker. Orang yang gue kira anteng-anteng aja, rupanya sangat sensitif. Orang yang tadinya gue pikir nggak bisa bercanda, ternyata orangnya pintar melucu. Bahkan ada beberapa orang yang jauh berbeda pembawaannya setelah berada di tempat KKNM.
(Tanggal 6 Januari 2015, sekitar jam enam pagi waktu Jatinangor. Sebelum berangkat menuju lokasi, masih menunggu beberapa orang yang belum datang)
Perjalanan menuju Desa Caringin bisa dibilang menguras energi. Kurang lebih delapan jam perjalanan kami tempuh menggunakan bis berukuran 3/4 (mulai dari jam delapan sampai jam tiga sore). Kami melewati jalur Garut - Bungbulang yang tidaklah bersahabat. Jalannya berkelok, berbatu, beresiko longsor. Jalannya benar-benar membelah bukit demi bukit, dan waktu terasa begitu panjang.
(Perkebunan teh yang terlihat di perjalanan menuju Desa Caringin lewat Bungbulang, Garut)
Begitu sampai di tujuan, rasanya campur aduk. Ada rasa senang, juga takut yang menjalar di dalam diri. Sempat ada masalah mengenai tempat tinggal, namun pada akhirnya terselesaikan di tengah rintik gerimis yang sedang membasahi tanah Desa Caringin kala itu. Sambil membopong tas koper juga ransel yang berat, gue berusaha meyakinkan diri untuk tetap tegar. Jangan takut, anggap saja lagi berlibur.
Sialnya di saat meyakinkan diri untuk menganggap semua ini hanya liburan, gue terngiang-ngiang dengan tugas satu mata kuliah yang harus (dengan terpaksa) dibawa-bawa ke tempat KKNM. Agak nyebelin, tapi ya sudahlah. Resiko kalo nugas belum selesai dan bertemu deadline menugas di tempat yang terpencil yang susah sinyal (curcol dikit, sorry).
Salah satu rumah (Rumahnya Nek Aseh) yang menjadi tempat kita berteduh selama sebulan tinggal bersama masyarakat desa.
Anyway, tanggal 6 Januari 2015 menjadi hari pertama interaksi gue di tempat yang asing juga dengan orang yang asing pula. Ini mungkin tidak hanya berlaku buat gue, tapi juga buat temen-temen gue lainnya. Jujur, perasaan insecure yang tadinya nggak mau gue ambil pusing jadi berkali-kali lipat bikin gue nggak tenang. Ada perasaan takut yang menghantui gue: Bisa nggak ya gue berteman sama mereka? Tahan nggak ya gue sama mereka? Or at least, apa mereka bisa tinggal sama orang yang kayak gue? Bisa nggak gue betah di tempat ini? Bahkan gue bertanya pada diri gue sendiri: Apa gue bisa mandi dengan air dingin? Itu merupakan hal yang paling gue khawatirkan sebelum KKNM dilaksanakan.
Mari gue perkenalkan orang-orang yang selama satu bulan kemarin tinggal bareng di desa; Riza, Cepri, Dira, Tiko, Ica, Tita, Adul, Bella, Sisca, Endah, Qisthy, Tari, Nabhan, Dwi, Anggun, Kak Adi, Vicky, Nyoman, Afif, dan Sarrah. Seperti yang gue bilang, mereka memiliki kepribadian yang berbeda. Untuk bisa akrab juga butuh waktu dan itu nggak sebentar. Ada aja kejadian yang bikin kita bisa berinteraksi satu sama lain, seperti hewan-hewan aneh yang mampir (tikus, kecoa, tokek), hewan-hewan yang bikin emosi (ayam, soang), ngumpul bareng buat rapat (mau formal, mau santai, yang penting ngumpul).
Suasana tiap gabut, tiap rapat: Main kartu, ada yang main gitar sambil nyanyi, nonton TV, ngobrol-ngobrol, baca novel, bahkan ketawa-ketawa karena hal yang nggak jelas saking gabutnya.
Tapi bukan berarti kita nggak kerja loh ya. Kita punya program kerja kok selama KKNM di Desa Caringin. Setelah minggu pertama lebih banyak beraktivitas di sekitar rumah, kita beraktivitas lebih jauh dari rumah. Lumayan, jalan buat bakar kalori walau capek karena pulangnya harus mendaki jalanan berbatu.
(Tanggal 12 Januari 2015, selfie bareng sebelum masuk untuk menunaikan salah satu program kerja kita selama KKNM di SDN Caringin 03
Kegiatan yang kita lakukan selama mengabdi ke masyarakat cukup beragam. Mulai dari Outbond bareng anak SDN Caringin 03 (sebagai acara perpisahan kita dengan anak-anak SD); makan bareng warga (sebelum kita pulang) dan guru-guru SDN Caringin 03 (pada tanggal 19 Januari 2015); membantu Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mengadakan penyuluhan membentuk karakter bagi anak SD kelas 6 (pada tanggal 17 Januari 2015) dan kembali mengadakan penyuluhan pertanian dan kesehatan (satu minggu setelahnya, pada tanggal 24 Januari 2015); mengadakan lomba untuk anak SDN Caringin 03 (mengarang dan menggambar yang bertemakan cita-cita) sebagai acara puncak kita setelah mengajar selama hampir seminggu (Senin sampai Jum'at pada minggu kedua); mengajar pelajaran tambahan di minggu ketiga untuk pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris
Memang tidak begitu banyak acara yang bisa kita adakan saat itu, tapi kami sangat sadar jika kemampuan kita memang tidak bisa mengadakan terlalu banyak acara (takutnya gagal, terus terlalu banyak mengeluarkan duit juga).