10 Financial Wisdom dari Ibuku
Kami hanya orang biasa, suami yang masih muter otak cari cara buat menafkahi yang halal dan istri yang muter otak masih mentok dengan tesisnya. Seringkali saya ingin cepet lulus dan kerja bantu suami buat kemantapan finansial rumah tangga. Tapi oh mengapa? Isi kepala saya baru bisa sampai sini mampunya belum lagi kadang moody berat, sedih. Walaupun alhamdulillah sebenernya gaji suami cukup, masih bisa nabung, tapi kan kalau ngomong rumah tangga mikirnya udah bukan lagi soal gimana kami hidup untuk berdua aja. Dibalik itu ada tabungan, investasi, mau gak mau jadi belajar deh soal keuangan.
Ridlo mempercayakan saya sebagai Menteri Keuangan rumah tangga. Sejujurnya, saya orang yang boros dan hedon ahaha, gawat banget kan! Uang jajan bulanan selalu kurang. Tapi setelah kerja dan merasakan gaji sendiri, rasanya beda. Lalu saya mulai menabung. Tapi lama-lama tabungan dibobol juga, buat nonton konser hahaha. Ada yang bilang, katanya orang yang tidak menabung adalah orang yang tidak punya kekhawatiran dalam hidup. Ya juga sih, tapi kalau udah menikah kan ceritanya beda lagi.
Mungkin standar kedewasaan seseorang bisa ditakar dengan tabungannya. Semakin gigih ia menabung dan menahan diri supaya gak kebobolan, maka semakin dewasa serta terpercayalah ia. Tetapi oh tetapi menabung juga ternyata ada caranya! Saya pun belajar cari tau. Saya mau coba berbagi ilmu finansial sotoy ala-ala ini ditambah dengan kutipan-kutipan emas dari ibu saya yang punya 4 orang anak tapi masih alhamdulillah aman finansialnya, dan Insya Allah semoga begitu pula pada hari tuanya. Aamiin Ya Rabbal alamin.
Ketika saya tanya ibu, apa sih tips dan trik atur keuangan rumah tangga?
Kata Ibu, “Uang tabungan itu bukan uang sisa gajian di akhir bulan”
Besar kecilnya jumlah tabungan tidak masalah yang penting konsisten tiap bulan menabung. Terkadang suka ingin cepet-cepet kaya dengan menyisihkan uang tabungan yang besar, sementara uang untuk sehari-hari kurang. Alhasil sama saja dengan bohong, ujung-ujungnya bobol tabungan juga. Jadi amannya, ketika hendak menabung catat keperluan dalam satu bulan ada apa saja dan jumlah total pengeluarannya, kemudian hitung sisanya untuk ditabung. Jangan ditunda-tunda, segera masukan ke rekening tabungan. Kalau ngga kadang gatel ingin pake! Ada saran juga dari buku yang saya baca, dalam sebulan batasi kunjungan kita ke ATM. Kalau narik uang mending sekalian untuk sebulan itu.
Kata Ibu, “Perbanyak amplop-amplop pos keuangan”
Kalau di rumah, sebenarnya ini caranya ayahku. Beliau simpan banyak amplop untuk alokasi dana yang berbeda-beda. Kemudian cara ini ditunjukkan oleh kakakku, sewaktu kami menikah kakak saya memberi kado folder buat uang hahaha. Nanti didalam folder tersebut ditandai, misalnya: uang kesehatan, transport, hiburan, makan, pulsa, listrik dsb. Setiap bulan amplop-amplop ini harus diisi, buat alokasi jumlahnya tiap bulan. Sehingga ketika bulan depannya alhamdulillah sehat, alhamdulillah irit transport, bisa dipindahkan uangnya ke rekening tabungan. Bicara tentang rekening bank, buat 2 rekening bank, rekening 1 untuk menabung dan rekening 2 untuk berbelanja. Kalau bisa rekening 1 gak usah pake kartu ATM biar gak gatel narik uang hehehe.
Kata Ibu, “Pakai Tabungan Berjangka (Taka)”
Mumpung masih muda, apalagi yang belum nikah, gak ada salahnya loh mulai coba tabungan berjangka. Apalagi sekarang bank-bank sudah mulai banyak yang punya Taka. Enaknya Taka di bank itu bisa autodebet dan tanpa potongan, jangka waktunya pun bervariasi. Bagi yang belum berani mungkin bisa coba Rp 200.000 dulu perbulan, ambil jangka waktu 2 tahun. Gak kerasa loh nyimpen uang 2 taun, bisa dapet Rp. 4.800.000 (belum dengan bunganya) kadang tiap bank bisa berbeda-beda. Ada juga Taka yang bonus asuransi kesehatan (kalau ambil yang berbau asuransi harus simak baik-baik syarat dan ketentuannya). Tapi sebelum menabung Taka ini harus jelas nanti uangnya bakal diapakan. Untuk liburan, modal usaha, atau biaya sekolah, misalnya. Kalau saat ini, saya sih lebih memilih uang Taka ini nanti diputer lagi buat didepositokan.
Kata Ibu, “Daripada asuransi, pilih deposito”
Sehabis selesainya acara nikahan kami, alhamdulillah kami menerima uang “nyecep” dari para tamu undangan. Setengahnya dipakai buat bayar kelebihan pax makanan hahaha. Nah, setengahnya lagi bingung mau diapakan, yang jelas kami sudah lelah menghabiskan uang untuk hari H jadi sayang sama uang, mau dipake honeymoon juga gak tega hahaha. Walau dalam hati kecil mah ingin dong honeymoon. Terpikir juga apa mending buat asuransi aja gitu ya? Lalu ibuku bilang, gak perlu, cukup didepositokan saja. Akhirnya, aku mencari tau tentang deposito. Sebagai contoh, misalnya saya punya uang Taka Rp 5.000.000 kemudian didepositokan selama 12 bulan dengan bunga 6%. Nah, si bunga 6% ini bakal masuk rekening, which is lumayan buat nambah-nambah sekitar Rp. 40.000-an per bulan. Kecil sih, tapi kalau saya lebih memilih untuk tarik uang tersebut dan saya masukan amplop, kalau udah setahun masukin ke tabungan. Semakin besar, semakin banyak jumlah uang yang dideposito hasil dari bunganya juga semakin besar. Sebenarnya gak bisa dibandingkan dengan asuransi, karena tujuannya berbeda. Tapi enaknya deposito kalau sudah lewat jangka waktunya, bisa otomatis perpanjang. Juga itung-itung simpen ‘amplop’ dalam jumlah besar, buat kalau nanti lahiran dan kalau ada kondisi yang benar-benar darurat.
Kata Ibu, “Jangan biasakan berhutang!”
Kalau udah kerja dan nikah itu mesti punya kartu kredit. Hmmm, gak juga. Kartu kredit bermanfaat kalau ada situasi genting dan banyak promo yang bisa bikin kita lebih hemat loh. Hmmm, gak juga. Kartu kredit bisa jadi ajang latihan kita untuk belajar tanggung jawab soal uang. Hmmm, iya gitu? Entahlah kalau saya dan suami punya pandangan skeptis soal kartu kredit, masing-masing pernah punya pengalaman tidak mengenakan soal kartu kredit. Lagian kami mencoba lebih sadar diri dan membuka mata aja lah, yang namanya kartu kredit itu ngutang. Ngutang itu tandanya kita gak punya uang, gak punya uang itu tandanya kurang usaha. Kurang usaha tandanya harus pintar mengatur uang. Sambil berdoa semoga segala keperluan kami dan apa yang kami coba upayakan dalam keuangan ini, cukup.
Kata Ibu, “Les menjahit itu bekal kemampuan untuk seumur hidup”
Dengan menjahit, nanti kita bisa buat pakaian sendiri, yang dimana pakaian (sandang) merupakan kebutuhan nomor dua setelah papan dan sebelum pangan. Bukan hanya buat diri sendiri, terlebih lagi nanti kalau punya anak. Harga baju anak kan mahal-mahal, kalau buat bisa lebih murah. Sebenarnya saya yakin gak cuma kemampuan jahit aja, memasak dan life-skill lainnya juga penting untuk keberlangsungan hidup. Selain untuk menghemat, siapa tau bisa jadi lapak usaha dan menambah pemasukan. Ya kan?
Kata Ibu, “Investasi emas untuk jangka pendek”
Saya sempat bilang ke ibu, saya mau investasi emas. Tapi ibu bertanya, untuk apa? Saya pun bilang buat disimpen aja. Lalu ibuku bilang kalau emas ada dua macam; berupa perhiasan dan emas murni. Ibu saya lebih suka untuk membeli emas dalam bentuk perhiasan (tapi tidak dipakai) karena emas yang Beliau simpan digunakan untuk simpanan jangka pendek, 3-5 tahun kedepan. Kalau emas murni mungkin lain lagi ya (belum dipelajari lagi). Tapi menurut ibuku, harga emas memang naik turun. Kita mesti pintar melihat polanya dan Beliau juga bilang kalau menyimpan emas sebenarnya hanya akan untung sekitar 10%-an aja sih dari harga beli. Mesti cari sumber lain buat cari tau hehehe.
Kata Ibu, “Daripada cicil mobil, dahulukan cicil rumah”
Sederhana. Mobil nilai gunanya menurun berbanding lurus dengan masa pemakaian. Sementara rumah nilainya terus meningkat walau sudah dihuni. Tapi kan kemana-mana masa gak pake mobil? Kerja gimana? Kalau jalan-jalan gimana? Kalau ibu ayah sih mendidik anak-anaknya agar terbiasa naik angkutan umum, walau kadang ongkos ngangkot/ojek sebulan itu terlihat mahal tapi sebenarnya tetap paling murah. Karena gak perlu bayar biaya servis, parkir, bensin, dll. Lebih bagus lagi kalau punya temen yang ikhlas ditebengin. Lihat poin selanjutnya di bawah ini.
Kata Ibu, “Gaya hidup seadanya, jangan mengada-ngada”
Jangan memaksakan diri dan ingin sama seperti orang lain. Kalau kondisi kenyataanya ngepas jangan paksa diri agar hidup royal. Mengukur diri adalah kuncinya. Uang tidak datang dari Uang Kaget, harus ada upaya dan cara yang halal. Gaya hidup bisa mendorong kita agar hidup sederhana atau sebaliknya, bisa memicu pilihan hidup kita, bisa melandasi cara pandang kita. Tidak hanya soal keuangan, tapi lebih kepada nilai-nilai humanis lainnya. Jadi, menjauhlah dari image OKB yang serba mentereng, hiduplah sederhana dan tidak berlebihan.
Kata Ibu, “Mun saeutik kudu mahi, leuwih kudu loba”
Dalam Bahasa Indonesia ‘kalau sedikit harus cukup, punya lebih harus banyak’. Dalam rejeki, ibuku memegang satu prinsip yang menurutku hebat. Yaitu, berbagi. Ibuku PNS di Kelurahan, gaji tidak seberapa tapi yang menikmati gajinya tidak hanya anak-anaknya. Pegawai, saudara-saudara, tetangga, orang sekitar, juga Beliau bagi. Dulu ibuku cerita ketika masa-masa sulit pas krisis moneter ‘98, harus support ayah karena perusahaan ayah goyah. Bekelin ayah beras ke Jakarta, bantu finansial rumah tangga. Mendidik dan mendoktrin anak-anaknya, walaupun saya perempuan harus bekerja dan punya uang sendiri. Bukan untuk mendominasi tapi untuk membantu suami soal keuangan rumah tangga nanti. Kalau laki-laki mah sudah tentu yah hehehe.
Bonus:
Kata Ibu, “Kalau keluar rumah, jangan bawa banyak uang”
Kalau cuma jajan ke warung aja mah, gak usah uang banyak. Apalagi kalau bawa ponakan atau anak-anak yang banyak mau hahaha. Nanti jajan melulu~ kalau sehari-hari saya juga gak pernah bawa uang cash banyak-banyak. Selalu bikin target selembar Rp 100.000 itu harus cukup 2 hari. Pisah uang jajan dengan uang transport kedalam dua dompet yang berbeda, karena saya mah angkoter yah, dompet untuk uang transport ini sebisa mungkin recehan dan uang nominal kecil supaya bayarnya pas.
Sekian 10 + 1 Financial Wisdom dari ibuku dan selebihnya penjelasan saya yang sotoy nan panjang hahaha. Setiap orang pasti akan menemukan caranya sendiri sebagai upaya survival. Jadi kalau ingin lebih cermat mulailah belajar pelan-pelan soal keuangan. Walaupun saya disini juga sotoy dan kadang suka kecolongan bokek juga tapi yang penting minimal mulai peduli dengan masa depan keuangan ehehe. Sip? Sheeep!
Salam hangat,
• Wuri & Ridlo •