
Game Changer & Make Some Noise
YOU ARE THE REASON
Fai_Ryy

izzy's playlists!
The Stonewall Inn

Love Begins
d e v o n
Cosimo Galluzzi
occasionally subtle
todays bird
Monterey Bay Aquarium
🩵 avery cochrane 🩵
Cosmic Funnies
ojovivo

Jar Jar Binks Fan Club
Noah Kahan
noise dept.

Andulka
Xuebing Du

pixel skylines

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from Czechia
seen from Argentina

seen from Brazil

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from TĂĽrkiye
@wznipradana
Testing, Tracing, Treatment!
Per tanggal 27 Desember 2020, positive rate kasus COVID-19 di Indonesia sebesar 21,6%. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan positive rate tertinggi ke-4 di dunia. Berkali-kali lipat lebih tinggi dari standar WHO yang sebesar <5%.
Apa artinya positive rate? Positive rate berarti dari sejumlah orang yang diperiksa, yang terdeteksi positif adalah sekian persennya. Jadi kalau ada 100 orang di Indonesia diperiksa swab PCR maka ada sekitar 21 orang yg positif COVID-19. Atau kalau mau disederhanakan lagi, maka dapat dikatakan 1 dari 5 orang di Indonesia yang diperiksa swab PCR di Indonesia positif COVID-19.
Mengapa positive rate bisa setinggi itu? Bisa jadi karena COVID sudah sebegitu luasnya menyebar di Indonesia. Bisa juga karena kemampuan pelacakan (tracing) dan testing di Indonesia yang masih di bawah standar. Dan memang kenyataannya masih di bawah standar. Dengan kemampuan tracing dan testing yang masih substandar seperti sekarang ini saja, kasus COVID yang terdeteksi sudah sebegitu banyaknya, hingga rumah sakit di beberapa daerah mendekati collapse karena tidak mampu menampung pasien. Bisa dibayangkan jumlah kasus sebenarnya yang tidak terdeteksi tentu jauh lebih banyak.
Lalu apa yang perlu dilakukan? Sudah sering dikatakan bahwa selain 3M, yang perlu dilakukan dan ditingkatkan adalah 3T. Testing, Tracing, dan Treatment. Tingkatkan kemampuan testing! Artinya, tingkatkan kemampuan pemeriksan PCR per hari. Target dari presiden pada bulan Oktober 2020 yang lalu adalah Indonesia mampu melakukan 80ribu tes PCR per hari, tetapi belum ada target jumlah orang yang di tes per hari. Sedangkan standar WHO untuk jumlah orang yang dites adalah 1:1000 penduduk per minggu. Jadi kalau jumlah penduduk Indonesia 270 juta jiwa, maka minimal tes PCR sesuai standar WHO adalah 270 ribu orang yang dites per minggu, atau sekitar 38.500 orang yang di tes per hari. Kondisi saat ini, target dari presiden tentang jumlah tes per hari belum tercapai, masih sekitar 30-60ribu tes per hari. Target dari WHO yang 38.500 orang dites per hari hanya sesekali tercapai. Sedangkan positive rate masih setinggi itu, malah cenderung meningkat. Maka kemampuan testing haruslah benar-benar ditingkatkan. Bila tidak, wabah COVID-19 di Indonesia bisa jadi semakin tidak terkendali.
Mari kita lanjutkan. Kedua, tingkatkan kemampuan tracing! Pelacakan! Standar WHO adalah setiap ada 1 orang yang positif COVID-19, maka harus dilakukan tracing setidaknya 30 orang yang kontak dengan pasien positif COVID ini. Hal ini disebut dengan istilah rasio lacak isolasi atau RLI. Standar WHO RLI 1: >30. Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia RLInya masih 1:2. Dari 1 kasus positif hanya mampu melacak 2 orang kontaknya saja. Jakarta yang RLInya tertinggi di Indonesia saja masih 1:9. Masih jauh dari standar. Anyway, yang namanya standar itu artinya itulah hal minimal yang harus dipenuhi. Lebih boleh. Kurang jangan. Seiring dengan perlunya meningkatkan kemampuan tracing, tentu harus menyediakan SDM yang cukup untuk melakukan tracing. Tenaga yang ada di puskesmas saat ini tampaknya sudah cukup kewalahan.
Ketiga, tingkatkan kemampuan treatment! Beberapa RS di beberapa daerah mulai collapse. Semakin sering kita dengar kabar bahwa banyak pasien COVID yang stagnan di IGD karena ruang isolasi masih penuh. Hal yang dulu belum pernah kita alami. Yang lebih sedih lagi, di sebuah RS instalasi forensiknya alias ruang jenazahnya penuh dengan jenazah yang mengantri untuk dilakukan pemulasaraan jenazah infeksius. Ruang jenazah saja sampai antri. Hal yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Itu adalah sedikit gambaran tentang kondisi di beberapa RS di beberapa daerah yang angka COVIDnya begitu tinggi. Dengan gambaran seperti ini, tentu meningkatkan kemampuan treatment menjadi penting. Menyiapkan lebih banyak rumah isolasi atau rumah sakit lapangan untuk mengisolasi pasien COVID tanpa gejala dan gejala ringan, menyiapkan ruang perawatan isolasi di rumah sakit untuk merawat pasien gejala sedang, menyiapkan lebih banyak ICU isolasi untuk merawat pasien COVID gejala berat, menyiapkan lebih banyak RS yang dapat melayani tindakan operasi pada pasien COVID, dan yang paling penting, siapkan sumber daya manusia yang cukup untuk bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan itu.
Demikian adalah pentingnya 3T, testing, tracing, dan treatment. Semoga cukup memberikan gambaran tentang kondisi di Indonesia saat ini dan mengapa begitu lama pandemi berlangsung di Indonesia.
Lalu bagaimana dengan adanya vaksin? Adanya vaksin tentu baik, tetapi tidak boleh terlena dengan mengglorifikasi vaksin. Tidak boleh hanya bergantung dan berharap pada vaksin. Belum tentu semua yang divaksin akan terbentuk kekebalan tubuh yang diharapkan. Belum tahu juga berapa lama kekebalan ini akan bisa terbentuk, serta berapa lama kekebalan ini akan bisa bertahan. Jadi, walaupun nanti sudah divaksin, protokol 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap harus dijalankan dengan disiplin. 3T, testing, tracing, dan treatment tetaplah harus ditingkatkan sesuai standar, bahkan melebihi standar itu. Semua ini dilakukan dengan simultan agar pandemi ini dapat cepat selesai.
Masyarakat berpartisipasi dengan disiplin 3M.
Pemerintah berperan meningkatkan 3T dan menyiapkan vaksin.
Hentikan dulu saling menyalahkan dan saling tidak percaya. Mari kita selesaikan ini semua bersama-sama. Semoga pandemi segera selesai.
Stay safe everyone.
-WIS-
Penyemprotan Disinfektan, Perlukah?
Sejak COVID-19 mulai ditetapkan sebagai suatu pandemi, telah banyak hal yang dilakukan di tengah masyarakat dalam upaya mencegah penularan COVID-19. Diawali dari gerakan stay at home, kemudian protokol kesehatan yang saat ini banyak dikenal dengan gerakan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak), hingga penyemprotan cairan disinfektan.
Penyemprotan cairan disinfektan mulai dilakukan pada awal pandemi COVID-19 dengan berbagai variasi bentuknya. Mulai dari dibuatnya bilik disinfektan yang menyemprot cairan disinfektan ke badan manusia sebelum masuk ruangan, penyemprotan disinfektan ke ojol atau pendatang yang akan masuk suatu wilayah, serta penyemprotan disinfektan di jalanan atau di luar ruangan. Penyemprotan disinfektan di lingkungan ini dilakukan mulai dari yang skala besar dengan menggunakan mobil, hingga yang skala lebih kecil dengan alat semprot sederhana yang menyemprot halaman-halaman rumah.
WHO dan Kementerian Kesehatan, serta Satgas COVID Nasional (BNPB) telah memberitahukan bahwa penyemprotan disinfektan ini tidaklah efektif untuk mencegah penularan COVID-19, dan dapat menimbulkan lebih banyak kerugian. Beberapa metode penyemprotan disinfektan saat ini telah ditinggalkan sesuai arahan pemerintah, seperti bilik disinfektan, penyemprotan disinfektan skala besar dengan mobil, dan penyemprotan disinfektan kepada orang misalnya ojol atau pengendara motor sebelum masuk suatu kawasan. Akan tetapi penyemprotan disinfektan dalam skala lebih kecil yang dilakukan di halaman-halaman rumah kadang masih terlihat dilakukan oleh masyarakat di Indonesia.
COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV2, suatu virus dari golongan coronavirus yang dapat menyebabkan infeksi saluran napas. COVID-19 menular utamanya melalui droplet, yaitu percikan - percikan cairan yang keluar dari mulut atau hidung kita misalnya ketika berbicara, bersin, ataupun batuk. Droplet ini dapat menempel di tangan, ataupun permukaan benda-benda di sekitar kita. Virus ini dapat bertahan pada permukaan benda-benda selama beberapa saat, mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung dari bahan dari benda itu. Apabila droplet terhirup masuk ke saluran nafas, maka seseorang dapat terinfeksi COVID-19. Demikian pula apabila seseorang memegang suatu benda yang kebetulan terdapat virus penyebab COVID-19 di permukaannya, kemudian tanpa mencuci tangan seseorang ini memegang mata, hidung, atau mulut, maka virus penyebab COVID-19 dapat menginfeksi tubuh orang tersebut. Untuk mencegah penularan ini, maka yang direkomendasikan oleh pemerintah adalah memakai masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak.
Disinfeksi yang direkomendasikan oleh WHO adalah disinfeksi permukaan, yaitu dengan mengelap permukaan-permukaan yang sering disentuh dengan menggunakan cairan disinfektan. Permukaan benda yang sering disentuh misalnya adalah meja, kursi, lantai, pegangan pintu, remote televisi, handphone, dan lain sebagainya. Sedangkan penyemprotan disinfektan tidak direkomendasikan, karena penyemprotan saja tanpa dilap permukaannya kurang efektif untuk mematikan virus penyebab COVID-19. Selain itu, penyemprotan disinfektan dapat menimbulkan kerugian seperti mengiritasi kulit, atau bila terhirup juga dapat menyebabkan iritasi saluran napas sehingga akan menimbulkan masalah baru. Penyemprotan disinfektan yang dilakukan di suatu lingkungan masyarakat kemungkinan akan lebih menimbulkan rasa aman semu kepada masyarakat tersebut daripada untuk mencegah penularan COVID-19. Apabila masyarakat sudah merasa aman terhadap COVID-19 dengan telah dilakukannya penyemprotan disinfektan, maka dimungkinkan akan terjadi pengabaian terhadap upaya-upaya utama dalam mencegah COVID-19, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.
Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, harus dilakukan dengan benar agar dapat mencegah penularan secara optimal. WHO telah memberikan rekomendasi terkait penggunaan masker. Masker yang direkomendasikan untuk masyarakat adalah masker bedah, atau dapat menggunakan masker kain 3 lapis yang diganti setiap sekitar 4 jam. Masker harus digunakan secara benar yaitu menutupi hidung, mulut, dan dagu. Apabila tidak dipakai dengan benar misalnya bila digunakan hanya menutup mulut saja, atau hanya menutup dagu saja, atau malah hanya digantungkan di leher saja, tentu efektivitas dari masker ini akan berkurang.
Mencuci tangan yang disarankan WHO adalah dengan sabun, atau cairan berbasis alkohol, yang dilakukan dengan 6 langkah. Mengapa sampai harus diatur dengan 6 langkah? Karena apabila hanya asal cuci tangan, maka akan ada permukaan-permukaan tangan yang tidak tercuci dengan baik. 6 langkah cuci tangan adalah urutan sederhana yang dibuat untuk memastikan agar seluruh permukaan tangan tercuci dengan baik.
Menjaga jarak yang direkomendasikan oleh WHO adalah minimal 1 meter. Di beberapa referensi yang lain bahkan yang direkomendasikan adalah 2 meter.
Penularan COVID-19 dapat juga menjadi airborne pada kondisi-kondisi tertentu, seperti kondisi di rumah sakit pada saat melakukan tindakan yang menghasilkan aerosol, ataupun pada ruangan-ruangan tertutup yang memiliki sirkulasi udara yang buruk. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan untuk sebisa mungkin membuka jendela rumah anda agar sirkulasi menjadi lebih baik, serta kurangi menggunakan AC.
Dari ulasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang direkomendasikan untuk mencegah penularan COVID-19 adalah memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, melakukan disinfeksi permukaan, serta membuka jendela. Semua ini perlu dilakukan secara benar agar pencegahan penularan dapat lebih optimal.
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan keselamatan. Stay safe everyone.
-WIS-
Berpendapatlah sesukamu. Tak apa. Tak ada yang benar-benar benar kecuali Tuhan bukan?
Tapi,
Satu hal yang perlu kita ingat bersama adalah, walaupun ternyata kita tidak sependapat, jangan pernah lupa untuk menjadi manusia.
(ditulis di tengah pandemi COVID19, sebagai pengingat untuk diri sendiri kelak)
Pantai Kemala, Balikpapan
Yaaay.. Mari kita bacaa.. :D Terimakasih Pakcik @hirataandrea dan @bentangpustaka
Rencana Tuhan itu jauh lebih besar dibanding rencana manusia. Jika kita tidak mengerti, marah, tidak terima dengan situasi yang kita hadapi, boleh jadi karena kita tidak tahu, bahwa Tuhan menyimpan rencana yang lebih indah bagi kita.
Tere Liye
Pemandangan Kota Malang
Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.
Hujan - Tere Liye
Tentang Pagi
Dulu aku menyukai pagi Kuingin segera tidur di awal malam, agar dapat segera bertemu kembali Ia yang menyambut dengan udara sejuknya, di kala langit masih baru mulai membuka mata
Dulu aku menyukai pagi Kuingin segera terbangun dari tidurku dan bertemu dengannya lagi Ia yang selalu memberikan semangat dalam sunyinya, ditemani kokok ayam jantan di kejauhan
Dulu aku menyukai pagi Karena ia selalu mengingatkanku padamu Menghadirkan kerinduan-kerinduan menenangkan yang terbalut dalam doa-doa
Dulu aku menyukai pagi Seperti aku menyukaimu Dan sekarangpun masih begitu
Sekarang aku mulai mengerti mengapa orang begitu menyukai hujan. Aroma hujan menyentuh bumi, dan gerimis yang romantis, membangkitkan kenangan-kenangan manis.
Jika tabah tak membuat kebesaran hatimu bertambah, mungkin ikhlas adalah yang mampu menyelamatkanmu dari segala yang tak terbalas.
Irfanny Hanif (via mbeeer)
“You know what’s scary about Ramadan?”
“What?”
“Discovering that it’s actually yourself, not shaytaan.”
–Source unverified
Kadang-kadang ada orang yang lebih suka mencari kekurangan di antara kebaikan-kebaikan yang ada, tapi lupa untuk berterimakasih atas kebaikan itu. Kadang mereka pun menjadi lupa untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diterimanya. Semoga kita selalu menjadi bagian dari orang-orang yang pandai bersyukur.
Self talking
Sleeping baby :)