Keterasingan tidak pernah membawa rasa nyaman. Terpisah, terkucil, terbuang; menjadi yang cuma satu atau beberapa di antara yang kebanyakan. Dalam gundahnya, barangkali itu juga yang dirasakan Marx saat melintasi Dean Street; kala ia dalam bayangannya berempati dengan penderitaan kaum buruh. Mereka yang terpisah, terkucil, terbuang dari kehidupannya sebagai manusia. Teralienasi.
Istilah "teralienasi" di sini memang tidak ada hubungan langsung dengan uraian Marx dalam Die Deutsche Ideologie. Ini asal pinjam istilah saja--tapi sama-sama menjelaskan kegelisahan yang menyekap nafas ketika menyadari keteralienasian itu. Yang mencekam sekujur tubuh hingga berasa begitu tak berarti dan tak relevan.
Wajarnya, sebagaimana kaum buruh yang diwakili Marx, orang teralienasi hanya dalam lingkungan yang dihidupinya. Teralienasi dalam ruang kerja. Dalam ruang kampus. Dalam ruang publik atau masyarakat.
Tapi ada juga--saya--yang merasa teralienasi dari satu orang tertentu. Hwarakadah? Sudah pula ini konteksnya orang (dan bukannya lingkungan)--orang itu bahkan juga tidak satu lingkungan!
Cuma barangkali persis karena dia tidak [lagi] satu lingkungan, di situlah sebab perasaan keteralienasian yang mendera. Kala melihat dia bercengkrama dengan yang lain, yang teranggap asing, perasaan itu timbul. Kala melihat bahwa ada peristiwa yang melibatkan dia tapi tidak tahu persisnya apa, ibarat bersemayam dalam gelap, perasaan itu timbul. Bagai buruh yang tidak lagi bisa merasakan apa yang menjadi hakekatnya sebagai manusia, saya tidak lagi bisa merasakan apa yang semestinya bisa saya rasakan saat melihatnya berada di sesuatu yang di luar jangkauan. Bukan dendam, bukan juga benci. Cuma ada perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Yang mencekam.
Barangkali, memang, karena saat ini dia tidak lagi satu lingkungan. Bahwa dulu dia pernah dekat--sangat, malah--barangkali secara semu justru menjadikan dia si lingkungan itu sendiri! Alih-alih dia menjadi seorang yang hidup bersama di lingkungan tempat saya hidup, dia justru yang menjadi lingkungan tempat saya hidup di dalamnya. Orientasi saya berputar mengelilingnya.
Semua kawan dekat saya--dan mestinya dia sendiri--pasti bakal membantah; toh saya dikenal sebagai orang paling tidak peka dan tidak perhatian sejagat. Cuma tentu saja namanya "orientasi" belum tentu melulu sejalan dengan aksi. Di pikiran iya terus berputar, tapi di tindakan bisa jadi nihil, nol sama sekali. NATO, kalau kata orang--No Action Think Only (seharusnya Talk Only, tapi sekali lagi saya pelintir dengan semena-mena).
Memang, rasanya tidak semengerikan itu kalau saya membatasi diri hanya berinteraksi dengan dirinya saja. Berbicara dan mengobrol hanya dengan dia sebagai dirinya, bukan dia sebagai bagian dari komunitas-komunitas lain yang asing. Dia sebagaimana yang masih terekam dalam imaji.
Tapi, entah karena pengaruh alienasi tadi atau halangan yang lain, bagaimana pun tetap terasa ada sesuatu yang berbeda. Selalu ada sesuatu yang ingin saya katakan--tapi pada akhirnya tidak terujar dalam [tu]lisan. Selalu ada sesuatu yang ingin saya berbuat lebih--tapi pada akhirnya hanya tergagas dalam bayangan. Bahkan saat dia sendiri pun yang nampak lebih sigap memulainya. Antara hati atau akal kerap menghambat, baik untuk alasan yang jujur atau dibuat-buat.
Andai tembok punya telinga--atau lebih realistisnya sih ya ada pihak ketiga--banyak yang ingin saya sampaikan padanya.
Mungkin memang, sebagaimana pernah ditulis Fahd Djibran, penulis idolanya, saya masih mencintainya seperti udara, yang terikat ruang; menyayanginya seperti cuaca, yang terikat waktu. Meski ruang itu ruang semu, meski waktu itu adalah yang maya, yang hampir mencapai titik kadaluarsa.
Tapi, jauh di seberang sana, barangkali dia juga sudah tidak peduli lagi.
PS: Nampaknya saya tidak begitu pandai menulis cerita curhatan--kalau masih cocok disebut curhat, berhubung rasanya seperti mendiagnosis diri sendiri (dan ibarat pasien sakit jiwa yang mendiagnosis dirinya, hasilnya selalu kacau). Mungkin masih perlu banyak latihan.