Kami duduk bersila di atas karpet merah, yang motif bunganya terlalu cerah untuk sebuah malam duka.
Nenek berpulang dalam usia panjang. Begitu panjang, sampai anaknya—ayah mertuaku—sudah hampir tujuh puluh saat harus belajar bagaimana caranya menjadi yatim piatu.
Orang-orang sering bilang, “Sudah sepuh, sudah waktunya", seolah waktu adalah alasan yang cukup sopan untuk menghapus kehilangan. Padahal kehilangan tetaplah kehilangan, tak peduli di usia berapa.
Aku melihat ayah mertuaku duduk tenang. Suaranya utuh saat menyambut tamu. Tidak ada air mata yang jatuh ke karpet merah itu.
Aku pernah berada di posisi itu. Enam tahun lalu ibuku pergi. Dan aku tahu persis, kehilangan tidak selalu berisik. Kadang ia memilih duduk diam di dada seseorang, menjelma sesak.
Maka di antara bacaan tahlil dan suara gerimis, aku sadar bahwa usia tidak pernah memendekkan duka.
Anak tetaplah anak di hadapan ibunya—bahkan ketika rambutnya sudah memutih, bahkan ketika dunia menganggapnya sudah cukup kuat.
Malam itu, kami sama-sama kehilangan. Dengan cara yang berbeda, namun beratnya... ahh, aku yakin sama saja.
Dan karpet merah itu menjadi saksi bahwa cinta pada orang tua tak pernah benar-benar bisa ditinggalkan, hanya dipindahkan ke ruang sunyi yang lebih dalam.