YOU ARE THE REASON
Cosimo Galluzzi

#extradirty
taylor price

blake kathryn

Andulka
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sweet Seals For You, Always

izzy's playlists!
Cookie Run:Kingdom Official!

ellievsbear

No title available

❣ Chile in a Photography ❣
Sade Olutola
cherry valley forever
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
RMH
KIROKAZE
Show & Tell
seen from Brazil
seen from Monaco

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from T1
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Bangladesh

seen from Egypt

seen from Netherlands

seen from Norway

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
@xarismatic
Can God pressure someone so intensely that they end up renouncing their faith—only for Him to later use that as grounds to condemn them at the final judgment?
Refleksi Lima Pokok Calvinisme
calvinism, john calvin
Berikut ini adalah tulisan refleksi gue tentang teologi dari John Calvin, yaitu 5 pokok Calvinisme, yang gue tulis sebagai tugas suatu institusi.
Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia terpisah dari Allah. Segala keputusan yang diambil manusia tidak lagi berdasarkan Firman Allah melainkan apa yang manusia kehendaki dalam hatinya. Dan hati manusia sudah rusak, sehingga apa yang menjadi kehendak, keputusan, dan tindakan manusia adalah salah. Kesalahan ini bukan dinilai dari perspektif manusia, melainkan dari perspektif Allah. Tindakan manusia selalu gagal di mata Tuhan. Usaha manusia untuk memperbaiki kesalahan ini pun menjadi gagal. Tidak ada solusi dari kerusakan total manusia ini jika bukan inisiatif dari Allah. Sebagai manusia berdosa, di mata Tuhan, saya mengalami kerusakan total. Saya tidak layak berada bersama Tuhan, bahkan selayaknya saya dibuang dan dihukum. Tetepi Allah yang begitu besar kasih-Nya tidak menghukum saya, manusia berdosa. Allah telah menggantikan hukuman kepada saya dengan menghukum Yesus Kristus, Sang Anak Allah, sampai mati di kayu salib. Yesus Kristus menggantikan saya, menebus dosa saya dalam kematian-Nya di kayu salib. Allah hanya memandang pengorbanan Yesus dan menerima-Nya sebagai korban yang layak diterima, sehingga saya juga dilayakkan untuk diterima melalui pengorbanan Yesus. Sesungguhnya saya dimampukan Allah untuk mempercayai Yesus Kristus sebagai penebus saya. Bukan karena kemauan saya sendiri, melainkan karena Allah yang telah memilih saya untuk dapat memilih Yesus. Ya. Karena kerusakan total manusia yang setiap keputusannya adalah salah di mata Tuhan, keputusan saya memiih Yesus adalah anugerah Allah. Bukan karena perbuatan saya. Keyakinan saya untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat bukanlah akhir, melainkan awal hidup yang baru. Bukan hanya hidup kekal setelah kematian, juga hidup saya saat ini di dunia. Mampu menjalani hidup yang kudus di dalam terang Firman Tuhan adalah berkat itu sendiri. Suatu cicipan kehidupan yang kekal hingga kembali bersama Bapa di surga.
Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan
Amsal 1:7
Kasih ‘Mula-mula’
Saya bersekolah minggu di sebuah gereja beraliran Injili. Saya rajin ke gereja karena kewajiban sekolah. Mencari tanda tangan pembina/pengkhotbah untuk laporan sekolah sekedar untuk mendapat poin. Menjelang kuliah, saya diwajibkan untuk menyerahkan surat baptis sebagai kelengkapan dokumen pendaftaran. Saya belum dibaptis waktu itu. Cara termudah untuk mendapatkannya adalah baptis di sebuah gereja karismatik.
Gereja karismatik memberikan syarat baptisan yang amat mudah. Cukup dengan mendaftar saja. Mengisi formulir identitas. Tidak perlu katekisasi. Tidak perlu mengenal siapa Yesus. Pokoknya Anda percaya Yesus, itu saja. Berbeda dengan syarat di gereja injili di mana saya berjemaat di situ. Karena pada waktu itu cukup mendesak untuk mendapatkannya, saya ambil saja kesempatan ini.
Setelah dibaptis, apakah saya mengenal Yesus? Tentu tidak. Sebaliknya malah. Saya absen ikut kegiatan gerejawi apapun semasa kuliah. Saya sama sekali tidak mau ke gereja. Saya anti semua hal-hal yang berbau rohani. Saya kembali beribadah di gereja setelah selesai kuliah di gereja karismatik tempat saya dibaptis karena saya merasa “orang Kristen ya harus ke gereja”. Gereja mana lagi yang saya gabung jika bukan gereja tempat saya dibaptis?
Ketika saya bekerja di luar kota pun saya tetap mencari gereja aliran karismatik. Bergabung di gereja karismatik adalah tren orang-orang muda seangkatan saya. Saya merasa mendapat komunitas baru. Ibadahnya juga asik. Nggak kaku seperti sekolah minggu dulu. Saya rajin ke gereja. Sebatas beribadah dua jam, lalu pulang. Saya tidak mengenal siapa-siapa dan tidak dikenal juga. Ada komunitas cell group memang, tapi saya tidak bergabung. Saya tidak ingin terlalu dekat dengan jemaat. Saya suka menyendiri. Ada rasa aman dalam kesendirian saya.
Pada masa itu, saya mengenal Yesus dalam kotbah-kotbah mingguan di gereja yang saya hadiri demikian: Yesus adalah Tuhan saya. Yesus adalah juruselamat saya supaya saya bisa masuk surga. Yesus baik dan cinta sama saya. Yesus memberkati saya. Menyediakan hal-hal yang saya perlu. Oleh karena itu saya harus membalas cinta-Nya. Jika saya melakukan hal-hal yang Dia suka, dia akan lebih memberkati saya. Begitulah cara saya mengasihi Tuhan. Kasih mula-mula saya pada Dia.
Saya tidak menyadari betapa kelirunya itu.
Oleh karena itu beginilah pola kehidupan yang terjadi pada diri saya: jika ada sesuatu yang buruk menimpa saya, saya akan mengomel. Saya merasa Tuhan tidak adil. Saya menuntut Tuhan. Saya mengancam Tuhan. Bukankah saya ini orang baik, Tuhan? Bukankah saya sudah melakukan hal-hal yang disampaikan pengkotbah? Mengapa saya tidak mendapat yang saya inginkan?
Di saat itu ‘Tuhan’ mejawab: kamu kurang doa. Kamu kurang baca firman. Kamu harus pelayanan di gereja. Saya mengira itulah suara Tuhan. Tapi kini saya sadar bahwa itu adalah suara doktrin gereja.
Saya taati suara itu. Saya lakukan yang ‘lebih’ dari biasa. Lebih banyak berdoa. Lebih banyak ke gereja. Dan lebih lebih lainnya. Jika hasilnya tetap tidak sesuai yang saya mau, saya kembali mengancam Tuhan. Dan ‘Tuhan’ kembali menjawab: tunggu saatnya Tuhan. Waktu Tuhan itu waktu yang terbaik. Saya kembali menunggu.
Begitulah seterusnya.
Terkadang saya sempat berpikir apakah Kristen itu keliru? Jangan-jangan agama lain benar? Bagian itu akan saya ceritakan di lain topik. Untuk menutup tulisan ini, saya bersyukur karena saya kini mengenal Tuhan yang benar. Jika kita sungguh-sungguh ingin mengenal dan mencari Tuhan, Dia pasti akan menyatakan diri.
Kita lanjut lagi nanti.
Salam Damai
Shalom.
Blog ini adalah catatan saya tentang bagaimana saya mengenal Tuhan dan kehidupan kerohanian saya hingga sekarang. Mungkin ini akan sedikit sensitif bagi sebagian orang karena saya akan menyinggung ajaran yang saya terima dulu, dan mengapa saya meninggalkannya. Mengingat saya dulu adalah seorang Kristen karismatik --saya tau ada banyak penganut Kristen karismatik di jaman ini— saya rasa akan ada banyak pembaca terutama di kalangan ini yang tidak akan setuju.
Tidak mengapa. Saya hanya berbagi pengalaman. Tidak menebar kebencian. Hanya memberikan suatu perenungan saja. Setidaknya, itulah yang saya usahakan.
Sekian dulu ya. Shalom.