Di depanku kamu bebas menjadi dirimu, tanpa perlu berpura-pura.
Katakanlah jika memang tak baik-baik saja.
Menangislah jika ingin menangis.
Sehancur-hancur nya dirimu akan ku peluk dengan seluruhku.
-N. 28.01.2020 (13.12 wib)

pixel skylines

★
The Stonewall Inn
Show & Tell
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Misplaced Lens Cap
Monterey Bay Aquarium
Today's Document
Mike Driver

No title available

oozey mess

ellievsbear

No title available
Cosimo Galluzzi

blake kathryn

izzy's playlists!

roma★
Cosmic Funnies
TVSTRANGERTHINGS

seen from Kuwait

seen from Russia
seen from United States
seen from Austria
seen from United States
seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States
seen from Tunisia

seen from Brazil

seen from Singapore
seen from Germany

seen from Russia

seen from Bangladesh
seen from United States
seen from Israel
seen from Congo - Brazzaville
seen from New Zealand
seen from Georgia
@yakunitatsu
Di depanku kamu bebas menjadi dirimu, tanpa perlu berpura-pura.
Katakanlah jika memang tak baik-baik saja.
Menangislah jika ingin menangis.
Sehancur-hancur nya dirimu akan ku peluk dengan seluruhku.
-N. 28.01.2020 (13.12 wib)
Kenapa kita harus menerima, jika ada satu hal di dirinya yang tidak bisa kita terima? Tersebab waktu yang seolah sudah habis padahal tidak, keluarga yang memaksa-maksa, society yang berisik.
Kenapa kita mengorbankan idealisme kita untuk menerima sesuatu yang bertentangan, ketika dikalibrasikan dengan nilai-nilai yang kita pegang, semuanya tidak sama.
Kenapa kita harus menjalani sesuatu yang tidak memberikan kita dua hal yang selama ini kita perjuangkan dalam doa, kebahagiaan dunia dan akhirat?
Kenapa kita seolah-olah dipaksa harus mengejar salah satunya saja, entah akhiratnya saja, entah dunianya saja.
Kapan kita menyadari bahwa kita punya daya untuk menentukan arah hidup yang kita inginkan, menjadi pribadi yang bertanggungjawab pada sang pencipta. Menjadi utuh, menjadi pribadi yang penuh kesadaran bahwa hidup ini hanya ibarat mampir berteduh dari hujan, sementara sekali.
Dan sampai kapan kita akan mengorbankan waktu yang sangat sementara ini dengan hal-hal yang jauh dari impian kita untuk membangun iman yang pondasinya telah kita tanam.
©kurniawangunadi
“Naksir jomblo saingannya banyak, kalo naksir pacar orang saingannya cuma satu, jd naksir pacar orang aja.”
— iki jenenge wani perih (via ahmadkrishar)
Eh, gimana2..
Sering-sering post story ya, biar aku tau kamu dimana.
- dari aku yang nggak berhak tanya kamu dimana.
Langit, Laut, dan Pantai.
Sepotong lirik dari satu lagu Thailand di tumblr seorang teman artinya seperti ini:
The indigo sky and the sea
Are no different than you and me
They seem like they’re close
But in reality, they’re so far away.
Kadang tuh gitu ya, kita terlalu terbuai sama yang jauh-jauh. Digerogoti angan. Sawang sinawang. Lupa dimana kita berdiri menikmati indahnya kedekatan langit dan laut yang sebenarnya berjauhan. Dimana? Di atas pasir pantai.
Kata seorang teman yang lain gini: apalah langit buat laut? Sementara pasir pantai bisa menenangkan ombak dari laut.
Katanya lagi, seberapapun langit menginginkan laut, ia sadar, kepada pantailah laut harus berlabuh.
Oh, aku paham sekarang. Kenapa pantai selalu bawa suasana yang sendu-sendu syahdu. Karena kisah cinta segitiga yang tak ada habisnya.
Perjuangan (1)
Kalau kita berhasil di satu sisi kehidupan dan merasa hidup berkualitas, bukan berarti orang harus punya keberhasilan yang sama untuk menjadikan hidup mereka berkualitas loh. Ada yang hidupnya berkualitas dengan menjadi pelaku bisnis, tapi bukan berarti menjadi pedagang biasa hidupnya tidak berkualitas. Ada yang sukses menjadi dosen, tapi bukan berarti seorang guru hidupnya tidak berkualitas dan harus menjadi dosen untuk punya hidup yang dianggap lebih berkelas.
Gw sedih ketika seorang teman gw yang bisnis kecil - kecilan dan ingin pelan - pelan menjalankan usahanya, diceramahin habis - habisan oleh teman lain yang bisnisnya sudah besar hanya karena teman pertama mempertahankan prinsip ingin pelan- pelan berjalan dan menghindari riba. Gw cukup paham kondisi si teman ini, dia single mother dengan tanggung jawab pada anaknya, dan hijrah yang tengah dia upayakan tertatih - tatih diantara kesibukannya menjemput rezeki dan merawat anaknya. Iyes, di usia gw yang semuda ini teman-teman janda gw udah banyak. And they are awesome women!!
Tidak semua orang perlu cita - cita fantastis untuk menjadikan hidupnya bermakna. Tidak semua orang butuh pencapaian dunia yang terlihat hebat untuk menjadikan hidupnya lebih bermanfaat. Bisa jadi si janda beranak satu yang tak kaya uang lebih bermartabat daripada pebisnis hebat yang memikirkan ribapun tak sempat.
Kata teman gw yang sudah sukses (dalam hal bisnis) ini, kita harus mengikuti perkembangan jaman dan ga perlu ribet mikir riba. Hehe. Kalo dia mengikuti perkembangan jaman, saat ini di dunia bisnis sedang marak sistem investasi, peer to peer landing, investment based on networking, dan kompetisi sebagai solusi dari hutang piutang dengan riba, meskipun tentu saja perjuangannya cukup berat.
Ingat deh, setiap orang punya ranah berjuangnya sendiri. Ada yang di ranah sosial, pendidikan, ekonomi dan bisnis, penelitian dan keilmuwan, dan macam - macam. Ga harus jadi kayak kamu kok untuk menjadi bermanfaat. Kalau ada orang yang pendidikannya tak sebaik kita, ga mesti dong dia ga pinter? Kalau ada yang gajinya ga sebesar kita, ga mesti dong dia harus cari tempat kerja lain? Kalau ada yang pasangannya ga kayak punya kita, ga mesti dong itu jelek? Masing - masing orang punya takdir yang berbeda, di lokasi dan waktu yang berbeda. Banyak - banyak membuka hati untuk menerima bahwa apapun keberhasilan kita, semata - mata karena Allah. Entah sebagai ujian, atau jalan rejeki bagi manusia lain. Orang lain akan punya jalannya sendiri, ga perlu dipaksakan sama.
Aku ingin bercerita
Bagiku, Instagram adalah tempat dimana orang orang berlomba untuk menjadi yang sempurna. Sempurna dalam hal fashion, kecantikan, dan gaya hidup yang serba kekinian. Banyak orang menggunakan topengnya masing masing di sana. Seakan akan mereka bahagia, berhasil menyembunyikan kesedihan di balik tawanya.
Bagiku, Twitter terlalu gaduh dan riuh, tempat banyak gurauan dan hujatan di lontarkan di sana. Dimana tak ada tempat bagi orang orang yang sedih sebab terluka hatinya.
Dan bagiku, Tumblr adalah rumah. Rumah bagi orang orang yang merasa dirinya tidak sempurna, rumah bagi sebagian orang yang kesepian. Rumah bagi orang orang yang lebih mengekspresikan dirinya dengan menulis di banding bicara dan banyak gaya. Banyak luapan rasa di sini, tentang jatuh cinta, cemburu, sedih, luka, bahkan cinta dalam diam. Di sini tak perlu memakai topeng dan penuh kepura-puraan. Sebab, di sinilah tempat untuk bercerita, tempat untuk menumpahkan segala rasa dengan sederhana, karena di sini banyak hati yang mengerti dan memahami.
Laman biru tua ku 😔
Lebih Peka
Lebaran kali ini ga banyak foto di keluarga gw, hampir ga ada malah, padahal banyak kesempatan foto. Mungkin karena kami tidak terlalu gegap gempita menyambut lebaran seperti tahun sebelumnya, atau mungkin kami terlalu sibuk menikmati daripada menjepret sana sini.
Melihat banyak orang foto dan posting, tergoda juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi, buat apa? Bagi orang lain mungkin buat berbagi kebahagiaan. Gw pribadi khawatir itu menjadi pamer, atau kalaupun tidak pamer, akan menjadi sumber kecemburuan orang lain.
Apakah yang foto - foto terlihat kompak dan bahagia betul - betul bahagia? Kurang tahu, itu urusan mereka. Yang pasti, yang tidak foto - foto belum tentu tidak bahagia. Cara bersyukur dan menikmati momen memang berbeda - beda. Ga semua kebahagiaan harus diumumkan.
Ga semua hubungan harus diplokamirkan kecuali yang sudah sah, jadi kalo pingin tahu ya tanya aja, tapi jangan pake akun IG fake (halah, apasih Din curcol). Maap dini suka out of topic, padahal sengaja nyindir.
Belajar dari apa yang gw lihat, gw rasakan sendiri, dan analisis kasar, gw mencoba mengurangi kadar pamer kebahagiaan kalau itu tidak ada gunanya. Beda dengan banyak teman - teman, termasuk di tumblr ini yang mereka share kehidupan untuk diambil pelajarannya, share kebahagiaan dengan cara sederhana. Gimana bedainnya? Gatau, bisa jadi suudzon sih, tapi the way they share aja kali ya, yang kadang bisa menimbulkan kecemburuan sementara yang lain gak.
Sebab yang melihat kebahagiaan kita belum tentu sedang berbahagia juga. Yang kita suguhi kekayaan kita belum tentu sedang kaya juga. Yang kita pamerin kesenangan belum tentu sedang senang juga. Jadi pandai - pandailah berbagi kebahagiaan. Bukan tidak boleh, tapi lebih peka aja gitu memilih waktu, tempat, kepada siapa, dan bagaimana caranya. Semoga dengan itu bisa memperkecil kemungkinan orang lain cemburu.
Di sisi lain, kita harus pandai - pandai menjaga hati supaya tidak muncul iri dengki ketika bomb of show off itu hadir di sekitar kita. Kalau kata Ust. Yusuf Mansur, jadikan momen untuk bershalawat, jadikan momen untuk berdoa supaya mendapat keberkahan serupa.
Pinter - pinter menata hati sendiri, pinter - pinter juga lebih peka menjaga hati orang lain.
Tidak memilih sama sekali juga sebuah pilihan.
Muslim yang tidak peduli Politik akan di pimpin oleh Politikus yang tidak peduli kepada Islam.
Necmetti Erbakan
Jika orang baik tidak ikut terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya.
Recep Toyyib Erdogan
Jika anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau parpol Islam. Itu hak anda. Tapi ingat jika anda dan jutaan yang lain tidak ikut pemilu maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan.
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA. M. Phil.
Setidaknya ada 3 (tiga) cara dalam mempertimbangkan pilihan: • Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya. • Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik. • Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.
Syaikh Yusuf Qardhawi
“Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”
Ali bin Abi Thalib ra
Aku membenci buku, senja, kopi, hujan, waktu, dan semua hal, ketika semua itu berada di tangan penulis.
Aku benci ketika semua hal, mereka buat menjadi terlihat berbeda dari keadaan sebenarnya. Buku itu membosankan, bagaimana bisa itu dijadikan teman? Senja juga biasa saja. Kopi pahit rasanya. Hujan itu menyebalkan, dan waktu menjadi hal yang paling kubenci, karena membuat semua orang hilang peduli.
Waktu sering digadang-gadang, seakan yang paling tahu. Aku mulai benci ketika dia mengatakan “Biar waktu yang menjawab.” Manusia yang membuat persoalan, harus waktu yang menjawab? Dimana letak kepalamu? Terlebih ketika dia mengatakan “Waktu akan menunjukan kebenaran.” Sudah hilang usahamu?
Tidak hanya itu, aku juga benci keadaan, dimana aku larut dalam kiasan. Mendalami setiap kalimat yang menyayat. Atau dipaksa diam, terbungkam kalam.
Aku benci ketika dia menjelma filsafat, memaknai pertemuan kita sebagai rencana semesta, layaknya merpati yang terbang ribuan mil, tapi tetap bisa kembali ke tempat ia bermula.
Bodoh!
Aku bukan merpati, yang ketika di lepaskan, akan kembali lagi.
andhikahadip, 2017
Melarikan Diri
Akan ada satu waktu di dalam hidup, kita ingin melarikan diri sejauh-jauhnya. Entah dari hingar bingar sekitar, entah dari suntuknya sibuk, entah dari keluh lelah, entah dari jenuh yang perlahan membunuh, entah dari nyeri karena ditinggal pergi, entah dari sepi sendiri, entah dari sedu sedan, entah dari segala keentahberantahan yang sulit dipaparkan dengan kata-kata.
Satu masa dimana kita ingin melepas sejenak ransel yang selama ini dipikul ke sana ke mari. Beristirahat mengendurkan sebagian otot yang selama ini kaku. Memberikan jeda untuk otak dan hati berkompromi dengan dirinya masing-masing, karena selama ini dipaksa terus bekerja sedemikiannya. Menghadiahi diri sendiri untuk lebih memahami, sebab sejauh ini terasa semakin asing hari ke hari.
Melarikan diri di sini, bukan berarti lari dari segala kemelut dan tak kembali untuk memberesi. Hanya saja memberi sedikit waktu. Jeda sementara untuk menarik udara segar, kemudian menghembuskan segala yang terasa membebani. Setelah semua terasa lebih tenang maka kita akan kembali, tentu dengan jiwa yang lebih utuh, semangat yang kembali terisi penuh.
Tak apa melarikan diri. Sah-sah saja.
Jika selama ini kamu rasa hanya kamu saja yang ingin melarikan diri, sebaiknya jangan lagi. Saya pun begitu. Kita semua pun sama; sesekali ingin melarikan diri, untuk kembali lebih baik lagi.
Maka apabila saat ini duniamu terasa runtuh, semestamu seperti bekerjasama membuatmu terjatuh, bangkitlah. Larikan diri sejauh-jauhnya terlebih dahulu. Setelah semuamu terasa membaik, kembali. Bereskan apa-apa yang belum sempat terselesaikan.
Wanitamu, Aku.
Wanitamu adalah aku.
Wanitamu adalah aku yang mungkin bukan tipe kesukaanmu.
Wanitamu adalah aku yang mungkin tidak sesuai dengan harapanmu.
Wanitamu adalah aku yang mungkin belum sanggup memenuhi inginmu.
Segala maaf ku ucap bila ku tak mencukupi. Sebut apapun yang kamu mau, akan kuusahakan menjelma sesuai yang kau pinta.
Aku wanitamu.
Kamu boleh terlihat kuat, tapi berlemah-lemahlah padaku.
Kamu boleh terlihat bijak, tapi egoislah padaku.
Kamu boleh terlihat gagah, tapi bermanja-manjalah padaku.
Karena aku wanitamu.
Yang akan memuja kelebihanmu, dan mencintai kekuranganmu.
Wanitamu adalah aku, yang menerima baik dan segala burukmu.
Jadi, maukah kamu menerimaku?
Lelakimu, adalah aku.
Yang kau terima dengan kata ‘iya’ atas permintaanku ketika ingin kau menjadi kekasihku.
Lelakimu, adalah aku.
Yang selalu ingin kau tidak ke mana-mana tapi juga berusaha untuk tidak mengekang ketika kau ingin ke mana-mana.
Lelakimu, adalah aku.
Kau boleh terlihat kuat, tapi berlemah-lemah lah padaku. Dan aku akan kembali menguatkanmu.
Lelakimu, adalah aku.
Mungkin tidak sempurna. Tapi adamu menyempurnakanku. Kau harus tahu itu.
Lelakimu, adalah aku.
Yang mungkin lupa ketika baru saja melakukan kesalahan padamu. Yang ketika kau marah karenaku, yang kutunggu hanya satu: maafmu.
Yang inginku tetap denganmu.
Yang seperti itu, adalah aku. Lelakimu.
Wanitaku,
Aku adalah Lelakimu. Segala baik dan burukmu, adalah wajahku di mata orang-orang yang menilaimu.
Bangunmu, adalah wajahmu. Jatuhmu, adalah wajahku.
Maka berpenampilanlah seburuk-buruknya. Lemahlah selemah-lemahnya. Gigitlah kukumu. Bersendawalah sembari terus meneguk. Pilihlah baju yang tak sepadan, tak sewarna. Bias rambutmu tak terbilas. Marahlah. Memakilah pada pemotor brengsek yang memotong lajur mobilmu. Bersumpah serapahlah ketika antrian panjang di jalanan menantangmu. Meludahlah pada yang mencibirmu.
Tampillah seburuk-buruknya. Aku izinkan. Tampillah seburuk-buruknya.
Karena wahai Wanitaku,
Aku adalah Lelakimu, Aku adalah wajah yang bertanggung jawab di mata orang-orang yang menilaimu.
Jadilah seburuk-buruknya yang kau ingin, bukankah kau sadar? Aku adalah badan yang siap sedia menahanmu dari segala caci maki orang-orang. Biar aku terkapar, jatuh harga diriku, rusak namaku, turun martabatku. Tak apa, selama kau senang dan nyaman menjadi diri sendiri seperti itu, ingatlah ini, aku mengizinkanmu.
Wajahku, adalah wajah yang bertanggung jawab di mata orang-orang yang menilaimu. Kau tahu itu. Kau mengerti itu. Kau sadar akan hal itu.
Kau bisa seperti itu, kan?
Kau bisa menjadi begitu buruk seperti itu, kan?
Tapi,
Mengapa tak kau lakukan?
Mengapa juga tak kunjung kau lakukan?
Wahai wanitaku, Aku adalah lelakimu.
Ketika kau bisa menghancurkan harga diriku dengan mudahnya, namun kau tetap memilih untuk tidak; adalah alasan utama mengapa sampai sekarang jawabanku selalu sama di tiap banyak tanya..
Tetap sama..
Tetap..
Aku adalah Lelakimu.