🪼

No title available
Fieri Frames

Love Begins
🩵 avery cochrane 🩵
todays bird
Monterey Bay Aquarium
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Kiana Khansmith
KIROKAZE
No title available
Fai_Ryy
No title available
ojovivo
hello vonnie

@theartofmadeline

Game Changer & Make Some Noise
The Stonewall Inn

pixel skylines

titsay
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from Ukraine
seen from Colombia

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Türkiye

seen from Canada

seen from United States

seen from Switzerland
@yarabbakumencarimu
Kita Mungkin Bisa Menerima, Tapi..
Saya telah melewati fase ini, tapi pembelajaran yang terjadi dari lompatan fase itu tidak akan pernah lekang dan akan menjadi nasihat yang nanti saya teruskan ke anak-anak saya nantinya. Terkait memilih pasangan hidup.
Kita, sebagai remaja yang mungkin pada fase tersebut dilanda banyak keresahan terkait pasangan hidup, waktu yang terus bergulir memakan usia, kemudian dorongan dalam diri yang ingin segera masuk ke fase berikutnya. Hal-hal yang seringnya, membuat pikiran dan hati kita tidak stabil. Logika kita tidak berjalan dengan baik, begitu pula perasaan kita yang mudah sekali berubah-ubah.
Apalagi, saat kita dihadapkan pada kondisi dimana kita justru dipertemukan dengan orang-orang yang menguji value yang kita pegang selama ini. Ada hal baik yang ada pada dirinya, meski ada tapinya. Dan “tapi” inilah yang membuat kita kebingungan dengan diri kita sendiri.
Pada waktu itu, nasihat ini datang kepada saya.
“Kamu boleh jadi bisa dan luas hatinya untuk menerima orang lain seburuk apapun masa lalu yang dia miliki, ditambah dengan asumsimu bahwa dia sudah berubah meski mungkin itu belum benar-benar bisa kamu validasi, tapi kamu berprasangka baik. Dia yang masih merokok, dia yang pernah berhubungan dengan perempuan di luar bayangan kita, dia yang shalatnya belum tegak lima waktu, segala sesuatu yang kita rasa, itu bisa diubah seiring pernikahan. “Boleh jadi kamu bisa menerima mereka dengan terbuka, tapi coba benturkan hal itu jika nanti ada anak-anak. Apakah kamu akan membiarkan anak-anakmu terpapar asap setiap hari di rumah bahkan sejak dia lahir? Apakah kamu menjelaskan dengan baik, dan membanggakan laki-laki itu nanti sebagai ayah dari anak-anakmu.”
“Inilah yang seringkali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Bahwa, sejatinya memilih pasangan hidup, salah satunya adalah bentuk kewajiban kita untuk menunaikan hak-hak anak kita memiliki ayah/ibu yang baik. Hak yang harus kita tunaikan. Kita tidak semata menikah hanya untuk kepuasan diri, ego, dan asumsi-asumsi kita.” “Selama kita masih punya keleluasaan untuk memilih dan membuat keputusan. Maka, seberat apapun upayanya. Kukira, itu tidak akan selamanya. Tapi, pernikahan itu, selalu kita harap akan baik selamanya kan? Tak ada salahnya kita berusaha lebih keras dan lebih lama sedikit, berdoa lebih kuat lagi, kemudian memberanikan diri untuk melewati fase ini dengan lebih logis dan dengan iman. Agar langkah kita tidak didorong oleh ego kita untuk segera memiliki status, ego karena malu belum menikah sendiri, ego karena ingin seperti teman-teman kita yang lain, ego karena dirasa menikah itu menyelesaikan seluruh permasalahan hidup.”
Justru, pernikahan itu menambah masalah. Kalau kita salah menentukan pilihan, salah dalam membuat keputusan, masalah yang akan kita hadapi dalam pernikahan, akan jauh lebih sulit.
Berjuanglah lebih lama sedikit, lebih bersabar, agar kita sampai pada pelajaran yang utuh. Agar kita sampai di titik, dimana kita bertemu dengan orang yang benar-benar membuat kita yakin dan percaya bahwa anak-anak kita, layak memiliki ayah/ibu seperti dia. Di sini, semua standar kita soal ketampanan, kekayaan, dan semua hal yang tampak permukaan akan luluh. Kalah oleh akhlak, kalah oleh karakter seseorang. Sebab akhlak/karakter adalah cerminan pemahaman hidup seseorang, cerminan pikiran-pikirannya, cerminan tentang visi yang ingin kita hidupkan.
Bersabarlah, sedikit lagi. Karena pernikahan yang seumur hidup, terlalu berharga untuk kita korbankan demi ego-ego dan perasaan kita yang tak mampu kita kendalikan saat ini. Kurniawan Gunadi
Yogyakarta, 17 Juni 2020
🏳🏳🏳
Menepi Sejenak
Mereka yang pintar akan ada gagalnya, mereka yang kuat akan ada lelahnya, dan mereka yang bahagia akan ada airmatanya. Perjalananmu jauh, beban yang berat tidak selalu harus dipaksa untuk dipikul terus hingga akhir tujuan, tubuhmu butuhlah istirahat meski jiwa dan hatimu memaksa untuk terus berjalan.
Jika kendaraan saja harus kembali dilihat mesinnya untuk perjalanan jauh, maka ada hati yang harus dilihat dan diperbaiki niatnya untuk tujuan yang jauh pula. Dulu mungkin mudah bagimu mengutarakan niat karena Allah, sebagaimana mudahnya membeli perbekalan untuk perjalanan jauh. Lalu datanglah dunia harta wanita juga perasaan yang mulai merusak niat. Sebuah kebodohan jika tujuanmu mati berhenti ditengah jalan.
Beranjaknya usia yang semakin menua, seharusnya menjadikan sadar akan kendaraan tubuhmu yang akan habis masa sewanya, Dia akan menagihnya selesai atau belum selesai urusanmu, tidak peduli. Kembali menghitung kira-kira berapa jumlah sholatmu yang khusyu' dan tilawahmu yang syahdu ?
Menepilah sejenak, mulailah mengingat mereka yang Allah berhentikan kendaraan tubuhnya, sakit dan kematian. Sebagai pengingat bahwa kamu juga akan seperti mereka, cepat atau lambat. Menepilah sejenak, sekedar melihat bagaimana kehidupan yang kamu jalani saat ini. Bertanya sudah seberapa jauh niatmu keluar dari jalurnya, seberapa dalam niatmu terperosok jatuh tanpa kamu sadar telah meninggalkannya.
Melembutlah, melembutlah.
@jndmmsyhd
BPJS, and things you might think you know better
Gue sudah cukup lama ingin menulis tentang ini, tapi takut banyak salah karena gue hanya punya sudut pandang sebagai pengguna dan pihak yang memfasilitasi pengguna. Namun makin hari jaga ugd, makin sering gue emosi menemukan pengguna-pengguna sotoy yang dikit-dikit ngegas dan playing victim. Jadi gue akan memberitahu beberapa hal dasar yang perlu diketahui, jikalau lo menggunakan bpjs, supaya lo ngga termasuk pengguna sotoy dan dikit-dikit ngegas.
Do correct me if i'm wrong.
First thing first, please do your research about BPJS; mulai dari sistemnya, kelas-kelasnya, dll. Terutama apasaja privilege yang lo punya di kelas yang lo ambil. Atau paling basic deh; pelajari apa itu asuransi kesehatan dan bagaimana mekanisme kerja dasarnya.
Gue pake bpjs, gue mau ke rs x, atau y suka-suka gue.
No. BPJS ada alurnya. Ngga ujug-ujug lo dateng ke rumah sakit mana aja semau lo, kecuali kasus lo emergency. Apa itu kriteria emergency? Nanti gue bahas. But please note it, BPJS itu menggunakan prinsip rujukan berjenjang. Jadi fasilitas kesehatan (faskes) di Indonesia dibagi beberapa tingkatan; ada faskes pertama, kedua, ketiga, sampe yang paling atas.
Faskes pertama biasanya berupa klinik atau puskesmas. Ketika lo daftar BPJS dan dapet kartunya, akan nampak tuh di kartunya, dimana faskes pertama lo. Biasanya disesuaikan dengan domisili KTP. Faskes pertama ini adalah tempat yang wajib lo datangi pertama kali ketika akan berobat. Di sana dokter akan periksa untuk menentukan kasus lo bisa diselesaikan di mereka atau perlu dirujuk ke faskes lebih tinggi atau ngga. Dokter akan langsung merujuk lo ke UGD kalau memang kasus lo gawat darurat dan fasilitas mereka belum cukup untuk menangani itu.
Jadi jangan heran kalo lo baru batuk pilek sehari ke UGD, terus dokter UGDnya akan menyuruh lo kembali ke faskes pertama. Karena kalo lo tetep ditangani di UGD dengan kasus lo yang ngga masuk kriteria emergency itu dan lo belum ke faskes pertama, BPJS ngga akan meng-cover itu. Lo akan disuruh bayar. Rugi kan lo.
Lo juga ngga akan bisa ujug-ujug ke poli dokter spesialis tanpa bawa rujukan dari faskes pertama dan minta pake BPJS. Jangan kesel kalo bagian pendaftaran akan menolak lo, ya karena prosedurnya begitu.
Lo juga ngga seharusnya dateng ke faskes pertama ujug-ujug minta rujukan aja. Ya dokter di faskes pertama akan asses lo dulu dong, bisa ngga tuh ditangani dia dengan segenap fasilitas di sana. Kalo ngga bisa, atau lo udah kunjungan kedua atau ketiga masih belum sembuh dan butuh pemeriksaan lebih lanjut, baru deh ntar dibuatin rujukan. Faskes pertama yang terlalu sering merujuk pasien bisa kena tegur dinkes juga lho.
Faskes kedua biasanya berupa rumah sakit tipe D atau tipe C. Dokter-dokternya lebih banyak dan ada dokter spesialis, tapi ngga ada sub spesialis biasanya. Cuma ya fasilitas masih terbatas juga. Jadi misalnya nanti dari faskes pertama lo dirujuk ke faskes kedua, lalu dari faskes kedua dirujuk lagi ke faskes ketiga, ya itu karena penyakit lo nya, bukan karena kitanya yang sengaja ngoper-ngoper. Faskes ketiga biasanya rumah sakit tipe B, dan fasilitasnya lebih baik dari tipe C tapi masih belum selengkap tipe A, sehingga lo masih mungkin dirujuk ke tipe A kalo penyakit lo ngga kelar di tipe B. Tipe A tuh rumah sakit besar yang kadang suka jadi rumah sakit pendidikan juga yang ada koass sama residen-nya. Kalo di Indonesia kayak RSCM atau RS Fatmawati gitu deh.
Ribet amat sih mau berobat doang dioper-oper terus??!! Kalo gitu kenapa ngga dari awal langsung ke tipe A aja??!!
Ya boleh aja silakan, tapi nggabisa pake BPJS.
BPJS tuh berusaha memfasilitasi lo agar bisa berobat di tempat terdekat dari domisili lo. Kalo rumah lo di pinggiran kota dan tipe A terdekat adalah 20 km dari rumah lo ya wassalam lo bisa mati duluan di jalan.
Misal, keluhan lo sakit perut.
Lo dateng tuh ke puskes. Sekali kunjungan, dibilang sakit maag. Ingat bahwa di puskes paling mentok cek lab darah rutin aja kan, ngga ada USG atau CT scan dll. Nggaperlu juga. Terus lo dikasih obat. Eh obatnya abis kok masih sakit, balik lagi tuh kunjungan kedua. Dapet obat lagi, terus enakan. Tapi kok kambuh lagi ya ngga lama kemudian. Akhirnya dari puskesnya lo dirujuk ke dokter penyakit dalam di RS tipe C. Udah deh tuh lo ke polinya. Berobatlah sekali, di USG dibilang luka di lambung aja. Ada infeksi sedikit. Yaudah ditangani.
Eh tapi kok sebulan sekali masih kambuh-kambuhan juga ya. Malah pake ada muntah dan tiap makan berasa begah. Akhirnya lo disarankan ke tipe B untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter khusus bagian saluran cerna, lalu dilakukan endoskopi, misalnya. Eh ternyata hasilnya ada massa ganas alias curiga tumor. Pas diperiksa ke lab, tumornya bahaya harus cepet diangkat. Tapi di tipe B ngga ada bedah khusus saluran cerna. Jadi dirujuklah ke tipe A. Baru di tipe A lo dioperasi dan sembuh. Kontrolnya? Bisa di di faskes pertama lagi atau minimal di tipe C.
Kenapa BPJS ngga memfasilitasi langsung ke tipe A aja biar cepet sembuh? Karena ngga semua orang dengan sakit perut pasti disebabkan oleh tumor. Kalo lo udah jauh-jauh ke tipe A, ternyata beneran cuma maag, ya akan banyak yang merugi. Lo rugi waktu, BPJS rugi ngebayarin lo, RS tipe A juga bakal numpuk pasien yang sebenernya bisa ditangani di tipe C atau bahkan puskes. Kasihan pasien kanker pro kemoterapi harus ngantri bareng lo yang cuma maag doang akibat sok diet.
Tapi gue udah sakit banget ini perut kayak mau mati, masa harus ke puskes dulu, kalo mati di puskes gimana hah??!!!
Gaes, ada yang namanya triase. Googling deh. Triase atau bahasa inggrisnya triage, adalah penentuan prioritas kasus kegawatan. Setiap dokter dibekali ilmu ini sejak sekolah. Triage itu ada tiga tentu saja; merah, kuning, dan hijau. Merah adalah gawat darurat yang lo harus banget ditangani segera atau lo akan mati dalam waktu dekat. Kuning adalah gawat tidak darurat, tidak mengancam nyawa tapi tetap butuh pertolongan. Hijau adalah tidak gawat dan tidak darurat seperti misalnya batuk pilek.
Contoh paling gampang misalnya ada tragedi kafe di-bom. Pasien triase merah adalah yang udah ngga sadar tapi masih ada denyut nadi dan napas. Pasien triase kuning adalah yang patah kaki tangan tapi masih sadar, pasien triase hijau adalah yang lecet-lecet doang.
Kenapa harus ada triase? Ya biar penanganan sesuatu sesuai prioritas. Sesuai sains. Sains ngga baper.
Sampe sini paham?
Ketika pasien ke puskes dan dokter puskesnya menemukan ada tanda-tanda triase merah atau kuning, tanpa tedeng aling-aling lo pasti akan dirujuk ke rs terdekat tanpa lo minta. Misal lo sakit perut, terus dokternya menemukan tanda-tanda gejala usus buntu, maka dokter akan merujuk lo ke ugd. Tapi kalo berdasarkan pemeriksaan ternyata sakit perut menstruasi, ya walaupun sakitnya menurut lo sampe mau mati, lo akan ditangani di puskes aja.
Okelah misalpun lo ngga percaya sama dokter puskes dan mau langsung ke RS. Silakan aja boleh langsung ke UGDnya juga nggapapa, tapi jangan marah dan ngamuk kalo pas lo diperiksa dokter di UGD RS dan lo dinyatakan pasien triase hijau lalu lo disuruh balik ke faskes pertama.
Jangan juga lo jadi marah dan ngamuk ketika lo triase hijau dan lo dilayani kesekian dibanding pasien lain yang dateng setelah lo. Ya masa lo dateng sakit perut haid, terus dateng lagi pasien anak keselek cilok mukanya udah biru karena saluran napasnya tersumbat terus dokter UGDnya lebih milih nanganin lo dulu.
Ck, emang ya pasien BPJS tuh dibeda-bedain sama pasien umum.
Lho ya emang beda. Paket asuransi kan beda-beda. Wajar gedungnya beda, lokasi pendaftarannya beda, sistemnya beda. Lo mau pake asuransi juga tiap merk bakal beda. Misal lo ikut open trip agen x, ya wajar dong kalo itinerary lo beda sama yang agen y. Tapi apakah pasien BPJS selalu mendapat pelayanan paling jelek dan ogah-ogahan? Eits, nanti dulu. Mari ngobrol dulu.
Gue akui sebagian besar obat-obatan BPJS adalah obat paling dasar dan generik. Bahkan kadang bikin dokter harus berpikir keras ngakalin biar pasien tetep bisa sembuh dengan segala keterbatasannya. Tapi perlu diapresiasi karena tim BPJS udah merumuskan terapi paling basic yang bisa digunakan untuk penanganan kasus penyakit. Indonesia udah belajar bikin sistem asuransi kesehatan aja udah bagus, masih babakbelur di sana sini ya namanya juga pemula, kalo ngga gitu kan ngga belajar. Setidaknya udah bisa menimbulkan awareness ke penduduk soal asuransi kan. Makanya dengan segala keterbatasan itu, tetep perlu bersyukur sih. Apalagi iuran BPJS semurah itu bahkan untuk kelas 1nya.
Giliran fee iuran dinaikin, lo lo juga yang berisik. Ini tuh yang bikin gue pengen nyinyir; udah bayar murah, minta eksekutif. Ngga tau diri.
Gue juga tau dan mengakui banget ada aja tenaga medis atau staf rs yang keliatan bengis dan ngga ramah ke pasien BPJS. Ya sebenernya ke pasien non BPJS juga mah ada aja, bangsat tuh bisa ada dimanapun dalam kasus apapun. Pada beberapa kesempatan juga gue bisa aja lebih jutek ke pasien BPJS dibanding ke non BPJS. Penyebabnya paling sering sih pasti karena capek. Kemungkinan lain karena sebel sama sistem BPJS yang bikin rumah sakit rentan rugi dan gaji ketunda bayar berbulan-bulan. Ada yang bisa handle isu ini dengan baik sehingga sikapnya tetap baik, ada juga yang nggabisa.
Tapi masalah sikap ini tentu di luar tanggung jawab BPJS. Yang BPJS sediakan kan layanan kesehatan dasar, yang sudah tentu ngga termasuk sikap dan perilaku tenaga medis dan stafnya. Gue ngga memaafkan kebengisan itu, tapi juga ngga terlalu mempermasalahkan, karena pada akhirnya tujuannya menyembuhkan penyakitnya kan? Fokus sama itu aja.
TAPI KAN PELAYANAN KESEHATAN HARUS ADIL DAN MERATA TANPA MEMANDANG BLABLABLABLA
Omemang begitu, baginda raja. Namun tidak sesederhana itu aplikasinya.
Misal, lo sakit kepala, dan BPJS kasih lo parasetamol, sedangkan kalo lo non BPJS lo dikasih obat Z yang isinya ada parasetamol dan obat tidur. Ya bisa aja abis minum obat Z tuh sakit kepala lo lebih cepet sembuh. Bukan karena lo dapet obat paten atau apalah, tapi karena abis itu lo bisa tidur. BPJS memberi pelayanan dasar yang tujuannya adalah sakit kepala lo sembuh. Udah gitu aja. Mau abis itu lo tidur atau makan wagyu, itu pilihan lo.
Atau misal kamar rawat inap. Lo pake non BPJS bisa dapet yang kayak di RS Pondok Indah, dengan city view dan luas kamar kayak hotel, ada air panas dan karpet bulu, bisa sambil nonton netflix. Tapi pake BPJS kelas 1 sekalipun kamarnya biasa aja, sempit dan ngga ada air panas. Ya BPJS kan ngasih pelayanan dasar, jadi fasilitas yang dikasih ya yang dasar. BPJS tau netflix ngga bikin usus buntu sembuh, jadi lebih baik menyediakan tiang infus dan bed saja daripada tv kabel.
Mau bilang adil dan ngga adil tuh takarannya apa? Gue, personally, sekeras mungkin berusaha tidak membeda-bedakan pelayanan ke pasien. Meskipun seringkali, gue lebih mudah hilang kesabaran menghadapi pasien BPJS dibanding non BPJS. Kadang gue pengen nyalahin iurannya yang kemurahan sehingga pasien ngelunjak dan take it for granted, tapi ya kasian juga ada pihak-pihak yang beneran butuh dan well-informed.
Makanya, sekali lagi, kenali asuransi yang lo akan gunakan, pelajari sistemnya, hak dan kewajiban penggunanya. Ikuti peraturannya. Kalo bayar iuran aja nunggak terus, diedukasi nggamau, tipe-tipe begini mending disnap thanos aja. Menuh-menuhin bumi.
Ya tapi kan gue tiap bulan bayar! Gue ini PNS!
Lah bodo amat. Lo pejabat Timbuktu juga bodo amat. Lo mau ngamuk, sana ngamuk sama yang bikin aturan. Lo pikir yang bayar lo doang? Asuransi lain atau yang pribadi juga bayar, bahkan lebih mahal dari lo. Lagipula pembayaran tuh yang ngurus bagian kasir. Bukan bagian pelayanan. Misalnya lo dateng ke UGD terus gue nulis diagnosis sesuai kondisi lo, lalu ternyata diagnosis tersebut pas di kasir ketauan kalo ngga tercover BPJS, mau apa lo? Ngamuk lagi?
BPJS tuh dipersulit, mana katanya mau bantu rakyat tapi kok disusahin. Ngantri aja lama.
Define 'dipersulit'. Kalo fotokopi berkas termasuk kriteria dipersulit, berarti hidup lo yang kegampangan.
BPJS itu mau mengedukasi lo juga tentang pentingnya menjaga kesehatan, ngga cuma individual tapi juga komunal. Dengan lo ke faskes satu dulu, lo bisa bantu puskesmas ngedata jumlah kasus penyakit, sehingga puskesmas bisa bikin promosi kesehatan dan tindakan preventif lainnya. Lo juga mempermudah orang lain yang benar-benar butuh ke tipe A atau tipe B, kalo lo patuh pada alur rujukan dan ngga numpuk di satu RS tertentu gitu. Setiap hal tentu ada aturannya masing-masing. Ya minimal kalo lo tau biaya berobat mahal dan bpjs ribet, lo jadi lebih ngejaga kesehatan diri sendiri.
Soal ngantri, iya gue akui kalo BPJS lama banget antriannya tuh. Di puskes aja bisa panjang banget apalagi di RS. Bisa pada dateng subuh buta buat ambil nomor antrian, kadang sampe pada nginep di rs atau nyewa calo buat ambilin nomor antrian. Kenapa? Ya karena penggunanya banyak. Gampang aja jawabnya.
Mau dapet antrian awal? Ya dateng lebih awal. Jangan mentang-mentang males ngantri terus lo ambil shortcut. Lo pake non BPJS juga ngantri kok. Lo liat aja tuh RS ibu dan anak yang beken di Kemang, yang ngantri seleb, berjam-jam juga sama aja.
Hidup tuh banyak prosedurnya, kenapa sih yang begini aja masih harus dijelasin.
Ada satu lagi perkara BPJS yang perlu lo tahu, yaitu apa yang bisa dan gabisa dicover BPJS. Biasanya kalo halnya mutlak, bagian administrasi udah ngabarin kok dari awal. Jadi lo ngga akan dijebak di akhir tiba-tiba disuruh bayar. Mau nanya atau googling sendiri juga boleh.
Kecelakaan lalu lintas, tidak dicover BPJS, kecuali ada surat keterangan dari kepolisian.
jadi kalo gue kecelakaan berdarah-darah harus ke polisi dulu??
Ya ngga. Lo bisa ke RS dulu utk ditangani, lalu pihak keluarga atau siapapun yang bisa, diharapkan sembari mengurus ke kepolisian. Dikasih waktu kok sama BPJSnya. Tapi tanpa surat keterangan itu, lo nggabisa pake BPJSnya.
Demikian juga halnya jika lo datang ke RS yang sama dengan diagnosis yang sama dalam 24 jam yang sama, kalau tidak salah juga tidak dicover.
Wadaw pegel juga ya menulis sepanjang ini. Udah ah gue mau nonton dulu.
Kalau ada yang mau ditanyakan, feel free to ask. Gue akan berusaha membantu menjawab atau mengarahkan lo ke sumber terpercaya.
Please be a well-informed user. Gue paham kalo lagi sakit atau keluarga yang sakit, kadang emosional sampe nggabisa berpikir waras dan bawaannya pengen ngegas. But please trust us, we're trying to do the best. Kalo lo merasa ada yang perlu dibenahi atau ada yang salah, do report it ke pihak berwenang dan biarkan ahlinya yang menginvestigasi. Ngga berarti lo BPJS dan lo iya-iya aja sama sistem dan pelayanan juga, mau lapor ya lapor aja gapapa kalo ada yang salah atau lo merasa dirugikan.
Percayalah, ngegas ke petugas kesehatan yang menangani ngga akan bikin si penyakit sembuh juga.
Bye.
Lelah
Saya pernah berada di fase dimana saya nggak tahu lagi bagaimana menjelaskan apa yang saya rasakan. Rasanya begitu kosong, badan dan pikiran terasa lelah. Padahal, secara fisik saya tidak begitu banyak aktivitias.
Hal itu terjadi selepas saya berkali-kali berbenturan pada hal yang sama, seolah hidup saya berputar-putar di tempat yang sama tanpa beranjak sama sekali. Masalah yang sama, saya hadapi dengan berbagai macam cara, tak kunjung selesai. Itu, salah satunya.
Tapi lebih dari itu, saya benar-benar tidak bisa merasakan bagaimana caranya bahagia, tentram, semuanya terasa semu. Mungkin, saya bisa merasakan senang saat bertemu teman, tapi lepas pulang ke rumah, semuanya kembali seperti sedia kala. Bahkan, rasanya lebih lelah dari sebelumnya.
Pernah di momen itu, saya kembali ke kota rantau saya, Bandung, selama lebih dari 10 hari dengan harapan saya bisa menemukan kembali kebahagiaan itu. Saya mengunjungi semua tempat yang dulu memberikan energi yang begitu besar, kampus, masjid salman, reading lights yang sekarang sudah tidak ada lagi, kineruku, dan semua tempat yang pernah memberikan sebagian kisahnya.
Rasanya tetap sama saja, kosong, bahkan semakin lelah. Pada saat itu, saya gagal mengidentifikasi sebenarnya masalah apa yang saya hadapi sehingga mungkin saya keliru dalam memutuskan solusi untuk diri saya sendiri.
Dan kondisi itu, berada di saat pekerjaan berjalan dengan baik, tidak pernah kekurangan uang bahkan sangat mencukupi, dan semua hal yang nampak baik-baik saja bahkan layak untuk disyukuri.
Tapi, kekosongan itu tak kunjung menemukan isinya. Saya sering menghabiskan waktu dengan mengendarai mobil tanpa tujuan, berharap badan ini menjadi lelah sehingga saya segera tertidur setibanya di rumah tanpa berpikir ke sana kemari. Nyatanya, sama. Saya sulit tidur, pikiran ini tak mau berhenti memikirkan hal-hal yang sudah terjadi, menerka-nerka apa yang sedang terjadi dan akan terjadi.
Saya tahu persis kapan semua itu selesai. Saat saya bisa berada di fase ikhlas, menerima diri, dan bersedia untuk memaafkan. Sayangnya tidak ada rumus pasti untuk bagaimana seseorang bisa memiliki kemampuan untuk bisa ikhlas, menerima diri sendiri,dan memaafkan diri sendiri. Semua itu, butuh waktu lebih dari 9 tahun, waktu yang bukan sebentar.
Terima kasih, kepada diriku sendiri, yang dulu bersedia bertahan dan sedikit lebih bersabar. Kalau saja, waktu itu saya menyerah karena sudah begitu lelah. Mungkin, saya tidak akan pernah bisa sampai di tahap ini.
Tahap dimana, bersyukur atas diri sendiri, memaafkan diri, dan menerima serta menghargai diri sudah menjadi sesuatu yang amat mudah untuk kulakukan. Sesuatu yang amat berharga sebagai bekal untukku menjalani sisa hidup ini dengan berarti.
©kurniawangunadi | 3 September 2019
“aku pikir ketika zaman semakin canggih seperti sekarang, yang semakin mahal adalah teknologi. tapi aku salah. semakin canggih zaman, yang semakin mahal ternyata hanya satu: adab.”
— ©nailymakarima (via makarimanaily)
Ya Allahu Ya Latif..
Lembutkanlah hati kami, tunjukanlah yang haq sebagai haq dan karuniakanlah kami kekuatan untuk mengukutinya, dan tunjukanlah yang bathil sebagai yang bathil dan karuniakanlah kami kekuatan untuk menghindarinya...
-dikutip dari tafsir ibnu katsir-
Kepada Dia yang Telah Menginspirasi Hidupku
@edgarhamas
Ini kisah tentang anak muda yang begitu terinspirasi padanya, pada seorang pemimpin hebat yang memecah sunyi dan menyingkap gelap zaman di Negeri Para Nabi. Darinya, berbagai tulisan lahir, banyak ide terbit dan bara api inspirasi tercipta.
Apa yang kamu pikirkan tentang dunia ketika gelapnya mengancam cahaya, tetiba ada kesatria yang membawa harapan untuk Dunia Islam dengan Al Qur'an ada di hati dan kebijakannya. Wajahnya teduh dan gerak tangannya menunjuk-nunjuk arah kebenaran.
Pidatonya tentang kemerdekaan rakyat, kebebasan Suriah dan keberpihakannya pada perjuangan Palestina membuat siapapun yang rindu perubahan akan merasakan angin segar. Ia seperti Arsalan yang memberi kabar gembira kemenangan setelah lama Umat terdiam dalam kekalutan.
Orasinya tak sekadar retorika. Dentum teriaknya menggetarkan zionis dan siapapun yang sakit hatinya. Namun dunia juga menghormatinya, Eropa menaruh hati padanya. Cerdasnya bukan buatan, secara, ia lulusan terbaik di satu kampus di Amerika.
Tapi, begitukah cara mereka menghadapi pahlawan? Menggunakan makar dan pengkhianatan, kecurangan dan kejahatan. Ia difitnah suara miring media, diobrak-abrik nama baiknya dan dipisahkan dari keluarganya. Bukan karena apa-apa; hanya karena ia berdiri kokoh membela hak manusia untuk merdeka dari tirani.
Selamat jalan, wahai lelaki hebat yang tak perlu ku sebut namanya. Sebab hari ini dunia mengenangmu sebagai singa, singa yang berdiri tetap gagah walau di balik jeruji bertahun lamanya. Tanganmu ditahan dari menyentuh Al Qur'an, tapi hatimu mengkhatamkannya berkali-kali.
Sejatinya ragaku hanya satu, namun urusanku lebih dari satu. Tanpa berputus asa atau menyerah sama sekali, yakini saja semua akan selesai. Biarpun nalarku mengira-ngira urusan ini takan sanggup kuselesaikan, maka biarlah Allohku yang membantuku menyelesaikannya.
Hasbi ya Rabb,, Hasbi..
In every single hour, i feel the dark of dunya 🙈 even the sun still shines.
Laa ilaa ha illaa anta inni kuntum minaddzolimiin.
Be the person you want meet.
Unnamed.
Sebaiknya perjalanan seberat apapun dijalani dengan penuh sabar dan tawakal, namanya hidup tempatnya silih berganti cobaan. Kalau Alloh ridho, pasti diberi kemudahan dan dibalas dgn penuh kebaikan. Kalau kata teman saya harus yakin setiap tanjakan itu pasti selalu ada turunan..
Memutuskan Sesuatu Ada Seninya
@edgarhamas
Memang benar, pada kisah orang-orang besar kamu akan melihat keputusan mereka yang seringkali mengagetkan. Orang-orang bergeleng kepala tak setuju, sebab keputusan itu “tak sejalan” dengan apa yang diyakini orang banyak.
Kamu pasti pernah dihadapkan pada sebuah persimpangan; mau memilih hidup dalam ritme yang dijalani orang banyak, atau memutuskan untuk memilih jalanmu sendiri. Kamu sempat ragu, karena tak ada jaminan jalan yang kau pilih akan membuatmu melesat. Tapi di saat yang sama, kamu melihat harapan ada di sana.
Hal seperti itu selalu ada, misalnya dalam memilih pasangan, kapan menikah, akan meneruskan kuliah apa berhenti di tengah jalan, berkarir sebagai karyawan atau sebagai enterpreneur, mau tetap nyaman bersama lingkungan yang tak baik, atau mulai berhijrah dengan tantangan berselisih dengan mereka.
Untuk memutuskan itu, ada seninya, ada caranya. Rasulullah sudah mengajarkan sejak 1440 tahun lalu. Istikharahlah, dan istisyarahlah.
Mintalah langsung petunjuk pada Allah dengan dua rakaat istikharah. Jawabannya tak selalu dengan mimpi atau hal-hal diluar logika. Seringkali jawabannya adalah: keyakinan yang muncul di hatimu, atau momentum ketika kamu bertemu orang lalu ia memberikanmu pencerahan, atau kamu menemukan jawabannya di sela-sela renunganmu.
Namun catatannya, ketika istikharah janganlah kamu sudah condong pada satu pilihan. Itu tidak fair. Nanti hasilnya malah mengkhianatimu.
Dan kedua, istisyarahlah. Minta nasihat pada orang-orang berilmu dan para shalihin. Pepatah Arab ada yang berkata, “mintalah pendapat dari 3 manusia: orang yang menjaga shalatnya, orang yang menjaga akhlaknya, dan orang yang berbakti pada orangtuanya.”
Begitulah seni memutuskan, ketika kamu ada di persimpangan. “Tak akan kecewa orang yang beristikharah dan tak akan menyesal orang yang istisyarah.”
Kau tahu?
Kadangkala, ketika kamu ada di ujung masalah yang menyesakkan kepalamu, dan mau tidak mau kamu tak bisa menghindarinya; tutup matamu, baca bismillah, dan biarkan dirimu berjalan melaluinya mengikuti irama hati.
Ambil nafas, percaya kamu bisa melakukannya; dan tiba-tiba semuanya berakhir, bahkan tanpa kamu sadari.
@edgarhamas
Tidak ada yg salah dengan berbuat baik kepada orang lain, tanpa memandang siapa, tanpa bermaksud apa. Yang salah hanya stok sabar di diri kita aja kurang. Disadari atau tidak ketika orang lain tidak sesuai dgn apa yg kita harapkan muncul kalimat "padahal saya kurang apa sama dia" jawabannya KURANG SABAR. Hati manusia mah ga ada yg tau dan ga ada yg bisa memaksakan.
Self reminder sekali untuk saya.. 🙏🙏
Kutipan ayat diambil dari QS. AN-NISA : 40
"Maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Alloh. Sungguh Alloh maha melihat akan hamba-hambaNya." Ghafir ayat 44