Pelarian
Terlahir dengan penyakit asma, mungkin hal ini juga yang mebuat gue bisa bertahan untuk menghirup udara Jabodetabek dan Purwasukasi yang buruk. Jika gue berada dikondisi kebakaran dalam sebuah gedung dan gue terperangkap, mungkin gue akan diam saja sampai sesak napas dan mati. Gue gak mau mati kelelahan. Gue pemalas, memang.
Kalau ada yang bilang kesempatan gak datang dua kali, mungkin gue dapat kesempatan kedua itu. Beberapa kali gue sudah merasakan tanda-tanda gue punya potensi mati lebih cepat. Tiba- tiba tangan kanan punya asam urat saat lagi ngetik, jantung berdebar hingga 190 bpm saat lagi berpikir, sampai lutut yang sakit banget setelah naik tangga keluar dari stasiun MRT Istora. Asuransi kesehatan adalah suatu berkah. Punya pekerjaan formal yang memberikan layanan kesehatan swasta begitu membantu dengan kondisi pelayanan kesehatan yang disediakan negara yang belum merata.
Saat dimana keadaan gue harus banyak jalan dan commuting gue jadi suka sneaker. Apa itu dress shoes, sebuah sepatu yang cuma keren saat ada diundangan pernikahan. Gue suka teknologi, rasanya produsen sepatu hanya bisa menghadirkan itu pada lini sneaker mereka. Gue Sudah terbiasa jalan kaki buat ke BIP atau ke Jonas jalan kaki dari Sekeloa. Juga menyusuri Jalan Sudirman hingga Senopati dan mampir makan sate ayam di Panglima Polim. Dulu rasanya sepatu seperti barang yang teramat mewah. Kalau sekarang gue lebih paham apa jadinya kaki dan kesehatan gue jika tidak memakai sepatu yang proper.
Gue sudah tidak asing dengan seri Adidas Ultraboost tapi hanya gue pakai untuk jalan kaki. Sampai akhirnya sepatu itu gue pake buat ngegym dan akhirnya gue punya akses ke peralatan olahraga yang proper. Gue suka dengan desain sepatu olahraga namun dulu sulit menjangkaunya. Sampai akhirnya tabungan gue cukup buat membeli sepasang sepatu lari dan gue beranikan untuk rutin berlari.
Kilometer pertama rasanya begitu membakar tubuh dari dalam. Kilometer kedua betis mulai kencang. Kilometer ketiga rasanya mulai berpikir kenapa gue melakukan ini. Kilometer keempat sepertinya gue bisa terus. Kilometer kelima rasanya gak percaya gue bisa sampai sini. Setelah empat bulan berlari akhirnya gue bisa mencapai sepuluh kilometer pertama gue.
“Kakak ini suka lari juga loh, Yang”. Kata seorang client gue kepada suaminya.
“Masih pemula banget kok, Mas”. balas gue
“Kalo udah kuat sepuluh kilometer coba Hyrox aja mas”, sambut suaminya yang kekar itu
“Masih pemula saya, beneran deh”, kata gue sambil membayangkan gue dirawat dirumah sakit.
Setelah pelan-pelan belajar mengenai teknik dan alat bantu yang tepat gue merasakan manfaatnya. Ikut beberapa event lari dan mencoba tantangan baru untuk mencapai waktu yang lebih cepat dan jarak yang lebih jauh. I know my limit, but I want to improve.
Bukan hanya peningkatan kesehatan, gue menemukan ruang hening baru. Dunia seolah memberikan ruang buat gue untuk berbicara pada diri sendiri. Sebuah ketenangan yang gue rasakan saat menyeruput segelas kopi dingin dan menarik diri dari keramaian. Tiap langkah dan hembusan napas yang makin lama membuat gue tenang. Rasa yang sangat bisa gue nikmati, sama seperti rasa ketika berhasil menulis 500 kata pada tulisan apapun yang gue buat.
Ketika lagu dan kecepatan yang tepat saling bertemu kadang bisa membuat emosi gue naik turun. Gue pernah mendadak menangis ketika mendengar monolog Hindia yang berjudul Aku Berharap ini Tak Terjadi Kepadamu. Gue sudah menemukan ada di kilometer berapa gue merasakan Runners High, sebuah rasa dimana kepala sangat ringan dan tubuh bisa bergerak secara sangat otomatis. Rasanya persis seperti perasaan setelah minum dengan takaran alkohol dan suasana yang tepat.















