seen from United States
seen from Germany

seen from Türkiye
seen from Hungary
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from Estonia
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from Canada

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from Pakistan
ehe guysss my moirail got me this shirt and i laurve it…….
Ada kematian yang tak diumumkan, hanya sunyi merayap ke sela-sela dada, memburamkan kompas arah, sementara harap memudar seperti cahaya ditelan kabut
"Surat dari Pengembara kepada Tan Malaka"
Tan,
Aku menulis ini dari sebuah ruang yang sunyinya seperti kuburan mimpi. Ruang tempat dindingnya menggemakan nama-nama yang pernah kucintai, tapi kini hanya tinggal bayang. Di sini aku berdiri, seperti kau dulu berdiri di atas tanah asing—membawa cinta yang tak pernah diterima, dan ide-ide yang tak pernah utuh di pangkuan zaman.
Aku pernah beberapa-kali mencintai seseorang, Tan. Mencintainya seperti orang menanam pohon di tanah yang bukan miliknya. Aku siram setiap hari, aku rawat setiap daunnya, aku lindungi dari badai, berharap kelak aku akan duduk di bawah rindangnya. Tapi pohon itu tumbuh hanya untuk ditebang oleh tangan yang lebih berkuasa. Aku ditinggalkan dengan tanah yang retak, tangan yang kosong, dan hati yang menggigil. Kau tahu rasanya, Tan. Rasanya seperti menulis manifesto di pasir, lalu ombak membawanya pergi sebelum sempat dibaca.
Sejak itu aku berjalan tanpa arah, seperti perahu yang kehilangan kompas. Kesepianku seperti laut luas: diam, dalam, dan dingin. Malam-malamku panjang seperti rel kereta yang tak pernah sampai ke stasiun. Aku pernah menghibur diri, berkata aku kuat. Tapi kesepian, Tan, adalah semacam bayangan yang tak bisa diusir. Ia selalu mengikuti, bahkan saat lampu dimatikan.
Tapi dari luka itu aku belajar, Tan. Bahwa cinta yang kubuat jadi pusat semesta, ternyata hanya meteor kecil yang lewat dalam orbitku. Bahwa kehilangan bukanlah kematian, melainkan pintu sunyi yang memaksa kita belajar berdiri di tanah sendiri. Aku belajar memeluk kesendirian seperti orang memeluk kabut di puncak gunung: ia dingin, tapi diam-diam menenangkan.
Kini aku mengajar di tanah perbatasan, Tan. Anak-anak kecil berlarian seperti matahari yang baru lahir. Di mata mereka aku melihat sisa-sisa ide besar yang pernah kau bawa. Aku tidak lagi mencintai seseorang seperti dulu, tapi aku mencintai detik-detik kecil ini. Aku mencintai pekerjaan yang dulu kupikir kutinggalkan. Aku mencintai perjalanan yang tak pernah kupilih tapi ternyata menyembuhkan.
Aku kira, Tan, hidup ini seperti buku yang sering terjatuh ke tanah. Halamannya kotor, tulisannya sobek, kadang hilang. Tapi setiap kali kita memungutnya lagi, kita sadar: meski halaman itu luka, cerita ini belum selesai.
Jadi biarlah aku di sini, Tan—menulis surat ini padamu yang hanya jadi wajah di poster. Biar surat ini seperti daun jatuh ke sungai, terbawa arus, mungkin tak pernah sampai. Tapi kalaupun tak sampai, setidaknya aku sudah belajar satu hal:
Kesepian bukan musuh, patah hati bukan kuburan, pengembaraan bukan hukuman. Semuanya hanyalah jalan sunyi yang harus dilalui agar kita bisa menemukan dirimu sendiri di dalam diriku.
Itulah ceritaku, Tan. Tentang patah hati yang membakar, tentang perjalanan yang tersesat, tentang sepi yang menua bersamaku, dan tentang penyembuhan yang datang pelan-pelan.
Kalau nanti ada yang bertanya padaku, apa arti hidup ini, mungkin aku akan menjawab dengan sederhana:
Hidup adalah kehilangan, pengembaraan, dan keberanian untuk menyembuhkan diri sendiri.
Ada yang sunyi di tengah riuh manusia.
Ada yang dingin di antara tangan yang saling bersentuhan.
Dan ada yang mati, tanpa nisan, tanpa tangis, tanpa doa :
empati.
Kini banyak mata melihat, tapi sedikit hati yang benar-benar memandang.
Banyak telinga mendengar, tapi jarang yang mau memahami.
Lidah-lidah bergerak cepat menghakimi, namun tangan-tangan lambat untuk menolong.
Seakan luka orang lain hanya menjadi bahan cerita, bukan panggilan untuk mengasihi.
Kita hidup di zaman di mana kepekaan dianggap kelemahan, dan kepedulian dicemooh sebagai drama.
Zaman ketika orang lebih sibuk memoles citra daripada membersihkan hati.
Ketika air mata dianggap dilebih-lebihkan, dan kesulitan seseorang dinilai sebagai kurang usaha.
Padahal… dulu kita diajarkan bahwa hamba itu saling menguatkan, bukan saling meremehkan.
Bahwa kemuliaan itu tumbuh dari empati, bukan dari merasa lebih tinggi.
Dan bahwa hati—jika dibiarkan tanpa rasa—akan menjadi batu yang perlahan mengubur pemiliknya sendiri.
Mungkin, yang mati sebenarnya bukan empatinya… tapi kita, yang membiarkan hati mengeras tanpa pernah memintanya hidup kembali.
ada kalanya, ketakutan terbesarku adalah bagaimana jika nanti, napas ibuku berhenti. aku menulis ini setelah menyaksikan naik-turun perutnya di tengah napas teratur ibu yang tertidur di kursi. bagaimana jika suatu saat nanti napas ibu berhenti? napas ayah juga. napas orang-orang yang kusayangi. sungguh apabila manusia hanya memikirkan dirinya sendiri, aku setujui pernyataan itu sesetuju-setujunya. sebab jika napas mereka berhenti nanti, bagaimanalah aku bisa menjalani hari-hari? di masa kini yang sudah penuh rasa sendiri, bagaimana ketika nanti yang tersisa benar-benar diriku sendiri? sedangkan angin telah membawa pergi orang-orang yang kucintai. bagaimana? bagaimana? ada kalanya, ketakutan besar itu menghantui.
bahkan jika ibu memberiku seribu satu penderitaan, aku tidak mau membuat diriku lebih menderita dengan membencinya. karena nanti dirinya tidak akan ada lagi, dan, ya Tuhan, bagaimanalah? bagaimana aku nanti? bagaimana jika ibu kelak betul-betul pergi.
senantiyasa, 2025.
❤️ Mati❣️😆
The boys