Cinta dan Pernikahan
Sudah lama tidak menulis lepas rasanya dan sudah sejak kemarin-kemarin ingin menuliskan pikiran ini. Hanya saja, masih menahan-nahan karena masih di masa ujian. Kemarin, ujian termin ini selesai sudah. Dan pikiran tentang ini masih saja belum lepas. Bahkan semakin menjadi-jadi. Kali ini aku akan mencoba menumpahkannya, semoga saja tersampaikan.
Beberapa hari lalu, seorang kawan nyeletuk, "Kayaknya benar kata orang-orang, Zid, semakin dewasa kita, semakin ndak peduli kita dengan kriteria. Yang penting menikah, udah."
Aku mencerna. Sebenarnya jauh di diri paling dalam aku tidak setuju. Karena aku masih dan sangat memedulikan itu. Apakah pertanda aku masih belum terlalu dewasa? Entahlah. Tapi di sisi lain aku membenarkan celetukannya. Karena dari beberapa orang yang kutemui serta beberapa tulisan yang kubaca, mengatakan hal yang sama. Tapi aku tak mau mempertentangkannya. Sebab bagiku ini hanya pilihan prinsip hidup. Ada yang berprinsip cinta dulu baru menikah, ada pula yang berprinsip nikah dulu baru mencinta.
Tapi apa itu cinta?
Jika kita tanya pertanyaan ini pada orang-orang, maka setiap kepala punya pandangannya sendiri. Karena para ulama dan filsuf pun berbeda-beda jawaban ketika mendefenisikan cinta. Bahkan ulama hampir sepakat bahwa tidak mungkin mendefenisikan cinta dengan defenisi yang jami' mani'. "Jami' mani'" itu kalau diartikan ke bahasa Indonesia apa ya? Hmm... defenisi yang padat dan jelas, yang dalam defenisi itu tergambar jelas maksud dari sebuah hal yang didefenisikan tersebut. Begitulah kira-kira. Misal uang. Uang itu alat tukar untuk mendapatkan suatu barang. Defenisi ini jelas dan dapat diterima oleh semua orang. Sedangkan cinta ada yang mengatakan cinta itu buta, cinta itu kebodohan, cinta itu luka dan sebagainya. Yang mana defenisi itu tak mungkin bisa diterima setiap orang. Karena saat dikatakan cinta itu buta, bisa jadi apa yang dirasakan orang lain berbeda.
Kebanyakan ulama tafsir mendefenisikan cinta itu kecondongan pada apa yang disenangi. Sedangkan Ragib Al Asfahany mengartikan cinta itu kemauan, pengutamaan dan lainnya. Yang mana defenisi itu didasarkan dari ayat-ayat Al Quran yang menggunakan kata cinta di ayat-ayatnya.
Sedangkan dalam dunia filsafat dikatakan bahwa cinta itu tak akan bisa diketahui dengan akal apalagi menjelaskannya dengan pikiran. Orang yang mencari defenisi cinta diibaratkan seperti setengah bagian yang mencari setengah yang lain. Meskipun para filsuf mempunyai defenisinya sendiri seperti Aristoteles yang mengatakan cinta itu satu jiwa yang menghuni dua raga.
Maka dari itu orang yang mencari defenisi cinta selama hidupnya, akan dipastikan ia tak akan menemukannya. Bahkan Ibnu Arabi mengatakan defenisi dan sifat-sifat cinta itu adalah hak prerogatifnya Tuhan. Meskipun manusia boleh saja mendefenisikannya secara masing-masing.
Lalu apa itu pernikahan?
Tidak susah untuk mendefenisikan pernikahan. Meskipun orang-orang beda dalam cara pengungkapannya tapi masih dalam satu makna yaitu pertemuan dua insan yang diikat dalam suatu akad atau perjanjian untuk membentuk sebuah keluarga dan melanjutkan keturunan.
Lalu apakah cinta adalah syarat pernikahan? Menurutku tidak. Karena banyak juga yang menikah tanpa mempunyai cinta dahulu pada pasangannya. Bahkan sampai setelah menikahpun cinta itu juga tidak tumbuh. Jika seperti ini keadaannya maka seorang penulis Mesir, Alaa Al aswany mengatakan, "Pernikahan tanpa cinta hanyalah sekadar akad jual beli untuk tubuh perempuan!"
Lalu apa hubungan cinta dan pernikahan? Bagiku cinta itu ibarat kuda liar dan pernikahanlah yang mengikatnya agar jinak. Cinta itu kemenangan dan pernikahanlah tempat merayakannya. Cinta itu pekerjaan dan pernikahanlah institusinya. Maka kata Anis Matta dalam serial cintanya, "Lupakanlah cinta jiwa yang tak sampai ke pelaminan." Baik yang diam-diam maupun terang-terangan. Sebab keliaran yang tak diikat, tak akan jinak. Kemenangan yang tak dirayakan, tak akan sempurna. Bekerja tanpa institusi, sama saja dengan menganggur.
Meskipun ada teori platonic love yaitu cinta untuk cinta. Cinta yang tak berharap balas. Cinta yang fokus pada memberi dan memberi. Tapi tetap saja, walau teori ini ada tapi apakah bisa eksis dalam realita?
Kembali lagi pada celetukan kawanku. Bisa jadi kenapa orang semakin dewasa semakin tidak terlalu mementingkan kriteria karena ia sadar zaman sudah terlalu banyak fitnahnya, maka yang penting nikah agar terhindar dari fitnah tersebut. Karena menurutnya cinta juga bisa tumbuh belakangan. Bisa jadi karena ia sudah lelah berkali-kali berjuang tapi orang itu tidak ingin diperjuangkan. Akhirnya memutuskan untuk berpindah dari yang ingin ia perjuangkan pada yang ingin diperjuangkan. Atau bisa jadi sebenarnya ia masih sibuk dan senang pada karirnya tapi atas tuntutan umur, adat atau keluarga, akhirnya ya sudah yang penting menikah. Atau alasan-alasan lainnya.
Yang jelas jika kalian sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka mulailah merancang jalan menuju pernikahan. Karena jika cinta berputar di sana-sana saja, bisa jadi terjerumus dalam kesesatan. Begitu juga jika kalian sudah memutuskan untuk menuju pernikahan, maka mulailah menumbuhkan kecintaan. Sekian.
Kairo, 22 Januari 2020

















