Entahlah, selepas semalam kita sudah tak ada ikatan satu sama lain. Itu yang ku takutkan

oozey mess
KIROKAZE
art blog(derogatory)
wallacepolsom
we're not kids anymore.

#extradirty
tumblr dot com

Origami Around
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

ellievsbear

★

blake kathryn
YOU ARE THE REASON
Today's Document
noise dept.

Kaledo Art
Game of Thrones Daily
Peter Solarz
Claire Keane

seen from Germany

seen from Italy
seen from South Africa

seen from Italy
seen from United States

seen from Colombia
seen from Colombia

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Tunisia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@yettyprabawatie
Entahlah, selepas semalam kita sudah tak ada ikatan satu sama lain. Itu yang ku takutkan
Laughing Jung Hwan
“Can’t help ~ing”
“I like you. Do you know what I’ve done because of you? I waited an hour by the front door every day to go to school with you. I waited every night until you came home from studying. And I couldn’t sleep at all because I was worried about you. I thought of nothing but you. Just you. When I ran into you, by chance, on the bus… and when we went to the concert… also, when I got the shirt from you on my birthday… I was really so happy that I thought I was crazy. I wanted to see you more than a dozen times a day. I was happy just to see you. I wanted to tell you this a long time ago. I really like you. I love you.”
Light up ~ Light up as if you have a (CHANCE) TT___TT
~
let’s remember ! It Ain’t Over ‘til It’s Over
Team Junghwan T^T let’s find strength !!!
Yah walaupun ini hanya drama, tapi cukup mengganggu pikiran dan perhatian. Mungkin untuk kehidupan nyata tokoh Kim Jung Hwan adalah tipe lelaki idaman (terutama buat gue, cie elah). Kasar, kaku, tapi care banget dengan sahabat-sahabatnya dan juga keluarganya, walaupun memang kaku dan terkesan tak bisa mengungkapkan perasaannya. Dimana setelah lulus SMA, Jung Hwan masuk ke Akademi Angkatan Udara Korea. beeh
Suka sama orang, tapi gak berani ngungkapin dan lebih mementingkan persahabatan. Drama banget sih emang, tapi idaman. Gak ganteng, tapi idaman banget.
Sebenernya gak masalah kalau akhirnya dia gak sama si Deok Sun, cuman yang bikin kecewa karena si Writer terkesan ngegantungin kisah hidupnya si Jung Hwan, cukup tidak adil. Tapi terbaiklah Reply 1988 <3
Takdir tak menghampirimu begitu saja. Setidaknya, jika kau ingin menggunakan istilah Takdir, seharusnya itu terjadi. Sering saat momen paling dramatis karena kebetulan. Itulah takdir. Makanya, istilah lain takdir adalah waktu. Cinta pertamaku selalu tertahan dengan yang namanya waktu. Akhirnya, takdir dan waktu tak terjadi begitu saja karena kebetulan. Adalah hasil dari kesungguhan, pilihan sederhana yang menciptakan momen ajaib. Jadi tegas, memutuskan tanpa ragu itulah waktu
Kim Jung Hwan - Reply 1988 ep. 18
Bahwa barang kali pada masing-masing tempatnya setiap manusia selalu layak untuk dikenang, selalu patut untuk disanjung
Nol dan Sembilan
Sepertinya saya memang sudah kalah. Bohong jika kekalahan itu tidak menyakitkan
Rumahku masih berantakan, aku masih belum bisa bertamu di tempat lain. Biarkan aku membenahi rumahku dulu. Kamu duluan saja, nanti aku menyusulmu. Segera
ini pandanganku, karena aku melihat dengan mata yang aku punya. Mungkin lain kali aku bisa pinjam penglihatamu. Oh tidak, biarkan aku melihatnya sendiri. Aku selesaikan dulu hal-hal yang ingin aku lihat disini, kau sudah melihat semua hal disini ya ?. Biarkan aku melihatnya sendiri, jangan meledekku yang masih belum bisa melihat apa yang engkau lihat. Itu sungguh menyakitkanku
Mereka yang Berjuang
1 Desember 2015
Hari ini adalah hari pertama untuk memilih ketua himpunanku yang baru. Benar, dalam beberapa waktu lalu hingga hari ini adalah rangkaian Pemilu (Pemilihan Umum) yang mungkin juga terjadi di beberapa lembaga lain. Dan tiba hari ini adalah hari pemungutan suara.
Sudahkah mempunyai pilihan ?
Itulah salah satu pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Mengapa ? Apakah calon nya kurang baik ? Ada apa sebenarnya ?
Bukan, bukan seperti itu. Dari hati saya yang paling dalam, saya ingin berterima kasih kepada kedua Calon Ketua Himpunanku. Karena merekalah dua diantara banyak yang berani dan mau meneruskan perjuangan ini. Pilihan yang sangat berani dan patut diapresiasi. Kenapa begitu ? karena sejatinya posisi ini sangat lah “membingungkan”, hanya sedikit yang mau, ini menurut hematku sendiri, dimana himpunan yang berisikan orang-orang yang sangat unik, dengan sifat dan sikap yang beragam. Mulai dari orang-orang yang memang minat pada keilmuannya, gabungan orang-orang barisan sakit hati, buangan/lemparan, hingga orang yang tak paham untuk berbuat apa di sini.
Saya lanjutkan mengenai Pemilu ini, dalam keberjalanannya sudah melewati dua kali Hearing dan satu kali forum tanya jawab, jikapun sudah diakumulasi, waktu yang dihabiskan untuk mengenal kedua calon lebih dari 8 jam. Namun mengapa masih belum bisa menentukan pilihan ?
Saya pun memiliki jawabannya sendiri:
1. Arah gerak yang ingin dibawa kedua calon adalah Eksternal dan mengarah pada karya. Ini membuat saya ingin menghela nafas panjang. Bukan karena eksternalnya atau bahkan karya nya, tapi karena mereka seolah-olah masih tidak paham dengan apa yang akan mereka eksternal-kan. Dan karya yang seperti apa ? Dan hingga mereka melupakan dasar, hal yang substansial, hal yang esensial, hirarkinya berhimpun. Untuk karya, sebenarnya himpunan ini memiliki salah satu karya yang memang sudah diwariskan dari generasi sebelum-sebelumnya. Pun mereka ingin melanjutkannya atau tidak , itu hak dari mereka.
“Karya, Karya, dan Karya. Terlalu sering diucapkan tanpa ada bentuk yang nyata hanya sama seperti bualan dan akan hilang keistimewaannya karena sering diucapkannya”
2. Internal dan Kaderisasi.
Sesungguhnya untuk poin ini adalah murni dari pemikiran dan pandangan saya pribadi. Entah ya, mau kemana pun arah gerak suatu lembaga, ke eksternal dalam lingkup kampus kah, Bandung kah, Indonesia kah, atau bahkan Internasional, dua aspek ini menurut masih sangatlah penting. Kenapa ? karena inilah yang menunjang semua aspek yang ada. Bagaimana mengeratkan massa nya, baik massa yang lama apalagi massa yang baru disetiap tahunnya. Dan bagaimana cara mengkader generasi-generasi penerus yang masih minim dalam kehimpunanannya. Serta bagaimana cara membantu proses mereka dalam menjadikan sosok pribadi yang lebih baik.
Dengan segala hal yang sulit itu, masih ingin kah kalian menghapusnya ?
3. Sesungguhnya ada satu hal yang ini aku tanyakan kepada mereka, adik-adikku. Seberapa cintakah kalian terhadap Himpunanku ? Atau, jikapun kalian belum mencintainya, Seberapa pentingkah Himpunanku untuk kalian ?
Maafkan saya yang seolah masih meragukan kesungguhan kalian, adik-adikku.
Maafkan saya yang seolah masih tidak percaya untuk menyerahkan Himpunanku kepada kalian, adik-adikku.
Karena, sungguh saya sendiri pun masih tidak paham karena sepertinya saya sudah masuk ketahap itu. Tahap cinta akan himpunan, mungkin. Pun jika kalian bertanya alasannya, sungguh saya pun tidak tahu harus menjawab apa.
Karena saya hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Himpunanku dan yang utama, saya tidak ingin kalian, adik-adikku, merugi karena merasa tidak dapat pembelajaran dari Himpunanku. Namun, ketahuilah adik-adikku, sungguh aku sayang dengan kalian. Namun beginilah caraku bersikap kepada kalian. Jangan kalian putus harapanku terhadap Himpunanku. Dan saya meminta maaf kepada kalian, karena saya belum bisa memberi contoh yang baik kepada kalian. Saya memohon maaf untuk itu.
Memimpin Himpunanku, Menjaga Himpunanku tidak sebercanda itu, dek.
Memimpin Himpunanku tidak cukup hanya dengan Kecerdasan saja atau Hati saja. Namun harus keduanya. Jikapun kalian tidak paham, tidak mengerti, bertanyalah, belajarlah. Rendahkan hati kalian, adik-adikku.
Ketidaktahuan masih bisa diselamatkan, namun tidak dengan kesombongan.
Dariku untuk Adik-adikku
Yetty Prabawatie
1213024B
Anggota biasa HMME “Atmosphaira” ITB
Pulang di Sepertiga Malam
Perjalananmu dimulai di pagi hari. Saat itu, seringkali kamu mengabaikan sapaan matahari. Pikiranmu hanya tertuju pada hal-hal duniawi : tentang janji pertemuan, tumpukan tugas harian, deadline dan betapa kamu harus memenangkan hari ini. Tak salah lagi, lelahmu dimulai sejak pagi.
Kapan waktumu dengan Allah?
Siang bagimu menjadi tak terlalu dirindukan. Setiap hari isinya sama saja : makan siang di tempat yang sama yang bahkan terkadang diselingi dengan pertemuan-pertemuan formal, atau hanya dihabiskan dengan membalas pesan-pesan singkat hingga kamu tak sempat menikmati rasa makananmu sendiri. Tak salah lagi, lelahmu memuncak di siang hari.
Kapan waktumu dengan Allah?
Katamu sore datang begitu cepat. Menjumpai Rabbmu di waktu Ashar bahkan dilakukan ketika jam kerjamu berakhir-hampir magrib. Tak salah lagi, hanya ada satu hal yang kamu pikirkan : berbaring di atas kasur dengan kesejukan AC yang menyelimuti.
Kapan waktumu dengan Allah?
Deadline menjadikan malammu sibuk seperti siang. Setiap jamnya, secangkir kopi di mejamu berganti menjadi baru. Hak tubuh menjadi terlupakan. Tak salah lagi, kamu tak ubahnya seperti mesin pabrik yang terus bergerak.
Kapan waktumu dengan Allah?
Sayang, atas semua lelah dan masalahmu dalam keseharian, pulanglah pada-Nya di sepertiga malam. Hanya Dia yang akan menerima segala kesahmu tanpa banyak alasan. Menangislah pada-Nya dan ceritakan segala hal yang perlu terungkapkan.
Biarkan doamu melangit ketika sujudmu membumi. Ya, pulanglah pada-Nya di sepertiga malam.
Bila Suatu Hari Kita Bertemu
Kalau suatu hari nanti kita bertemu, jangan menyesali tentang keputusan-keputusan yang pernah kita ambil di masa lalu. Di masa kita masih sama-sama remaja, sama-sama masih dalam pencarian. Kadang, pembelajaran sebuah kejadian baru akan kita pahami bertahun-tahun kemudian, tentang mengapa itu terjadi dalam hidup kita dan mengapa harus kita yang mengalaminya.
Kalau suatu hari nanti kita bertemu, saat mungkin kita sudah berdiri sebagai orang tua. Jangan menyesali tentang keputusan yang dulu pernah kita ambil saat kita sama-sama masih sendiri. Mungkin dulu kita memiliki perasaan satu sama lain, perasaan itu boleh pernah ada. Tapi hari ini, kita berdiri di atas sebuah komitmen yang jauh lebih hebat dan mengalahkan semua perasaan kita di masa lalu. Mungkin dulu kita pernah sama-sama memperjuangkan sebuah kebersamaan meski pada akhirnya kita tidak bisa mengalahkan kehendak-Nya. Yang perlu kita ingat adalah, bukankah kita bahagia dengan apa yang kita miliki setelahnya? Pasangan yang terbaik dan anak-anak yang terbaik.
Pembelajaran hidup hampir selalu datang belakangan, bukan? Kalau suatu hari nanti kita bertemu. Jangan lupa menyapaku sebagai teman lama yang dulu pernah belajar tentang hidup dalam masalah yang sama denganmu. Aku percaya, kita bisa memenangkan hari-hari kita, baik masa lalu, yang sedang kita jalani, dan esok hari.
Kalau suatu hari nanti kita bertemu. Jangan lupa tersenyum dan ceritakan kepada anak-anak kita bahwa kita adalah teman yang hebat agar anak-anak kita mengerti dan bisa membuat cerita mereka sendiri. Bahwa masa lalu biarlah menjadi pelajaran. Dan bila kita berpisah, jangan lupa untuk tersenyum dan mengucap salam. Karena kita berharap, segala kebaikan itu mengalir tiada henti sampai kita sama-sama tiada.
Kalau suatu hari kita berpisah. Jangan lupa untuk bersyukur bahwa kita pernah dipertemukan, menjadi jalan pembelajaran, dan menjadi perantara kebaikan. Kita akan mensyukuri hari-hari yang pernah kita lewati di masa muda.
Yogyakarta sebelum ke Balikpapan, 8 Oktober 2015 | ©kurniawangunadi
Part 2 💕💕💕💕💕
Assalamualaikum kak, bagaimana pandangan kakak terhadap pacaran kak?
waalaikumsalam. saya pernah pacaran dan menyesal. kalau saya punya anak-anak, saya akan memberikan pemahaman kepada mereka mengapa sebaiknya tidak pacaran. saya juga pasti lebih tenang jika anak-anak saya kelak menikah dengan seseorang yang tidak pernah pacaran.
1. manusia itu pecemburu. menjadi yang terakhir saja tidak cukup, manusia juga selalu ingin jadi yang pertama.
2. masa lalu adalah bagian yang paling sulit untuk diterima. memilih tidak berpacaran adalah salah satu cara untuk membuat masa lalu yang baik–yang mudah diterima.
3. bayangkan perasaan pasanganmu, mengetahui kamu pernah mengisi hatimu dengan seseorang yang bukan dia, yang tentu ada bekasnya meskipun orang itu sudah tidak di sana. kamu pernah bermesraan dengan orang itu. bisa jadi, kamu pernah “saling bersentuhan”.
4. bayangkan perasaan anak-anakmu, mengetahui itu.
5. kata pidi baiq, pacaran itu tujuannya putus. entah putus karena sudahan atau putus karena menikah. kalau tujuan berpacaran adalah menikah, ya menikah saja nanti jika sudah waktunya. tidak usah pacaran.
liefs.
Untukmu (calon) anak-anak bunda
Assalamualaikum sayang, (calon) pangeran dan putri bunda nantinya. Entah apa yang membuat bunda menulis tentangmu, padahal usia bunda baru 21 tahun, lulus sarjana saja belum, calon ayahmu saja masih rahasia dan bunda masih belum tahu apakah nantinya kita akan bertemu secara fisik atau tidak, hehehe. Tapi sayang, bunda ingin berterimakasih sama kalian nak, karena kalian bunda selalu ingin belajar. Belajar menjadi bunda yang hebat untuk kalian, karena kalian berhak mendapatkan bunda yang hebat itu. Banyak wanita-wanita di sekeliling bunda yang bunda rasa sangat hebat nak, bunda selalu membayangkan, putra atau putri seperti apa yang akan mereka hasilkan. Dan bunda sendiri adalah titipan Allah melalui orang tua bunda yang hebat luar biasa. Mama hebat yang luar biasa sayangnya sama bunda, mama yang selalu bunda rindukan di kala jauh merantau seperti ini, mama yang selalu bunda ingin cium tangannya untuk meminta restu. Dan papa yang tidak kalah hebatnya, papa yang selalu menjadi panutan untuk bunda, selalu menyemangati, insipirator bunda. Bunda (dan calon ayahmu) juga ingin menjadi orang tua hebat untuk kalian seperti mereka sayang. Bunda ingin menjadi seperti mama bunda, ibu (nenek bunda dari mama), dan yangtri (nenek bunda dari papa). Kamu yang membuat bunda berubah nak. Bunda takut sifat dan tingkah laku bunda yang sekarang akan mempengaruhi perkembanganmu nantinya sayang. Bunda takut sifat-sifat jelek bunda akan menurun ke kamu dan itu akan menyiksa kamu nantinya. Tapi bunda akan berusaha memperbaikinya nak. Bunda selalu memikirkan itu sayang. Ada 3 hal di dunia ini yang selalu bunda bayangkan ketika bunda berperilaku, bunda memikirkan papa mama bunda (kakek nenek kamu nantinya) karena mereka layak untuk dibahagiakan dan dibanggakan, adik-adik perempuan bunda (tante kamu nantinya) karena mereka berhak mendapat inspirasi dan contoh terbaik dari bunda, dan kamu sayang anak-anak bunda (nantinya) karena kalian berhak mendengar cerita-cerita terbaik bunda (dan ayahmu) nantinya. Bunda juga berjanji akan memilihkan ayah terbaik juga untuk kamu sayang. Kami berdua akan berusaha menjadi contoh dan inspirasi terbaik kalian. Untuk kamu yang akan menjadi anak pertama bunda, tenang sayang, kamu tidak memiliki kewajiban untuk memberikan contoh atau panutan kepada adik-adik kamu nantinya, itu tugas bunda (dan ayahmu) kelak yang memberikan panutan kepada kalian karena itu tugas orang tua. Kalian hanya perlu berperilaku baik dan bertanggung jawab tidak peduli kamu anak pertama atau anak terakhir nak karena itulah tugas masing-masing individu sayang. Ini memang ajaib nak. Tapi karena kalian, bunda ingin menjadi bunda terbaik. Bunda ingin seperti mama bunda dalam mendidik bunda sayang, yang dari bangun tidur sampai bunda mau tidur selalu ada mama. Bunda juga ingin berpendidikan tinggi untuk kalian nak, kalian sangat berhak memiliki bunda yang berpendidikan. Bunda hanya ingin selalu menemani kamu nak dari bangun tidur hingga kamu tidur lagi. Lantas bagaimana dengan ilmu bunda dan pendidikan tinggi bunda? Biarlah apa kata orang sayang, berpendidikan tinggi tapi hanya di rumah bersama kalian? Ilmu bunda ya buat kalian sayang, anak-anak bunda. Buat apa berpendidikan tinggi tapi tidak bisa menjadi ibu terbaik untuk kalian. Ah kalian, kalian hebat bisa membuat bunda seperti ini. Semoga Allah ridho untuk kita bertemu ya sayang, semoga kita sama-sama masih diberi umur untuk bertemu, saling menguatkan untuk menuju SurgaNya kelak. Bunda sayang kalian (calon) anak-anak bunda.
Rumah Biru part. 2
Assalamu’alaikum
Sudah beberapa hari ini tidak membuka “situs curhat” ini, sebenarnya dalam beberapa hari yang lalu pula ada banyak hal yang ingin ditulis disini. Namun sayang, hanya terlintas dan mengawang-awang saja di kepala karena tangan seolah enggan untuk bergerak.
Malam ini adalah hari ke sembilan untuk bulan ke enam dan semakin mendekati puasa, entah apa yang akan terjadi pada Ramdhan kali ini namun yang jelas tidak sabar untuk menunggunya. Tulisan kali ini bukan seputar Ramadhan, liburan, ataupun review hasil ujian akhir perkuliahan. Melainkan hari ini aku ingin bercerita tentang suatu film.
Yap, film ini berjudul “Doea Tanda Cinta” (re: Dua Tanda Cinta).
Sebenarnya saat itu tidak sengaja melihat suatu tayangan di salah satu televisi swasta yang mendatangkan bintang tamu dari pemain film ini. Dan saat melihat trailernya, belum sampai 10 detik melihatnya dalam hati langsung terbesit “Harus nonton”. Dan benar saja, malam harinya aku langsung ke bioskop menonton film ini.
“Lalu apa spesialnya film ini ?”
Bagiku film ini sangat spesial, lebih tepatnya sangat menggugahku untuk menontonya. Film ini bercerita tentang kehidupan dari taruna Angkatan Militer yang bertempat di Magelang, yang mana aku sering melihat mereka-mereka saat masih di Klaten. Disini diceritakan tentang tekad dan tujuan dari masing-masing Taruna yang berasal dari berbagai daerah. Ada dua taruna dari background dan tujuan yang berbeda yang ternyata jatuh hati pada gadis yang sama. Merekapun berlomba untuk menjadi lulusan terbaik, dan meminang gadis tersebut setelah lulus nanti. Dan dari situ timbullah konflik-konflik, hingga tiba saatnya mereka berperang melawan pemberontak. Sepanjang pemutaran film ini rasanya hanya ingin tersenyum, tertawa, menatap penuh harap, dan mengucap shalawat. (aku tahu untuk pernyataanku yang terakhir itu sangatlah berlebihan).
Tapi mau bagaimana lagi, pada tulisanku beberapa waktu lalu yang berjudulkan sama, Rumah Biru, disana aku menceritakan ketertarikanku pada pria berseragam khas itu. Dan sampai sekarang masih tetap sama. Mungkin terdengar konyol dan terlihat menyedihkan, seorang anak sedari kecil menganggap dan berharap kelak ada seorang pria berseragam yang menjemputnya dan akan hidup bersamanya. Mungkin dulu semasa aku kecil dan hingga saat ini terlalu sering melihat drama.
Bahkan hingga saat ini aku tanpa ditanyapun aku sering bercerita kepadaku bahwa kelak aku ingin memuliki pendamping pria angkatan. Sungguh, aku tak tahu malu. Yang membuatku malu adalah ketika diakhirnya nanti semua khayalan indah tak terwujud sama sekali dan malu lah yang menjadi kenyataanya.
Tapi aku tak pernah sekalipun menyalahkan keinginanku sendiri, selalu ada pembenaran untuk itu. Seperti hal yang kamu menyukai sesuatu, pasti kamuingin memilikinya kan ? sekali kamu suka, susah untuk merubahnya. Yang aku takutkan adalah aku menjadi orang yang terobsesi pada hal yang semu. Terlalu lelap dalam tidur, terjebak dalam suatu mimpi dan akan merasa sakit saat terbangun dari semuanya.
Selamat malam,
Wassalamu’alaikum
Suara : @dokterfina Cerita : @kurniawangunadi Backsound : Anonim
©Medan, 27 Mei 2015
MENANTI TULISANMU
Aku selalu menanti tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan bila tidak dari sana. Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam, hanya sebuah sapaan. Aku selalu menunggu tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang jalan pikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi, atau tentang perasaan yang sedang kamu rasakan. Meski tulisan itu tidak sepenuhnya mewakili perasaan, setidaknya aku tahu perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku cintai. Itu pun bila kamu mengijinkan.
Aku selalu membaca tulisanmu. Dari halaman satu hingga halaman yang aku yakin akan terus bertambah. Karena darimana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bila tidak dari sana. Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanmu. Aku harus menunggu sepi atau malam hari untuk bisa leluasa memandang layar dan membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari pikiran dan hatimu.
Aku menyukai cara jatuh cinta seperti ini. Tidak kamu tahu dan aku pun tidak harus repot-repot bertanya kesana kemari tentangmu hari ini. Teruslah menulis, karena suatu hari salah satu tulisanmu akan kuwujudkan. Tentang resahmu menunggu seseorang yang tak kamu tahu siapa, tapi kamu percaya pasti datang. Aku pasti datang.