Suatu waktu, saya bertemu dengan teman lama yang susah sekali ditemui. Orang yang sangat sibuk dengan segala aktivitasnya, biasanya saya hanya bisa melihat timeline media sosialnya. Melihat kegiatan terkini yang luar biasa, saya hanya bisa kagum dengan segala bentuk kebaikan yang dia lakukan.
Hari ini pasti hari baik karena saya memiliki kesempatan untuk sekedar duduk bersama dalam sebuah acara. Bisa saling bertanya kabar dan bertanya tentang kesibukan saat ini. Kalau bertemu dengan orang baik, selalu saja ada hal-hal yang bisa didapatkan, salah satunya adalah ilmu.
Saat saya bertanya apa kesibukannya saat ini, dia tersenyum dan menjawab. Sedang sibuk mempersiapkan kematian. Sementara saya menjawab kesibukan saya adalah bekerja di sebuah perusahaan dan segala bentuk proyek yang sedang saya kerjakan. Tentu saja, saya penasaran dengan jawabannya. Dan kebaikannya memberikan saya pemahaman baru, dia bersedia menjelaskan jawabannya.
“Kematian itu adalah hal terbaik untuk mengingatkan manusia pada kehidupan yang sebentar ini. Sesungguhnya kan, hidup ini serangkaian ujian. Di masa muda seperti ini, di tengah ramainya kegalauan yang memasal. Sedikit sekali yang mau bercerita tentang kematian. Semua orang sedang sibuk dengan membangun karir, mencari pasangan hidup, dan semua bentuk aktivitas yang sengat dunia sekali. Sampai pada satu titik, saya menyadari bahwa semua hal yang saya lakukan ini sebenarnya aktivitas menunggu kematian.
Saya tidak tahu kapan mati, mungkin besok, tidak pernah tahu. Maka, sejak saat itu saya meniatkan segala aktivitas ini adalah aktivitas terbaik untuk mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya. Menjadi orang baik, melakukan hal-hal baik, berbagi hal-hal baik, dan segala hal yang sekiranya bisa membuat kematian nanti menjadi hal yang penuh rasa syukur, bukan penyesalan.
Kalau kita sedang bekerja, maka niatkan pekerjaan itu beribadah dan melakukannya dengan kejujuran dan kebaikan. Kalau kita mati saat bekerja, insyaallah kita tidak menyesali waktu kita yang banyak habis di tempat bekerja. Begitu pula dengan aktivitas saat ini, saya selalu mencari peluang beribadah. Bagaimana saya bisa beribadah sambil melakukan semua hal ini.
Ibadah kan maknanya luas, tidak sebatas pada shalat, puasa, haji. Tapi juga bentuk kebaikan lainnya. Ibadah sosial maksud saya. Semoga, setiap aktivitas ini memberikan kebaikan tidak hanya diri saya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Saya sedih saat melihat orang berlomba-lomba memperkaya pahalanya, lupa untuk menolong orang lain agar bisa mendapatkan pahala juga dari setiap kebaikan yang dilakukan. Bayangkan, saat kamu melakukan kebaikan, yang mendapatkan pahala tidak hanya kamu, tapi kamu juga memudahkan orang lain untuk bisa mendapatkan pahala. Luar biasa kan?”
Saya berusaha memahami maksud kata-katanya, tidak bisa tidak setuju. Saya tersenyum karena selalu senang bertemu dengan orang baik. Selalu bisa merasakan kebaikan yang menyelimutinya dan bisa ikut mendapatkan kebaikan itu.
“Kamu sedang sibuk juga kan mencari pasangan? Semoga kamu dipertemukan dan disatukan dengan orang yang baik, kemudian membangun keluarga yang baik, melahirkan anak-anak yang baik, dan menjadikan keluargamu sebagai contoh kebaikan untuk keluarga lainnya. InsyaAllah. Dengan begitu, kamu sudah mempersiapkan kematianmu dengan cara yang benar,” ujarnya.
Saya mengaamiinkan doanya dalam hati, sambil tersenyum. Kami saling berpelukan sebelum berpisah. Semoga tetap istiqamah di jalan kebaikan ini. Saya segera pergi, ikut mempersiapkan kematian.
Rumah, 8 November 2015 | ©kurniawangunadi