Terima kasih sudah terus membersamai di tengah banyaknya hal yang tidak pasti.

Kiana Khansmith
sheepfilms
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Alisa U Zemlji Chuda
I'd rather be in outer space šø
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

oozey mess
hello vonnie

izzy's playlists!
One Nice Bug Per Day
RMH

@theartofmadeline
almost home
Cosimo Galluzzi
AnasAbdin
Peter Solarz

if i look back, i am lost
Show & Tell

#extradirty

Kaledo Art

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@yosanyo
Terima kasih sudah terus membersamai di tengah banyaknya hal yang tidak pasti.
Masa adik-adik kelas 12 keterima kuliah jalur undangan kayak sekarang bikin saya kembali ke tahun 2015 (#Tuaš) di mana saya galau banget mau pilih FTI ITB, Teknik Kimia UGM, atau Teknik Kimia UI. Kegalauan saya kemudian lenyap karena Bu Wiratni (Gampang galau, gampang ilang juga yes). Setelah 2 bulanan menimbang, akhirnya Bu Wiratni menjadi tie breaker buat pilih UGM daripada ITB (yang udah ada alumni persis 1 tingkat di atas) & UI (yang organisasi kedaerahannya super mendominasi). Kilas balik, pertama kali tahu Bu Wiratni pas kelas 12 SMA semester 1 jelas dari wordpress-nya. Lewat tulisan-tulisannya, saya bisa menyelami isi pikiran beliau sampai hobi nonton Glee-nya wkwk.
Sewaktu pilih UGM gara-gara Ibunya, agak takut sih karena kok penentu akhirnya malah individu (Alih-alih sistem/institusinya), tapi puji Tuhan Bu Wiratni di tulisan dan kehidupan nyata adalah satu kesatuan yang sama. Bener-bener definisi walk the talk yang sesungguhnya.
Gagasannya buat membumikan ilmu yang didapat berhasil mencuci otak mahasiswa naif seperti saya buat bergabung ke grup riset nanokitosan (Say hello ke mambu amis iwak selama 1 tahun) & sosmas BEM FT. Dua keputusan besar yang akhirnya bikin kuliah dan jam tidur 2015-2019 cukup berantakan. Menyesal? Jujur, enggak sama sekali karena pada akhirnya bener-bener belajar super banyak di dua tempat tadi.
Huft. Semoga ke manapun takdir membawa, saya bisa terus memberi manfaat kayak Bu Wiratni. Syukur bisa menggerakkan orang lain buat memberi kebermanfaatan juga šš»
Baca ini waktu fresh masuk inbox jujur bikin takut level 999, sekarang baca ini cuman bikin sedih aja, lebih mikir kok bisa ya ngetik begini ke anak kandung sendiri š
Sedikit kangen masa-masa Google Maps ini, waktu semuanya masih sederhana, dari bangun pagi, berangkat ke tempat KP - tanpa matkul -, pulang, hingga makan Gacoan.
Doa terbaik buat Apang. We love you, Pang.
day 3: wish I could erase all your pain and bring you home again.
What died didn't stay dead. You're alive, you're alive in my head ā¤
The most beautiful discovery true friends make is that they can grow separately without growing apart - Elisabeth Foley
Today, one of the most responsible people I know who also happen to be the kindest person on Earth had successfully defended his undergraduate thesis. I could not be more proud to hear this (even tho I rarely ask neither his progress nor his struggle in writing that 'thing'. Pardon me ya, Jak š) - again, congratulations, Riza A. Raafigani, S.Par. I wish you success in all your future endeavors š
Happy Old Year: Sebuah Pelajaran untuk Menerima, Memaafkan, & Melepaskan
Setelah berjibaku dengan analisis data dan pembuatan presentasi mingguan, saya memutuskan untuk mengapresiasi kemampuan kebut dua malam saya perjuangan saya dengan menonton Happy Old Year. Kenapa Happy Old Year? Jawabannya ada pada dua pemeran utama, Aokbab, aktris Thailand yang sukses di Bad Genius dan Sunny, aktor Thailand kocak yang kebanyakan filmnya selalu mengemas unsur lucu dan mengharu biru.
Happy Old Year ini bercerita tentang Jean, seorang desainer yang sangat menjunjung tinggi konsep minimalis dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-harinya. Hal ini kemudian membawa Jean masuk ke konflik yang lebih luas daripada sekadar kegiatan merapikan isi rumah lamanya guna diubah menjadi kantor barunya yang berkonsep minimalis. Selama kegiatan merapikan isi rumahnya inilah, Jean berjumpa dengan banyak barang-barang dari masa lalunya, baik yang membahagiakan atau menyakitkan. Awalnya, Jean ingin langsung membuang barang-barang itu begitu saja sampai akhirnya satu kejadian membawanya untukĀ āberdamaiā dengan masa lalunya melalui barang-barang itu, termasuk dengan keluarga, mantan pacarnya yang bernama Aim, dan teman-temannya.
Di luar alurnya yang terkesan lambat di awal hingga pertengahan film, Happy Old Year benar-benar berjalan dengan realistis. Realistis buat menyampaikan dan menampar penonton tentang kontrol diri dan intervensi dari orang lain buat menerima masa lalu, meminta maaf dan memaafkan, serta melepaskan hal-hal yang memang perlu dilepaskan.
Dari trailer-nya, saya pikir Happy Old Year bakal berjalan klise di mana Jean akan sadar dan meminta maaf pada Aim, Aim ternyata masih jatuh cinta dan menunggu Jean walaupun Aim sudah memiliki pacar bernama Mi, konflik pun terjadi di antara mereka bertiga dan diakhiri dengan terjalinnya hubungan Jean-Aim kembali. Ternyata, tidak semudah itu, pemirsa. Happy Old Year bercerita lebih jauh dari kisah cinta antara Jean, Aim, dan Mi. Film ini mengeksplorasi Jean dan Aim (sedikit Mi juga sih kalau boleh dibilang) dengan kondisi tercampakkannya Aim dalam hubungan Jean-Aim dahulu serta proses meminta maaf dan memaafkan yang terjadi di antara mereka. Tak ketinggalan, Happy Old Year juga bertutur kondisi yang mirip, tapi dalam lingkup keluarga Jean sendiri. Bagusnya lagi, Happy Old Year cukup berimbang menuturkan kondisi antara Jean-Aim dan Jean dengan keluarganya sendiri. Jadi, gak jomplang lah. Wkwkwk.
Aokbab yang berperan sebagai Jean juga sukses menampilkan Jean yang egois, ambisius, sensitif, serta rapuh. Sama halnya dengan Aokbab, Sunny yang terbiasa dengan peran gokil berhasil membawakan Aim yang cool dan menyimpan lukanya sendiri (Sumpah, tapi masih sedikit mau ngakak sih ngingat adegan di film-film kocaknya dahulu pas ngeliat dia di Happy Old Year) :))
Overall, Happy Old Year dan segala akhirnya yang menurut sebagian penontonĀ āagak gimana gituā lumayan memberi warna baru buat belajar soalĀ āberdamaiā dengan masa lalu yang tentunya selaluĀ easier said than done.
(Abis baca ulang, bahasa di ulasan ala-ala ini agak ribet ya. Tapi, bingung juga mau menyederhanakannya kayak gimana karena takut bakalĀ spoiler wkwkwk)
Tugas Prarancangan Pabrik Kimia: Sebuah Masa Penuh Air Mata dan Canda Tawa
Berawal dari archive Instagram yang menunjukkan betapa tertekannya saya saat mengerjakan T5 (semacam tahapan kelima dalam penyusunan tugas prarancangan pabrik kimia a.k.a. skripsi saya) di Montana sana, saya bermaksud me-recall semua jenis memori bahagia dan nestapa saat mengerjakan tugas akhir saya ini. Fyi. Saya mengerjakan TPPK ini bersama rekan saya, Jonathan Kent Sorensen di bawah bimbingan dosen serba pengertian, Pak Kompiang (Ya Allah, kalau bukan Pak Kompiang, entah saya dan Jon bakal lulus kapan wkwkwk)
Untuk informasi, tahapan pengerjaan tugas prarancangan pabrik kimia saya secara singkat kira-kira seperti ini: T2 Ā Ā Ā Ā : Preliminary Feasibility Study T3 Ā Ā Ā Ā : Preliminary Process Design T4a Ā Ā Ā : Equipment Design (Quick Calculation for All Equipment) T4b Ā Ā Ā : Equipment Design (Detail Calculation for Selected Equipment) T5 Ā Ā Ā Ā : Utility T6 Ā Ā Ā Ā : SHE and Process Control T7 Ā Ā Ā Ā : Management and Economics āDari 6 tahap yang mending yang mana, San?ā āGAK ADAā #DigamparPakKompiang Jadi, berdasarkan undian, saya dan Jon akhirnya dapat judul āPrarancangan Pabrik Dietil Malonat dari Natrium Malonat dan Etanol dengan Kapasitas 8.000 ton/tahunā. Pas dapat judulnya, agak sujud syukur sih karena reaksinya cukup mudah. Tapi, kemudian sadar kalau proses purifikasi produk pascareaksinya bakal ngehe (dan emang ngehe beneran sih misahin produk reaksinya pakai tiga menara distilasi) Kami memulai dengan cukup mulus di T2 walaupun sempat semingguan āLDRā karena Jon mewakili tim lomba kami di UI ke Korea Selatan buat presentasi Greenpreneurs. Kebiasaan kami buat ngikutin lomba berbau ekonomi juga bikin riset pasar dan penentuan kapasitas pabrik di T2 ini kayak kedip mata #CeritanyaSombong. Setelah tahap awal yang mulus, kami lumayan tersendat di T3 karena beberapa proses produksi, variasi kemungkinan katalis, dan kondisi operasi yang kok ya gak ada yang optimal-optimal banget waktu dihitung. Waktu udah milih nih proses buat produksinya dan mulai ngitung neraca massa dan neraca panas di pabrik, kami pun menyadari kalau salah satu komponen pelarutnya salah. Dampaknya apa? Ngulang dah semua dari awal (Azab manusia congkak kayaknya LOL). Singkat cerita, setelah mengulang dan review ulang segala hal tentang proses produksi dietil malonat, kami pun masih bisa menyelesaikan T3 sebelum waktu yang ditentukan (Fyi lagi. Berbeda dengan program studi lain di mana skripsi semacam fleksibel, di Teknik Kimia UGM, keenam tahap TPPK ini punya batas waktu masing-masing yang mana kalau terlambat bakal ada pengurangan yang cukup signifikan)Ā Lepas dari T3, saya dan Jon pun melakukan kerja praktik di Mojokerto sekaligus mengerjakan T4a. Di tahap ini, saya sudah mengetahui kalau saya bakal mengikuti YSEALI di Montana dan kami pun berusaha membagi beban pekerjaan seefisien mungkin, sehingga sisa pekerjaan yang harus dilakukan ketika āLDRā tidak terlalu banyak. Namun, di tengah pengerjaan T4a dengan alat yang jumlahnya sebanyak pasir di pantai dan bintang di langit, Jon tiba-tiba dapat kabar kalau lolos program Write to China selama 5 minggu (kalau gak salah). Timeline pengerjaan pun semakin diperketat karena keberangkatan Jon ke China dan saya ke Amerika Serikat lumayan berdekatan. Satu hal lain yang saya syukuri ketika pengerjaan T4a ini ā selain betapa pengertian dan mengayominya Pak Kompiang ā adalah ketidakribetan tugas kerja praktik beserta pembimbing saya, Pak Rochim dan Ko Darwin. Terima kasih, Bapak-bapak! Setelah kerja praktik selesai di akhir Februari, Jon pun berangkat ke China dengan telah terkumpulnya T4a dan progress T4b yang hampir selesai. Sisa dari T4b yang belum pun akhirnya saya lanjutkan dan puji Tuhan kami masih belum mengalami keterlambatan pengumpulan walaupun acc dari Pak Kompiang didapat beberapa jam sebelum beliau berangkat ke Jerman. Lepas dari T4b, saya pun berangkat ke USA. Ketika saya di USA dan Jon di China inilah, pengerjaan TPPK agak berhenti wkwk. Saya dan Jon memang merencanakan untuk terlambat mengumpulkan T5 karena padatnya aktivitas kami di program masing-masing. Well. Sejujurnya, YSEALI memberikan waktu bebas selepas pukul 17.30 di weekdays dan bahkan weekend yang kosong melompong. Namun, banyak dari waktu tersebut saya gunakan untuk mengerjakan project untuk dipresentasikan di akhir YSEALI maupun jalan-jalan buat tahu Kota Missoula. Singkat cerita, T5 yang membahas utilitas; air pabrik saya dari mana dan diproses seperti apa hingga kebutuhan energi serta proses untuk menghasilkannya akhirnya berhasil dikumpulkan Jon ketika saya masih di USA walaupun sedikit terlambat dan saya āberdarah-darahā memotong waktu tidur karena hanya itu satu-satunya waktu supaya T5 tetap terselesaikan dan aktivitas refreshing saya buat melihat Kota Missoula dapat dilaksanakan.
Macam mana mau garap T5 kalau bentukan Kota Missoula-nya gini :)) #DigamparPakePerry Setelah T5, saya dan Jon mengerjakan T6 bersama-sama di Yogyakarta. Ketika saya pulang, T6 sudah hampir selesai. Sumpah, thank to Jon yang super pengertian, sehingga UTS susulan saya lumayan tidak terganggu buat mengerjakan T6 dari awal. Di T6 ini, selain laporan tertulis yang membahas aspek safety dan lingkungan, seperti pencegahan proses reaksi tidak berjalan sebagaimana mestinya hingga pengolahan limbah, kami wajib melakukan ujian lisan dengan Pak Imam. Layaknya kelompok kebanyakan, saya dan Jon pun lumayan āterbantaiā. Wkwkwk.
Ilustrasi Yosan dan Jon waktu ujian lisan T6 #DamnItsTrue (Berani bikin ginian karena dah lulus LOL)
Mengingat Jon sudah banyak mengerjakan T6 daripada saya, saya yang tahu diri pun āgantianā mengerjakan T7 lebih banyak. So far, T7 ini tahapan paling gampang sih. Isinya bahas soal struktur organisasi di pabrik, jumlah karyawan, dan parameter keseksian ekonomi pabrik kayak ROI, POT, BEP, dan DCFFR. Selain itu, data-data dan proses pengerjaannya terkoneksi di Excel, sehingga kalau revisi satu variabel, gak susah-susah amat buat krosceknya. Terus udahan abis T7? Enggak juga. Wkwkwk. Lepas dari T7 ini malah adalah tahap krusial buat āmenebusā dosa-dosa dari T2-T7 di naskah pendadaran. Segala dosa angka ajaib dan simplifikasi proses yang berlebihan di tahap-tahap sebelumnya wajib hukumnya buat di-upgrade kalau gak mau terbantai di pendadaran (yang udah upgrade aja tetap terbantai, apalagi yang enggak wkwk) Akhirnya, setelah naskah pendadaran beres, my baby yang dikandung selama 8 bulan resmi lahir kayak di bawah ini.Ā
Hah. Setelah diingat, proses pengerjaan TPPK ini lumayan melelahkan juga. Selain dipenuhi air mata (saya benar-benar nangis karena pusing garap T5), perjalanan TPPK ini juga dipenuhi canda tawa akibat hasil perhitungan yang tidak wajar kayak tinggi reaktor 1.100-an meter. Wkwkwk. Akhir kata, terima kasih TPPK sudah menjadi delapan bulan penuh pembelajaran. [PS: Mari kita mengenang, tapi jangan pernah mengulang :ā) ]
Blessed to have them in my life. Till we meet again, guys! š¤ø
Akhir Desember 2019 kemarin adalah masa-masa tergila dalam hidup saya. Keuangan keluarga benar-benar terpuruk karena satu masalah. Di satu sisi, saya harus memulai pekerjaan penuh waktu saya di Jakarta. Berlomba dengan waktu, saya berusaha memutuskan solusi terbaik sebelum saya berangkat ke Jakarta. Saya nyaris menyerah tiga kali di masa-masa itu. Kalau bukan karena banyaknya orang baik di sekeliling saya, saya mungkin sudah gagal melewati itu semua. Entah sudah berapa kali saya mendadak menelepon di tengah malam untuk curhat atau sesederhana untuk nangis tanpa pembicaraan yang berarti. Pun, entah berapa banyak konsultasi hukum tak berbayar yang telah diberikan salah satu ayah teman saya kepada saya. Dan tentunya doa dan dukungan dari mereka turut membantu saya melewati masa-masa gelap itu. Lalu, ketika peralihan ke usia dua puluh tiga ini turut mereka rayakan, saya benar-benar gak habis pikir betapa baiknya manusia-manusia ini. Dibantu bertahan sampai hari ini saja menurut saya sudah lebih dari cukup, apalagi sampai diberi nikmat tambahan buat bersama merayakan dan juga kado kalian yang gak pernah saya bayangkan. Dear teman-teman, baik yang ada di foto atau tidak, terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua. Jangan pernah bosan mendengar terima kasih lagi dan lagi dari saya ya. I love you, guys!
Saya rasanya mbrebes mili terus tiap ingat betapa orang-orang ini selalu meminjamkan telinga hingga mengulurkan tangannya dengan tulus setiap saya membutuhkan bantuan. Waktu POTK saya gak lulus di semester lima, saya minder sekali. Hampir separuh semester rasanya iri dan rendah diri. Tapi, bantuan dan dukungan mereka bikin saya bisa menghadapi teknik kimia sampai menyelesaikannya Agustus kemarin. Masih ingat juga gimana waktu awal 2018 saya mendadak typhus dan bermodal chat 'Asli dah mau pingsan gaes' di grup, Wisnu dan Dhimas langsung nonggol di kosan dan bawa saya ke Bethesda. Pun, sampai di sana, berdelapan udah kumpul dan ngurus administrasi rumah sakit saya. Dhimas bahkan sampai nginap di malam pertama sebelum keluarga saya datang. Masih ingat juga gimana Damar doa buat saya biar cepat sembuh karena emang semester baru bakal dimulai gak lama. Saya kadang ngerasa 'gak pantas' bisa berteman dengan mereka. Kadang ngerasa kok jatuhnya saya selalu merepotkan mereka. Signifikansi saya ke mereka kayaknya jauh lebih rendah kalau diukur pakai kacamata manusia. Sekarang, saat masalah yang datang jauh lebih sulit berkali-kali lipat, orang-orang ini masih tetap ada buat bantu saya. Saya gak tahu harus berterima kasih apa lagi ke mereka. Saya gak bakal lupa bantuan tumpangan tempat tinggal, kesediaan kalian buat diganggu tengah malam waktu saya gak stabil, pinjaman uang, bantuan konsultasi hukum, hingga sesederhana doa di personal chat yang menguatkan saya di waktu-waktu sekarang. Kiranya Tuhan terus membuka pintu berkat, baik jasmani maupun rohani buat kalian. Terima kasih, OSAS.
They say you have to lose everything before you can really find yourself.
Glee 6x01
Yosan Sepuluh Tahun Terakhir
Mari mengenang hal-hal yang sudah diizinkan Tuhan buat jadi bahan bersyukur selama 10 tahun terakhir.
2010 | Satu setengah tahun sejak Mamah dan Papah bercerai. Keadaan keluarga di segala aspek mulai membaik dan stabil. Bersyukur bisa dapat beasiswa 'uang gedung' di SMP yang sedikit-banyak membantu keuangan keluarga saat itu.
2011 | Pacaran pertama. Pertama kali motoran ke luar kota buat nemenin mantan memenuhi ngidamnya akan bakso (Oke ini apaan ya?!). Titik balik buat jadi Yosan Zaman SD yang ambis. Berawal dari jadi panitia wisuda SMP dan ngeliat kakak kelas yang dapat nilai 100 atau 3 besar paralel dipanggil pertama buat wisuda, saya akhirnya mulai belajar bener biar bisa kasih kado ke Mamah di akhir SMP.
2012 | UN lancar. Gak 3 besar, tapi dapat 100 di matematika. Ngeliat Mamah sebangga itu anaknya yang doyan main ke sana-sini bisa tanggung jawab sedikit juga dalam hal belajar. Tahun transisi dari SMP Katolik swasta ke SMA negeri. Agak kikuk, tapi akhirnya bersyukur banget dapat teman-teman yang suportif.
2013 | Mulai nulis karya ilmiah remaja. Ikut beberapa lomba tingkat provinsi dan nasional. Jatuh cinta sama teman sekelas, tapi gak lanjut karena beda agama (Eh gimana?! Jadi curhat). Bergabung di ECC dan belajar Inggris yang bener dan gratis di sini. Thank you, Kak Ubil, Kak Chanif, Kak Fajar, dan Kak Indra.
2014 | Jadi ketua paduan suara di SMA. Stress dan hampir nangis tiap malam karena ekspektasi harus menang di kejuaraan regional. Padahal, di satu sisi, teman seangkatan yang potensial banyak ditarik ekstrakurikuler lain dan adik angkatan banyak yang ogah-ogahan. Nangis bareng PROSCHISA15 setelah tahu dapat juara 1 dan dirigen terbaik.
2015 | Mulai galau akibat bingung memilih Bandung atau Yogyakarta sebagai tempat belajar berikutnya. Akhirnya, saya memilih Yogyakarta dan syukurlah gak menyesal sama sekali. Tahun pertama merantau dan jadi mandiri secara total. Awalnya susah. Kadang ngerasa kangen rumah dan malas ngurusin perkakas dan barang pribadi di kamar. Namun, dengan sedikit keterpaksaan akan kemandirian dan bantuan teman SMANSAXUGM serta Salix yang suportif, Yosan masih bisa bernapas hingga akhir 2015 ini.
2016 | Jatuh cinta sama GTM dan Sosmas BEM KMFT! Semangat banget ngelakuin hal yang paling dibenci, bangun pagi di Minggu pagi demi ketemu adik-adik lucu di GTM. Tahun dengan semester di mana saya dapat IPK terendah (Thanks to Matematika Teknik Kimia). Fyi, udah diulang di semester lima pun, nilai MTK tetap jelek juga woy. Wkwk. Nangis di kosan Pipit selama dua setengah jam akibat ditinggalkan seseorang juga terjadi di tahun ini.
2017 | Proyekan pertama sama dosen. Pergi ke luar negeri pertama kali juga. Berkesempatan magang di Nutrifood dan belajar banyak hal baru. Lolos XL Future Leaders juga yang jadi tempat mengeksplorasi diri lebih jauh lagi. Namun, 2017 juga jadi titik terpusing di tekkim akibat gak lolos POTK. Merasa minder dan tertinggal dari teman-teman lain kalau boleh jujur. Dan puji Tuhan lagi, punya OSAS dan banyak lagi yang menyemangati supaya balik jadi Yosan yang dulu lagi.
2018 | Melaksanakan KKN dan mulai skripsian. Dapat kesempatan konferensi ke Chulalongkorn University dan takjub banget sama indahnya Bangkok. Akhir tahun sempat panik karena ditolak tempat kerja praktik pilihan pertama. Namun, syukurlah dapat juga tempat kerja praktik di menit-menit terakhir walaupun bukan di tempat dengan jenis industri yang diingini.
2019 | Dapat kesempatan belajar ke Negeri Paman Sam lewat YSEALI. Menyelesaikan laporan penelitian, kerja praktik, dan prarancangan pabrik di US sana. Sempat pasrah kalau gak lulus Agustus karena tunggakan T5 dan mepetnya pengerjaan T6 dan T7. Bersyukur akhirnya bisa sidang Juli dan tetap wisuda Agustus walaupun badan dan pikiran capek setengah mati waktu Mei sampai Juli. Bisa wisuda dengan bahagia sekaligus jadi sarjana pertama di keluarga besar Mamah. Akhir tahunnya, saya kembali merantau dan bercengkerama dengan suka-duka Ibukota.
Nulis hal-hal di atas buat diri ini bersyukur sekali selama 10 tahun terakhir bisa belajar banyak hal. Semoga 2020 dan seterusnya bisa terus dikuatkan menghadapi berbagai tantangan ya, buat saya maupun kita semua!
I rarely mention these lovely guys tho their presence has always been there since day one of smansa. Thank you STM for accompanying me throughout all the joy and sorrow happen in our first year of high school. Looking forward to hearing some good news from you all! š