Aku pernah merasa iri. Pada setiap sesuatu yang orang lain mudah mendapatkan, namun aku sulit memiliki. Satu hal yang mungkin aku menyerah untuk dapatkan adalah mencari orang yang mampu mengerti. Tidak, kali ini aku tidak membicarakan soal kekasih. Lebih kompleks dari itu. Memang benar kekasih termasuk kedalamnya, tapi kali ini mungkin lebih ke orang terdekat. Teman pun harusnya termasuk. Aku adalah sosok orang yang tidak memiliki banyak teman. Tolong bedakan mana teman mana kenalan. Teman itu ngobrol, kenalan hanya menyapa. Sahabat, itu teman yang tanpa perhitungan. Kekasih, orang yang bisa jadi mau dan mampu mengerti 24/7. Memang sih, semakin dewasa umur itu lingkup pertemanan juga sewajarnya mengecil. Ya meski tidak semua orang mengalami, tapi menurutku sewajarnya kecil. Dalam lingkup pertemananku sekarang, aku cuma punya seorang sahabat saja. Ya, hanya satu. Yang apabila ini orang pergi, aku mungkin hanya bisa duduk diam tak berkespresi karena sudah tidak tau lagi harus bagaimana. Kami belum 10 tahun berkenalan, tapi rasanya cuma sama dia aku bisa ngobrolin apapun. Agama, politik, jokes, film, dan hal lain yang mungkin kalau dibahas dengan orang lain akan menjadi tabu dan berbahaya. Selain itu, ada beberapa teman yang jumlahnya tak sampai menghabiskan jumlah jari tangan. Jumlah sedikit pada dasarnya tidak masalah. Sebisa mungkin ku jaga dengan sepenuh hati. Ya, kali ini aku menggunakan hati untuk menjaganya. Meski pada akhirnya iri juga ketika melihat ada orang yang bahagia memiliki banyak teman di sekelilingnya. Aku nggak peduli yang kulihat itu berteman fake atau nggak, yang jelas aku sering berandai dalam posisi itu. Enak sih sepertinya. Pengen pula rasanya punya geng yang terdiri dari lebih dari 3 orang atau lebih, yang bertahan awet keep contact sampai detik ini tanpa terbatas oleh pasangan. Aku mengerti dalam posisi yang sekarang, sepertinya susah karena pada umumnya seusia segini orang sudah sibuk dengan urusan keluarganya. Aku belum relate karena belum berkeluarga, dan aku yakin sebenernya bisa aja kok punya geng pertemanan meski sudah berkeluarga. Aku tau ada orang lain bisa, kenapa aku tidak bisa ya? Ah mungkin itu karena kemauan yang nggak mau. Aku dulu pernah punya geng sih, tapi semua berubah ketika berkeluarga. Nggak cuma sekali, tapi beberapa kali. Tapi ya sudah kan, asal teman - teman ini bahagia, aku juga bahagia pasti. Ini sungguh. Mungkin akan terdengar klise, tapi untuk hal ini aku bersungguh-sungguh. Kata seorang teman padaku, kehilangan teman itu adalah salah satu siklus hidup yang pasti terjadi. Akupun mengamini dan mengerti. Karena pada dasarnya itu bukan kesalahan. Aku sendiri mencoba menganalisa, kenapa orang semacem aku ini nggak punya banyak teman. Alasan pertama yang bisa kutemukan adalah aku adalah orang yang susah percaya dengan orang lain. Banyak hal yang terjadi dan tentu mengecewakan bahkan traumatis. Itu yang membuat percaya pada orang baru itu susah. Tapi, sekalinya ngasih kepercayaan bakal full. Makanya nggak sering juga aku dimanfaatkan orang lain. Aku nggak menyesali itu semua, karena ya aku bersyukur punya teman. Alasan kedua yang bisa aku temukan adalah aku orang yang random. Random dalam hal ini artinya nggak banyak orang yang mau dan mampu mengerti pola pikir yang aku punya. Nggak jarang juga dibilang aneh dan faktanya beberapa teman yang aku punya ya sama - sama random. Ibarat setan pasti bergaul juga sama setan lain. Alesan ketiga dan mungkin menjadi alesan terakhir yang bisa aku temukan adalah, aku nggak terlalu pede membuka obrolan dengan orang baru. Aneh kan ya, pengen punya banyak teman tapi nggak pede nyapa duluan. Ya, aku sadar kalo aneh. Maunya orang dulu yang nyapa, tapi kadang kalo disapa orang bingung jawabnya gimana. Ah elah, aku juga bingung lama - lama. Anyway, aku ini adalah tipe orang yang suka mendengarkan orang ngomong. Mendengar orang cerita adalah salah satu hobi. Karena dengan mendengarkan cerita, banyak hal baru yang bisa dipelajari. Terkadang bisa jadi inspirasi menulis. Eh bukan terkadang, tapi sering. Banyak ide nulis yang muncul dari mendengarkan cerita orang. Dengan mendengar, aku bisa merasa healing dari penatnya hidup. Meski yang diceritakan bukan selalu hal - hal manis tentu saja. Satu hal lagi yang menjadi sangat menyenangkan mendengar cerita adalah, dengan bercerita padaku rasanya orang tersebut sudah mempercayakan aku untuk jadi tempat bercerita. Orang itu perlu percaya dulu, baru mau bercerita panjang lebar. Ini yang kumaksud adalah cerita yang heart to heart ya, bukan cerita semacam mau pamer sesuatu atau cerita omong kosong. Sangat menyenangkan dan memberi kebahagiaan buatku pribadi. Jika ada yang bertanya apakah aku pernah merasa capek atau keberatan mendengar cerita, sejujurnya tidak pernah. Sama halnya kayak makan, mana ada orang yang bosen makan. Bukan bosen menu makanannya tapi lebih ke makan itu sendiri. Sepertinya cukup sekian curhatku. Mungkin ini bakal jadi curhatan personal pertama dan terakhirku karena bisa aja nanti bakal kuhapus jika sudah waktunya. Oh ya, niatnya disini aku cuma curhat ya. Nggak minta dikasihani atau apa. Nggak perlu. Im fine. Ciao.