Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal. Mari benar-benar saling melepaskan. Semoga berbahagia, walau tak kupungkiri ada sedikit ingin agar kau merasa sakit seperti saat aku bersamamu dulu.
Maafkan lukaku.

@theartofmadeline
d e v o n
noise dept.

Janaina Medeiros
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

⁂

Product Placement

祝日 / Permanent Vacation
Jules of Nature
tumblr dot com
Monterey Bay Aquarium

No title available

JBB: An Artblog!
No title available
h
Mike Driver
taylor price
Cosmic Funnies

No title available
hello vonnie
seen from Italy
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Uzbekistan

seen from Singapore

seen from Brazil

seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from T1
seen from Brunei
@yovitaulia
Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal. Mari benar-benar saling melepaskan. Semoga berbahagia, walau tak kupungkiri ada sedikit ingin agar kau merasa sakit seperti saat aku bersamamu dulu.
Maafkan lukaku.
Yang sulit itu bukan perpisahan, tapi merapikan kenangan dan segala kebiasaan.
— yovitaulia
Seringkali, berkali-kali, aku salah menjatuhkan hati. Aku pikir sudah pulang, ternyata hanya singgah. Aku pikir telah menemukan rumah, ternyata hanya beristirahat sementara. Denganmu aku tak ingin banyak berharap pada awalnya, lalu kini kau buat aku berdoa, mengucap satu kalimat. Satu kalimat saja yang penuh harap di tengah putus asa.
"Mudah-mudahan memang dia orangnya."
Teras rumahku menjadi saksi atas tangis kita, di dua waktu yang berbeda, dengan dua alasan yang berbeda. Aku saat bahagia dan disakitimu, kamu saat tak sanggup menerima keputusan finalku.
Aku tidak menyesali apapun. Kehadiranmu memberikan pelajaran, kepergianmu membukakan kesempatan.
tak apa jika ingin menyesal karena ternyata selama ini bisa jadi kamu hanya buang-buang waktu. tapi cukup satu minggu. setelahnya, kembangkan sayapmu sendiri, tak usah menantinya tuk terbang bersama. kelak kau terbang, bersinar dengan cahayamu sendiri. yang terbaik kan datang, entah ia atau bukan, tak usah pikirkan. untuk sekarang, melangkahlah saja ke depan.
biar hanya sajadah yang tau, seberapa banyak doa untukmu kusebut di tengah segala air mata. mudah-mudahan Tuhan tak bosan.
mudah-mudahan aku tak salah (lagi).
mungkin, kamu ditinggalkan karena terlalu sering menuruti inginnya. sehingga menurutnya, kamu tak lagi ada. kamu bukan lagi kamu yang sama seperti dulu dikenalnya.
sudahlah. kadang kita disalahkan hanya karena terlalu sayang.
Tak perlu mengejar-ngejar yang ingin berlari pergi, dan tak perlu pula menunggu yang memilih berhenti. Kecuali kita memang bahagia menyia-nyiakan waktu.
Sebab teman perjalanan yang sesungguhnya menyenangkan adalah mereka yang tak hobi menebar alasan demi alasan.
Ada waktunya kita perlu kejam mengajarkan diri sendiri untuk merengkuh dengan berani sebuah konsekuensi. Jika kita paham bahwa tujuannya memang benar-benar tak lagi sejalan, memilih beranjak bisa jadi adalah keputusan terbijak.
(via jalansaja)
Siapa sangka suatu hari saya bisa kembali ke titik ini; Membenci pagi.
Sejak kau pergi.
Pergilah. Aku tak apa. Sebab sebelum kau ada, Langkah kaki memang sudah terbiasa.
Sendirian.
Ada seseorang yang merelakan dunianya mati sejak kau tinggal pergi. Hanya untuk membiarkanmu menari di duniamu sendiri.
Aku.
"si A sekarang kerjanya anu loh" "eh si B udah nikah loh, suaminya anu" "si C sekarang begini loh" terus? biarkan saja mereka dengan profesinya, dengan kehidupannya, dengan segala pencapaian yang sudah mereka dapat. kamu? sudah jadi apa? sudah jadi orang yang bisanya hanya berkomentar? jangan mau kalah, ayo lebarkan sayap! ayo berkembang menjadi lebih baik. setidaknya seperti kupu-kupu, sempat indah sebelum mati.
Ayolah.
Ayah dan Pipa Rokok
Jam pulang kerja, lapar dan macet. Sungguh bukan kombinasi yang pas. Tapi aku, yang tidak punya pilihan, hanya bisa terduduk pasrah di dalam angkot yang juga pasrah menghadapi kemacetan jalan. Mataku asyik memperhatikan apapun di sekitar. Ya, apapun. Mulai dari bapak-bapak penumpang yang tertidur di pojokan. Ah, pasti ia begitu lelah seharian bekerja. Ada juga siswa SMA yang asyik memainkan handphone sambil memeluk ranselnya. Sisa kursi angkot yang kosong diisi oleh beberapa perempuan sebayaku yang juga baru pulang bekerja. Bosan memperhatikan sesama penumpang --dan juga karena takut dicurigai sebagai pencuri-- aku mulai memperhatikan dunia di luar angkot yang ku tumpangi. Beberapa bapak berdiri, menjajakan dagangan mereka. Mulai dari minuman dingin sampai makanan ringan. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu pedagang. Bapak pedagang ini terus berjalan sambil menawarkan barang jualannya. Yang membuatku terkesan adalah apa yang ia jual, bukan sekedar makanan seperti biasa. Bapak ini menjual pipa untuk menyimpan rokok. Pipa rokok yang mungkin sekali adalah ciptaannya sendiri. Aku tertegun. Betapa barang sesederhana pipa rokok bisa membuatku teringat begitu jelas pada sosok lelaki yang suka merokok menggunakan pipa : Ayah. Ayah, lelaki yang membiarkanku duduk di pangkuannya semasa kecil, membiarkanku bermain dengan asap rokoknya yang tak bisa kutangkap. Ayah, yang begitu perfeksionis, memasang standar yang begitu tinggi terhadapku, yang menjadikanku sosok yang juga perfeksionis. Ayah, lelaki yang sejak ku kecil selalu kuingatkan tuk berhenti merokok, tapi tak pernah berhasil. dan Ayahlah, lelaki yang kukenal suka merokok menggunakan pipa. Aku masih ingat, seakan baru kemarin, bagaimana ia duduk di teras rumah kami, membaca buku sambil merokok menggunakan pipanya yang berwarna gading. Ah, mengapa saat kau masih disisi begitu banyak sakit hati? Sungguh, andai ku tahu waktuku tak banyak, takkan mau ku pertahankan ego dalam diri. Ayah, melihat Bapak penjual pipa rokok itu, betapa ingin aku membelikannya satu untukmu. Membayangkan kau akan tertawa saat ku pulang dan membawanya untukmu. Membayangkan kau merokok dengan pipa yang ku belikan, yang biasanya selalu kau sambut dengan senang. Tapi kau sudah tak ada, Yah. Untuk apa ku beli pipa rokok? Takkan pernah lagi kudapatkan engkau membaca buku sambil merokok di teras rumah kita. Ayah, semua adalah suratan, tak boleh ada pertanyaan. Sungguh yang ku sesali bukan pergimu, tapi kedurhakaanku. Hingga kini, yang bisa kulakukan hanya menyesali keegoisan. Atas nama sakit hati dan luka lama. Ayah.... Gara-gara pedagang pipa rokok itu, mataku tiba-tiba panas. Padahal perjalanan masih jauh menuju rumah. Bogor, 29 April 2016 20.15 WIB untuk Ayah (1964-2013) Al-Fatihah...
ini quote of the day, the month, the year. banget. like seriously, yang kamu liat dia ketawa ketika kamu bilang dia gendut. yang kamu liat dia bales becanda. deep inside? she feels so insecure with herself. dia merasa ngga nyaman, ngga pede sampe akhirnya ngga bahagia sama dirinya sendiri. itu efek dari yg kamu sebut "yaelah, becanda doang kali" well, buat dia, itu lebih dari sekedar becanda. pernah denger kasus orang-orang yang anorexia dan latar belakangnya? kebayang ngga kalau orang terdekat kamu yang mengalami? tega? stop called her fat just because you want to make yourself feel better.
kau baru saja memintaku pergi. bedanya, aku kali ini memilih tak menahan diri. aku putuskan melangkah pergi, tanpa tau apakah mungkin aku kembali. cinta bukannya begitu saja mati, tapi karena sadar, ada hati yang perlu baik-baik dijaga karena ia hampir mati.
@yovitaulia
ketika percakapan mulai terasa dingin. dan langkah seperti tak teriring. haruskah terus menutup mata? kau jelas tak lagi sama. Tuan, haruskah pergi? masihkah ingin kau disini? aku sungguh tak ingin mengakhiri, tapi jika bahagiamu bukan lagi denganku disisi, lalu apa guna aku tetap disisi kiri?
@yovitaulia
tolong ingatkan aku, bagaimana caranya tetap yakin dan bertahan ketika keraguan begitu kuat mengguncang.
@yovitaulia