[Gerakan Kosong] Kita terbiasa hidup dengan menaruh harapan-harapan tinggi atas sesuatu yang ingin kita capai atau lakukan. Berharap teman-teman yang baik, harta tak kekurangan, keluarga yang selalu suportif, atau bahkan mungkin pasangan yang sempurna tanpa cela. Harapan-harapan itu terkadang membuat kita lupa hal-hal combrang dari diri kita yang butuh banyak ditambal. Bagi Dzat yang Maha Kuasa dalam menjawab harapan-harapan, apakah diri kita sudah pantas mendapatkan?
Dalam paling tidak 5 kali kesempatan berdialog dengan-Nya sehari semalam, kerap kali kita hanya mempersembahkan gerakan-gerakan kosong yang bahkan kita sendiri lupa hendak sujud keberapa. Seolah di dalamnya, kita memohon kehidupan yang serba baik, namun berkata sambil berpaling muka. Hati dan pikiran seperti susah ditarik untuk dihadirkan ke dalam setiap gerakan dan bacaan kita yang dari luar terlihat begitu khidmat. Bagaimana tidak, keduanya sudah begitu terpaut dengan harapan-harapan duniawi yang kita pikir hanya kita yang punya kuasa untuk mewujudkannya. Akhirnya, kita tersibukkan untuk memikirkan bagaimana agar semua itu tercapai.
Dalam shalat, setiap rukuk dan sujud adalah bentuk pengagungan Sang Khaliq sekaligus pengakuan diri bahwa kita tidak memiliki daya apa-apa kecuali atas izin-Nya. Dalam shalat, setiap gerakan disertai bacaan-bacaan yang merupakan dzikir sekaligus panjatan-panjatan doa. Jika hati dan pikiran tidak hadir di dalamnya, akankah esensi shalat dapat tertunaikan? Atau jangan-jangan, selama puluhan tahun kesempatan hidup yang diberikan kepada kita, sebagian besar hanya terisi oleh gerakan-gerakan kosong tanpa makna?
Relasi terdekat seorang hamba dengan penciptanya tercipta dalam waktu-waktu shalat. Namun jangan sampai kita berada dalam kondisi tak lagi berdaya baru kembali merindukan shalat yang sempurna.












