Nyaris !!!
“Ya ampun selangkah lagi.”
“Ih sedikit lagi itu mah.”
Pernah gak kalian mengalami momen-momen seperti itu? Saya menyebutnya sebagai momen nyaris. Momen dimana kita merasa sangat dekat dengan sesuatu yang kita inginkan ataupun yang sedang kita usahakan, tapi kemudian kita tidak berhasil mendapatkannya. Momen nyaris ini mengingatkan saya pada 3 cerita. Cerita pertama merupakan kisah teman kampus saya, yang kedua cerita dalam salah satu novel yang pernah saya baca, dan yang terakhir cerita saya sendiri.
Siang itu sekretaris prodi saya mengumumkan sesuatu pada saat acara sosialisasi penulisan jurnal.
“Duh kamu sayang sekali Menik. Kamu hanya kurang sedikit lagi untuk mencapai cum laude. Sedikit lagi ya, tapi sudahlah gak ada yang perlu disesali.”
Menik, teman satu prodi saya, punya IPK 3.50 di akhir masa studinya. Hanya kurang 0,01. Nyaris saja dia dapat predikat cum laude. Saya tidak tahu bagaimana perasaan dia saat itu. Sedih kah? Menyesal kah? atau biasa saja kah? Entahlah.
Lain lagi cerita Alif dalam novel Ranah Tiga Warna. Nyaris saja ia merasa bisa berjodoh dengan Raisa, perempuan yang selama ini menyita perhatiannya. Di hari wisuda mereka, Alif berencana mengungkapkan segala perasaan yang selama ini ia simpan, lewat sepucuk surat dan melamar Raisa sebagai istrinya. Semua sudah ia siapkan seprima mungkin. Tiba-tiba, saat Alif hendak mulai bicara, Raisa duluan yang mengumumkan kabar, bahwa ia telah dilamar Randai, sahabat dekat Alif sedari kecil, sebulan yang lalu. Hanya rentang satu bulan, Alif terlambat menyatakan lamarannya pada Raisa. Sedekat itu.
Lanjut pada cerita saya. Di tahun 2014 kemarin saya mengikuti seleksi CPNS. Hasilnya adalah saya berada di peringkat ke-2, terpaut 3 point dengan peserta di peringkat ke-1, yang merupakan teman saya sendiri. Nyaris juga bukan?
Dari tiga cerita tersebut, kesan yang ditampilkan adalah hal yang kita dapatkan jaraknya yang begitu dekat dengan hal yang kita cita-citakan. Menik hanya butuh 0,01 agar ia bisa masuk golongan mahasiswa cum laude. Andai Alif datang lebih dulu satu hari sebelum Randai datang ke rumah orangtua Raisa , maka mungkin saja, Alif yang akan bersanding di pelaminan dengan Raisa, bukan Randai. Kemudian, saya hanya butuh 4 poin, maka saya ada di urutan pertama. Tapi apakah sedekat itu? Saya jadi ragu. Mungkin perasaan kita saja seolah-olah menganggap hal tersebut dekat. Seperti dekat karena kita mengukurnya dengan angka.
“Duh hanya kurang 0,01! “
“ Ya ampun, hanya beda satu bulan !”
“Ih gemes deh itu cuman beda tiga point !”
Nyatanya jaraknya tidak sedekat itu. Jauh, bahkan sangat jauh. Mari kita berandai-andai. Andai golongan mahasiswa dibagi hanya berdasarkan title cum laude dan bukan cum laude, maka betapa pun hanya beda 0,01 point, Menik tetap berada pada golongan bukan cum laude bukan? Kemudian Alif. Ia terlambat satu bulan dari sahabat sekaligus rivalnya. Hanya satu bulan perbedaanya, tapi jarak tersebut membuat perbedaan yang jauh antara hubungannya dengan Raisa dan Randai. Raisa sudah milik sahabatnya, Randai, sedangkan ia tetap hanya akan menjadi teman Raisa. Kemudian saya, kesannya hanya beda tiga point, tapi kenyataannya sejauh itu jarak status saya dan teman saya kini. Teman saya sudah tidak begitu was-was karena punya pekerjaan tetap, sedangkan saya masih berstatus sebagai BHL alias Buruh Harian Lepas, sebutan dari seorang teman. Ya, mengerjakan apapun yang menghasilkan, setidaknya cukup untuk jajan. *malah curhat*
Jadi pesan saya, tidak perlu merasa apes ketika kamu mengalami momen nyaris. Gak usah menyenang-nyenangkan diri sendiri, bahwa kamu sangat dekat dengan impian kamu. Kenyataannya memang belum. Mungkin kamu harus berusaha lebih keras lagi, berdoa lebih banyak lagi, supaya nanti dari mulut kamu gak keluar lagi kata nyarissssssss.












