It's my 15 year anniversary on Tumblr 🥳
Noah Kahan
Not today Justin

ellievsbear

roma★
DEAR READER
macklin celebrini has autism
Keni

tannertan36
Sade Olutola

No title available
No title available

Janaina Medeiros
Today's Document
One Nice Bug Per Day

❣ Chile in a Photography ❣

Product Placement
𓃗

Love Begins
Fai_Ryy
taylor price
seen from Italy
seen from Spain

seen from India
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from India

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@yunitawalia
It's my 15 year anniversary on Tumblr 🥳
Lathif
Gara-gara membahas doa Nabi Yusuf AS, gue juga jadi teringat dengan makna kata Laṭīf.
Di Indonesia, Al-Laṭīf biasanya diterjemahkan dengan "Maha Lembut". Tapi kalau kita membaca tafsir para ulama, makna "lembut" dalam bahasa Indonesia jadi terasa sempit sekali.
Kata Laṭīf mengandung makna sesuatu yang halus, detail, samar, dan bekerja dengan cara yang tidak selalu terlihat. Ada nuansa gentle sekaligus subtle. Sampai-sampai kebaikan-kebaikan Allah terkadang sampai kepada hamba-Nya melalui cara yang tidak kentara, sehingga kita tidak akan menyadarinya kalau tidak mencoba connecting the dots.
Makanya dulu waktu membaca terjemahan secara literal, gue sempat bertanya-tanya:
"Lah, Nabi Yusuf AS dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara, dan dilupakan. Kok masih mengatakan bahwa Rabbnya Maha Lembut?"
Ternyata setelah membaca tafsir para ulama, baru paham bahwa Nabi Yusuf AS mengucapkan:
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ "Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
bukan ketika beliau berada di sumur atau di penjara.
Beliau mengucapkannya setelah seluruh perjalanan hidupnya tersambung. Setelah beliau melihat bagaimana Allah mengeluarkannya dari sumur, membawanya ke rumah Al-Aziz, memasukkannya ke penjara, mempertemukannya dengan raja, mempertemukannya kembali dengan keluarganya, dan menjadikan semua luka itu tidak sia-sia.
Maka ucapan itu seolah bermakna:
"Sesungguhnya Rabbku mengatur semuanya dengan cara yang begitu halus, begitu detail, dan begitu rapi."
Ada jalan-jalan yang dahulu tampak seperti musibah, tetapi ternyata merupakan bagian dari pertolongan-Nya. Ada sebab-sebab yang dahulu terlihat acak, tetapi ternyata berada dalam pengaturan-Nya yang sangat teliti.
Kadang keterbatasan bahasa memang membuat kita ikut terbatas dalam memahami.
Dan mungkin memang sebagian kelembutan Allah baru bisa dikenali ketika kita sudah cukup jauh berjalan dan menoleh ke belakang.
Lalu berkata seperti Nabi Yusuf AS:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
Mudah Menangis
Akhir-akhir ini, saat tekanan hidup lagi banyak. Yang dirasakan, bukan stres. Tapi bisa tetap tenang. Sesuatu yang tidak kumiliki 2 tahun yang lalu. Ternyata, cara berpikirku udah berubah.
Tapi untuk bisa mencapai perubahan seperti ini, besar sekali rasanya hal yang harus dihadapi dalam kapasitasku sekarang. Sering setiap malam berpikir, dimana jalan keluarnya. Ternyata, Allah mencabut banyak hal dalam hidupku. Tapi setelah hal itu tidak ada, aku tahu yang sebenarnya ia cabut bukanlah itu, tapi benih-benih kesombongan, perasaan merasa bisa mengendalikan hidup, bergantung pada diri sendiri, dan semua hal yang membuatku justru semakin jauh dariNya.
Lalu, ketika aku merasa tidak berdaya dan tidak memiliki apa-apa. Ia hadiahkan untukku sebuah penghiburan yang membuatku menangis berhari-hari setiap memikirkannya.
Kini, rasanya aku lebih mudah menangis. Setiap kali memikirkan semua perubahan hidupku dalam dua tahun terakhir. Rasanya, "berhala-berhala" dalam hidupku dihancurkan, digantikan dengan perasaan bergantung yang sangat kuat kepada-Nya.
Tidak lagi terikat dengan harta. Melihat dunia dengan pandangan yang lebih tepat. Melihat masalah dengan lebih positif. Punya keyakinan tentang masa depan. Serta tujuan yang lebih jelas.
Satu per satu, inshaAllah nanti kita tata lagi. Kita perbaiki. Akhirnya, aku merasa tenang karena bisa menerima ketetapannya dengan hati yang lapang.
KG
Barangkali, Allah memanggil kita (utk Haji / Umroh) bukan karena kebaikan kita, bukan karena keikhlasan kita. Tapi karena dosa² kita, maksiat² kita. Sebab Dia ingin memaafkan kita, Dia kasihan sama kita, Dia ingin kita berubah.
- Ust Salim A Fillah
After careful consideration and going over multiple options I think the best choice is stay warm and cozy in bed forever.
There are so many burdens we carry simply because we think everything is about us. The awkward silence in a conversation. The unread message. The decision someone else made without telling us.
But here’s the truth: we are not the center of the world. And that is a gift.
When we stop imagining ourselves as the main character in everyone else’s story, we free ourselves from unnecessary weight. We begin to see that most people are caught up in their own worries, their own storms, their own endless to-do lists.
Realizing this doesn’t make us insignificant. Instead, it makes us lighter. We can finally walk without dragging the invisible expectations that were never ours to carry.
Maybe peace is not found in making everything revolve around us, but in learning how small we really are—and how liberating that smallness can be.
pekerjaan para suami
mengamati beberapa keluarga yang aku kenal sekilas, masyaallah mereka "cemara" sekali. pernah terbersit di benakku, "kira-kira suaminya pada kerja apa ya?"
para ibu ini, sambil menunggu anak-anaknya bersekolah, punya segudang kegiatan untuk diri sendiri (yang kebanyakan adalah cost center). nge-gym dengan personal trainer, club hopping (untuk olahraga ya), kajian, pengajian, arisan, pijat refleksi, ke salon, perawatan wajah dan badan, belanja, ngopi-ngopi cantik, mencoba makanan lucu-lucu. kalau sedang tidak menunggu anaknya bersekolah, mereka jalan-jalan jauh. kadang dengan keluarga, kadang dengan geng-nya, kadang sendiri saja.
para ibu ini, bahagianya memancar ke mana-mana. setiap diskusi dan mengobrol dengan mereka, isinya daging semua. tentang parenting dan pengasuhan, bahas hasil kajian, ide bisnis dan sejenisnya, bahkan setidaknya adalah rekomendasi ini itu (resto, hotel, dll.) hampir tidak pernah membicarakan orang lain.
para ibu ini, ada yang bekerja dan berpenghasilan. ada juga yang masih bersekolah. ada yang penuh menjadi ibu rumah tangga. tapi mereka punya kesamaan: sama-sama bahagia dan bisa punya gaya hidup yang mungkin hanya dimiliki 1% istri-istri di Indonesia.
sekali lagi, "kira-kira suaminya pada kerja apa ya?"
setelah kuamati, ternyata para suaminya punya pekerjaan yang sama: membahagiakan istrinya. harga dirinya naik ketika bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. tidak pernah sekalipun suami berhitung telah memberi apa kepada keluarga. mereka punya provider mindset, ke-qawwam-an, maskulinitas yang sebenarnya.
jika istrinya ibu rumah tangga, kewajiban sang istri adalah mengantar jemput anak-anak sekolah. itu pun istrinya disediakan kendaraan terbaik plus supirnya. di rumah tetap ada ART yang mengerjakan hampir semua urusan domestik. tugas istrinya di rumah apa? menjadi cantik dan bahagia.
jika istrinya bekerja atau berpenghasilan, dukungan suaminya tidak kaleng-kaleng. modalnya dari suami, untungnya semua untuk istri. bekerja atau berpenghasilan bukan untuk menafkahi keluarga, melainkan untuk aktualisasi diri sang istri. di luar urusan kantor atau bisnis, para ibu ini tetap dapat queen treatment dari suami, tak cukup istilah "yang penting setia."
akhirnya baru kupahami. para istri ini bisa punya gaya hidup seperti itu, bukan karena suaminya kaya. justru, karena suaminya mengusahakan yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya, Allah berikan rezeki yang melimpah ruah kepada sang suami. para suami ini, tak sedikit yang rela menurunkan tingkat kenyamanan diri demi istri dan anak-anak yang hidupnya lebih nyaman.
para ibu ini, pekerjaan mereka juga hanya satu: berbahagia. dan aku yakin tidak ada kebahagiaan yang hadir begitu saja tanpa dirinya sendiri susah payah menghadirkan ketenangan hati. kebahagiaan mereka adalah hadiah dari Allah untuk maaf yang terus mereka berikan, kasih sayang yang terus mereka semaikan, serta ketaatan yang terus mereka tegakkan.
semoga keluargamu adalah keluarga yang bahagia. di depan publik, di dalam rumah, juga di belakangmu.
Sebab pada akhirnya kita akan dilupakan seolah-olah kita tak pernah ada di dunia. Maka hiduplah untuk Allah semata, Dzat yang tidak pernah lupa.
MilikNya segala yang ada di hadapan kita, di belakang kita, dan di antara keduanya. Tuhanmu sekali-kali bukan pelupa. (QS. Maryam: 64)
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Sebab sejatinya hidup adalah tentang memilih lelah, maka pastikan lelahmu bernilai ibadah; yang membuat Allah rida, yang melapangkan jiwa dan yang balasannya surga, bukan lelah yang sia-sia apalagi terhitung dosa; yang membuat Allah murka, yang menyempitkan jiwa dan balasannya neraka.
“Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya, merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam: 7-10).
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Agar Kamu Tidak Bersedih
Ternyata di Qur'an tuh banyak banget kalimat-kalimat yang "aneh" dalam artian, "pasti ada maksudnya nih, ini mah bukan buatan manusia."
Jadi tadi aku notice potongan ayat, bagus banget.
"— karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu—"
Respons pertama saat baca kalimatnya adalah: Hah? 😧 Bentar.. nggak salah nih? Kesedihan demi kesedihan supaya nggak sedih? Hah? Gimana ceritanya? Memang istilah bahasa Arab yang dipakainya apa?
Ternyata untuk kesedihan demi kesedihan diksinya tuh "غَمًّا بِۢغَمٍّ" , sementara untuk bersedih hati pakai diksi "تَحْزَنُوْا". Berarti ada kesedihan yang berbeda kan?
Apa perbedaan antara: الحزن (al-huzn), الغمّ (al-ghamm), dan الهمّ (al-hamm)?
Huzn (الحزن) berkaitan dengan hal-hal yang telah berlalu (masa lalu).
Ghamm (الغمّ) berkaitan dengan hal-hal yang sedang terjadi (masa kini).
Hamm (الهمّ) berkaitan dengan hal-hal yang akan datang (masa depan).
Secara literal, "غَمّ" berarti menutupi, menyelubungi, atau menekan. Dalam konteks emosional, "ghamm" menggambarkan perasaan yang menutupi hati seseorang dengan beban berat.
Di ayat lain, "غَمّ" juga berarti awan/kabut yang meliputi. Cukup masuk akal, ketika di dalamnya kita jadi tidak dapat melihat ke depan maupun ke belakang. Di ayat lainnya lagi, bentuknya "غُمَّةً" artinya dirahasiakan. Masuk akal juga, karena ketika kita mengalaminya, kita nggak pengen dunia tau apa yang terjadi pada kita. Kita akan merahasiakannya serapat mungkin and act like everything is fine.
Aku menemukan bahwa "غَمّ" digunakan di 4 cerita di dalam Qur'an:
Nabi Musa setelah membunuh seseorang secara tidak sengaja dan menyadari dampak serius dari tindakannya yaitu menjadi buronan dan menghadapi risiko yang besar serta konsekuensi yang mungkin timbul.
Nabi Yunus setelah menyadari bahwa meninggalkan misi dakwah dan melarikan diri dari tanggung jawabnya telah menyebabkan dirinya berada dalam situasi yang sangat sulit, yaitu dalam perut ikan. Perasaannya mencekam dan tertekan akibat kesadaran atas kelalaian dan dampaknya terhadap tugas yang diberikan Allah.
Pasukan pemanah Uhud yang meninggalkan posisi mereka di medan perang Uhud menyadari bahwa ketidakdisiplinan mereka menyebabkan kekalahan yang fatal bagi seluruh pasukan dan mereka cemas terhadap hasil dari tindakan mereka.
Penghuni neraka yang merasakan cambuk dari besi dan berusaha keluar dari siksaan neraka.
Ada pola menarik dalam penggunaan ghamm di 4 cerita itu:
Semua terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri (baik disengaja atau tidak). Jadi ghamm datang sebagai wake-up call dari Allah setelah tindakan yang membawa konsekuensi nyata. Kayak.. membangkitkan rasa fatal.
Gham muncul saat sadar akan akibatnya. Ghamm lebih dari sedih atau takut biasa, yang muncul karena "aku melakukan sesuatu, dan sekarang aku harus menanggungnya". Berarti ghamm hanya dapat terjadi pada orang yang taklif dan memahami konsekuensi atau hukum sebab-akibat.
Gham membuka jalan untuk reframing, taubat, dan perubahan (kecuali yang di neraka). Musa dan Yunus segera memohon ampun dan berdoa. Pasukan Uhud menerima koreksi dan pelajaran keras dari Allah. Bahkan penghuni neraka ingin keluar, tapi sudah terlambat.
Gham adalah kemurahan Allah sebelum hukuman akhir. Allah izinkan ghamm menimpa seseorang agar ia tidak terus terbuai, agar hatinya mencicipi "penyempitan" sebelum terlambat. Tapi jika tidak direspons dengan sadar dan taubat, barulah ia bisa berujung pada hukuman.
Jadi bayangin, ghamm itu kayak, "damn moment" yang rembetan konsekuensinya gede dan fatal.
"Gue udah ngelakuin ini, dan sekarang semuanya runtuh."
"Gue sadar banget salahnya, tapi gue juga belum tau harus gimana."
"Ini bukan sekadar sedih. Ini dada gue sempit, kalut, gelap, dan berat."
"Gue menyesal, tapi ga ada waktu untuk menyesal di tengah-tengah himpitan ini."
Dia beda dari Huzn (sedih karena masa lalu) yang lebih lembut, reflektif. Dan beda juga dari Hamm (cemas akan masa depan) yang lebih ngawang, belum terjadi. Tapi dia bisa jadi adalah gabungan dari Huzn dan Hamm 🤯
Terus gimana ceritanya ghamm dapat mencegah huzn?
Jawabannya satu kalimat: luka lama dilampaui oleh luka kini. Sejujurnya meringis sih pas ngetiknya, kayak.. tega banget 😅 tapi dipikir-pikir cukup masuk akal.
Allah menggantikan luka yang membeku dengan luka yang bergerak. Huzn membuat kita stuck, menyesal, menoleh ke belakang, dan menyalahkan diri, sementara Gham membuat kita sadar, bangkit, bergerak, bertahan, dan berserah. Allah lebih memilih menimpakan kesedihan yang "aktif" agar kita selamat dari kesedihan yang "membeku."
Menariknya, Menurut Lazarus & Folkman, coping dibagi dua:
Problem-focused coping: usaha menyelesaikan masalah.
Emotion-focused coping: usaha mengelola perasaan.
Kalau huzn mungkin fokusnya di emosi dan masih punya keluangan mental dan waktu untuk mendalami rasa sesal. Kalau ghamm benar-benar harus switch ke problem focused coping. Jadi, kesedihan baru (ghamm) yang mengharuskan seseorang bergerak, ternyata bisa mengaktifkan mekanisme coping yang sebelumnya tidak muncul saat larut dalam huzn.
Selain itu, dalam psikologi kognitif, ada konsep Cognitive Load Theory yang menyatakan bahwa otak manusia hanya mampu memproses sejumlah informasi atau emosi secara bersamaan. Dalam tekanan yang aktual dan mendesak (ghamm), otak akan secara otomatis mengalihkan sumber daya mentalnya ke situasi itu. Alhasil, grief (huzn) yang tadinya mendominasi bakal terdorong ke latar belakang karena otak sedang sibuk survive di "sekarang". Kayak.. untuk bersedih pun tidak sempat.
Tapi, karena Allah Maha Mengetahui cara jiwa bekerja lebih dari siapa pun, maka penempaan jiwa melalui penimpaan ghamm itu hakikatnya adalah penyelamatan. Allah mungkin nggak serta merta hapus luka dalam waktu cepat secara ajaib. Allah lebih pilih menempa kita, saking bangga dan percayanya Dia, bahwa kita bisa lebih kuat. Dan akan ada saatnya "ketenangan" Dia turunkan sebagai imbalan, di kondisi kita yang semakin pantas untuk menerima ketenangan itu.
— Giza, masih terus mencoba melakukan pendekatan lewat jalur apapun. Mungkin pendekatannya selama ini ada aja yang keliru, tapi bisa dianulir seiring bertambahnya iman dan ilmu.
POV : Beruntung
Sebagai seorang muslim, kalau kita bisa menggunakan sudut pandang valuenya dengan baik di tengah kondisi saat ini menurutku adalah sebuah anugrah. Kita memang mungkin hidup dengan namanya, tapi apakah hidup dengan valuenya? Nah itu bahan evaluasinya. Kenapa beruntung? Coba renungi baik-baik, saat cara pandang di sekitar kita (bahkan diri kita sendiri) menilai keberhasilan diri itu dari jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, status pernikahan, punya anak apa engga, dsb.
Keberhasilan kita sebagai seorang muslim, enggak diukur dari semua itu. Tapi dari iman dan takwa. Kalau diturunkan dalam beberapa parameter turunan, ya menjadi manusia yang bermanfaat. Dan definisi bermanfaat itu luas banget. Udah.
Kamu tetap valueable dgn apapun kerjaan kamu sekarang (yg halal ya), kamu tetap valueable meski kamu belum nikah, kamu tetap valueable meski belum bisa jadi orang tua, kamu tetap valueable mau lairan normal - SC dsb, kamu tetap valueable jadi ibu rumah tangga, kamu tetap valueable mau tinggal di kota kek di desa kek. Bener-bener keberhasilan serta keberhargaan diri kita enggak diukur dari parameter2 yang selama ini memenuhi isi pikiran kita sampai bikin kita stres dan depresi. Dan puncak dari keberhasilan hidup di dunia yang menurutku membuatku sangat menginginkannya dan bisa dilihat dengan kasat mata adalah kematian yang baik.
Pernah nggak kamu iri sama orang (yang mungkin enggak kamu kenal), dia meninggal dalam keadaan yang baik. Semua orang membicarakan kebaikannya. Yang melayat - serta menyalatkan jenazahnya mashaAllah banyak banget. Setiap orang posting di sosial medianya, bersaksi bahwa dia orang baik. Padahal dalam paramater dunia yang selama ini mau kita raih, dia biasa-biasa aja. Enggak terkenal, bahkan kita baru kenal ya pas dia meninggal.
Kematiannya pun menggerakkan banyak langkah kaki orang meski jauh untuk datang dan shalat jenazah. Orang-orang yang tahu dia meninggal, merasa kehilangan seseorang yang berharga.
Sungguh, kalau sudut pandang kita bisa selaras sama value yang seharusnya kita ambil dari perspektif muslim. Kita nggak akan khawatir sama urusan dunia kita. Kamu tetap berharga, apapun takdir yang lagi kamu jalani.
Tinggal gimana kita memastikan kita berharga di mata-Nya dengan amalan-amalan :) (c)kurniawangunadi
In dreams, nothing is lost. Childhood homes, the dead, lost toys all appear with a vividness your waking mind could not achieve. Nothing is lost but you yourself, wanderer in a terrain where even the most familiar places aren’t quite themselves and open onto the impossible.
Rebecca Solnit, A Field Guide to Getting Lost, 2005
Living in silence
Jika hal ini membuatmu berprasangka, maafkan aku.
Di usia ini, keinginan untuk posting-posting itu sudah semakin berkurang. Hanya sesekali saja, itupun jarang dan seringkali dihapus setelah beberapa jam.
Dan juga semakin jarang buka-buka post orang lain di sosmed manapun. Entahlah sudah tidak lagi penasaran. Walaupun sesekali membuka untuk tahu kabar keluarga atau teman lama. Tetapi ini jarang sekali.
Dan dua hal itu membuatku sangat tenang.
Tidak merasa berkewajiban membuka post atau like dan agar aku juga tidak berharap mereka akan melakukan hal yang sama.
Just living in silence, hidup dalam hening.
No existential crises today. Only bread.
Chibird store | Positive pin club | Instagram
Aku suka perasaan ini, perasaan tidak berdaya dan membutuhkan Allah.
Walaupun terkadang harus diawali dengan kejadian tidak menyenangkan : entah dari perilaku atau tutur kata orang lain yang tanpa sengaja menyakiti, dari beratnya jalan perjuangan mewujudkan mimpi, atau hal-hal lainnya
Kuakui ketika semuanya mudah seringkali aku lalai dan harus memaksakan diri untuk mengingat Allah.
Semoga pelan-pelan, perasaan merasa butuh ini selalu hadir di hati dalam kondisi apapun. Dalam kondisi mudah, sulit, bahagia maupun sedih.
Karena sejatinya seorang hamba memang selalu butuh Tuhan-Nya, setidaknya untuk menenangkan hatinya.
aku suka perasaan ini, perasaan tidak berdaya dan membutuhkan Allaah.
karena disaat-saat seperti itu aku benar-benar menyerahkan semua urusan hidup dan matiku kepadaNya. lalu hatiku menjadi tenang, sekalipun menangis, kedua mataku memahami bahwa esok hari kedua mataku akan berbinar sebab takjub atas kebaikanNya untuk diri ini.
Allaah, aku kalah...
Selama 7 pekan ini, aku ikut kajian fikih munakahat yang diadakan Career Class. Totalnya ada 12 sesi, plus 1 sesi prolog. Insightsnya aku share di instagram.
Kalau teman-teman berkenan baca, silakan kunjungi, Highlight "Kajian CC". Semoga bermanfaat dan mengurangi lewah pikir alias over thinking, terutama kaum jomlo jelang 30 tahun. Semangat kita! Kan, ilmu dulu baru amal~
Simpang Empat, 15 Desember 2024
See Instagram 'Kajian CC✨🌙' highlights from Miftahul Jannah Nst (@unimif)