Kenalin aku Yupi, blog ini isinya bakalan translatean story enstars, yang pastinya bakalan mainly soal story Trickstar di kala aku gabut ehehe~
Kalian bebas untuk mengscreenshoot, membagikan, atau menggunakannya untuk keperluan tugas dll, tapi jangan lupa credit ya (jangan dicolong atau diakuin punya sendiri T_T), atau bisa juga membagikan link tumblr ini agar aku gabutnya semangat wkwk~★
Karena aku indo tulen dan bukan anak yang punya latar belakang pendidikan bahasa Jepang sama sekali, mungkin aja ada kesalahan pemahaman atau penerjemahan. Dan karena aku juga nggak terlalu ahli menyampaikan perasaan melalui tulisan dan nilai bahasa Indonesianya sangat gws, jika ada kritik yang mistranslation atau kurang bisa dipahami kalimat, atau mungkin ada saran bisa dm aku di twitter @Yuu_ki34 ♡ (maybe kalo ada request boleh dm juga, bisa ditampung buat bahan gabut ke depan apalagi trickstar hwhw but i can’t promise ya)
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 20: Ke Kapal
Karasuba: Kotak ini sudah aku masukin kekuatanku. Kalau kau buka tutupnya nanti gerbangnya akan terbuka, dan jika kau melewatinya maka kau akan bisa kembali ke hotel.
Yumehisa: Hanya tinggal dibuka?
Karasuba: Hanya dibuka. Coba aja.
Karasuba menjulurkan tangannya yang membawa kotak itu ke depan. Anehnya kotaknya doang yang nggak jadi transparan.
Aku pun menerima kotaknya. Kecil dan ringan.
Tutupnya pun dengan mudah terbuka
Gata (suara pintu muncul)
Yumehisa: ???
Dari tempat yang tak ada apapun muncul pintu. Itu pintu depan dari Tasogare Hotel.
Karasuba: Coba kamu buka.
Aku pun mencoba membukanya seperti apa yang diminta. Di dalam pintu aku bisa melihat ada lobbynya Tasogare Hotel.
Yumehisa: Aku mengerti. Jadi aku bisa kapanpun kembali ya.
Serbaguna banget.
Batan (suara tutup pintu)
Di waktu bersamaan aku menutup pintunya, pintunya ikut menghilang juga.
Karasuba: Kotak ini nggak akan mudah hilang meski di dunia mental, tapi beda dengan dirimu. Kalau merasa sudah nggak kuat lagi melanjutkan penyelidikan, dengan segera gunakan itu.
Setelah itu, berhati-hatilah dengan Seiko itu sendiri dan penjaganya. Aku berdoa untuk keberhasilanmu.
Karasuba yang berbicara dengan cepat pun tubuhnya mulai semakin transparan dan akhirnya menghilang. Tinggal aku dan lentera yang tersisa. Kalau tiba-tiba jadi sepi gini, rasanya hatiku ikut sangat kesepian.
Yumehisa: Busur dan panah…
Karena aku khawatir, aku perlu punya barang yang bisa jadi pertahanan diri. Saat aku menggali gunungan pasir panah dan busurnya masih tersisa. Untung deh.
Baru pertama kali ini aku membawa busur dan panah di punggungku. Padahal di panahan lapangan pun cara bawanya nggak kayak gini.
Yumehisa: Abis ini aku harus gimana ya…
Wah…
Jembatan kecil dermaga panjang pun mulai muncul menjulur seperti sudah menungguku. Pemilik dari dunia mental itu akan menyingkirkan penyusup kan? Tapi entah kenapa, aku merasa seperti diarahkan jalan.
Karena aku juga nggak punya tempat tujuan, aku pun mulai melewati jembatan dermaga ini.
Semakin aku melaju, bau dari air garam laut pun semakin menguat. Laut lagi.
Chirin chirin (suara lonceng sepeda)
Yumehisa: Ah.
Dari arah depan ada sepeda yang melaju. Cowok yang melecehkan aku pas pertama kali masuk ke dunia mental. Aku pun berhati-hati dengannya dan berpindah ke pinggiran dermaga. Cowok itu pun menatap ke arahku sambil menaiki sepedanya.
Cowok merah: Apaan, ternyata tante-tante.
Dan dia terus melaju seperti tidak terjadi apa-apa sambil mengatakannya.
Yumehisa: Dasar sialan.
Setelah aku berkata kasar, aku melanjutkan langkahku.
Di ujung jembatan dermaga yang panjang ini, terdapat sebuah perahu kecil. Ada seseorang yang menaikinya.
???: Seiko
Yumehisa: (Dia kan…)
Aku rasa dia adalah Hayamine Koremasa yang ada di lukisan rumah sakit.
Koremasa: Seiko, naiklah.
Fix aku diperlakukan sebagai Seiko-san. Setelah aku menaiki perahunya dengan tenang, Koremasa-san mulai mendayung perahunya dengan dayung.
Perahu pun dengan perlahan bergerak, dan berjalan di atas langit dalam kegelapan.
Setelah itu aku bisa melihat dari jauh ada lentera di atas laut. Perahunya pun bergerak mengikuti arah lentera. Lenteranya jadi penunjuk arah kah?
Koremasa: Ada apa, Seiko? Bukannya biasanya mah dirimu suka ngomong sampe terasa berisik?
Yumehisa: …bolehkah aku bertanya?
Koremasa: Tanyakanlah apapun.
*Tentang pernikahan*
Yumehisa: Apa yang kakek pikirkan soal pernikahanku?
Koremasa: Harus dilakukan. Dokter itu semua laki-laki, dan rata-rata semua anak laki-laki yang lahir di keluarga yang perempuannya jadi ibu rumah tangga. Sudah cukup umur tapi belum menikah. Lalu perempuan yang nggak melahirkan anak itu aja udah menjadi bahan ketawaan dan cemoohan orang.
Kita tidak boleh diremehkan. Jika kau ingin bisa melakukan pekerjaanmu sebagai dokter, pertama-tama menikahlah terlebih dahulu. Lebih baik juga kau bikin anak, meski ini nggak pasti bisa didapatkan.
Yumehisa: Apakah kakek kenal tentang calonnya Se… calonku?
Koremasa: Toshiki-kun kan? Padahal dia juga dokter bedah tapi selalu rendah hati. Ditambah lagi, dia sangat menyukaimu dari lubuk hatinya. Dia bakalan mendengarkan apapun yang kau katakan loh. Bagus banget kan?
Yumehisa: Siapa nama keluarganya Toshiki-san?
Koremasa: Siapa ya… aku sudah lupa. Pas bekerja kau mau pake nama keluargamu sebelum menikah?
*Tentang Seiko*
Yumehisa: Apa yang kakek pikirkan tentang Seiko… maksudnya aku?
Koremasa: Dirimu itu orang yang bisa dengan benar bisa melanjutkan misiku.
Yumehisa: Misi?
Koremasa: Selamatkanlah pasien sebanyak-banyaknya meski hanya seorang. Untuk bisa mewujudkannya, kau juga perlu belajar diplomasi juga. Orang yang ingin menghalangi langkahmu langsung saja hancurkan tanpa tersisa. Jangan sampai ketahuan ya.
Yumehisa: (Ah…)
Tipe orang yang tak akan pandang cara buat mewujudkan tujuannya.
*Tentang keluarga*
Koremasa: Sebenernya aku nggak enak ngomong gini, tapi ayah dan ibumu itu hanya bisa bergantung denganmu dan namaku seperti parasit. Nggak punya ambisi apapun. Malah mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, dan hanya bisa berkembang biak. Nggak ada bedanya dengan serangga.
Yumehisa: (Hebat juga perkataannya)
Koremasa: Kau dan Masaharu itu anak yang baik. Pintar dan punya ambisi.
….aku jadi kasihan dengan Masaharu.
Seandainya aja dia nggak terlahir di keluarga seperti ini, pasti dia bisa hidup dengan lebih bebas.
Yumehisa: Eh….
Ada apa dengan cara bicaranya? Kok kayak bentuk masa lalu?
Koremasa: Uhuk uhuk!
Koremasa-san mulai batuk-batuk, mana cara batuknya tidak normal.
Yumehisa: Apakah kakek baik-baik saja?
Koremasa: Aku itu dokter. Aku tau betul kok soal tubuhku sendiri.
Yumehisa: ….
Koremasa: Tuh, sudah sampai kok. Disinilah istanamu.
Di dalam kegelapan, muncul rumah sakit berbentuk kapal mengapung.
Rumah sakit lagi nih? Suka banget kah ama rumah sakit.
Koremasa-san pun meletakkan kapal kecilnya di samping tangga yang keluar dari kapal rumah sakit.
Setelah dia melihat ke arahku dan mukanya seakan mengatakan “Pergilah”, aku pun mulai melangkah ke tangga kapal.
Koremasa: Selamatkanlah pasien.
Saat aku berbalik badan, Koremasa-san sudah hilang dari atas kapal kecil. Di tempat dimana dia duduk tadi, berganti menjadi lentera yang sudah tidak menyala lagi.
Aku pun membersihkan darah cipratan tadi di toilet. Bajunya udah nggak bisa diapain, apa boleh buat harus aku pakai begini aja. Dan keadaanku yang begini, Karasuba hanya melihatnya dari samping.
Yumehisa: Padahal ada orang yang mau diserang, situ malah cuma lihat doang!
Karasuba: Kalau beneran diserang ya aku bakal tolong. Orang yang keras kepala ngejar terus dan punya keterikatan sekuat itu aku pikir nggak mungkin lah penjaga di dunia ini. Aku hanya melihat rekaan ulang aja. Nggak ada bedanya ama kelakuanmu biasanya.
Yumehisa: Apa maksudmu?
Karasuba: Dirimu selama ini udah mengintip kehidupan ratusan atau bahkan ribuan orang lain kan?
Pernah nggak kamu berusaha untuk menyelesaikan kasus yang mereka pernah alami atau malah yang mereka sebabkan?
Yumehisa: ….
Tsuyoshi: Istrinya Nogi-san itu wanita seperti apa?
Yumehisa: Orangnya terlihat baik kok, tapi kelihatan nggak terbiasa ama pesta seperti ini. Abis itu…
Aku nggak banyak ngobrol ama dia sih, jadi kurang tau juga selain itu.
Karasuba: Nggak pernah kan? Karena nggak ada orang yang tau kalau kamu “tahu” jadi nggak ada seorang pun yang akan menyalahkan dirimu yang abai.
Yumehisa: …benar kok, wong kejadiannya juga nggak terjadi di depan mataku langsung. Aku mau ikutan angkat suara juga buat apa… bisa-bisa jadi ikut campur yang nggak diperlukan malahan.
Karasuba: Aku juga sama denganmu. Aku nggak ada niatan buat ganggu dirimu mengumpulkan informasi.
Yumehisa: Oh gitu.
Kalau aku bahas ini terus lebih dari ini, bisa-bisa aku yang jadi kena damagenya. Lebih baik aku ganti topik pembicaraannya.
Yumehisa: …dari tengah-tengah tadi dia mengira aku sebagai “Seiko”-san.
Karasuba: Seiko itu siapa?
Yumehisa: Mungkin nama pemilik dunia ini.
Karasuba: Dari bagian mana kamu dikira Seiko?
Yumehisa: Mungkin dari aku pas menangkap monsternya.
Di atas kursi pemeriksaan, si Berlendir masih tergeletak sambil dari lehernya terus mengalir darah.
Yumehisa: Dia mengaku kalau dia suaminya Seiko-san.
Karasuba: Bukan bunuh diri bersama berarti. Dia hanya ingin mengukirkan sosok kematiannya ke Seiko.
Naga: Ah, ini gawat ya.
Naga pun masuk ke ruangan.
Naga: Sensei, putra anda ternyata hitam (*bersalah/punya dosa = kriminal). Dia udah melewati batas dan juga melakukan hal yang tidak pantas dibicarakan ke seorang wanita.
Yumehisa: Putra…
Naga: Ah, tapi tenang saja. Saya yang akan mengurus dan membersihkan masalah ini dengan baik. Putra anda cukup bebas melakukan apa yang dia inginkan di luar.
Seiko-san sepertinya punya seorang anak laki-laki.
Naga: Soal suami anda yang ada di sana juga serahkan ke saya. Akan aku jadikan kejadian ini hanya kecelakaan belaka.
Setelah ngomong itu dengan gampangnya, Naga pun mulai membelitkan mayat Berlendir dengan ekornya.
Naga: Jangan khawatir. Saya yang akan melindungi anda… Seiko-sensei.
Dengan ringannya dia membawa mayatnya dan mulai meninggalkan ruangan.
Yumehisa: …
Aku melihat ke cermin yang ada di toilet. Wajahku terlihat buram. Kalau pun terpantul, pasti yang terlihat bukanlah wajahku sendiri.
Saat aku kembali ke resepsionis, ruangannya sudah dibersihkan dengan rapi.
Yumehisa: Loh…
Monster nenek-nenek yang diikat di pilar tadi jadi tergeletak lemas di lantai. Nggak apa-apa kan? Belum mati kan?
Masaharu: Ummmm….
Masaharu-san yang terbaring di kursi panjang mulai merintih.
Yumehisa: Masaharu-san, bagaimana keadaanmu?
Masaharu: …..
Masaharu-san mulai menatap serius diriku dan mulai membangunkan tubuhnya.
Yumehisa: Masaharu-san?
Masaharu: Kenapa kakak bukan putra sulung?
Yumehisa: …..
Masaharu: Kenapa kakak bukan kakak laki-lakiku!?
Yumehisa: Masaharu-sa….
Saat aku menaruh tanganku ke pundaknya Masaharu-san, dia malah menghalaunya.
Masaharu: Enak ya, yang namanya perempuan itu! Sana kalau mau nikah atau ngapain! Sana silakan aja kalo mau pergi dari Hayamine!!
Masaharu-san pun memaksa dan mendorong badanku dan mengarahkanku untuk pergi ke arah pintu keluar rumah sakit.
Yumehisa: Bentar, kita perlu…
Masaharu: Cepetan pergi!!
Don! (suara pintu ditutup dengan dibanting)
Dengan sekuat tenaga aku malah diusir.
Yumehisa: Masaharu-san!
Aku yang diusir ke luar rumah sakit ini dengan cepat berusaha untuk kembali ke rumah sakit lagi
Yumehisa: !?
Rumah sakitnya dengan sekejap menghilang. Di depan mataku hanya ada Karasuba, lentera, dan gunungan pasir yang tersisa.
Yumehisa: Apa tadi…
Karasuba: Yumehisa-kun, kau ada disitu?
Yumehisa: Aku ada di depan matamu tuh?
Karasuba: Nggak kelihatan.
Yumehisa: Beneran? Kelihatan nggak ini?
Aku mengacungkan jari tengahku ke arah Karasuba.
Karasuba: Nggak kelihatan sih, tapi kamu nggak mengacungkan jari tengah kan?
Kalau dilihat-lihat lagi, tubuhnya Karasuba jadi transparan.
Yumehisa: Kenapa, mau mati?
Karasuba: Nggak mati kok. Hanya waktuku untuk menyelam udah mau sampai batasnya. Jiwaku bakal otomatis kembali tubuh asliku kok.
Yumehisa: Kalau aku kembali di keadaan ini, apakah tamunya bisa diselamatin?
Karasuba: Apa saja yang sudah kamu ketahui untuk sekarang?
Yumehisa: Namanya Seiko. Mungkin sudah pernah menikah, punya anak laki-laki. Pekerjaannya dokter, nama adiknya Hayamine Masaharu.
Karasuba: Alasan dia datang ke hotel?
Yumehisa: Sama sekali nggak tau. Pengennya sih mau menyelidikinya sedikit lagi… kalau aku udah sampai batas nanti, aku bakal ilang gitu aja kah?
Karasuba: Dan akan kembali ke tubuh aslimu.
Yumehisa: Tubuh asli tuh… Tunggu bentar… Itu tuh maksudnya…
Karasuba: Kembali ke dunia nyata.
Yumehisa: Eh, tapi… dulu aku berusaha ingin kembali tapi ujung-ujungnya nggak bisa kembali loh?
Karasuba: Itu kan kalau di dunia antara hidup dan mati. Dunia ini nggak akan menahanmu.
Yumehisa: Itu gimana logikanya?
Karasuba: Kalau dari dunia ini, kamu bisa kembali ke dunia nyata. Tapi kalau kamu kembali ke dunia nyata begitu saja, kamu nggak akan bisa menyelamatkan wanita yang bernama Seiko itu.
Karena jiwa wanita itu sekarang pasti sudah hendak mulai menghilang.
Yumehisa: Rasa pengen balik mah pengen banget sih.. tapi bukan sekarang.
Karasuba: Ah, oleh karena itu pakailah ini.
Karasuba mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya.
Yumehisa: Apaan tuh? Kotak wadah mint*?
Karasuba: Kunci.
*wadah mint merujuk ke wadah yang biasanya fungsi utamanya buat nyimpen tablet/permen mint. Orang jepang sering berhati-hati karena takutnya ngobrol ama orang dengan keadaan bau mulut, makanya banyak yang kemana-mana bawa tablet mint dan semacamnya buat mengurangi bau mulut.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 18: Berlendir-lendir
Dari dalam selipan buku, keluar foto wanita yang telanjang.
Yumehisa: Isinya ginian semua.
Aku nggak bisa melihat wajahnya. Isinya kebanyakan terpotret bagian leher ke bawah semua. Aku bilang telanjang tapi aslinya bukan telanjang total, melainkan masih memakai pajama. Mungkin fotonya dipotret dengan melepaskan pajamanya sampai tengah-tengah.
Yumehisa: Bisa lihat ini?
Aku pun memperlihatkan fotonya ke Karasuba.
Karasuba: Yang memotret palingan amatiran. Palingan dia fotonya pas selagi tidur.
Yumehisa: Kalau pakai pajama artinya… pasti rumah seseorang ya. Kalau pas di tengah perjalanan.
Karasuba: Mungkin difoto pas dibawa paksa … yah kayaknya nggak juga sih.
Kashan!! (suara sesuatu jatuh)
Aku mendengar ada suara yang keras dari arah resepsionis. Di balik pintu, aku melihat sudah ada beberapa lentera yang sudah rusak.
Yumehisa: Ada apaan lagi nih?
??? : Pak dokter.
Yumehisa: !?
Saat aku ingin pergi ke resepsionis, aku melihat ada orang yang sekujur tubuhnya penuh dengan lendir yang mencair kemana-mana masuk ke ruang pemeriksaan.
???: Pak dokter, tolong sembuhkan saya.
Yumehisa: Untuk sekarang…
Naga: Serahkan saja kepada saya.
Naga dengan yakinnya bilang begitu.
Naga: Bersih-bersihnya biar saya yang lakukan. Pak dokter tolong lakukan saja pekerjaanmu sendiri.
Yumehisa: Tapi…
Naga: Saya ini, saat masih muda kerjaannya mencari orang dan bersih-bersih melulu kok.
Yumehisa: Kalau begitu… bisa aku mintain tolong?
Naga: Siap! Saya tak akan sisakan satu barang bukti satu pun.
Naga yang mengangguk dengan senangnya, melewati samping pasien yang berlendir itu dan keluar dari ruangan. Aku pun meminta pasien berlendir itu untuk duduk di kursi pemeriksaan.
Yumehisa: …hari ini ada masalah apa?
Berlendir: Kepala saya sudah aneh. Selalu selaaluu aneh.
Si berlendir pun mulai mengenggam kepalanya. Setiap dia bergerak terdengar suara pluk pluk yang lengket.
Yumehisa: Anehnya seperti apa?
Berlendir: Pemikiran saya semuanya adalah kesalahan. Pak, tolong periksa kepalaku dan perbaiki cara pikir saya.
Yumehisa: (Memperbaiki cara pikir?)
Kalau begitu, aku pikir tempat perginya harusnya bukan ke rumah sakit deh. Untuk semetara aku meminta si berlendir untuk merebahkan diri dan aku memegang kepalanya untuk menggunakan kekuatanku.
Ada beberapa gambaran yang muncul dan langsung menghilang.
Tabung alat suntik.
Kateter.
Obat bubuk.
Barang kebutuhan menstruasi bekas pakai yang dimasukan di kantong sampah.
Yumehisa: …bolehkah saya menanyakan nama anda?
Berlendir: Kelakuanmu nggak baik.
Dia bilang “kamu”. Aku merasa dia tiba-tiba mendekatkan posisi dirinya denganku.
Yumehisa: …saya buka kepalanya ya.
Apa aku perlu meniru Masaharu-san aja ya? Aku menggunakan pisau cina, dan membuka kepala si pasien.
Terori…. (suara lendir menetes)
Yumehisa: !!
Isi kepalanya pun juga sama seperti luarnya yang isinya lendir. Darahnya juga ikut keluar.
Darah dan lendirnya bercampur dan melebar luas ke sekujur kursi pemeriksaan.
Yumehisa: Eh, gimana nih….
Berlendir: Ada apakah?
Yumehisa: Ah, maaf. Sekarang saya kumpulkan dulu isi kepalanya ya.
Aku pun menaruh pisau cina yang pegang di atas nampan dan mulai mencari alat lain. Apakah nggak ada alat nih yang bisa aku buat ngumpulin cairan yang sudah meluas di atas kursi pemeriksaan? Kayak ember kek.
Berlendir: Sudah kuduga, kamu nggak akan bisa menyembuhkanku.
Yumehisa: Eh…
Si berlendir pun mulai membangunkan badannya meski dengan keadaan kepalanya terbuka.
Berlendir: Aku pikir dengan punya anak, aku bisa menjadi keluarga denganmu.
Yumehisa: Keluarga? Denganku?
Tidak salah lagi, dia bilang itu dengan melihat ke arahku. Entah mengapa pandangannya sangat serius melihatku.
Berlendir: Tapi dirimu nggak berubah ya. Anak itu pun… itu salah kita berdua.
Si berlendir pun melihat sekilas pisau cina yang aku taruh di atas nampan.
Gawat!
Saat aku berusaha untuk mengambil lagi pisaunya, gerakan dia lebih cepat dariku.
Yumehisa: Karasuba!
Meski aku meminta pertolongan ke Karasuba, dia sama sekali nggak ada niat buat menolongku. Dia hanya memperhatikan ke arahku.
Karasuba: Teruskan saja seperti itu.
Yumehisa: Hah?
Dengan satu tangannya memegang pisau cina, dia menggunakan sebelah tangannya untuk memegang pundakku yang hendak ingin kabur.
Berlendir: Lihatlah aku, Seiko. Lihatlah aku.
Yumehisa: Aku bukan Seiko!!
Aku berusaha untuk kabur dari genggamannya tapi entah kenapa tenagaku nggak bisa keluar. Dan malahan aku merasa semakin ditarik mendekat.
Si berlendir pun memegang erat pisaunya.
Berlendir: Kamu tau nggak?
Yumehisa: Karasuba!!
Berlendir: Aku tuh suamimu!!
Setelah dia berteriak seperti itu, dia malah memotong lehernya sendiri.
Darah pun muncrat dengan kencang. Karena jaraknya dekat, aku pun juga ikut terkena cipratan darah sangat banyak.
Bruk..
Berlendir pun tergeletak di atas kursi pemeriksaan.
Karasuba: Dia juga bukan penjaganya. Dia hanya suatu rekaan ulang.
Entah dia ambil dari mana, Karasuba mengarahkan pena senter ke bola mata Masaharu-san dan mememeriksanya.
Karasuba: Nggak apa-apa kali. Nanti palingan bakal bangun lagi kok.
Yumehisa: Syukur deh kalau begitu.
Karasuba: …pengennya sih aku mengumpulkan dan merapikan semua peristiwa yang terjadi sementara ini, tapi pasien baru datang.
Terbawa dengan arah pandangannya Karasuba, aku pun ikut melihat ke pintu masuk yang dihalangi monster. Dari kejauhan yang gelap, aku bisa melihat sesuatu.
Yumehisa: Apakah anda ingin memeriksakan diri juga?
Pria mozaik: Benar, maaf mengganggu.
Yang masuk ke resepsionis adalah seseorang yang berwujud mozaik yang kecil memanjang. Bentuknya mirip dengan siput tanpa cangkang dan suaranya laki-laki.
Pria mozaik: Pak dokter, setelah aku berulang-ulang memotong dan memasangnya lagi, malah menjadi wujud seperti ini. Apakah pak dokter bisa mengembalikanku seperti semula?
Yumehisa: …baiklah.
Dengan percaya kalau aku juga bisa melakukannya meski Masaharu-san masih tertidur, aku pun mengarahkan pria mozaik ke ruang pemeriksaan.
Yumehisa: Hmmm?
Aku meminta pria mozaik untuk duduk di kursi pemeriksaan. Karena tubuhnya kecil memanjang, kaki pria itu tidak cukup dan keluar dari kursi pemeriksaan. Lalu pun aku mulai mengamati keadaan pasien dengan embel-embel pemeriksaan.
Yumehisa: Terlihat seperti bagian yang terpisah-pisah disatukan dengan asal-asalan ya.
Karasuba: Lebih baik kau lepasin semua aja dulu. Kalau begitu, bakal lebih mudah nyembuhinnya kan?
Yumehisa: Caranya?
Karasuba mencoba membawakanku gunting yang sangat besar. Kelihatan enak banget untuk memotong.
Yumehisa: Obat biusnya…
Pria mozaik: Ah, tidak usah pakai obat bius. Kalau pakai obat bius artinya seperti pengecut.
Yumehisa: Baik, tanpa obat bius ya.
Karasuba: Dia menolak obat bius? Pasti dia masokis banget.
Yumehisa: Berisik.
Lagian aku juga nggak tau tempat obat biusnya dimana, jadi jujur aku tertolong sih dia menolak.
Aku pun memfokuskan semua perhatianku dan menaruh guntingku sambil mencari tiap ujung dari potongan mozaik.
Pria mozaik: Uggghhhh!
Pria mozaik pun mengeluh sambil mengayun-ayun keras kakinya.
Basa! (suara buku jatuh)
Tumpukan dari banyak buku-buku pun terkena tendangan pria itu.
Karasuba: Jangan menahan diri.
Saat aku memotongnya dengan perlahan dan menahan diri, potongannya menjadi bergerigi tidak rata. Ini mah lebih baik aku memotongnya sekuat tenaga saja.
Saat aku mengerahkan semua tenagaku untuk melanjutkan potongannya, sensasinya menjadi seperti memotong kain dan tubuh si pria dengan mudahnya terlepas.
Yumehisa: Yosh, sudah terlepas semua!
Aku pun menata semua bagian tubuh dari pria yang sudah terpisah-pisah ini di kursi pemeriksaan dan sekitarnya.
Karasuba: Bagian-bagian ini, kamu susun dan hubungkan lagi saja agar bisa kembali ke wujud aslinya.
Yumehisa: Bisa banget ya pasti ngomong gitu.
Karasuba: Aku nggak ada bukti pasti tapi sih.
Yumehisa: Dasar nggak bertanggung jawab.
Karasuba: Kamu juga.
Yumehisa: Yah, iya sih. Yang terpenting kita pikirin letak yang benarnya dulu.
*puzzle (malesin)
Yumehisa: …kira-kira begini kali ya?
Setelah aku selesai menyusun bagian-bagiannya, aku bisa melihat bentuk dari satu makhluk hidup. Pasti ini susunan yang benar. Aku tertolong karena nggak disangka cukup gampang. Karasuba yang katanya pandangannya selalu buram sama sekali nggak berguna.
Yumehisa: Cara buat semua ini kita satukan…
Pandanganku berhenti ke arah jarum dan benang yang ada di dekatku. Bukan yang untuk kedokteran, beneran buat menjahit sehari-hari biasa.
Yumehisa: Kita pake ini?
Karasuba: Boleh juga.
Yumehisa: Emangnya nggak apa-apa ya?
Meski aku ngeluh gitu, aku tetap memasukkan benang ke jarum dan mulai menjahit ulang bagian tubuh pria tersebut yang masih terpisah-pisah ini. Sama seperti gunting tadi, jarum jahit ini juga bisa dengan mudah menembus tubuhnya.
Karasuba: Terlihat sudah terbiasa ya.
Yumehisa: Aku belajar ini dari ayahku. Mungkin saja suatu saat bakal kepake untuk kita saat ada keadaan perlu untuk menjahit sesuatu, atau untuk membuat tenda ataupun baju sendiri.
Karasuba: Itu.. pasti keadaan yang kepepet banget ya.
Yumehisa: Ayahku orangnya penakut sih.
Belakangan ini malahan dia mencoba ingin membeli suatu shelter (tempat perlindungan sementara). Bentuknya pun seperti bola, jadi meski terbawa arus laut akan baik-baik saja. Dia berpikir tak aneh jika dunia bisa berakhir kapan saja.
Yumehisa: Jadi dia mengajariku apa saja. Hadiah dari ayahku daripada barang lebih ke pengalaman semua.
Karasuba: Dia nggak memberimu mainan ataupun jam tangan kah?
Yumehisa: Bener juga… Ah, tapi dia memberiku hp dan komputer bekasannya kok.
Karasuba: Membosankan.
Yumehisa: Nggak juga kok. Hpnya baru kok, mana dimasukkan di kotak cantik dan penuh bunga loh?
Saat aku malah marah, Karasuba malah memicingkan matanya dan melihatku seperti merasa menarik.
Karasuba: Kamu inget nggak bunga apa yang ada di dalamnya?
Yumehisa: Eh… Apa ya… Bunganya langsung dibawa Ibu karena dia sangat menyukainya sih…
Karasuba: Sudah kuduga membosankan.
Yumehisa: …udah jadi nih.
Selagi aku menjahitnya sambil mengobrol, tanpa sadar jahitannya sudah selesai.
Jahitan yang sudah jadi mau dilihat gimanapun seperti seekor naga.
Yumehisa: Bagaimana keadaannya?
Saat aku mengajak si naga berbicara, dia membuka matanya lebar dan pelan-pelan membangunkan badannya. Seperti naga yang ada di komik-komik.
Naga: Pak dokter, terima kasih banyak. Sebenernya saya sudah siap menyerah dan berpikir sudah tiak mungkin bisa kembali ke wujud semula. Saya tidak menyangka bisa sembuh seperti ini. Budi ini tidak akan saya lupakan selamanya. Jika ada hal yang bisa saya bantu, bilang saja apa pun. Saya yang akan mengerjakannya.
Setelah mengatakannya, si naga berpindah ke pojokan ruangan. Dia nggak ada niat untuk keluar dari ruangan.
Yumehisa: ….apakah tidak hendak pulang?
Naga: Iya! Anggap saja saya seperti orang serbaguna yang mau melakukan apapun.
Naga ini, niat mau tinggal disini kah.
Naga: Pertama-tama, saya ingin merapikan kembali buku-buku yang saya berantakan.
Yumehisa: Dari awal sudah berantakan kok, jadi tak apa. Buku yang anda berantakan hanya bagian sini saja kok.
Aku pun membenarkan si Naga, dan mengambil kembali buku yang telah dia berantakan. Buku yang aku ambil adalah buku Sherlock Holmes yang sudah diterjemahkan untuk anak kecil.
Yumehisa: ?
Di antara buku ada foto yang terselip. Aku pun menarik ujung fotonya dari buku.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 16: Pencuri Anak
Yumehisa: ….
Saat aku keluar ke resepsionis, aku kehilangan kata-kata. Monster yang terlihat seperti nenek tua berkeriput menggendong boneka bayi yang ada di ruangan tadi. Dia berusaha ingin membawanya keluar.
Monster berkeriput: Rumah, laki-laki
Yumehisa: Dia bisa bicara!
Masaharu: Ibu!
Masaharu-san keluar dari ruang pemeriksaan.
Masaharu: Ibu, hentikan!
Yumehisa: (Itu ibunya!?)
Monster berkeriput: Rumah, laki-laki, anak angkat.
Masaharu: Dia anak tunggal lo!
Masaharu-san berusaha merebut kembali boneka itu dari si monster.
Monster berkeriput: Dirimu, gagal.
Masaharu: !?
Pan!! (suara tamparan)
Monster itu menghalau Masaharu-san dengan tangannya. Masaharu-san yang terlempar karena halauannya pun dengan dahsyat terjatuh di antara lentera.
Yumehisa: Masaharu-san!!
Aku pun langsung menghampiri Masaharu-san. Dia kehilangan kesadarannya. Tapi tangannya memegang erat boneka tadi. Dia berhasil merebut kembali bonekanya dari monster itu.
Karasuba menggelincirkan panah dan busurnya di lantai dan mengarahkannya ke sini. Di panahnya sudah diikat dengan suntik yang berisi cairan yang bertanda tengkorak.
Yumehisa: Kenapa nggak kamu aja yang nembak!?
Karasuba: Aku nggak bisa melihatnya dengan jelas.
Yumehisa: Dasar nggak berguna!!
Sambil melihat ke arah monster itu, aku meletakkan panah yang ada suntikan itu ke busur. Sudah 4 tahun sejak aku memulai panahan, nggak nyangka akan ada hari aku mengarahkan panahku ke makhluk hidup. Mau nggak mau, aku harus menganggap ini sebagai salah satu pengalaman hidup deh.
Aku pun membidik targetku dan melepaskan panahnya. Panahnya pun tepat sasaran di bagian perut monster.
Monster berkeriput: Aku, susu, minum~?
Si monster pun mengayunkan tangannya.
Yumehisa: Uwa!
Aku pun membungkuk untuk menghindari ayunan tangan monster yang mengamuk.
Yumehisa: Nggak mempan tuh!
Karasuba: Nggak usah terlalu terburu-buru gitu.
Monster berkeriput: Uaaaaagh~….
Si monster mulai merintih. Gerakannya pun mulai berantakan.
Zuzun… (suara terjatuh perlahan)
Si monster pun kehilangan kesadarannya, dan mulai merobohkan lututnya ke lantai perlahan.
Monster berkeriput: Pe….nerus.
Yumehisa: Apa?
Setelah menggumam dengan kesalnya, dia mulai terjatuh ke arah depan badannya.
Karasuba: Rantai ini aja sudah cukup belum?
Karasuba membawakan rantai. Aku pun menerima ujung dari rantai dan mulai mengikatkan monster tadi ke pilar.
Yumehisa: Apa mungkin kalo monster ini aslinya pemilik dari dunia ini?
Karasuba: Kau berpikir begitu?
Yumehisa: Nggak, hanya iseng nanya.
Aku bisa melihat kalau tujuan dari monster ini bukan menyingkirkan kami, tapi hanya ingin membawa pergi boneka bayi ini. Kemungkinannya kecil juga kalau dia penjaga dunia ini. Mana mungkin orang yang dia percaya juga digambarkan sebagai monster.
Yumehisa: (Mumpung deh, aku sekalian lihat aja)
Aku pun meletakkan tanganku ke kepala si monster.
Suara yang terdengar tegas: Ibu. Aku akan menikah ya.
Suara yang terdengar lemah: Sekarang? Kenapa harus sekarang? Hayamine terus gimana nanti?
Suara yang terdengar tegas: Bukannya Ibu sendiri yang bilang cepetan buat cari calon buat nikah?
Suara yang terdengar lemah: Itu mah, kan karena waktu itu belum sampe kejadian hal seperti sekarang…. Benar juga, kan ada cara dia kita angkat ke keluarga kita*. Belum terlambat kalau sekarang.
Suara yang terdengar tegas: Menurutku jarang banget deh, laki-laki yang mau membuang nama keluarganya.
Suara yang terdengar lemah: Itu mah…
Suara yang terdengar tegas: Istri itu tugasnya menjadi pendukung suami, yang selalu membantu di balik layar kehidupan suami… ya kalau nggak salah? Indah sekali ya. Tetap semangat, Ibu yang akan menjadi orang terakhir di Hayamine.
Suara yang terdengar lemah: Tunggu.. tunggu, Seiko! Jangan tinggalkan aku!
Yumehisa: Seiko.
Itulah nama tamu yang datang ke hotel.
*jujur aku nggak tahu bahasa Indonesianya apa, tapi konteksnya ke gimana kalau suamimu nanti ganti marga ke marga kita aja, secara normalnya istri yang ikut marga suami.
Biasanya ini digunain kalau si keluarga si istri punya usaha keluarga dan tidak punya penerus lagi, jadi suaminya biasanya disuruh masuk ke keluarga mereka dan nerusin usaha, sebagai ganti suami bakal dapet posisi dan warisan sebagai posisi “anak angkat” dari orang tua si istri.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 15: Istirahat di Tengah Kerja Sambilan
Masaharu: Ini silakan.
Dengan tangan yang terlihat tak terbiasa, Masaharu-san menyeduhkanku teh yang sepertinya teh cina. Kuncup bunga yang terlihat dari teko transparan pun mulai memekar karena tersiram air panas. Aku sebenarnya ragu apakah ini aman aku minum, tapi sama sekali nggak dicoba juga rasanya kayak nggak sopan.
Yumehisa: (Baunya harum)
Aku pun meminum tehnya sambil dikelilingi banyak buku dan lentera yang berwarna-warni. Kalau kursi yang aku gunakan bukan yang buat pemeriksaan, kayaknya rasanya bakal bisa jadi tea time yang lebih mantap.
Masaharu: Boleh kok baca saja buku yang kamu suka.
Masaharu-san pun duduk di atas rak yang berbentuk bangku tadi dan mulai membaca buku.
Yumehisa: (Aku nggak boleh istirahat begitu saja)
Di ruangan ini mungkin saja ada petunjuk tentang pemilik dunia ini.
*Search mode
(ajak bicara Masaharu)
Yumehisa: Saat kami datang kesini tadi, Masaharu-san bilang kalau kami itu “Pegawai baru yang disewa oleh kakak” bukan?
Masaharu: Benar! Apakah aku salah?
Yumehisa: Tidak…. salah kok.
Kita anggep aja gitu deh.
Yumehisa: Kakaknya seperti apa orangnya?
Masaharu: Kakakku orangnya sangat hebat. Apapun bisa. Baik hati, orangnya serius, meski terkadang tidak serius juga tapi orangnya bisa diandalkan.
Yumehisa: Siapakah namanya?
Seorang anak baru tapi sudah melupakan nama pengundangnya.
Masaharu: Kakak ya kakak.
Dia tidak mau menjawab.
Yumehisa: Apakah dia punya kelemahan?
Masaharu: Mungkin karena dia terlahir sebagai wanita. Dunia kedokteran umumnya adalah dunia untuk pria, pastinya banyak hal yang sulit untuk dia lalui.
Yumehisa: ….begitu ya.
Wanita yang mendapat perlakuan tidak adil hanya karena jenis kelamin. Mungkin kakak dari Masaharu-san adalah pemilik dari dunia ini.
*Pilih kotak ada tengkoraknya (serem anjir)
Terdapat set suntikan yang di kotaknya ada lambang tengkorak.
Yumehisa: Ini racun?
Masaharu: Bukan, itu hanya obat bius. Efeknya bisa sampai mengalahkan gajah jadi jika disuntikkan ke manusia akan bisa menyebabkan kematian. Karena itu terdapat lambang tengkoraknya.
Yumehisa: Kenapa disini ada benda seberbahaya ini?
Masaharu: …untuk pelindungan diri mungkin.
*pilih buku di rak
Isinya penuh buku. Mulai dari novel hingga buku pelajaran ada berbagai jenis buku berjejer disini. Yang mana di antaranya…
Yumehisa: Ada banyak buku tentang petualangan ya?
Masaharu: Kamu tau?
Yumehisa: !
Masaharu-san yang seharusnya sedang membaca dengan cepatnya mendekatiku.
Yumehisa: Ah, iya. Hanya berpikir disini banyak sekali yang berjudul petualangan.
Masaharu: Aku suka banget dengan cerita tentang petualangan. Mungkin karena tubuhku seperti ini, aku jadi suka berimajinasi.
Dia pun melebarkan tangannya sambil mengatakannya. Tubuhnya sangat kecil hingga jas putih yang dikenakannya terlihat sangat longgar.
*pilih senjata yang ada di deket kursi pemeriksaan
Ada senjata yang terlihat lawas dipajang disini. Bagian pisau dari tombak dan cutlass (pedang pendek) juga membulat dan sepertinya tidak bisa dipakai. Hanya memang untuk pajangan. Musket (senjata api yang panjang) itu pastinya juga replika. Kalau panahnya gimana ya? Aku coba memegang busurnya tapi kayak beneran.
Yumehisa: Kayaknya bisa dipakai untuk mainan.
*pencet pansy
Ada pot bunga, di dalamnya tumbuh pansy. Kelihatan seperti muka om-om. (apa maksudmu anjir????)
Masaharu: Aku dan Kakak sama-sama suka dengan bunga pansy.
Masaharu-san mengatakannya sambil tak melepaskan pandangannya dari buku.
*pencet foto
Ada foto dari seorang orang tua yang auranya berwibawa suli didekati terpajang.
Yumehisa: Beliau siapa?
Masaharu: Dia kakekku. Dia dokter hebat yang sampai namanya tertulis di buku pelajaran tentang kedokteran.
Yumehisa: Nama beliau siapa?
Masaharu: Hayamine Koremasa.
Yumehisa: Jadi anda Hayamine Masaharu-san.
Masaharu: Benar.
Yumehisa: Jadi kakak juga Hayamine-san?
Masaharu: …..
Dia tiba-tiba terdiam.
Karasuba: Ada kemungkinan itu nama gadisnya (sebelum menikah).
Padahal dia hanya bisa mendengar suaraku, tapi Karasuba bisa memberikan pendapat yang cocok dengan percakapannya.
*pencet boneka robek
Ada marionette yang memakai jas putih terpajang juga.
Yumehisa: Ini tuh?
Masaharu: Itu ayahku.
Yumehisa: Ayahnya… di sekujur tubuhnya penuh dengan lubang begitu.
Masaharu: Saat aku menjatuhkan dulu, langsung rusak begitu. Tidak bisa diperbaiki.
Seperti yang dia katakan, kalau udah ada lubang sebanyak ini mau diperbaiki juga udah nggak bisa.
*Beep*
Buzzernya berbunyi.
*Beep* *beep* *beep*
Buzzernya berbunyi beberapa kali.
Masaharu: Sepertinya itu pasien baru ya.
Yumehisa: Apakah biasanya banyak pasien yang datang seperti ini?
Masaharu: Iya. Banyak pasien yang datang ingin disembuhkan.
Yumehisa: “Ingin” disembuhkan?
*prangggg!! (suara benda pecah)*
Dari balik pintu aku mendengar ada suara kaca yang pecah. Setelah itu, entah mengapa aku mendengar ada suara bayi.
Yumehisa: Apa itu?
Aku pun membuka pintu dan pergi ke arah resepsionis.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 14: Pelajar yang Penuh Kata Makian
Pasien selanjutnya yang datang juga lumayan juga visualnya. Dalam arti yang berbeda dengan Mansion-san, wujudnya juga terdapat beberapa orang yang berada dalam satu tubuh. Wajah dan pakaiannya seperti di-collage.
Di mukanya terdapat 10 mata. Mulai dari mata yang terlihat mati hingga mata yang punya bulu mata yang lebat. Bajunya pun seperti baju sailor, baju seragam sekolah biasa, jas kemeja, jas putih, dan jubah lulusan kuliah yang digabung?
Rasanya terlihat seperti murid sekolah tata busana yang niat melahirkan karya yang punya originality tapi malah berujung gagal.
Masaharu: Tolong kasih tau siapa Anda.
Manabu: Namaku Manabu. Kau cewek yang menarik ya.
Yumehisa: Permisi?
Aku pun kebingungan saat mendengar kalimat pasien yang bernama Manabu itu. Disini tidak ada seorang pun perempuan.
Manabu: Maaf. Cantiknya pas ya. Aku tidak bisa. Aku yang harus melindungimu. Kau ada rasa ama aku kan? Berbicara. Padahal kau cewe. Dengan leluasa. Nggak ada orang yang baik?
Dengan anehnya berbagai suara. Dokter cewe mah nggak cocok auranya. Tetekmu besar juga ya. Malah bercampur dari satu. Kamu ya ngajak (konteksnya lebih ke menggoda) aku.
Semua berbicara seenaknya. Aku nggak mau ada cewe yang lebih pintar dari aku. Cewe jangan ikut ngomong.
Manabu-san pun langsung menggelengkan kepala dan menutup mulutnya.
Yumehisa: Di banyak tempat sepertinya tercampur kata-kata yang tidak bisa dipahami ya.
Manabu: Benar. Udah beberapa kali kena pelecehan, itu pamer? Aku sangat kerepotan. Di balik pesona itu. Mau niat bertingkah seperti drama queen ya?
Tolong lakukan sesuatu dengan ini. Cara marahmu histeris banget.
Masaharu: Kalau begitu, mari kita operasi.
Manabu: Mohon. Kau adalah maddona kami. Bantuannya.
Masaharu: Tolong berbaring dengan memiringkan tubuh. Nah rebahan disini.
Sama seperti Mansion-san, Manabu-san juga dengan diam langsung berbaring di atas kursi pemeriksaan. Masaharu-san pun mengeluarkan pisau cina* yang sangat besar.
Yumehisa: Dengan itu hendak melakukan apa?
Masaharu: Hendak operasi membuka kepala.
Yumehisa: Dengan benda seperti itu apa bisa untuk membuka kepala?
Masaharu: Bisa kok. Lihat!
Masaharu-san pun memotong bagian kepala pasien dengan pisau dan membelahnya secara horizontal. Padahal aku lihat seperti tidak memakai banyak tenaga tapi kepala Manabu-san bisa dengan terpotong sempurna hingga ujung dagu.
Padahal tidak memakai obat bius, Manabu-san tidak bereaksi apa-apa. Darahnya juga nggak keluar, tulangnya pergi ke mana.
Karasuba pun tertawa kecil di belakang.
Karasuba: Ini mainan dokter-dokteran.
Yumehisa: …begitu ya, ini tuh.
Masaharu: Nah, coba lihat ini.
Masaharu-san pun mengangkat kepala Manabu-san yang sudah terpotong seperti sebuah tutup. Daripada dibilang dibuka kepalanya, lebih ke dibuka wajahnya. Muka luar dari Manabu-san mulai terlihat lebih baik.
Lagi-lagi. Ada manusia yang merayap di dalam wajah manusia. Seperti lukisannya Utagawa Kuniyoshi saja.
Yang ini juga menggeliat-liat sih, tapi kayaknya lebih mending kalau daripada serangga parasit bermuka manusia punya Mansion-san tadi deh?
Masaharu: Anak yang ada di tengah terlalu bersinar sendiri. Oleh karena itu, di sekitarnya banyak yang merubunginya dan memperlakukannya seperti dia yang aneh. Identias dari kata-kata tidak sopan tadi adalah mereka.
Yumehisa: Kita perlu mengeluarkan mereka juga seperti tadi?
Masaharu: Tidak, semua bagian ini diperlukan agar bisa terus hidup. Oleh karena itu, kita perlu menghapus perbedaan antara mereka.
Yumehisa: Bagaimana caranya?
Masaharu: Dengan ini.
Masaharu-san mengeluarkan kuas yang biasa digunakan untuk menulis tulisan.
Masaharu: Dengan ini, kita akan menjadikan anak yang di tengah menjadi punya warna yang sama dengan anak lainnya. Kita buat dia tidak lagi mencolok.
Yumehisa: ….ini tuh… apakah tak apa?
Rasanya aku jadi gelisah melihatnya.
Masaharu: Apa boleh buat. Kalau tidak begitu, tidak akan bisa berjalan lancar.
Dengan ekspresi yang sebenarnya enggan melakukannya, Masaharu-san menuangkan tinta ke piring kecil.
Masaharu: Silakan, anak baru. Jangan ragu-ragu melakukannya.
Masaharu-san memberikanku sebuah kuas.
Yumehisa: …baiklah.
Aku pun menerima kuasnya. Dengan kuas itu, manusia yang bersinar dengan terang di tengah tadi pun aku warnai hingga menjadi warna hitam. Dengan begini manusia yang terlihat mencolok tadi juga bisa punya warna yang sama dengan sekitarnya.
…beneran, kayak gini apakah udah benar?
Yumehisa: Sudah jadi.
Masaharu: Terima kasih. Dengan begini, mari kita tutup lagi kepalanya.
Yumehisa: Itu apa?
Masaharu: Lem.
Yumehisa: Apakah bisa ditutup dengan itu?
Masaharu: Bisa ditutup.
Masaharu-san pun mengoleskan lem ke wajah Manabu-san dan meletakkan kembali bagian kepala yang terpotong tadi.
Manabu-san pun langsung bisa mengangkat badannya dan terbangun.
Manabu: Bagaimana sekarang? Apakah sudah hanya saya yang berbicara?
Masaharu: Iya.
Manabu: Ah, syukurlah. Dengan begini aku bisa belajar lagi. Terima kasih banyak.
Manabu-san pun menundukkan kepalanya dan meninggalkan ruangan pemeriksaan.
Masaharu: Hebat sekali, anak baru. Kita sudah menyelesaikan pemeriksaan dua orang sekaligus!
Masaharu-san pun bertepuk tangan kecil di depan dadanya. Biasanya, kalau aku diginiin ama pria yang lebih tua rasanya bakal sebel, tapi dia yang melakukannya rasanya lucu banget.
Masaharu: Bagaimana kalau kita istirahat sebentar?
Yumehisa: Eh, sudah boleh waktunya istirahat ini?
Masaharu: Istirahat juga penting. Aku tutup dulu ya pintunya.
Mungkin emang seperti ini kali ya, wong pemeriksaannya juga gratis. Tasogare Hotel yang biaya menginapnya gratis pun, juga jauh pake banget jika dibandingkan hotel aslinya.
Karasuba: Ada perolehan apa sejauh ini?
Entah dari kapan Karasuba duduk di kursi, yang mana disinari oleh lentera merah.
Yumehisa: Pasien yang barusan sedang kerepotan karena ada ucapan yang malah melecehkan seorang wanita.
Karasuba: Dan cara penyembuhannya yang tadi itu..…
Karasuba pun melihat ke arahku.
Karasuba: Di pinggir pantai tadi juga kau mengubah one piece berwarna pink menjadi hijau. Kenapa kau melakukan itu?
Yumehisa: Boneka yang punya ukuran cocok dengan one piece itu terdengar suara yang bilang “Sebenarnya aku suka warna hijau”.
Karasuba: Wanita berarti.
Yumehisa: Eh?
Karasuba: Pemilik dunia ini adalah wanita.
Yumehisa: ….ya.
Aku juga berpikir begitu.
NB:
*Pisau cina itu bentuknya seperti ini, yah kayak pisau daging sih jatuhnya
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 13: Mansion yang Penuh Parasit
Untuk sementara, aku akhirnya memilih untuk bantu-bantu di rumah sakit ini. Setelah hotel sekarang rumah sakit ya. Yang manapun nggak bisa aku tulis di lembar riwayatku nanti.
Aku pun menumpuk buku yang berserakan ke pinggir tembok, setidaknya biar ada tempat buat orang bisa jalan.
Saat aku sedang merapikan buku, Karasuba menyentuh pundak dan lengan Masaharu-san. Masaharu-san juga hanya diam tersenyum, membiarkan Karasuba menyentuhnya.
Yumehisa: Tolong hentikan, itu pelecehan lo.
Karasuba: Rasanya aneh ya. Kulitnya udah seperti manusia umur 20 lebih tapi terlihat seperti anak umur 10an.
Yumehisa: Mukanya kali yang baby face?
Karasuba: Aku rasa masalahnya bukan itu.
Masaharu: Orang baru yang ini orangnya terbuka sekali ya.
Karasuba: Dia ngomong apa?
Yumehisa: “Jangan sentuh aku, dasar bajingan” katanya.
Karasuba nggak bisa dengar suara Masaharu-san. Sepertinya Masaharu-san juga nggak bisa dengar suaranya Karasuba.
Yumehisa: Meski begitu, buku-buku disini banyak sekali ya.
Masaharu: Aku suka membaca buku, bagaimana dengan Anda?
Yumehisa: Aku tidak ada waktu untuk membaca, jadi kurang lebih hampir tidak…
Masaharu: Orang yang punya kesenangan hal lain yang bisa dilakukan, tidak apa kok tidak usah membaca!
*piiiipp*
Aku mendengar suara buzzer.
Masaharu: Itu pasti karena ada pasien yang datang. Aku akan bawa masuk ya.
Masaharu-san pun keluar dari ruangan.
Yumehisa: Mungkinkah Masaharu-san itu tamu yang datang ke hotel itu?
Karasuba: Kalau benar begitu, kok gampang banget ketemunya. Mana dia nggak menyerang juga.
Yumehisa: Ah, iya juga.
Padahal tamunya sedang hilang ingatan, pas dive langsung bisa ketemu gini juga nggak mungkin.
Masaharu: Aku membawanya masuk.
Yumehisa: Ba….ik.
Saat aku melihat pasien yang dibawa Masaharu-san, aku langsung sedikit kaget.
Kalau aku bukan pegawai Tasogare Hotel, mungkin aku sekarang udah panik.
Mansion: Halo, nama saya Mansion.
Pasien yang mengenalkan diri sebagai Mansion ternyata memang benar sebuah rumah mansion. Seperti sebuah rumah khas jepang yang terlihat cukup megah yang malah tumbuh tangan dan kakinya. Kalau hanya itu mah masih terlihat lucu, masalahnya ada di bagian badannya.
Di balik pintu kaca teras yang ada di bagian tubuhnya, aku melihat penuh dengan organ dalam yang berwarna pink dan jingga yang menggeliat seperti serangga.
Mau dilihat gimana pun, aku nggak bisa kepikiran kata lain selain “menjijikan”.
Masaharu: Hari ini ada masalah apa?
Mansion: Perutku rasanya seperti ingin meledak keluar.
Masaharu: Kalau begitu, mari kita operasi.
Yumehisa: (Setidaknya periksa dulu bagian yang sakit gitu kek baru ngomong)
Bukannya curiga, Mansion-san malah merebahkan tubuhnya di kursi pemeriksaan. Terlalu patuh.
Masaharu: Jadi, aku belah perutnya dulu ya.
Sambil ngomong begitu, dia membuka pintu kaca yang ada d bagian perut. Emang bener sih bedah perut jadinya. Aku pun mengintip isi dalam perut Mansion-san.
Di dalam organ dalam yang berada di perutnya, terdapat beberapa wajah yang terlihat. Semuanya seperti makhluk hidup yang punya kesadaran sendiri. Tambah bikin jijik.
Masaharu: Parasitnya udah terlalu penuh hingga mereka sendiri tidak bisa bergerak leluasa ya.
Mansion: Tolong lakukan sesuatu.
Masaharu: Tenang saja.
Kalau begitu, anak baru. Tolong singkirkan para parasit ini dari dalam perutnya.
Yumehisa: Aku yang melakukannya?
Masaharu: Iya.
Karasuba: Kau disuruh apa?
Yumehisa: Suruh bersihin parasitnya.
Karasuba: Kalau begitu, gunakan forceps ini.
Karasuba memberikan forceps kepadaku, yang sering aku lihat di drama-drama kedokteran.
Yumehisa: ….
Lebih baik aku berpikir semua hal adalah pengalaman, seperti apa yang ayah katakan.
Aku memasukkan ujung forcepsnya ke dalam perut Mansion-san. Saat aku menangkap parasit yang menggeliat dengan forceps, parasit pun jadi bergerak mengamuk karena merasa dirinya sedang berbahaya. Agar tidak lepas, aku mengerahkan kekuatanku lebih ke jari yang menjepitnya. Sensasi empuk-empuk dari parasit pun terasa lewat forceps ini.
Yumehisa: Hiiiii, jijik!
Masaharu: Semangat.
Dia menyemangatiku dengan suara yang lembut. Sambil menerima semangat dari Masaharu-san, aku terus mengeluarkan parasit yang aku tangkap. Tubuh parasitnya sangat panjang-panjang.
*pluk!*
Aku mengeluarkan parasit dari dalam organ dalam Mansion-san.
Yumehisa: (…tak disangka ternyata rasanya enak banget deh)
Masaharu: Tolong terus dengan cepat keluarkan semuanya. Para parasitnya tidak mau berpisah dengan tubuh Mansion-san dan malah bersembunyi di bagian dalam.
Tolong berhati-hati jangan sampai ada yang ketinggalan.
Yumehisa: Baik diterima.
Pluk pluk pluk, aku pun terus-terusan mengeluarkan entah sudah berapa ekor parasit yang ada di dalam perut Mansion-san.
Yumehisa: Aku rasa aku sudah mengeluarkannya semua.
Masaharu: Hebat sekali!
Aku pun menjejerkan semua parasit yang aku ambil di atas nampan. Hebat, rasa kepuasannya nggak kaleng-kaleng. Meski begitu, parasitnya aneh banget ya. Semuanya punya wajah seperti manusia.
Masaharu: Parasit yang ini neneknya, yang ini ayahnya, yang ini ibunya mungkin?
Masaharu-san pun mencolek-colek parasit yang aku keluarkan.
Yumehisa: Parasit-parasit ini harus dibagaimanakan?
Masaharu: Sudah tidak diperlukan ini.
Masaharu-san pun tersenyum lebar dan memasukkan para parasit itu ke tong sampah yang punya tutup.
Mansion: Terimakasih banyak, para dokter sekalian. Berkat kalian, tubuh saya terasa lebih ringan. Dengan begini, mungkin aku bisa bertahan hingga pernikahan cucuku.
Mansion-san pun turun dari kursi pemeriksaan dan membungkukan kepalanya ke kami, dan setelah itu langsung keluar dari ruang pemeriksaan.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 12: Rumah Sakit yang Penuh Lentera
Yumehisa: Oriental banget ya…
Di dalam rumah sakit juga terdapat banyak lentera warna-warni, yang mana bergelantungan penuh di semua tempat. Motif dari jendela yang berpola geometris juga sangat mengesankan.
Yumehisa: Nggak kelihatan kayak rumah sakit.
Karasuba: Ada boneka juga.
Karasuba menunjuk ke salah satu sudut ruangan. Di antara tumpukan lentera aku melihat ada boneka bayi yang diletakkan di situ. Nggak tau gara-gara pencahayaannya atau apa…
Yumehisa: Kok kelihatan nyeremin ya.
???: Haduh haduh..
Aku mendengar sebuah suara.
Yumehisa: Kau mendengarnya?
Karasuba: Sama sekali nggak.
Yumehisa: Terdengar suara “Haduh” kok.
Aku mendengarnya berasal dari dalam pintu yang terdapat papan tulisan itu. Aku melihat tulisan apa yang tertulis di situ. “Ruang Pemeriksaan”
Di dalam ruangannya juga banyak lentera. Buku-buku juga banyak berserakan. Lantai pun penuh dengan lentera dan buku, aku kesulitan untuk melangkah. Padahal ini rumah sakit, aku jadi merasa kursi pemeriksaan yang di tengah ruangan serasa salah tempat.
*bruk*
Aku mendengar suara yang entah dari mana asalnya.
Yumehisa: Kayaknya ada sesuatu.
Karasuba: Aku kita cari tau.
Yumehisa: Kok sepertinya ada orang yang lucu.
Di dalam lemari laci yang berbentuk bangku, aku menemukan ada seorang pemuda yang mengenakan jas putih yang tertidur. Umurnya sekitar 20an?
Yumehisa: Permisi.
Aku menyentuh pundaknya dan mengajaknya berbicara.
Sekilas aku bisa melihat punggung seorang anak kecil. Barusan siapa ya.
???: Unnnnn….
Pemuda itu mulai membangunkan bagian atas tubuhnya sambil mengusap mata. Rambutnya pun terlihat acak-acakan setelah tertidur.
???: Anda siapa?
Dia pun memiringkan kepalanya sambil melihatku. Tingkahnya seperti anak kecil.
Yumehisa: Namaku Hachiya Yumehisa. Dia Karasuba Mimaya.
Masaharu: Namaku Masaharu. Kalian pegawai baru yang dipekerjakan oleh kakak kan?
Yumehisa: Eh?
Pemuda yang mengenalkan dirinya sebagai Masaharu pun keluar dari dalam rak dengan menggenggam tanganku. Genggaman tangannya sangat lembut, kepribadiannya serasa keluar di sini.
Masaharu: Aku senang menyambut kalian. Kebetulan disini sedang kesulitan karena kekurangan orang.
Yumehisa: Apany--- eh, rumah sakitnya?
Masaharu: Betul, kalian mau membantuku kan?
Yumehisa: Tidak bisa, aku tidak punya lisensi atau kualifikasi apapun….
Masaharu: Aku juga! Aku juga tidak punya lisensi kedokteran atau apapun juga.
Yumehisa: (Loh nggak punya?!)
Ini, aku harus bagaimana?
Saat aku melihat ke Karasuba, dia malah nyengir-nyengir sendiri.
Karasuba: Dia ngomong sesuatu ya?
Yumehisa: Nggak kedengeran?
Karasuba: Di mataku kelihatan kau hanya ngomong sendiri sepihak dengannya.
Yumehisa: Namanya Masaharu-san. Dia minta ke kita buat bantu-bantu di rumah sakit ini katanya.
Karasuba: Kan boleh juga kalau kita terima permintaannya.
Yah, bener juga sih. Aku pun melihat ke Masaharu-san lagi.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 11: One piece
Yumehisa: Aku ingin membuka brankasnya.
Minitalk Karasuba: "Baik dirimu dan pemilik dunia ini, aku belum bisa tau manusia seperti apa kalian."
Search mode
Di dalam pasir, ada kaleng terkubur. Kaleng cat ternyata.
Yumehisa: Geeehh, ga bisa nih. Bisa-bisa kukuku patah.
Aku juga mencoba membuka kaleng catnya dengan jari tapi percuma juga.
Yumehisa: Ini, bisa kamu lihat dan pegang nggak?
Aku menyerahkan kalengnya ke Karasuba.
Karasuba: Bisa.
Yumehisa: Bisa bukain nggak?
Karasuba: Mungkin aja.
Karasuba meletakkan jarinya di antara celah tutup kalengnya.
Paka <- suara kebuka kalengnya
Bisa kebuka dengan mudah tutupnya.
Yumehisa: Kok bisa kuat banget sih jarinya.
Karasuba: Jarimu aja yang terlalu kecil dan rapuh.
Isinya cat yang berwarna hijau.
Yumehisa: Abis ini kita harus gimana?
Ada dahan kayu panjang yang terjatuh
???: Ayo kita main dokter-dokteran.
???: Boleh! Ayo kita bangun dulu rumah sakitnya!
Aku mendengar suara dari dalam dahan kayunya.
Yumehisa: Bangun rumah sakit…. Caranya gimana?
Di dalam pasir ada kain yang terkubur. Saat aku menariknya, terlihat ada baju kecil yang muncul.
???: Sudah kuduga kalau anak perempuan itu paling cocok warna pink. Cocok banget kok untukmu.
Yumehisa: !?
Karasuba: Ada apa?
Yumehisa: Aku mendengar suara. Mungkin anak perempuan…
Baju untuk boneka kah?
*insert baju + cat hijau
Yumehisa: Begini sudah cukup kali ya.
Aku mencelupkan one piece berwarna pink tadi ke dalam cat hijau.
Yumehisa: Loh.
Saat aku mengambil one piece dari dalam cat, one piecenya berubah menjadi warna hijau yang indah. Catnya juga tidak menetes dan meleber, serta berubah menjadi satu sebagai kain sifon yang halus.
Aku pun mengambil stetoskop yang tersangkut di dahan kayu menggunakan batang kayu yang aku temukan tadi.
Yumehisa: Kenapa di tempat seperti ini ada stetoskop?
Karasuba: Lebih baik kamu membawanya. Semuanya pasti ada artinya.
Aku menyentuhkan stetoskopnya ke kunci brankasnya. Terkadang aku pernah melihat ginian ada di TV.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 10: Tepi Laut
Karasuba: Kita kelling cari petunjuk di tepi laut ini.
Yumehisa: Apa yang bakal muncul ya….
*Search mode*
--Ngobrol ama Karasuba--
Tentang Agen Informasi
Yumehisa: Kenapa agen informasi malah mengawasi Tasogare Hotel? Manager udah ngapain emangnya?
Karasuba: “Pembalik waktu”. Yang mana artinya memundurkan waktu ke masa lalu dan mengubah kenyataan yang sudah pernah terjadi.
Yumehisa: …..
Emangnya bisa melakukan itu?
Karasuba: Tapi itu hal yang dilarang. Dan bukan juga hal yang sesempurna itu. Meski kita pergi ke masa lalu dan menulis ulang kenyataan, itu hanya sekedar menimpa ulang aslinya.
Yumehisa-kun, pernah pakai tip ex nggak?
Yumehisa: Yah aku pelajar sih, biasa pakai lah.
Karasuba: Setelah pakai tip-ex, apakah kau pernah nggak bisa menulis dengan rapi?
Yumehisa: Sering. Tip ex-nya jadi meleber dan jadi nggak rata, akhirnya jadi jelek deh.
Karasuba: “Pembalik waktu” juga sama. Selain tip ex tidaklah menimpa putih semua kejadian yang pernah ada, kenyataan awal yang tertimpa dibawahnya juga masih tertinggal disana.
Yumehisa: Terus jadi gimana?
Karasuba: Garis waktu yang tertimpa akan penuh kontradiksi dan menjadi semakin mengotor.
Yumehisa: Sama seperti saat tinta tulisan dan tip ex jadi malah bercampur gitu?
Karasuba: Kalau hanya menimpa kenyataan sepele seperti untuk menghindari suatu luka mah masih lucu. Bukan masalah yang besar.
Yang paling merepotkan itu saat ada manipulasi kehidupan, yang mana dengan pembalik waktu itu malah menghidupkan orang yang seharusnya sudah mati.
Yumehisa: …hmmm.
Karasuba: Kenyataan yang bernama “kematian” itu memiliki kekuatan yang sangat kuat. Sebuah tip ex yang bernama “pembalik waktu” itu tidak akan bisa menghilangkan dengan bersih kata kuat yang bernama “kematian”.
Terkadang, nggak, ini dengan kemungkinan yang tinggi tulisan yang ada di bawahnya akan menjadi muncul menghilang dan menjadi tidak jelas lagi.
Yumehisa: Lebih jelas maksudnya gimana?
Karasuba: Manusia yang dihidupkan lagi itu, akan tetap hidup sambil mati.
Yumehisa: Seperti zombi?
Karasuba pun mengangguk.
Karasuba: Kurang lebih mirip. Meski jadi begitu, saat waktunya sudah tiba dia juga akan mati juga. Kehidupan itu tidaklah berlangsung selamanya, tapi kematian akan berlangsung selamanya.
Yumehisa: Jadi Manager tertangkap karena itu?
Karasuba: Dia sejak pertama kali bekerja di sana sudah berulang kali melakukan itu untuk pegawai hotelnya.
Yumehisa: Waw… hebat ya. Jadi selama itu nggak ketahuan gitu kah?
Karasuba: Karena dari itu nggak ada kejadian menghidupkan lagi orang yang sudah mati, jadi kontradiksinya nggak muncul di permukaan dan nggak ketahuan.
Tapi, beberapa tahun yang lalu ada seorang gadis yang menggunakan pembalik waktu dan menjebloskan seorang pembunuh ke neraka. Hasilnya, 3 orang yang seharusnya terbunuh olehnya masih bertahan hidup.
Ada seorang wanita calon model, seorang pria pegawai kantoran, lalu ada seorang pria concierge hotel.
Dua orang diantara tiga orang yang diatas kematiannya ditulis ulang kehidupannya akhirnya menjadi mayat yang hidup. Oleh karena itu, kami jadi bisa mengonfirmasi adanya pembalik waktu karenanya.
Yumehisa: Sisa satu orangnya?
Karasuba: Dia yang jadi kasus langka bangetnya. Dia sekarang masih hidup dan sehat. Sekarang pun masih kerja sebagai concierge di hotel.
Yumehisa: Jadi… jadi ya, kemungkinan untuk bisa berhasil seperti dia itu seberapa besar?
Karasuba: Sangat kecil. Mau bertaruh dengan itu pun nggak bisa. Dapet hadiah pertama dari lotre akhir tahun aja masih gampang banget.
Yumehisa: …begitu ya.
Hanya sekejap, aku merasa melihat cahaya harapan dari ini. Tapi semua hanya perasaanku aja.
Tentang dive
Yumehisa: Apa ada hal yang perlu kita perhatikan saat dive selain ada kemungkinan diserang oleh orangnya sendiri dan penjaganya?
Karasuba: Untuk tidak melukai inti dari orang yang kita selami.
Yumehisa: Ah, aku tau. Kalau kita menghancurkannya itu nanti mentalnya akan jadi rusak dan orang itu nggak bakal bisa hidup normal lagi kan?
Karasuba: Daripada dibilang mentalnya yang jadi rusak, lebih benar ke “dirinya sendiri” yang akan menghilang. Artinya dia nggak akan bisa mengenali dirinya sebagai sebuah makhluk hidup itu sendiri.
Yumehisa: Kalau jadi begitu memangnya bagaimana jadinya?
Karasuba pun mengangkat lehernya.
Karasuba: Ya persis apa seperti kedengerannya, nggak lebih dan nggak kurang.
Yumehisa: …intinya itu berbentuk seperti apa?
Karasuba: Masing-masing orang berbeda-beda. Bisa jadi benda, pemandangan, atau keluarga yang didalamnya menyimpan suatu kenangan…. Macam-macam sih.
Mau bentuknya seperti apapun juga, benda itulah menjadi menopang keberadaannya. Penampilan dari intinya juga akan berbeda tergantung umur dan pemikiran pemiliknya.
Yumehisa: Kau bisa tau itu ada dimana?
Karasuba: Nggak ada kok di permukaan seperti ini, pastinya ada di tempat yang lebih dalam.
Tentang Pemilik dan Penjaga Dunia Mental
Yumehisa: Orang yang tadi melecehkanku tadi bukan pemilik ataupun penjaga dunia mental ini kan? Bagaimana kita bisa membedakan orang-orang bisa kita temui disini itu pemilik, penjaga, atau malah orang yang lain?
Karasuba: Seperti yang aku katakan tadi, hampir semua orang yang isi kepalanya dimasuki penyusup akan berusaha untuk menggagalkan dive. Yang artinya orang-orang yang akan berusaha membunuh kita kemungkinan besar adalah pemilik atau penjaga dunia ini.
Yumehisa: Karena aku nggak mau dibunuh itu makanya aku nanya cara bedainnya.
Karasuba: Kita harus mencari berbagai petunjuk yang tersebar di dunia mental ini dan mendeduksi gambaran pemiliknya lewat itu.
Yumehisa: Deduksi ya…
Karasuba: Wujud dari penjaganya rata-rata kebanyakan orang yang dipercaya oleh si pemilik.
Yumehisa: Jadi kita perlu mendeduksi itu juga untuk mengambil keputusannya?
Karasuba: Ya, kita sebaiknya mengamati dengan seksama lawan kita.
Kenapa jadi laut ya. Semua makhluk hidup memang dikatakan lahir dari dalam laut sih….
*ambil sekop
Ada sekop. Tadi emangnya ada kah?
Yumehisa: Maksudnya kita suruh menggali gitu kah?
Karasuba: Mungkin aja.
Yumehisa: Di bagian mananya hamparan pasir yang luas ini woi?
Karasuba: Kalau misal ada tandanya, mungkin yang itu.
Karasuba menunjuk ke arah rumah-rumahan pasir dengan dagunya.
Yumehisa: Ehhhhhh…
Aku nggak mau ah.
*merusak rumah pasir dengan sekop
Aku merusak rumah-rumahan ala Jepang udah bagus terbuat dari pasir dengan sekop. Merusak rumahnya hingga hancur menjadi pasir lagi.
Gachi! <- suara sekopnya kena benda keras.
Yumehisa: ?
Dari bawah rumah yang aku hancurkan menjadi pasir itu keluar sebuah brankas. Rasanya kayak aku menemukan sebuah harta karun.
Bonus memo pendapat Karasuba ke yang lain
-Yumehisa-
Karasuba: Kekuatanmu sangat menarik.
-Yuuran-
Karasuba: Aku jadi ingin bertemu dengannya.
-En-
Karasuba: Aku menghormatinya kok. Manusia yang terlahir di neraka, terlihat jelas kalau statusnya sangat rendah padahal mereka bukan pendosa. Meski begitu, mereka tetap dengan serius terus bekerja.
-Kurea-
Karasuba: Aku tau kalau dia manusia.
-Menou-
Karasuba: Meski aku belum bertemu dengannya, aku tau identitasnya.
-Kiriko-
Karasuba: Dia monyet neraka. Dia bukan pegawai hotel kan?
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 9: Pelecehan
Yumehisa: Jadi ini, dunia mentalnya si tamu?
Aku bertanya dengan Karasuba yang berjalan di depanku. Jalannya rasanya kenyal-kenyal bikin aku sulit jalan.
Karasuba: Iya.
Yumehisa: Gimana cara kau buka itu tadi?
Karasuba: Ras yang punya tanduk di kepalanya sepertiku punya kekuatan untuk berpindah tempat dan dimensi dengan bebas. Dengan satu pintu, kami bisa berpindah dari satu negeri ke negeri lain. Kami juga bisa melintasi batas dunia.
Dunia manusia, neraka, dunia antara kehidupan dan kematian…. dan bahkan bisa ke dalam kepala orang lain.
Yumehisa: Menou-san juga? Ah, Menou-san itu…
Karasuba: Aku udah tau kok semua identitas dari pegawai hotel. Seorang, ada kan yang satu ras dengan diriku. Dia pastinya juga bisa melakukannya.
Yumehisa: Kenapa, kau membawaku kesini juga? Kalau punya kekuatan seperti itu, bukannya onii-san (bentar aku harus tl apa ini? masa “mas” sih?) bisa dive dan menyelesaikannya sendiri?
Karasuba: Nggak juga kok.
Shaa
Yumehisa: ????
Dari arah dalam jalan ini aku merasakan ada sesuatu yang mendekat.
Itu ada sepeda, dan ada orang berwarna merah yang mengendarainya. Meski sepeda itu berjalan kencang ke arah sini, Karasuba nggak ada tanda-tanda menghindar.
Yumehisa: Bahaya loh.
Karasuba: Apanya?
Karasuba malah berdiri terdiam. Sepedanya akan menabraknya.
Aku tadinya berpikir begitu, tapi sepedanya malah melewati tubuh Karasuba begitu saja seperti kabut.
Saat aku masih belum bisa mencerna keadaannya, orang berwarna merah yang mengendarai sepeda itu melaju ke arahku dan menjulurkan tangannya.
Yumehisa: !?
Setelah orang berwarna merah tadi mengcengkram dadaku, dia segera melepas tangannya dan terus melaju.
Yumehisa: Apaan tuh barusan? Yang namanya penjaga itu?
Yang pasti ini bukan orang aslinya. Pelecehan ya?
Aku baru pertama ini seumur-umur ketemu ginian.
Bukan kata andaian, ini beneran dadaku kerasa sakit. Bisa kena pasal kejahatan melukai orang nih.
Karasuba: Ada apaan?
Yumehisa: Eh… orang yang mengendarai sepeda tiba-tiba meremas dadaku.
Karasuba: Aku nggak bisa melihat apa-apa.
Yumehisa: Bohong kan?
Karasuba: Aku nggak bohong. Ini dia alasan kenapa kalau aku dive sendiri nggak akan berarti apa-apa.
Yumehisa: Artinya setelah ini nggak bakal bisa apapun kah?
Karasuba: Iya, peranku hanya orang yang menjaga dan membuka-tutup pintu.
Yumehisa: Bahasan bakal jadi instruktur pergi kemana?
Padahal penampilannya kelihatan bisa diandalin banget.
Karasuba: Kalau hanya meremas dada harusnya sih bukan penjaganya. Mereka mah niat langsung membunuh orang yang menyusup kesini.
Yumehisa: Iya iya, bakal hati-hati deh.
Saat aku terus berjalan, ujung jalan menjadi semakin terang.
Yumehisa: Jalan keluarnya kah?
Setelah melewati jalanan yang seperti terowongan gua, aku melihat ada tempat yang isinya hanya putih-putih. Kayaknya kabut deh.
Yumehisa: Aku nggak bisa melihat apapun.
Karasuba: Ayo kita temukan beberapa petunjuk terlebih dahulu.
Yumehisa: Petunjuk tuh… cara carinya gimana?
Karasuba: Disinilah kekuatanmu akan kepake. Coba kamu pake kekuatanku disini.
Yumehisa: Eh, dipake ke apanya?
Karasuba menunjuk ke arah bawah kaki. Di tanah ya, pengalaman baru.
Aku pun duduk dan meletakkan kedua tanganku di tanah. Aku menata nafasku dan menutup mata.
Yumehisa: Percuma, aku nggak bisa melihat apapun. Putih semua.
Karasuba: Meskipun dalam keadaan hilang ingatan, nggak mungkin putih bersih begitu aja. Keadaan putih itu pasti memiliki arti.
Yumehisa: Apanya?
Aku pun mengalihkan mata kesadaranku untuk mencari tahu arti putih ini. Perlahan-lahan dari pemandangan yang tidak menentu ini mulai terlihat pemandangan yang terlihat seperti butiran yang kasar.
Yumehisa: !?
Aku mendengar sesuatu.
Yumehisa: …ini kan… Laut?
Langit biru dengan awan yang putih, laut yang biru dengan pasir yang putih di tepinya.
Yumehisa: Beneran laut.
Karasuba: Hebat, petunjuk kita jadi bertambah.
Yumehisa: Jadi, setelah ini kita harus bagaimana?
Karasuba: Ya sama kayak tadi, kita harus cari tau lagi.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 8: Agen Informasi dan Dive dan ...
Tiba-tiba ada lelaki yang aneh datang ke front. Di kepalanya ada tanduk yang tumbuh.
Dilihat dari perawakan dan tingkahnya, sepertinya dia bukan tamu yang tersesat ke dunia ini.
En: Siapa sih lu… Orang neraka ngapain dateng ke dunia ini.
En juga sepertinya tidak tahu siapa lelaki yang datang ini.
Karasuba: Aku inspektur dari bagian agen informasi, Karasuba Mimaya. Akan menjadi petugas baru untuk mengawasi Tasogare Hotel dan Tokito.
Agen infomasi itu kalau nggak salah kayak CIA tapi di neraka gitu ya. Penampilannya tinggi banget dan tubuhnya terlihat kekar. Terus pakai kemeja, sepatu, dan jam tangan yang terlihat mahal.
Kalo dari penampilannya aja kelihatan elit banget.
En: Kalau punya nama belakang itu artinya dirimu bangsawan neraka ya. Petugas yang lama kemana, yang orang tua aku nggak tau dia kakek-kakek atau nenek-nenek itu.
Karasuba: Awal bulan lalu dia pensiun karena udah umurnya.
Yumehisa: (Disana juga ada umur pensiun ya.)
En: Tiba-tiba banget petugasnya melejit banget levelnya. Ada alasannya kan pasti.
Karasuba: Nggak ada.
En: ….
Karasuba: Alasan aku dateng hari ini hanya buat menyapa dan satu lagi, burung yang kuminta untuk mengawasi hotel ini dari kemarin nggak pulang-pulang.
Yumehisa: (….hm?)
En: Aku nggak tau. Kayaknya lebay banget deh cuma gara-gara sehari nggak pulang aja.
Karasuba: Dia masih anak baru. Burungnya warna hitam dan kecil, ukurannya sekitar segini.
Karasuba menggambarkan ukurannya dengan jarinya. Ukurannya sebesar burung pipit yang bulat.
Yumehisa: ….
Burung hitam: Pi!
Yumehisa: Ada yang menempel tuh. Jangan gerak dulu.
Aku mengambil benda hitam dari bagian lengan Yuuran yang sedang berdiri tegak.
Yumehisa: Ini…. bulunya burung kah?
Yuuran: …….
Karasuba: Namanya Kuromame.
Namanya yang lucu membuat dadaku sakit.
Karasuba: Ada yang pernah lihat nggak?
Yumehisa: Ngomong-ngomong, dive itu apaan?
Apaan yang “ngomong-ngomong” ya.
Karasuba: Hachiya Yumehisa-kun. Kalau dari laporannya Kuromame, dirimu bisa menggunakan kekuatan psychometry ya.
Yumehisa: (Kerjanya bagus juga si Kuromame.)
Ternyata bisa laporan juga burung itu.
Yumehisa: Cuma bisa buat barang yang aku sentuh doang kok. Aku menyebut kekuatanku dengan kata induksi lewat sentuhan sih, tapi bebas aja mau disebut apa.
Kalau pake kata semacam psychometry rasanya kayak aku bisa merasakan sekitaran selain apa yang aku pegang, makanya aku jarang memakainya.
Karasuba: Aku mengerti. Kalau kita misalkan induksi lewat sentuhanmu itu seperti kegiatan mengintip, dive itu melihat langsung dalamnya. Kita masuk ke dunia mental lawan, sehingga kita bisa melihat-lihat ingatan dan keadaan hati lawan.
Yumehisa: Ah… kayaknya biasanya ada di film SF (science fiction) gitu kah?
Karasuba pun mengangguk.
Karasuba: Kalau begitu, mungkin saja kita bisa tau identitas dari tamu setengah transparan itu.
Di masa aku mencari-cari banyak tentang kekuatanku, aku sering melihat ada cerita tentang bisa masuk ke mimpi orang atau masuk langsung ke pikiran orang.
Aku nggak peduli itu fiksi atau beneran ada. Kalau demi untuk menghilangkan kecemasanku menanggapi kekuatan ini, info apapun aku selidiki.
Yumehisa: Aku nggak bisa kayak gitu loh.
Karasuba: Aku yang akan membantumu. Anggep aja aku instrukturnya.
Apa-apaan nih orang. Tiba-tiba dateng dan inisiatif banget gini.
En: Apa ada resiko dari cara dive ini.
Karasuba: Pastinya ada. Siapa saja kalau ada orang yang masuk ke dalam dirinya pasti nggak mau kan. Kebanyakan orang yang dimasuki dive ini pasti bakal sekuat tenaga untuk menyingkirkan penyusup.
En: Bagaimana cara mereka menyingkirkannya?
Karasuba: Secara garis besarnya bisa dibagi jadi dua pola. Pemilik dunia mental menyerang sendiri atau penjaga yang melindungi dunia mental yang akan menyerang. Kalau kita terbunuh oleh mereka di sana, kita nggak akan bisa kembali lagi ke dunia asalnya. Yah kayak konsep di dunia ini. Mau mencoba?
Aku pun mulai melihat En. Mukanya En tampak seperti sangat suram dan masam.
En: Mencari tahu soal identitas tamu memanglah tugas kita. Tapi bagi pegawai, ini resikonya terlalu besar.
Yumehisa: Lebih baik aku nggak mencobanya?
En: Kalau mau coba ya silakan aja. Tapi kalau aku mah ogah.
Karasuba: Pendapat dia juga sangat benar.
Yumehisa: Mungkin gitu sih tapi…
Si tamu hitam yang ada di bawah tangga melihat ke arah sini. Padahal wajahnya hitam semua, tapi entah mengapa aku merasa mata kita saling bertemu.
Jika aku menjulurkan tanganku, ada orang yang mungkin bisa aku selamatkan. Kalau aku cuma melihatnya…. aku hanya melihat detik-detik kematian orang lain…
Padahal aku bisa melakukan sesuatu tapi tidak melakukannya.
Yumehisa: …..
Mungkin jika ini aku yang sebelum datang kesini, mungkin aku nggak akan melakukan apapun. Agar kekuatanku tidak ketahuan yang lain dan membuat keributan, aku akan berpura-pura tidak melihatnya. Tapi disini berbeda. Kekuatanku udah diketahui banyak orang dan aku tidak perlu bersembunyi lagi. Dunia yang tidak seperti kenyataan ini malah mendorong punggungku.
Yumehisa: Mata dari tamu itu kok. Meski aku nggak bisa melihat matanya dimana.
Karasuba: Begitu ya.
Karasuba berdiri di depan si tamu hitam.
Karasuba: Bisa berdiri nggak?
Bayangan hitam: Eh? Baik…
Bayangan hitam pun langsung berdiri mengangkat tubuhnya.
‘Pachin (suara petikan jari)’
Karasuba pun menjentikan jarinya.
Bayangan hitam: A… a?
Yumehisa: !?
==Warning: Jujur ngeri sasuga game 17+==
Tubuh si tamu terbelah vertikal dari tengah menjadi dua, sama seperti kita melihat irisan pas membelah ikan kembung.
Yang keluar dari dalam tubuh bukan organ dalam. Sesuatu yang terbuat dari daging dan tulang…
Yumehisa: Pintu?
Karasuba: Betul, ini pintu ke dalam dunia mental. Kita nggak ada banyak waktu, sebelum manusia ini menghilang lebih baik kita segera cari tahu identitasnya.
Karasuba langsung membuka pintunya. Di dalamnya terlihat ada jalan yang terbuat daging yang menghitam. Tanpa ragu, Karasuba melewat gerbang itu.
Pada waktu yang bersamaan, tubuh Karasuba terbelah menjadi dua seperti teknik bayangan dan satunya entah menghilang kemana.
Yumehisa: Apaan tuh barusan?
Karasuba: Hingga tadi itu tubuh asliku, yang sekarang ini hanya tubuh dari dalam mentalku. Tubuh asliku udah aku pindahkan ke tempat yang aman. Kalau dirimu dari awal wujudnya udah seperti tubuh mental jadi nggak ada masalah. Begitu saja udah bisa masuk ke dalam.
Yumehisa: Kami manusia ama kalian-kalian… anu, emangnya berbeda?
En: Beda jauh. Kami orang dan benda yang berasal dari neraka datang ke dunia ini pake tubuh asli kami. Kalian-kalian para tamu manusia sekalian datang kesini dalam keadaan berpisah dengan tubuh asli kalian.
Yumehisa: Kalian yang ada disini dengan kami yang cuma bentuk jiwa… berarti kalian yang kelompok orang neraka itu lagi lokalisasi kah?
En: Apaan sih lokalisasi itu. Aku nggak paham sama sekali apa maksudmu.
Yumehisa: Aku pikir ini lebih mudah dimengerti daripada ucapanmu deh.
Karasuba: Lebih baik kita bergegas.
Karasuba menyuruhku cepat-cepat.
En: Hati-hati ya, Yumehisa. Jangan salah mengambil prioritas, nyawamu yang terpenting ya.
Yumehisa: Ya, aku berangkat dulu ya.
Aku melambaikan tangan ke En dan menyusul Karasuba
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 7: Kedatangan Tamu
Yumehisa: Silakan mengantri di dalam satu barisan!
Sambil menata tiang antrian, aku berteriak untuk merapikan antrian tamu yang datang. Sementara itu, Yuuran memasak yakisoba di dapur. Setelah merapikan antrian, dengan cepat aku kembali ke dapur dan membawa piring yang berisi yakisoba ke tempat pembagian makanan.
Para tamu yang mengantri pun satu-persatu mengambil yakisobanya.
Yumehisa: (Oke, lancar lancar)
Bayangan hitam: Selamat siang.
Yumehisa: Ah, selamat siang juga.
Di dalam antrian juga ada si tamu hitam ikut mengantri. Keadaannya nggak ada bedanya dari kemarin.
Bayangan hitam: Hotel yang ramai ya.
Yumehisa: Maaf, tidak bisa memberi pelayanan yang layak.
Ada Kurea-san yang ternyata berdiri di belakangku.
Kurea: Ehehe, aku dateng nih. Ada yang bisa aku bantu?
Yumehisa: Kurea-san istirahat aja.
Kurea: Ehhhh~ kalo aku nggak kerja rasanya nggak puas loh~!
Yumehisa: Nggak boleh! Istirahat sana!
Kurea: Pelit pelit pelit! Biarkan aku kerja dong, dasar maling kerjaan!
Yuuran: Kurea
Saat Kurea-san terus merengek, Yuuran datang dari dapur dan menampakkan wajahnya.
Kurea: …..
Udah kayak kucing yang ketahuan jahil, Kurea-san mulai membatu saat melihat Yuuran.
Yuuran: Nih bawa aja yakisobanya, terus kembali lagi ke kamarmu sana.
Kurea: Baik.
Aku sampai terkejut Kurea-san langsung nurut keluar dari dapur setelah menerima yakisoba dari Yuuran. Makanya ya didikan lewat kekerasan itu sampe sekarang nggak hilang-hilang, ironis banget.
Bayangan hitam: Tempat kerja yang meriah ya.
Yumehisa: Maaf, sudah menunjukkan pemandangan yang tidak mengenakkan.
Bayangan hitam: Tidak apa… banyak kok orang yang menjadikan pekerjaan sebagai alasan hidup.
Yumehisa: ….
Setelah berbincang sebentar, si tamu hitam langsung membawa yakisoba dan meninggalkan ruang makan. Dia memberi respon yang positif ke Kurea-san bagaimana pun ingin bekerja.
Yumehisa: (Dia orang yang suka bekerja… mungkin?)
Yumehisa: Yosh, selanjutnya kita buat kare!
Pembagian makanan untuk pagi dan siang sudah selesai. Menu selanjutnya adalah kare, yang tingkat kegagalannya sedikit. Aku segera menyiapkan kentang.
Yuuran: Yumehisa, bolehkah aku ambil istirahat sebentar?
Yumehisa: Tentu saja!
Yuuran: Aku segera kembali kok.
Yuuran pun meninggalkan dapur. Saat itu ada suatu benda putih terjatuh.
Yumehisa: ?
Karena penasaran, aku pun mengambil benda itu.
Yumehisa: …tepung beras?
Yumehisa: Silakan mengantri di dalam satu barisan!
Sambil menata tiang antrian, aku berteriak untuk merapikan antrian tamu yang datang. Sementara itu, Yuuran membagikan kare di tempat pembagian makanan. Di antrian aku melihat si tamu hitam juga ikut mengantri.
Yumehisa: Loh?
Bayangan hitam: Halo.
Tubuhnya mulai menjadi transparan.
Yumehisa: A, apakah Anda baik-baik saja?
Bayangan hitam: Hotel yang ramai ya.
Yumehisa: …iya.
Siang tadi dia juga bilang hal yang sama.
Bayangan hitam: Makan siangnya kare ya, enak juga. Aku menantikan masakan selanjutnya. Nanti makan malamnya apa menunya?
Yumehisa: ….
Gawat. Si tamu hitam udah lupa kejadian tadi siang.
En: Tapi gimana ya… mana bisa kita mengusir tamu yang lagi nginep di suite room.
Yumehisa: Tapi yang ini beneran gawat deh. Tamu yang ini beneran makin transparan aja.
Aku menangkap En yang ada di dalam meja front dan menjelaskannya padanya keadaan si tamu hitam tadi. Tapi En kayak nggak niat bantu.
En: Sekarang tuh ya, tamu-tamu yang dimasukin ke suite room udah mulai sedikit. Lowongnya udah kayak bahan tirai renda. Kalau gitu mau gimana lagi, urut dari yang pertama dateng.
Yumehisa: Kalau begitu, kita cuma bisa melihatnya menghilang gitu aja kah?
En: Yah… kayak gitu deh.
Yumehisa: Gitu amat….
Aku melihat si tamu hitam ada di bawah tangga. Dia memakan kare dengan lahap seperti tidak terjadi apa-apa. Aku rasa tubuhnya udah lebih transparan dari aku ketemu tadi.
Yumehisa: Ini beneran nggak ada cara lain?
??? : Kita bisa lakukan dive (menyelam) saja.
Yumehisa: ???
Tanpa sadar, di seberang counter ada lelaki tinggi yang berdiri di sana.
???: Kita bisa menyelam isi pikirannya dan mengangkat kembali ingatannya.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 6: Masakan Ibu
Aku mencium bau yang lezat.
Futaba: Udah pulang ya, Yumehisa.
Ternyata Ibu.
Futaba: Makan malam hari ini karaage loh.
Hore! Aku udah mikir dari pagi kalo aku pengen banget makan karaage. Timingnya pas banget.
Futaba: Aku udah buat banyak jadi makan aja sesukamu. Kalo misal masih sisa juga nggak masalah, besok aku jadiin lauk buat bekal kalian.
Gimana dengan sekolahmu?
Menyenangkan kok. Aku tadi juga mampir ke ekskul kendo kok, tadi dibolehin mengayun pedang bambunya juga.
Futaba: Gitu ya. Bagus dong.
Kalo Ibu gimana?
Futaba: Eh, aku? Apa ya…
Seperti biasa kok. Bersih-bersih terus belanja, abis itu masak. Itu aja kayaknya.
Kalo gitu, gimana kalau melakukan apa gitu? Masih terlalu cepat loh bertingkah kayak nyonya-nyonya santai*
Futaba: Hmmm, bingung juga kalo dibilang begitu…
Hal yang ingin dilakukan, atau hal yang bisa dilakukan. Nggak ada apa gitu kek, apa gitu?
Futaba: Ih, beneran aku nggak pengen apa-apa kok.
Hummm…
Bosenin ah.
Yumehisa: Woooh.
Udah lama aku nggak bermimpi. Belakangan ini aku sama sekali nggak bermimpi.
BB: Bi
Yumehisa: BB!
Setelah sekilas melihatku, BB mulai berjalan dengan cepatnya ke arah depan salah satu pintu.
Yumehisa: Loh?
Pintu itu, selama ini emangnya ada?
Yumehisa: Pintu itu…
Mirip banget dengan pintu kamar mandi rumahku yang ada di lantai dua.
BB: Byaa
Yumehisa: Maksudmu suruh bukain gitu?
Aku pun meraih gagang pintunya
(gambar di atas adalah gambar yang sekilas terlihat <- beneran ngebut aku ssnya, abis itu langsung item)
Loh? Gelap banget.
Tadi kayaknya kok aku ngelihat sesuatu. Tapi aku nggak bisa mengingat apa itu.
Ah, keluar sesuatu. Yang sekilas aku lihat tadi apakah benda ini ya?
Pasti ini.
Ada Manager ama…. Siapa ya? Mungkin pegawai hotel?
Manager minum bir dan terlihat mabuk-mabukan. Pegawai cewek terlihat kebingungan dan pegawai cowok mulai terlihat muak melihat Manager. Pegawai cowoknya mulai menulis sesuatu.
Loh? Buku catatan ini kan…
Pegawai cowonya pun menyerahkan buku catatannya ke pegawai cewe dan pegawai cewenya merasa sangat senang. Manager juga merasa senang.
Aku pun terbangun. Aku masih ingat jelas isi mimpiku. Buku catatan yang dibawa pegawai cowo itu aku pikir buku catatan yang sama dengan aku temukan di gudang
Yumehisa: (Kalau begitu, orang itu kah yang namanya Atori-san?)
*secara harfiah artinya emang nyonya-nyonya yang santai, tapi kalo konteksnya mengarah kayak nyonya bangsawan gitu yang kesehariannya cuma bersantai ama kegiatan interaksi ama sekitar, kayak acara teh atau semacamnya yang buat mencari koneksi. Ya kayak kalo di tema kerajaan istri bangsawan kan gitu kesehariannya.
Tasokare Hotel -Tsubomi- Chapter 3 Eps 5: Bayangan Hitam
Cara Yuuran mengajariku memanah sama sekali nggak bisa dijadiin referensi.
Yuuran: Ya tinggal syuut terus duar*
Yumehisa: Uwa, tipe orang yang pake feeling nih.
Kebalikan dengan aku yang kalau berolahraga selalu mengikuti teorinya. Dia nggak cocok untuk jadi pelatihku. Aku coba-coba meminta Yuuran untuk menembak juga, tembakannya ternyata indah juga. Kemudian, dalam sekejap dia telah menembakkan semua panah yang ada di quiver. Hampir semua panah yang ditembakkan mengenai bagian tengah. Tembakannya sangat indah sampai-sampai aku hanya bisa iri melihatnya.
Yumehisa: ….loh?
Di bagian leher Yuuran yang sedang menurunkan busur, aku melihat ada benda hitam yang menempel.
Yumehisa: Ada yang menempel tuh. Jangan gerak dulu.
Aku mengambil benda hitam dari bagian lengan Yuuran yang sedang berdiri tegak.
Yumehisa: Ini…. bulunya burung kah?
Yuuran: …….
Bulu burung hitam? Burung hitam?
Aku mendadak merasakan firasat yang buruk.
Yumehisa: Hei, Yuur—
Yuuran: Yumehisa terlalu bergantung ama pembidik sih.
Yuuran langsung mencabut semua panah yang menancap di papan target.
Yumehisa: Nggak, burungnya…
Yuuran: Emang penting sih ngepasin dengan pembidiknya. Tapi musuh juga nggak akan mau menunggumu.
Yumehisa: …nggak ada musuh kok. Yang aku lakuin kan biasanya buat lomba. Yah kalo harus dibilang ada musuh palingan sekitar peserta lain yang mengincar kemenangan dan diriku sendiri.
Yuuran: Kedengeran kayak berkelas ya, udah kayak dari keluarga terkenal aja.
Kata “Keluarga terkenal” pernah aku dengar dari Menou-san sebelumnya. Artinya seperti keluarga bangsawan yang ada di neraka.
Yumehisa: Aku sering dikatain gitu.
Yuuran: Nah, selanjutnya giliranmu.
Yumehisa: ….
Aku dikasih panah ama Yuuran. Rasanya dia kayak mengalihkan pembicaraannya, tapi ya udah deh.
Aku yang sudah menerima panah mulai mengarahkan busurku ke arah target.
Yumehisa: ?
Di belakang papan target aku melihat ada bayangan hitam.
Bahaya. Aku segera menurunkan busurku.
Yumehisa: Tamu kali ya?
Yuuran: Nggak tahu.
Karena berjalan membelakangi cahaya matahari, aku tidak bisa melihat jelas bayangan dari kejauhan itu.
Yumehisa: Loh?
Padahal sudah semakin mendekat, aku masih tidak bisa melihat wajah dan pakaiannya. Bayangan hitam itu masih tetap bayangan hitam.
Yuuran: Kita nggak bisa melihat sosoknya ya.
Yumehisa: Gimana ya… Kayak pelaku nggak sih?
Bayangan hitam itu berhenti di samping papan target.
Yumehisa: Disini adalah dunia yang ada di antara dunia sana dan dunia sini, dan Anda sepertinya adalah orang telah tersesat kesini.
Bayangan hitam: Dunia sana dan dunia sini?
Yuuran: Bisa dibilang dunia antara kehidupan dan kematian.
Bayangan hitam: Kehidupan dan kematian… fufu, menarik juga ya. (<- Osoto bgt??????)
Dia hanya tertawa dan langsung menerima keadaannya.
Yumehisa: Apakah ada hal yang Anda bisa ingat?
Setelah mendengar kata-kataku, dia mulai kaget dan gelisah.
Bayangan hitam: Tidak ada sama sekali… aku tidak tahu wajahku dan namaku… bahkan aku juga tidak tahu apa jenis kelaminku.
Parah banget ini.
Yuuran: Rasnya manusia?
Bayangan hitam: Ya… karena aku bisa berbicara dengan kata-kata, aku rasa aku manusia.
Yumehisa: Maaf, bisakah Anda meminjamkan tangannya sebentar?
Setelah aku menunjukkan telapak tanganku, si bayangan hitam mulai menjulurkan tangannya ke depan. Aku memegang tangan bayangan hitam dan mulai berkonsentrasi.
Percuma, aku hanya bisa lihat semua putih. Aku belum pernah melihat yang seperti ini.
Bayangan hitam: Anu… ada apa ya?
Yumehisa: Maaf, bukan apa-apa.
Aku melepaskan tangan si bayangan hitam.
Yumehisa: Jika Anda tidak keberatan, silakan menginap di hotel kami. Disini adalah hotel yang digunakan orang untuk mengingat wajah dan namanya, meski tidak terlihat seperti hotel biasanya keadaannya.
Bayangan hitam: Aku mengerti. Aku akan menginap, toh aku juga tidak tahu harus kemana lagi setelah ini.
En: Hilang ingatan dia.
En mengatakan itu sambil melihat si bayangan hitam, maksudnya si tamu hitam.
Yumehisa: Aku dan tamu-tamu yang lain juga kehilangan ingatan kok. Tapi nggak sampai sekujur tubuh hitam semua gitu.
En: Dia beda level ama kalian-kalian. Dia beneran ril hilangan ingatan.
Yumehisa: Apaan bedanya?
En: Dia di dunia nyata sana juga udah keadaan hilang ingatan. Palingan kepalanya abis kena damage apaan gitu.
Yumehisa: Tingkat kedaruratannya tinggi dong?
En: Mungkin aja. Nanti kalo suite roomnya udah kosong boleh deh dia masuk sana dulu.
Tamu hitam itu menggelar selimut di bawah tangga dan duduk di atasnya. Tempatku dulu pas pertama dateng kesini. Padahal aku nggak bisa lihat wajah dan ekspresinya, tapi anehnya aku tahu kalo dia sedang gelisah.
Bener banget sih, tentang diri sendiri aja nggak tahu emang sangat serem.
*jujur aku bingung ini ngartiinya gimana tapi intinya Yuuran njelasin cara nembak panah ala dia. Kalo kalian main game searchnya pake cardnya Yuuran kadang dia bilang “Byutte yatte, baa dayo” nah nah yang itu)